Raihlah Ilmu

by membualsampailemas


Kalau mau jujur, sebenarnya perbedaan orang yang pintar dengan orang bodoh adalah bagaimana caranya berbicara atau juga bisa cara berpikirnya dia. Buka gelar yang membuat seseorang menjadi pintar, tapi pintarlah yang membuat orang memiliki ‘gelar’ (bisa gelar pendidikan maupun bukan). Gelar dapat dibeli, tapi pintar tidak, kita harus mengasahnya sendiri. Beda rasanya ketika anda berinteraksi dengan seorang yang pintar dan yang kurang pintar. Ketika anda pulang kampung dan berbicara pada tetangga anda yang cuma tamatan SD, misalnya, dia petani, bisa saja interaksi anda akan sama dengan seorang yang bergelar PhD yang notabene telah bersekolah ke luar negeri. Hal itu bisa terjadi, mengapa? Karena tidak semua orang itu akan dapat berpikir layaknya seorang yang berpendidikan walau pun dia telah berpendidikan, pun tidak semua orang yang tak meraih pendidikan formal yang tinggi akan berlaku layaknya tak berpendidikan.

Sewaktu dulu ketika membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca), saya jadi ingat kutipan sepertida ini, yang selalu terngiang-ngiang di dalam kepala saya hingga sekarang, “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”. Tokoh Minke ketika itu sedang dinasehati oleh temannya, yaitu Jean Marais yang merupakan tokoh veteran perang pasukan Perancis yang sempat menikah dengan orang Aceh dan memiliki anak darinya. Ketika itu, Minke adalah seorang terpelajar, dia berpendidikan HBS, atau setara Sekolah Menengah Atas jika sekarang. Kala itu, sekolah hingga HBS itu sungguh sulit, jarang sekali pribumi seperti Minke dapat menyelesaikan pendidikannya, apalagi menjadi lulusan terbaik di HBS Surabaya. Minke pernah bekerja sebagai penulis lepas sebuah koran milik perusahaan tebu (kalau ingatan saya tak salah), dia menulis dalam bahasa Belanda, bukan bahasa Melayu ataupun Jawa. Memang, ketika itu (pergantian abad 19 ke 20) para pembaca koran berbahasa Belanda masih sedikit, dan kebanyakan memang orang Belanda lah para pembaca itu, sedangkan dari golongan pribumi masih banyak yang tidak tahu Bahasa Belanda. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali yang dapat membaca. Waktu itu adalah tonggak awal kesadaran pribumi dalam penjajahan (awal tahun 1900-an). Di sini, Minke adalah orang terpelajar, tapi sebenarnya dia kurang mengenal akan bangsanya sendiri, mengapa? Dia masih idealis sebagai penulis berbahasa Belanda, bukan bahasa Melayu, padahal ada seorang Belanda yang menjadi penulis Melayu waktu itu. Dia lebih berorientasi pada banyaknya pembaca, daripada menyadarkan para pribumi yang dapat membaca namun bukan Bahasa Belanda.

Misalnya begini, saya mendapatkan contoh dari dosen saya, Pak Sumaryoto, beliau sebenarnya bergelar Profesor, jadi sungguh sangat beda ketika anda diajar oleh dosen seperti beliau dan dengan dosen yang baru lulus S1 lah istilahnya. Pandangannya sudah sangat beda. Sebenarnya, apa masalah bangsa Indonesia sekarang? Beliau bilang, bangsa kita ini sedang mengalami masalah moral. Sistem kita sebenarnya sudah bagus, namun orang-orang yang berada dalam sistem itu lah yang kurang baik, tepatnya moral lah yang rusak, sehingga menjadi tidak baik pula semuanya. Seperti halnya kita memiliki teori ekonomi, ketika suatu barang/jasa yang itu harganya naik, barang itu juga melimpah sebenarnya, banyak, maka ketika konsumen berpikir rasional, dia akan memilih untuk tidak akan membelinya. Dia akan membeli sesuatu yang dalam jangkauannya. Kecuali jika barang itu tidak elastis, seperti beras misal. Secara rasional, seseorang itu akan membeli sesuatu yang dia mampu untuk membelinya. Ketika lebaran, tiket kereta api naik 50% bahkan sampai 100%, orang-orang malah tetap membelinya, padahal jika mereka sepakat untuk berpikir rasional, tidak usah lah ada yang naik kereta, pasti harga tiket bakal turun, itu pasti. Kita beli sesuatu yang sesuai dengan jangkauan dan kemampuan kita saja, kita berpikir rasional. Tapi masalahnya, banyak orang yang berpikir dengan emosi, ketika barang itu harganya baik, maka mereka buru-buru membelinya, takut segera kehabisan. Nah, masalah seperti itulah sebenarnya yang menjadikan bangsa kita ini belum maju, banyak manusianya yang berpikir dengan emosi, kurang rasional.

Ketika terjadi impor beras ke Indonesia, tentu harga beras impor itu akan jauh di bawah rata-rata alias sangat murah. Harusnya, rasionalnya, beras itu untuk keperluan seluruh penduduk Indonesia, didistribusikan kembali ke pelosok Indonesia. Lha kita, ada beras seperti itu malah buru-buru diborong karena harganya sangat murah dan parahnya malah diekspor untuk mendapatkan duit. Sah-sah saja memang, dan memang pintar orang itu, tapi itu adalah pintar yang tidak beretika. Yang ada kita malah diketawain sama orang-orang. Tapi itu kebebasan kok?! Bebas si bebas, tapi yang beretika dan bertanggungjawab. Masalah dalam negeri kita ini pula adalah persoalan kebebasan. Benar kita berdemokrasi, tapi kebebasan bukanlah sesuatu yang mutlak, bebas itu adalah yang bertanggungjawab.

Belakangan ini juga muncul wacana “KPK bubarkan saja, malah mengobrak-abrik negara”. Lho? KPK itu bukan merusak sistem atau mengobrak-abriknya, KPK itu sudah benar adanya, untuk memberantas korupsi, lha kalau KPK dibubarkan berarti kita akan menyenangkan hati koruptor? Sebagus apapun sistem, kalau orangnya korup, ya mesti korupsi masih tetap bakal ada. Saya rasa itu si Fahri Hamzah terlalu emosian orangnya, kurang rasional. Lha, lembaga sedang memberantas korupsi kok malah mau dibubarkan, iya kalau dia menempun jalur hukum untuk membubarkan, tapi kenyataannya? Cuma mewacanakan dan koar-koar dimana-mana. Malu aku punya wakil di DPR seperti macam dia. KPK dibubarkan tidak menjamin korupsi juga bubar, kan iya? Berwacana bebas, itu bebas, tapi harusnya yang beretika. Jangan dicontoh.

Ketika Pak Habibie mencetuskan untuk membuat pesawat terbang buatan dalam negeri, lalu gagal, orang-orang bilang bahwa bangsa kita adalah agraris, kita harus mengoptimalkan pendapatan dari keagrariaan, harus fokus kepada pertanian. Menurut dosen saya tadi, ooh tidak bisa, barang pertanian itu barang yang tidak elastis. Ketika anda ingin duren pada musim rambutan, tentu saja itu tak dapat dipenuhi, walau pun anda akan membayar 1 juta, jika memang tidak waktunya musim duren tentu tidak bisa. Stok padi kita hanya terkonsentrasi di pulau jawa, pun sekarang banyak sawah yang ditutup dan dibangun infrastruktur lain. Hampir tak ada negara di dunia ini yang berhasil hanya dengan mengandalkan sektor agraria.

Maka dari itu, marilah berpikir sesuai diri kita seharusnya, marilah bertindak sesuai diri kita seharusnya. Kan katanya orang terpelajar itu berperilaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Jika ingin bangsa maju, bersekolahlah setinggi-tingginya, ilmu itu perlu, gelar itu sampingan. Lalu, setelah mendapat ilmu itu semua, hendak kemana? Suatu saat anda akan mengerti apa arti penting sebuah ilmu itu, bahkan ilmu mencopet pun.