Tampil Beda

by membualsampailemas


Gareng memutuskan untuk mengikuti Career Day, sebuah acara di salah satu sekolah tinggi yang katanya sebentar lagi mau dijadikan universitas, katanya.. Tak mau sendiri, Gareng mengajak Bagong untuk ikut menemani nonton acara itu, pembcaranya pak X dari Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan Republik Antah Brantah (RAB).

“Gong, nanti jangan malu-maluin ya kalau duduk, jangan ngupil, ini pembicaranya orang terhormat lho, jangan celelekan” celetuk Gareng sambil jalan.

“Ya ndak no..! Bukannya malah kamu, Reng?” sahut si Bagong santai, khas gayanya.

“Pokoknya, nanti kalau misal ada sesi tanya jawab itu, kamu ajukan pertanyaan yang berkelas..!”

“Beres!”

Berlalulah mereka berdua ke gedung G kampus yang katanya mau bubar itu. Sesampainya di sana, ternyata sudah rame sangat, acara sudah di mulai, Gareng dan Bagong pun mengambil tempat duduk di jajaran depan biar bisa mendengarkan ceramah dengan jelas. Maklum, Bagong akhir-akhir ini agak budheg (tuli), sedangkan Gareng sudah agak blawur (rabun).

“Kok ndak dapet pacitan (camilan/makanan) ya, Reng?” celetuk Bagong santai, hampir tanpa ekspresi.

“Tiket cuma lima ribu kok le mau dapet pacitan. Ngimpi..! Dah ”

“Yo mbok menawa ae, Reng (Ya siapa tau aja, Reng). Eh, kok ini belum ada to pembicaranya? Masih MC nya thok ik..?”

“Yo aku ndak tahu to ya..! Dah, perhatiin aja.”

Tak begitu lama, sang pembicara pun akhirnya datang. Moderatornya berbicara, talkshow dimulai. Gareng dan Bagong pun mendengarkan dengan seksama. Pembicara dengan suara serak-serak basah, yang mungkin kecapekan karena ngomongnya terlalu ngotot menjelaskan tentang BKF itu. Gareng sebenarnya tak mudeng dengan semua itu, namun dia terus berusaha memperhatikan biar kelihatan seperti orang pinter. Bagong cuma melongo mendengarkan ceramah yang bertubi-tubi. Apa isinya? Mereka kurang mengerti.

Hingga suatu ketika sang pembicara itu berungkap bahwa, teman-temannya yang kini sukses dan menduduki posisi penting di sebuah sistem birokrasi, dulunya adalah mahasiswa aktivis di kampusnya masing-masing. Ada yang ketua senat, ada yang ketua BEM, ada yang menteri di BEM, dan sebagainya. Wow! Begitu terkejutnya Gareng dan Bagong. Mereka salingberpandangan seolah mengkodekan bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.

“Gong, kamu sadar to? Kamu itu mahasiswa yang kupu-kupu, kuliah njuk pulang kuliah-pulang, bukan aktivis, pinter juga enggak banget-banget.”

“Lha njuk gimana to maksudnya?” sahut Bagong polos.

“Yo kamu ndak usah mengharap jadi atasan di kantor, apalago jadi orang yang pegang jabatan kelak. Wong sekarang aja memble begini.”

“Kok kesannya jadi aku to yang disalahin?? Kamu mbok juga kayak aku to ya, Reng.”

“Lha aku mending, masih suka twitteran, tahu perkembangan dunia, lha kamu?” sahut Gareng monyombong, padahal dia kerjaannya ya cuma twitteran, pun twitter itu bukan asli dari Republik Antah Berantah.

“Oh, gitu ya?” Bagung berujar singkat. Menatap si pembicara dengan sinis. “Lha kok emangnya cuma aktivis kampus aja po yang bakal berhasil jadi pejabat? dapet beasiswa ke luar negeri?”

“Coba tanya aja itu ke pembicaranya nanti di sesi tanya jawab.” ujar Gareng seenaknya. Dia tak menduga dan berprasangka baik pada Bagong bahwa Bagong berani untuk bertanya pada si pembicara.

Tak beberapa lama, sekitar setengah jam kemudian, dibukalah sesi tanya-jawab antar pembicara dan si pendengar-pendengar tadi. Mulanya Bagong agak sungkan untuk bertanya tentang hal yang tadi itu, namun dengan segenap keberanian, Bagong mengajukan diri tuk bertanya. Dia mengangkat tangan.

“Yak, mas yang di sana, yang agak gemuk dan hitam itu silakan mengajukan pertanyaan.” ujar sang moderator.

Dikatai begitu oleh si moderator, Bagong sama sekali tak berekspresi. Memang sudah sejak lama Bagong itu orang yang nrimo dengan perkataan-perkataan nylekit di hati, dia tak habis energi untuk memasukkannya dalam hati. Dia patut diteladani, tak mudah tersinggung.

Majulah Bagong ke depan, dekat panggung. Gareng terheran-heran pada temannya itu. Kok berani-beraninya dia tanya dan serius gitu?

“Syemalat syiang!”. ngiiing! bunyi mikrofon mendenging. Suara Bagong menggema di gedung.

“Yak silakan.” ucap moderator.

“Saya Bagong, warga negara antah berantah yang ikut berkontribusi membayar pajak. Cuman mau nanya aja ke bapak pembicara ini, simpel, apa ada teman bapak yang dapat beasiswa ke luar negeri dan dapat jabatan lumayan di kantor, namun dulu waktu menjadi mahasiswa dia bukan aktivis?”

Sontak pembicaranya tersedak. Dia menahan tawa. Bagong masih tanpa ekspresi, lalu kembali ke tempat duduknya di barisan depan itu. Gareng menepuk punggung Bagong.

“Jozz! kok berani-beraninya kamu beneran tanya to?” ucap Gareng sambil tertawa.

“Lha wong penasaran aku kok.”

Ah dunia, dengan segala peristiwa yang tak pernah terungkap dan yang pernah terungkap, dengan segala jujur dan bohongnya, dunia yang penuh dengan manusia. Gareng dan Bagong masih melongo menahan lapar di keramaian forum talkshow tersebut. Sang pembicara yang bijak tentu akan berhati-hati dalam berkata, berpikir dulu sebelum berkata, berbijak sejak dalam pikiran lalu ucapan, lalu perbuatan. Integritas.

“Jarang ditemui, mahasiswa yang biasa-biasa saja waktu di kampus dulu lalu menjadi sesukses para aktivis, pun tak semua aktivis di kampus dulu akan mendapatkan kedudukan dan rejeki yang sama. Jika ada seorang yang sukses dalam mendapat beasiswa dan kedudukan dalam sebuah birokrasi, jika bukan karena dulunya aktivis, maka dia adalah orang yang terdepan dalam prestasi.” tukas si pembicara.

Gareng berujar: “itu artinya, dunia ini seolah milik para aktivis dan para pemilik IP terkaya yang dulu di kampus jaya, kalau orang seperti kita ini ndak bakal jadi apa-apa, Gong.”

“Lha kok kamu psimis gitu to, Reng?” Bagong menatap dalam-dalam mata Gareng.

“Lha itu nyatanya, bapaknya yang bilang kok.”

“Ya itu mungkin kamu. Kalau aku, aku bakal buktikan kalau mahasiswa yang bukan aktivis atau leading dalam prestasi seperti aku ini, kelak juga bisa kaya bapak itu.”

“Amin!” Ujar Gareng, dia seolah cuma sekedar berujar, tanpa betul-betul mengamini.

***

Gareng dan Bagong berjalan pulang. Hari sudah sore, angin sepoi menerpa wajah mereka yang kusut karena belum makan siang. Pak Semar sudah duduk-duduk di teras rumah menanti Gareng dan Bagong.  Si Petruk belum pulang dari bekerja.

“Pakdhe!” celetuk Bagong.

“Piye? (Gimana?)”

“Ndak piye-piye, pakdhe.”

“Dapet ilmu apa dari talkshow barusan?” tanya Pak Semar.

“macem-macem pakdhe, pengetahuan!” jawab Gareng.

“Contohnya?”

“Bahwa orang yang biasa-biasa saja, kelak bisa menjadi orang penting, aku bakal membuktikan, pakdhe..!” ujar Bagong bersemangat. Lalu dia duduk senderan di sitje. Gareng masuk ke dalam sambil tersenyum-senyum.

“Le (Nak), kalau kamu mau jadi agen perubahan, kamu harus tampil beda.”

“Beda gimana?”

“Renungkan itu noo.. kalaupun tidak sekarang, masih ada esok untuk tampil beda, kalau kamu masih punya ‘esok’.”

Langit perlahan memerah, angin berhembus tetap perlahan, dedaunan pisang melambai-lambai di depan rumah Pak Semar. Bagong terus merenungi perkataan itu, ‘tampil beda’. Jika Bagong salah dalam mempersepsikan ‘tampil beda’, esok pagi dia akan berangkat kuliah mengenakan celana pendek dan sandal jepit,..jika ia salah. :)