Pendekar

by membualsampailemas


Aku memiliki seorang teman, dia adalah seorang penyendiri. Layaknya seekor elang, dia selalu sendiri kemana pun pergi, tiada teman yang menemani, hanya sendiri. Aku tak tahu apakah dia memang suka seperti itu, atau memang karena sesuatu maka banyak yang tak mau bersamanya, atau entahlah. Namun dalam kesendiriannya, aku menduga dia adalah seorang pemikir hebat, ya pemikir yang selalu berpikir tentang apa pun. Sayangnya aku tak melihatnya berbuat apa pun pula.

Namanya Mr.X, dia adalah seorang tokoh dalam cerita ini yang belum terselesaikan dan tentu saja sebenarnya belum diberi nama. Pernah suatu ketika aku sedang menonton suatu pentas di gedung teater, dia datang sendirian. Sewaktu dia melihatku, dia mendekat dan tersenyum. Pun aku menawarkan tempat duduk di sebelahku yang kosong.

“Hei, sendiri?”

“Ya. tentu..” jawabnya santai.

“Kenapa tak bersama seorang pun teman??” tanyaku penasaran. Terucap begitu saja. Namun dia hanya tertawa, tertawa biasa. “Kenapa tertawa?” tanyaku lanjut. Aku penasaran.

“Aku ini pendekar pengembara, maka dari itu aku selalu sendiri kemana-mana.” jawabnya santai. Aku mengernyitkan dahi, heran dengan tingkahnya. Gila.

“Benarkah?”

“Tentu..!”

Lalu aku tak menanggapinya lagi, melihat terus ke depan ke arah panggung yang sebentar lagi akan dimulai pentasnya.

Wow, orang ini benar-benar gila, pikirku. Aku tak habis pikir, bisa begitu jawabannya padaku. Seorang pendekar? Becanda saja.

***

Cuaca terik, angin seolah enggan tuk berhembus, jikalau berhembus pun akan sangat perlahan sehingga tiada terasa pengaruhnya di kulit ini. Aku berjalan pulang dari kerja, berjalan kaki tentunya, karena itu kebiasaanku.

Di tengah perjalanan, tak kusangka aku tetiba dihadang segerombolan olang. Perampok!

“Serahkan uangmu!” Kata salah seorang dengan nada membentak.

“Hei, saya pekerja pabrik biasa, kenapa tak meminta pada yang lebih punya saja?!” sakutku tak kalah bentak.

“Jangan banyak alasan kamu!”

“Siapa pula beralasan? Saya hanya bertanya.”

“Ah, kelamaan cakap!” Lalu ada salah seorang lain mengayunkan pukulan, hendak memukul wajahku. Aku berusaha menghindar sebisanya.

Namun tetiba saja, aku menyadari bahwa sebelum aku menghindar sepenuhnya, orang yang mengepalkan gendamnya padaku telah jatuh tersungkur. Aku terkejut bukan kepalang. Lalu kulihat bayangan cepat menyambar-nyambar pada gerombolan orang itu, cepat, sangat cepat, bagaikan tiada lagi yang lebih cepat dari bayangan itu, aku pun hanya melihatnya sepintas cepat. Dalam sekejap orang-orang yang mengepungku ambruk tak berdaya.

Terkejutnya aku bukan kepalang ketika menyadari bahwa Mr.X telah berada di sisiku.

“Sudah kukatakan sebelumnya, aku ini pendekar.” Katanya tenang. Lalu dia berbalik arah dan pergi.