Rustam dan Helena

by membualsampailemas


Titik-titik air yang sendu telah menghiasi kota ini sejak tadi sore. Malam ini adalah malam yang menyedihkan bagi dua insan karena mereka harus berpisah, yang satu tetap tinggal, yang lainnya hendak pergi jauh, sungguh jauh, mereka takut tiada akan pernah bertemu kembali. Tapi sekalipun sebenarnya, mereka tidak tahu sama sekali bahwa kesedihan memang melanda mereka berdua, masing-masing hanya tahu bahwa dirinya sendirilah yang bersedih hati. Bulan maupun bintang takkan pernah terlihat untuk malam ini, mereka enggan menjadi saksi kesedihan yang melanda malam ini, biarlah hujan yang mewakili bulan dan bintang untuk menyaksikan kesedihannya. Bukankah hujan memang identik dengan kesedihan, hujan mewakili tangisan hati yang sepi, tiada yang pernah lebih sedih dari ini rasanya, buat mereka.

“Sudah lama ya kita tidak berdua seperti ini.” Kata si perempuan.

“Iya, sudah lama. Terakhir kali mungkin ketika kita masih di AMS dulu. Sudah lama.” jawab si lelaki itu, dia berusaha tersenyum. Setelan jas panjang dengan kain jarik yang menjadi bawahannya itu sungguh sangat pas untuk penampilannya. Penutup kepalanya ia tak kenakan, melainkan dipegang sahaja. Sedangkan si perempuan memakai pakaian eropa khas kala itu.

Kekakuan sebenarnya terjadi di sini, canggung untuk berbicara karena sudah sangat lama mereka tidak pernah berbicara berdua seperti ini. Dia adalah Rustam, yang hendak pergi ke Holland untuk melanjutkan studinya dari AMS. Usianya baru sekitar 27 tahun. Dan si perempuan Helena  namanya, lebih muda setengah tahun dari Rustam. Keduanya kini telah bertemu setelah lama tak bersua. Dahulu mereka berdua dekat, sangat dekat namun tiada pernah berpacaran, tapi itu dulu waktu masih muda belia. Memang Rustam diam-diam menyukai Helena, tapi dia takkan pernah mengungkapkannya secara terang-terangan padanya sejak dia tahu bahwa Helena telah memiliki kekasih dari Holland totok yang jauh lebih mapan dari Rustam kala itu, pun Helena memang sungguh sangat mencintai kekasihnya itu. Pernah suatu ketika Helena menangis tersedu ketika mengetahui kekasihnya mengalami kecelakaan, jatuh dari punggung kuda, Rustam hanya dapat merasa getir ketika itu, mengetahui bahwa cinta Helena pada kekasihnya yang setinggi langit. Mereka baru bertemu kemarin di Surabaya, tempat kekasih Helena bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial, dan Helena harus kembali ke Surabaya untuk menunggui kasihnya itu di Rumah Sakit.

Sejatinya, Helena pernah menolak cinta Rustam. Ketika itu mereka masih di HBS, persahabatan antara seorang pribumi dengan seorang indo sungguh mengagumkan, mereka sungguh dekat. Hingga sebuah tali persahabatan diantara mereka harus hancur karena Rustam pernah menyatakan bahwa sebenarnya dia suka pada Helena. Tapi itu semua masa lalu, ketika mereka masih belia, sungguh sangat belia. Mungkin Helena sudah melupakan itu, tapi bagi Rustam hal itu akan diingatnya terus menerus sepanjang hidupnya, karena dia cuma mencintai Helena hingga sekarang.

“Kau tak harus pergi, Rus.”

“Tidak, aku harus pergi. Dunia kini makin canggih, makin rumit. Bangsaku adalah bangsa yang tertinggal, Helena. Aku kelak akan memajukan bangsaku ini.”

“Setelah kau pulang dari Holland?”

“Ya! Tentu.” jawab Rustam sambil memandang Helena. Mereka berdua duduk di sebuah bangku pinggir pertokoan di jalan kota Semarang. Hujan masih rintik-rintik ketika itu.

“Bagaimana setelah kau pulang? Apa kau akan langsung menggebrak bumi agar mereka tersadar dari keterpurukan?”

Rustam hanya terdiam. Dia pun sebenarnya bimbang tiada tara, apa yang hendak diperbuatnya, yaitu pergi ke Holland untuk belajar, mungkin lebih kepada suatu pelampiasan perasaannya pada Helena. Sebenarnya bisa saja Rustam pergi ke Batavia dan bekerja di sana, lulusan AMS sudah cukup untuk membuatnya bekerja sebagai penulis di koran Batavia. Atau juga bisa dia melanjutkan pendidikannya di STOVIA. Tapi pergi jauh adalah pilihannya.

Helena sebenarnya ingin mencegah Rustam untuk tidak pergi, dia akan sangat kesepian di bumi Jawa ini tanpa Rustam. Meski kekasih Helena tinggal di sini, tapi dia tidak akan selalu bisa menemaninya di Semarang. Rustam tampaknya juga tiada ingin menjadi pelampiasan Helena dalam urusan perasaan. Sudah cukup tersakiti dan menyakiti diri sendiri, maka dia memilih untuk pergi ke luar negeri. Perjalanan berbulan-bulan ke eropa bukanlah tanpa risiko.

“Hujan belum berhenti.” Kata Helena.

Rustam hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata kosong.

“Rus, nanti aku akan sepi di sini tanpamu.”

“Kau harus, Helena. Sebenarnya kau tahu kartu As ku, dan aku sama sekali tiada pernah tahu dan mungkin tiada akan pernah tahu apa kartumu.”

Rustam, dengan segala keberaniannya mengatakan hal itu. Dia bermaksud ingin mendengarkan apa yang Helena rasakan kepadanya untuk yang terakhir kali sebelum dia pergi. Hanya ingin memastikan.

“Apa maksudmu?” sahut Helena. Dia sebenarnya sudah mengerti, tapi berpura-pura adalah hal yang paling indah untuk menghindar dari pertanyaan sulit.

“Ah, lupakan.. Mungkin memang bukan saatnya aku berbicara ini.”

Mendengar itu, Helena sedikit menyesal karena terlanjur berpura-pura untuk tidak mengerti persoalan ini. Soal rasa, adalah hal yang paling peka dan sulit tuk dimengerti. Mereka sudah sama-sama dewasa, bahkan untuk ukuran umur mereka seharusnya sudah menikah dan memiliki anak. Banyak pasangan yang menikah antara umur 20 awal ketika itu. Helena, gadis keturunan pribumi yang sungguh manis, kulitnya tidak seputih orang totok, justru itulah daya tariknya. Matanya cokelat dan alisnya panjang. rambutnya tidak sehitam ibunya yang pribumi, namun juga tidak pirang. Rustam adalah pribumi terpelajar, ayahnya adalah bupati.

“Rus, maafkan aku.”

“untuk?”

“Selama ini. Selama kita bersama. Sudah lama kita tak berdua berbincang seperti ini, aku tak ingin peristiwa ini rusak hanya karena salah berkata.”

“Lantas?”

“Aku pun bingung, Rus. Aku mengerti maksudmu. Aku tahu perasaanmu.”

Mereka berdua terdiam sejenak. Udara makin dingin karena hujan bukannya makin mereda tetapi makin deras.

“Katakanlah, barang sekali, Hel. Sekali saja, dan aku tidak akan pernah memintamu untuk mengulanginya. Setelah itu aku akan pergi dengan tenang.”

“Kau yakin, Rus?”

Lalu Rustam memandangi Helena lewat keremang-remangan cahaya lampu di depat pertokoan itu. Tatap matanya sungguh membuat hati Helena berdebar. sebenarnya Rustam lebih berdebar daripada Helena sekarang.

“Aku pernah mencintaimu, Rus.”

“Sudah kuduga.” desis Rustam. Dia lega, namun juga kecewa. Kata ‘pernah’ itu berarti hanya sekedar pernah, dan sekarang tidak. “Kini aku akan berkemas dengan tenang.”

 

Keterangan:

AMS adalah  Algemeene Middelbare School sekolah setingkat SLTA pada zaman kolonial.