Kusumaningwigati 10: Nyawiji

by membualsampailemas


Aku berlari, berlari sebisaku dan sekuatku menuju desa tempat Harini berada. Khawatir terjadi sesuatu di sana, pun aku tidak tahu sudah berapa lama aku menghilang dari hadapan orang-orang sejak aku terkena Kapalika dan diselamatkan Bapak Tua itu. Tiba-tiba aku merasakan hal aneh, kakiku terasa sangat enteng entah mengapa, aku merasa berlari sungguh kencang.

Hal mengejutkan terjadi ketika aku sampai pinggiran desa, sepi. Apa yang telah terjadi di sini? Aku tertegun melihat semuanya. Rumah-rumah penduduk kosong. Harini? Dimanakah dia? Dimanakah Harini tercintaku?!

Siang itu terasa begitu terik, tanah sungguh terasa lembap, dedaunan rimbun bergesekan satu sama lain terkena angin sepoi, sedangkan daun-daun lain semisal daun bambu kering tergeletak dan lengket di tanah, beberapa beterbangan tertiup angin. Tupai-tupai berloncatan di antara cabang-cabang pohon, tupai jantan mencium bau tupai betina dan mengejarnya terus hingga tertangkap untuk kawin. Burung alap-alap terbang ringan di angkasa tanpa mengepakkan sayap, sedang mencari mangsa untuk siang ini, mungkin juga untuk anak-anaknya yang setia menanti sang induk entah dimana.

Dibalik semak-semak sana pastilah banyak semut yang bekerja tak mengenal lelah untuk mengumpulkan makanan ke liang sarangnya, kadang merembet ke pepohonan belukar untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan. Katak bersembunyi di liangnya, menunggu malam nanti yang dikiranya akan turun hujan sehingga dapat bersenandung kembali menemani rembulan yang hampir penuh. Dapat kubayangkan betapa alam ini begitu rumit mengatur makhluk-makhluk di dalamnya, dan memang begitulah alam bekerja, sungguh rumit. Antara mengadakan dan meniadakan, sesuatu yang sudah jadi tradisi sejak dahulu kala sebelum manusia di Yavabhumipala tercipta.

Aku termangu di depan rumah Harini, terduduk lemas di pelataran rumahnya, menyadari bahwa tiada orang di sini lagi. Lalu kemanakah kiranya mereka? Tidak ada sama sekali tanda-tanda perampokan atau kekerasan di desa ini, rumah-rumah ditinggalkan dalam keadaan seperti semula berpenghuni, tiada yang sengaja dirusak melainkan oleh alam itu sendiri, tiada yang terlihat janggal. Namun kukira penduduk desa ini pastilah mengungsi dan meninggalkan tempat ini dengan baik-baik. Tapi sejak kapan dan kemana? Apakah Harini juga ikut dengan mereka? Atau jangan-jangan dia pergi ke desaku dan tidak menemukanku karena aku sedang pergi kala itu?

Air mataku meleleh tanpa ku inginkan, aku bukan menangis, hanya tiba-tiba saja air mataku keluar seperti orang menangis. Harini adalah satu-satunya orang yang aku cintai dan sayangi di dunia ini selain ayahku dan ibuku yang sudah tiada dan hanya meninggali rumah serta kebun di dekat sungai yang dulu aku sering melihat Harini dari sana. Sampai aku lupa! Sudah berapa lama kebunku tidak kurawat!? Ayahku meninggal ketika aku berusia 15 tahun, dia menghilang begitu saja sampai akhirnya ditemukan beberapa hari setelahnya meninggal di seberang sungai, tak ada yang tahu penyebab pasti kematian ayahku itu, ada yang bilang dia terpeleset, ah pun aku tidak begitu mempedulikan itu, yang kutahu kala itu aku sungguh sedih. Sedangkan ibuku telah meninggal sesaat setelah melahirkanku. Aku belum pernah merasakan kelembutan seorang ibu dan kasih sayangnya, bagaimana wajahnya, yang kuingat hanya ayah yang senantiasa sabar mengasuhku dengan segala tingkah lakuku yang nakal. Tinggal sendiri di rumah setelah semua keluargaku pergi membuatku harus berperilaku mandiri sedari dini.

Aku sama sekali tidak merasa menangis maupun sesenggukan meski air mataku meleleh begitu saja, itu mungkin hanya karena aku terlalu khawatir kepada Harini, seseorang yang seharusnya kujaga selalu. Aku selalu ingat bagaimana caranya tersenyum manja dan bertingkah kekanakan padaku, namun terkadang dia juga dapat bersikap layaknya orang dewasa. Sungguh aku menyesal telah meninggalkan Harini. Lalu kemana dia pergi?

nyawiji

Dalam konsep kejiwaan, manusia memiliki pikiran dan perasaan. Seseorang akan menjadi lebih dewasa ketika pikiran dan perasaannya telah nyawiji atau menjadi satu. Tidak ada salah satu dari itu yang lebih menonjol karena keduanya memang harus menonjol bersamaan dalam konsep kesatuan pikiran dan perasaan itu. Nyawiji adalah sesuatu yang diajarkan ayah kepadaku beberapa hari sebelum beliau meninggal, mungkin sekitar seminggu sebelumnya. Ketika itu seperti biasa, aku menangis teringat akan ibu yang belum pernah sekalipun aku merasakan bagaimana peluk kasih darinya, belum pernah aku merasakan bagaimana ditimang ibu, bermanja dengan ibu. Aku sedih dan menangis selalu ketika mengingatnya. Ayahku selalu mengetahui ini sampai suatu ketika, beliau berkata:

“Belajarlah menjadi dewasa, nak. Kau tidak bisa terus-menerus seperti ini. Yang sudah tidak ada, maka biarkanlah tenang di alam sana. Sesungguhnya ibumu tidak pergi kemana pun melainkan dia tetap ada di sekitar kita, di hatimu, nak. Kendalikan perasaanmu, jangan sampai perasaanmu melebihi pikiranmu sehingga kau akan selalu terbawa perasaan. Bertindaklah dengan matang dan berpikir. Namun sekali-kali juga janganlah melebihkan pikiranmu atas perasaanmu.”

Beliau menagatakan itu sambil memegang pundakku, aku masih sesenggukan kala itu.

“Bertindak dengan menonjolkan pikiran tanpa perasaan akan membuatmu hina di mata orang, begitu juga bertindak dengan perasaan tanpa berpikir adalah hal bodoh. Kedua pikiran dan perasaanmu itu sejatinya satu, maka satukanlah keduanya. Ketika kau dapat mengendalikan pikiran dan juga perasaanmu secara bersamaan, maka kau akan mencapai tingkatan lanjut dari hidup seorang manusia. Mungkin sekarang kau belum memahaminya, namun suatu saat dengan menerapkan sikap nyawiji ini, kau akan meraih kebebesan jiwa yang sesungguhnya”

Aku sekarang tahu bagaimana nyawiji itu, bagaimana mengendalikan pikiran dan perasaan bersamaan. Pria bukanlah makhul yang tidak boleh menangis, menangis itu sejatinya hanya merupakan ekspresi sesaat, kala perasaan menguasai diri. Itu sangat wajar. Namun berlama-lama menangis maupun meratap adalah hal yang tidak baik untuk manusia itu sendiri. Bukankah yang lalu memang telah berlalu, dan sekarang ini adalah berbeda dengan masa lalu, begitu pula masa depan yang masih misteri. Maka diriku yang hidup pada masa sekarang, bukan lagi pada masa lalu dan belum juga untuk masa depan, harus menguasai diriku sendiri sebelum aku menguasai lingkungan sekitar. Terkadang beberapa orang pernah menangis tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, sebenarnya mereka tengah dihadapkan pada kenyataan bahwa alam bawah sadar mereka masih merekam memori yang buruk di masa lalu yang tidak pernah terselesaikan persoalannya dan hanya dipendam, terkubur dalam kenangan memilukan. Sepertinya lama-kelamaan akan terlupa, namun sejatinya tidak. Maka dari itu seseorang haruslah menyelesaikan masalahnya sekarang juga, tanpa menunda-nundanya.

Kini pikiranku dan perasaanku dituntut memang harus menjadi satu, aku tak boleh gegabah bertindak, juga aku tidak boleh terlalu nekat. Namun aku masih bingung hendak kemana tujuanku setelah ini, bagaimana aku akan menemukan Harini. Haruskah aku kembali ke Balingawan dulu? Mungkin itu yang terbaik, siapa tahu Harini menyusulku ke sana atau paling tidak aku dapat memperoleh keterangan di desaku itu.

Aku mengusap air mataku yang meleleh, namun aku sama sekali bukanlah sedang menangis atau meratap. Ketika seseorang dapat mengendalikan perasaan dan pikirannya bersamaan, dia tidak akan mudah untuk menangis dan terbawa perasaan. Tapi bukanlah berarti orang itu tidak boleh dan tidak mungkin akan tidak menangis. Suatu saat pasti, jika sesuatu terjadi pada orang-orang yang benar-benar dicintainya, atau sesuatu yang benar-benar dicintainya, dapatlah dia menangis. Aku berdiri dengan tegak dan siap menghadapi segalanya untuk menemukan Harini. Termasuk Kapalika yang akhir-akhir ini sedang gencarnya berburu manusia.

Tunggulah aku, Harini, dimanapun kau akan pasti akan menemukanmu. Aku akan mengajakmu melihat sebuah karya mahaagung di Yavabhumipala, yaitu Kamulan Bhumisambara yang sering kau ceritakan itu. Aku akan membawamu melihatnya bersamaku. Teratai di tengah danau yang sungguh indah. Kini terataiku hanyalah dirimu seorang, seseorang yang ingin kujaga dan kulindungi. Aku melangkahkan kakiku memulai perjalanan menuju Balingawan.