Sudut Pandang Menulis

by membualsampailemas


Beberapa bulan sudah blog ini dibuat, saya isi dengan berbagai isi yang bisa saya buat untuk mengisi. Diantaranya ada pandnagan pribadi mengenai suatu masalah, juga tentang cerita-cerita, baik itu kontemporer maupun klasik yang digubah kontemporer. Bicara tentang menulis, adalah sesuatu hal yang sungguh menarik sebenarnya bagi kalangan yang menyukainya, tentunya. Dalam beberapa minggu ini, saya sedang menulis sebuah cerita bersambung yang dari dulu saya mencobanya namun selalu gagal di tengah jalan, karena ide yang berhenti, maupun suasana mood yang sudah tidak cocok lagi. Selain cerbung, saya berusaha menulis cerpen. Lewat cerita-cerita ini sebenarnya saya berusaha menyampaikan pandangan tentang hidup ini, dilihat dari berbagai sudut pandang, numun entahlah saya sudah dapat menyampaikannya dengan baik atau belum bisa sama sekali, saya masih kurang tahu. Bagaimanapun, yang menilai sebuah karya tulisan adalah bukan penulis itu sendiri, melainkan pembaca.

Sebuah karya tulisan, khususnya cerita, menggunakan satu sudut pandang penceritaan yang berbeda-beda antara satu cerita dengan cerita lain. Dikenal ada beberapa sudut pandang penceritaan, antara lain (1) Orang pertama pelaku utama (2) Orang ketiga serba tahu.

Orang Pertama Pelaku Utama

Satu yang menarik di sini, adalah sudut pandang yang membuat si pembaca merasakan bagaimana perasaan dan alur pikiran tokoh utama cerita. Dia lah tokoh ‘Aku’. Ya, itulah kelebihan dari sudut pandang cerita ini, anda dapat membacanya sambil menghayati bagaimana si tokoh ‘Aku’ berpikir, bercerita, perperilaku, dan sebagainya. Seolah pembaca adalah tokoh ‘Aku’ yang menjadi pemeran utama cerita tersebut. Hal ini dapat disaksikan pada beberapa cerita, seperti rangkaian cerpen Sukab (Seno Gumira Ajidarma), Pelajaran Mengarang, Novel Nagabumi, Novel Bumi Manusia, Laskar Pelangi, dsb. Ketika anda membaca karya tersebut, anda akan merasakan bahwa diri anda lah yang mengalami atau seolah-olah memerankan peran di dalam cerita tersebut.

Kelemahan dari sudut pandang ini, yang saya sampai sekarang masih kesulitan untuk mengatasinya, adalah merangkai rangkaian peristiwa yang tidak dialami langsung oleh si tokoh ‘Aku’. Tokoh ‘Aku’, seharusnya menceritakan apa-apa saja yang hanya dialaminya, bukan menceritakan sesuatu yang dia sebenarnya tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa itu, kecuali, jika dia bercerita melalui orang lain. Kendala utama adalah di sini, merangkai rangkaian cerita yang merupakan alur, namun tidak dialami langsung oleh tokoh utama. Ada memang beberapa sudut pandang Orang pertama pelaku utama yang bertingkah serba tahu, jadi dia dapat menceritakan seluruh rangkaian cerita baik yang ia alami langsung maupun yang dia tidak terlibat di dalamnya sama sekali. Namun, hal tersebut kadang menjadi terlihat agak aneh, ketika si tokoh ‘Aku’ bercerita, bagaimana dia bisa tahu sesuatu yang dia tidak terlibat langsung?

Orang ketiga serba tahu

Sudut pandang ini paling safe untuk bercerita. Soalnya, kebanyakan kita mendengar sebuah cerita itu dari pertuturan orang lain, kan. Selain itu, wajar saja kalau orang yang bercerita mampu tahu untuk mengetahui seluruh jalan ceritanya, tidak ada yang janggal dengan sudut pandang ini. Sudut pandang ini bisa dijumpai di Novel macam Lintang Kemukus (Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk), cerpen Dodolitdodolitdodolibret. Tapi, kalau saya pribadi, menulis sebuah cerita melalui sudut pandang ini itu masih agak sulit. Belum terbiasa untuk bercerita saja, bukan apa-apa, namun menulis dengan sudut pandang Orang pertama terasa lebih mengena, baik bagi diri penulis, maupun pembaca. Tapi itu semua sebenarnya tergantung selera dan kemampuan untuk menangkap cerita sahaja.

 

Iklan