Tak Ada yang Salah dengan Hari Ini

by membualsampailemas


Sama sekali tak ada yang salah di hari ini, sama sekali tak ada yang salah. Semua hari hampir sama sahaja, hanya tanggal dan bulannya yang berbeda. Lalu kenapa menulis?

Begini, saudaraku yang budiman, semuanya baik-baik saja sampai ketika ada orang yang mempermasalahkan dan membuat permasalahan mengenai suatu hari, bukan hanya di hari 14 Februari, namun mungkin juga pada hari-hari lain seperti hari 12 Rabiul’awal, dan lain sebagainya.

Oke, kita mulai dari kejadian di 12 Rabiul’awal kemarin, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Tau hari itu hari apa? Itu adalah Maulud Nabi Muhammad SAW. Lalu kenapa? Tentu tidak ada apa-apa, sampai ada orang yang mempermasalahkan tentang peringatan Maulud Nabi, mempertanyakan perayaan Maulud Nabi yang padahal selama Nabi Muhammad masih hidup, beliau pun tiada pernah merayakan yang namanya Ulang Tahun beliau. Dan kebetulan, Nabi wafat pada tanggal yang sama. Lalu orang-orang yang mengadakan pengajian dalam rangka mengenang Nabi pada hari ini dipertanyakan/dipermasalahkan. Bid’ah? Oh, tidak.. Mau jadi apa orang yang masih saja mempermasalahkan soal yang begini.

Marilah kita sebagai manusia yang berusaha dewasa dan dalam rangka membangun negeri ini menuju ke arah yang lebih baik dengan kedewasaan berpikir dan bertindak, memaklumi segalanya, memahami segalanya sebagaimana sewajarnya. Maulud Nabi adalah bukan hari raya, melainkan hari biasa yang Nabi Muhammad sendiri lahir dan meninggal pada hari tersebut. Yaudaaah.. Untuk yang mau memperingati hari itu, sebagai bentuk rasa sayang kita pada Nabi kita, sebagai bentuk menjalin silaturahim dengan sesama, membagi ilmu lewat pengajian, menebar kasih sayang di antara para jamaat yang hadir dan tidak mengkultuskan atau menghiperbolikkan hari itu, hanya sekedar itu, itu sama sekali tak masalah bukan? Sama sekali bukan bid’ah, meeen.. Ini hampir sama dengan bagaimana orang-orang memiliki ide untuk membukukan Al-Quran, yang dari lisan menjadi tulisan. Yang tidak mau memperingati atau menentang peringatan hari ini, yaudaaah, gak usah menjelek-jelekkan sikap orang lain dan menganggap pandangan sendiri benar. Memang Nabi tak pernah merayakan, namun orang-orang jaman sekarang, mereka hanya ingin pengajian, mengaji, menimba ilmu dan meneladani Nabi, supaya kita ingat selalu pada beliau. Paham gitu loh.

Yang kedua, soal 14 Februari. Hari kasih sayang, Hari Valentine. Yak betul ini budaya luar negeri. Kan iya? Lalu apa masalahanyaaa?? Yasudah biarkan yang mau mengucapkan “Selamat Hari Kasih Sayang/Valentine!”, atau mau merayakan, atau mau memberi cokelat, dan sebagainya. Betul ini bukan budaya Indonesia, kan iya? Juga jika orang lain mungkin bilang ini bukan Budaya Islam, juga benar. Tapi hei, ingat, sekarang ini era global, masyarakat sudah semakin membaur. Budaya mungkin sekarang adalah budaya manusia secara keseluruhan. Begitu juga Budaya Islam, apakah sama Budaya Islam itu dengan Budaya Arab?? Beda meeen.. Islam tak selalu identik dengan yang ke-arab-an, juga Arab pun tak melulu soal Islam. Bedakan mana yang Arab, mana yang Islam. Kita dituntut untuk meng-Islamkan diri sendiri (jika muslim), bukan meng-Arabkan diri. Jadi tak masalah jika anda hendak memakai baju batik, baju lengan pendek biasa untuk pergi ke masjid, tak perlu memakai gamis model Arab, Pakistan, Afghan, dsb. Itu budaya negara lain, bukan budaya Islam pada khususnya. Lalu Nabi dulu bagaimana?

Ini nasihat untuk saudaraku sesama muslim yaa, nasihat saja. Ingat, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa, Islam turun adalah rahmatanlil’alamiin. Islam turun untuk memperbaiki akhlak manusia, dari jahiliyah (kebodohan), menuju jalan yang terang, yang lurus, yang benar. Jadi intinya apa? Manusia Islam dituntut untuk berlaku baik, khususnya dalam hubungannya dengan manusia lain, dalam perbuatannya, dalam tindak tanduknya, manusia dituntut untuk menghindari sikap kebodohan.

Di lihat konteksnya, Sekarang kenapa di Al-Qur’an hampir selalu ditulis, Wa aqimisshala, wayu’tunazzaka, dirikanlah Shalat, tunaikanlah Zakat? Artinya menurut persepsi subjektif saya, adalah kita yang pertama harus membaikkan hubungan kita dengan Allah, namun jangan sampai ketinggalan bahwa kita juga harus membaikkan hubungan kita dengan sesama manusia, sesama manusia bukan hanya dengan sesama orang yang beragama sama, namun juga dari seluruh kalangan orang beragama, baik itu Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, Zoroaster, Katolik, Animisme, Kejawen, bahkan Atheis pun. Sesama manusia, ingat itu.

Saudaraku yang budiman dan baik hatinya, kapan sih orang muslim akan maju, jika yang diurusinya adalah melulu tentang bagaimana kita memperoleh pahala dengan cara-cara yang hanya melibatkan diri sendiri. Seperti sunnah-sunnah Rasul yaitu shalat malam, shalat fajar, berpuasa sunnah, adab makan, dan sebagainya. Itu adalah ibadah yang melibatkan hanya diri sendiri, tak melibatkan orang lain, menurut persepsi subjektif saya. Memang itu perlu, sungguh perlu. Itu dianjurkan oleh Nabi SAW, sama sekali tak salah. Namun mari kita tengok ke belakang, Nabi benar mencontohkan hal tersebut, namun beliau sungguh adalah manusia yang sangat peduli pada orang lain, bahkan pada musuhnya. Ingat kan cerita tentang bagaimana Nabi yang selalu memberi makan Orang Tua Buta Yahudi di pojok pasar setiap paginya, sampai suatu saat Nabi telah wafat dan berganti Abu Bakar yang memberinya makan? Ingat kan bagaimana perilaku Nabi dalam menyantuni anak-anak yatim, janda, korban perang, bagaimana beliau memaafkan musuh dan selalu menebar kasih sayang. Bahkan perang pun adalah merupakan pilihan terakhir sebenarnya, bukan yang utama.

Jadi, salah jika seorang Islam memiliki sikap yang berbeda yang ditujukan antara kepada sesama muslim dengan yang bukan muslim. Seharusnya kita bersikap sama pada siapa pun. Ini adalah tuntutan agama, bukan sekedar tuntutan zaman.

Marilah kita menghormati bagaimana seseorang lain merayakan sesuatu dan memahami mereka, jika kita ingin dipahami, maka pahamilah orang lain. Kita sebagai muslim tak bisa egois dan mau menang sendiri. Tugas kita sebagai manusia adalah bersama-sama melindungi. Jika anda berbuat baik, pastilah anda mendapat pahala, percayalah akan hal itu. Namun jika orang hanya mengharapkan pahala dari sesuatu yang diperbuat sendiri, belum tentu akan memberi manfaat pada orang lain yang membutuhkan. Dan ingat, kita sebenarnya hanyalah manusia biasa yang pada dasarnya ‘pamrih’, maka Allah memberikan imbalan ‘pahala’, namun jika manusia sudah paripurna, dia mengharapkan ridha Allah. Bacalah makna surah Al-Insaan, di dalamnya berisi penjelasan berbagai kenikmatan yang akan diberikan pada manusia di alam selanjutnya kelak, juga berbagai siksaannya. Namun hanya beberapa ayat saja yang benar-benar menegaskan perbuatan yang bagaimana yang akan diberi imbalan kenikmatan. Apa artinya itu? Itu berarti bahwa Allah tak mengharapkan kita untuk berbuat macam-macam, hanya segelintir perbuatan baik pada sesama sudah akan membuatmu sangat berpahala dan insyaAllah mendapat ridha-Nya.

Sekian dari saya, ini murni adalah pandangan saya, jangan salahkan orang lain jika ada kesalahan saya dalam menuliskan pandangan ini. :) Mari kita saling menjaga, memahami, dan menyantuni.