Kusumaningwigati 8: Janji

by membualsampailemas


Di air terjun.

Benar saja, ternyata itu adalah sebuah air terjun yang tak terlalu besar, dibawahnya terdapat seperti kolam. Batu-batu besar menyelingi air di bawah, sedangkan air dari atas sebenarnya tak terlalu besar, namun mampu menimbulkan suara yang keras, sehingga aku dan Harini jika hendak berbicara harus sedikit mengeraskan suara kami. Perasaanku sungguh lega, melihat pemandangan yang begitu indahnya, bersama seorang yang bagaikan hapsari dari kahyangan, dialah Harini. Tiada terlukiskan perasaan ini ketika seorang lelaki dan perempuan bersama-sama berdua memandangi indahnya alam Yavabhumipala ini dengan segenap rasa cinta yang menggebu di dada. Harini langsung mencelupkan kakinya ke air, kain bawahannya basah.

“Kanda, kemarilah!” ucap Harini sabil tersenyum riang. Sunggih sangat riang ia siang ini. Cuaca pun sungguh cerah namun tidak begitu panas karena ada rerimbunan dedaunan pohon yang menaungi tempat ini. Betapa elok tempat ini. “Airnya begitu dingiiin..!” lanjutnya.

“Ah, aku tidak dapat berenang.”

“Tidak perlu berenang, kanda, ini dangkal.”

“Kemana arah aliran air ini nantinya? Ke sungai tempat kau biasa mencuci kain itu kah?” kataku penasaran. Harini mengangguk. “lalu mengapa kalian tidak mencucinya di sini saja? Kurasa lebih indah disini, pun jaraknya kurang lebih sama dengan sungai itu?”

Harini Cuma tersenyum manis mendengar pertanyaanku itu, dia menggelengkan kepala. “Tidak, Kanda. Harini tidak boleh mencuci di sini. Ini air terjun suci untuk kami.”

“Suci? Lalu mengapa kau mengajakku kemari?”. Aku mencoba mencari tahu. Harini naik kembali ke atas batu-batu di tepian untuk mendekatiku. Aku duduk di sebuah batu yang agak besar di tepian.

“Aku hanya ingin menunjukkan pada Kanda saja. Tapi di sini boleh kita mandi, Kanda.”

Hatiku berdegup makin kencang. Harini hendak mengajakku mandi?!

“Jangan. Kita tidak boleh melakukan itu.” Kataku gugup. Namun kulihat Harini malah makin senang melihatku yang demikian, seolah-olah dia mempermainkanku.

Pohon wudi besar di timur itu, merpati burungnya; di bawah airnya jernih, telaga namanya; ditanami teratai putih, dikelilingi perak. Air jernih mengalir. Di  sanalah orang terlepas dari…” belum sempat dia selesai bersajak, aku menyahut tangannya dan membuatnya terduduk di sampingku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

“Dari mana kau tahu sajak itu, Harini?”

“Aku belajar pada seseorang yang kala itu mampir di desa kami. Dia berkata hendak berkelana dan menuju Kamulan Bhumisambara yang sedang di bangun kala itu. Katanya, itu adalah tempat yang sungguh sangat megah, lebih megah daripada istana raja di Mantyasih sana.”

“Benarkah?”

Harini menganggukkan kepalanya.

“Tempat itu sungguh tinggi dan luas, akan dibangun 3 tingkatan yang masing-masing adalah kamadhatu, yaitu dunia yang masih terpaut oleh ‘kama’ atau nafsu yang rendah, rupadhatu, yaitu dunia yang sudah lepas dari kama, namun masih terikat dalam bentuk, serta arupadhatu yaitu dunia Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Sunggug elok sepertinya, Kanda. Bangunan dari batu itu adalah tempat para bhiksu dan para penganut Buddha bersembahyang, dikelilingi danau yang luas, sehingga menjadikan bangunan itu seperti teratai yang berada di tengah kolam. Sungguh gambaran tentang boddhisativa yang elok”

“Sepertinya sungguh indah tempat itu?”

Harini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Suatu hari nanti aku ingin kesana, Kanda.” Kata Harini sambil memandangi langit yang nyaris tak berawan itu. Aku menghela nafas lagi. Menyadari Harini memanglah seorang penganut Buddha yang baik, dan pengetahuannya sungguh luas. Bahkan aku tidak tahu menahu tentang Kamulan Bhumisambara sebelum ini.

“Percayalah, Harini, suatu saat aku kan membawamu kesana, Kamulan Bhumisambara.” Kataku penuh keyakinan.

“Benarkah?!” Harini menatapku ceria, sungguh ceria. Wajahnya begitu lembut dan penuh pesona, matanya yang bagaikan permata itu menyihirku. Aku tertegun dan terdiam, salah tingkah. “Benarkah? Benarkah Kanda hendak membawaku kesana?!??” kata Harini lagi sambil menggenggam tanganku dan menggoyang-goyangkannya. Lalu aku tersadar dan menganggunkkan kepalaku.

“He em, tentu saja.” Aku tersenyum sebisaku pada Harini. Harini masih merautkan keriangan di mukanya, sambil terus tersenyum, dia memelukku.

Dedaunan begitu rimbun, menutupi lantai bumi dengan hampir sempurna, sehingga kami tiada kepanasan di samping air terjun itu. Suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian begitu keras namun membuat suasana hati menjadi tenang. Burung-burung kulihat bersahutan berbunyian seakan menyajikan paduan suara untuk kami berdua, hanya untuk kami berdua, karena tiada manusia lain di sini melainkan kami. Aku duduk menghadap air terjun sambil memeluk Harini dari belakang, menikmati keindahan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Air di sini sungguh sejuk.

“Kanda, jika seseorang percaya pada kekuatan yang maha agung, mereka akan menemukan jiwanya di tempat suci ini.”

“Hmm?”

“Iya. Kanda lihatlah batu besar yang berada di dekat air yang jatuh di sana itu. Orang bersamadhi dengan duduk di sana itu adalah hal yang biasa, mereka kadang menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga akhirnya menemukan suatu alam lain yang lebih menarik daripada dunia. Dia akan menemukan ketenangan batin dan jiwa. Kami percaya bahwa air terjun ini memiliki kekuatan ajaib itu, bahwa orang dapat pergi dan kembali kemana saja hanya dengan melewati pintu yang tiada akan pernah terlihat di atas batu itu oleh orang awam.”

“Adakah yang pernah mencobanya?”

“Bhiksu yang ada di desa kami datang dari sini.”

Aku sedikit tak percaya pada apa kata Harini itu. Bagaimana mungkin hanya dengan berdiam diri di sana akan dapat kemana saja, padahal keberdiamandiri adalah tiada akan pernah mengantarkan seseorang kemana pun pergi, melainkan hanya pikiran yang dapat melayang kemana pun berkehendak, sedangkan dalam arti nyata bahwa tubuh ini hanya berdiam sahaja maka memang akan benar-benar berdiam tiada akan kemana, melainkan orang itu mungkin dapat mewujudkan pikirannya hanya dengan bediam diri sahaja. Tentu aku percaya tiada orang yang dapat seperti itu.