Kusumaningwigati 9: Kembali

by membualsampailemas


Hari menjelang senja, ketika kulihat kelelawar mulai terlihat di angkasa dan burung-burung telah kembali ke sarangnya, kecuali burung yang mencari makan di malam hari dan memulai perburuannya kala senja. Seolah hanya aku dan pepohonanlah yang setia menemani hari dari siang maupun malam di tempat yang seolah tak berpenghuni manusia ini. Tiada manusia yang terlihat atau bahkan tanda-tandanya di daerah ini. Aku bingung haruskah kemana aku berlari. Saat ini aku sangat ingin lekas bertemu dengan Harini, atau pulang ke Balingawan sana untuk sekedar melihat desaku yang terbalut sunyi.

Bulan terlihat di arah timur, meski hari menjelang senja, terlihat begitu cantik dan mempesona pandangan mata. Bulan yang hampir penuh begitu indah terlihatnya. Langit tiada seperti biasanya yang ku lihat, kali ini benar-benar cerah, cerah disini artinya tiada ternoda awan, paling hanya burung yang hendak pulang terbang bergerombol kesana-kemari, serta kelelawar yang mulai bekerja untuk menyambung hidupnya sesuai ketentuan alam. Langit memerah di sebelah barat, seolah sepuhan emas yang membara dan sulit benar terlukiskan kata. Suara-suara binatang malam mulai terdengar bersahutan, membuat bulu kuduk rasanya berdiri semua. Memang, bagaimanapun juga walau aku sering berada di hutan, tapi aku sungguhlah jarang jika masih berada di luar pada masa-masa candekala seperti ini. Aku berjalan tak tentu arah, hanya berjalan dan terus berjalan, berharap menemukan sesuatu yang dapat menjadikan petunjuk. Bagaimanapun, berdiam diri membuat hati terasa sepi, dan di dalam kesepian itu membuat orang bisa menjadi gila atau hilang akal. Tempat seperti ini bukanlah tanpa risiko, banyak hewan malam yang buas berkeliaran yang mungkin aku tiada tahu apa itu.

Aku memutuskan untuk bergerak ke satu arah yang aku pun tiada tahu itu akan berakhir dimana. Setidaknya aku berjalan terus daripada berdiam. Mengambil keputusan seperti ini tentulah bukan tanpa risiko, tapi tiada pilihan lain. Hari telah petang, aku serasa tidak perlu beristirahat malam ini, terus menerus berlari menembus sunyi.

Penantianku dalam pelarian membuahkan hasil, tidak sia-sia. Aku menemukan suara menderu yang deras, air terjun! Ya, pasti itu air terjun. Namun di tengah malam begini, pastilah tak ada manusia di sana. Kudekati sumber suara itu, aku mengendap-endap di tengah malam, ditemani rembulan dan setitik bintang di dekatnya. Cahaya bulan yang keperakan itu membuatku dapat melihat dedaunan walaupun samar, namun itu cukup bagiku daripada tak ada sinar setitik pun. Air terjun adalah sesuatu yang indah yang mengingatkanku pada kekasihku, Harini. Kami pernah bersama di tempat seperti ini, berdua, bagaikan tiada lain melainkan hanya kami berdua, bercengkerama dalam air dan melilitkan yang satu dengan yang lain dalam balutan kain.

Oh Harini, kekasihku, seandainya ada kata baru yang belum terungkap tuk nyatakan rindu, aku kan mengungkapkannya hanya untukmu. Kau mungkin tidak tahu betapa merindunya aku, jauh dari siapa pun membuatku ingin segera memelukmu dalam kehangatan yang mengharu biru.

Menunggu adalah sesuatu yang sungguh menguras tenaga, aku sebenarnya memilih berlari daripada harus terdiam menunggu. Bagaimanapun juga aku tidak dapat berlari mengejar pagi di tengah malam seperti ini, aku bahkan tak memiliki pilihan lain selain menunggu pagi agar segera datang. Juga biarpun seseorang betah menunggu, itu akan terasa lebih lama daripada waktu yang biasanya. Pagi kuharapkan segera datang karena aku telah berada di air terjun ini, di tengah hutan ini. Suasana lingkungan ini benar-benar mengingatkanku pada Harini, mengingatkanku pada air terjun dimana aku dan dia berpeluk mesra tiada henti. Pun di bawah air terjun terdapat batu besar meski tak tepat di bawah siraman air, namun batu itu cukup besar untuk seseorang agar dapat duduk di sana. Samar-samar aku dapat melihat seluruh lingkungan di sini, dengan sinar redup perak cahaya bulan, bulan yang begitu bening dan nyaris penuh itu, mungkin ini malam 12 atau 13 kurasa. Ah, sudah berapa lama aku pergi, aku tidak ingat lagi terakhir kali aku melihat bulan nan cantik seperti ini.

Aku teringat kata-kata yang muncul dari perkataan Harini, bahwa untuk menemukan ketenangan batin dan jiwa itulah caranya dengan bersamadhi. Maka kuputuskan sambil menunggu sang pagi aku hendak mencoba merenungkan diri di atas batu di tengah kolam air terjun itu. Hening, sungguh hening, tiada suara lain melainkan suara air yang jatuh itu.

***

Sri Kahulunan Pramodawardhani adalah putri dari Samaratungga, raja kerajaan Medang ini sebelum Rakai Pikatan, dia adalah anak semata wayang. Sedangkan Samaratungga adalah bersaudara dengan Balaputradewa, mereka berdua adalah kakak beradik, putra dari Samaragrawira. Pernah kudengar tentang rencana pemberontakan seseorang bernama Rakai Walaing pada raja sekarang, entah mengapa di kerajaan yang kelihatannya makmur ini hendak terjadi pemberontakan. Mungkin memang benar bahwa sifat manusia adalah serakah pada kekuasaan, sehingga jalan apapun akan ditempuhnya demi mencapai itu, mungkin pula telah terjadi ketidakadilan yang sebenarnya yang mungkin tidak kuketahui tentnag seseorang bernama Rakai Walaing itu. Kabar beredar bahwa dia bersembunyi di tempat dengan banyak timbunan batu sebagai pelindungnya.

Rakai Pikatan Sri Jatiningrat sendiri adalah raja yang menurutku cukup layak, walau dia berbeda keyakinan dengan banyak penduduk Mantyasih yang sekarnag ini memeluk Buddha Mahayana, dan dengan istrinya sendiri yang meresmikan Kamulan Bhumisambhara. Terbukti hingga sekarang, menurut kabar yang beredar pula, bahwa desa di sekitar Kamulan Bhumisambhara telah dibebaskan dari pajak atau upeti, sebagai gantinya mereka harus merawat candi agung itu. Tentu kebijakan seperti itu bukanlah diberikan secara cuma-cuma, sudah banyak nyawa melayang baik dari orang sekitar candi maupun dari berbagai pelosok negeri demi pembuatan candi maha agung itu. Pengangkatan batu dan pengumpulannya, bisa kubayangkan akan sungguh memakan waktu dan tenaga. Bahakan untuk candi ukuran kecil di dekat desaku, orang-orang perlu bekerja sungguh keras untuk mengusung batu itu dari gunung hingga desa kami. Begitu pula patung Durga di perbatasan desaku, pembuatannya kira-kira ketika aku masih kecil, aku ingat bahwa banyak orang berbulan-bulan dan pengukir batu mengangkut banyak batu dari gunung untuk itu. Seseorang tewas karena tergelincir dalam langkah ketika bergotong royong mengangkat batu yang ukurannya sungguh bukan ukuran yang kecil bahkan sedang.

Dan sekarang, pembangunan Sivagrha untuk membangkitkan kembali Hindu di tanah Jawa setelah bumi ini dikuasai wangsa Syailendra. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah, dimana kukira agama telah dipolitisasi untuk menunjukkan kekuasaan, bukan semata-mata bersembahyang pada Yang Maha Agung. Toh, seperti pernah kukatakan, bahwa orang-orang di Yavabhumipala ini banyak, sangat banyak yang tak terlalu perduli dengan agama yang dipeluknya melainkan hanya beberapa sahaja, yaitu para brahmana, bhiksu, dan orang-orang dilingkaran kekuasaan. Sungguh sedikit orang yang taat beragama pada masa ini.

***

Dalam perenungan, aku merenungkan segalanya, apa yang seberanya terjadi padaku. Apakah ini sebuah ilusi atau kenyataan, atau ilusi yang seperti nyata atau kenyataan yang seperti ilusi. Bagaimanapun juga aku harus tetap tenang dan terus tenang sehingga dapat merengkuh ketenangan batin dan jiwa. Aku terus menutup mataku, tak ingin melihat sekitar, yang kudengar pun hanya suara air terjun yang tiada hentinya itu, gemuruhnya sunggu terasa, cipratan air yang dingin menyentuh kulit dan udara di bawahnya seperti hembusan angin, membuat tubuhku sesekali menggigil.

Kini yang kukhawatirkan hanyalah Harini, Bapak Tua itu pernah bilang tentang desanya agara aku segera kesana, mungkinkah memang sedang ada bahaya yang melanda tanah ini? Aku menunggu secercah sinar pagi yang akan menyinari bumi ini, dengan segenap kehangatannya yang terasa di tubuh ini. Aku merindukan itu. Aliran air dari sini pastilah menuju ke suatu tempat yang mungkin akan bermaura ke laut lepas, bersatu dengan alam yang sesungguhnya. Layaknya air itu, aku mencoba menenangkan diri dengan membiarkan alam membawa jiwaku kemanapun pergi, ketempat asalku yang sesungguhnya, ketempat dimana semua tiada dan bermula, dimana aku dapat bertemu manusia dalam ketiadaan, seperti air sungai yang bertemu air laut, mereka pernah bersatu namun terpisah suatu waktu dan dapat kembali lagi bersatu. Kini aku sedang terpisah pada sesamaku, maka aku menyerahkan diri pada alam untuk membawaku ke tempat asalku. Aku terus memejamkan mata dan berusaha berkonsentrasi untuk menyatu, nyawiji, pikiran dan perasaan.

Sampai kurasakan kehangatan menerpa pipiku dan secercah cahaya menembus kelopak mataku, kurasa ini sudah pagi. Maka kubuka mataku dari keterjagaan yang sesungguhnya antara sadar dan tiada sadar itu, kulihat suasana tempat air terjun itu yang kini tiada asing. Ya, itulah air terjun tempat aku dan Harini bersuka cita bersama dahulu.