Goresan Tinta untuk Seseorang di Jawadwipa

by membualsampailemas


Teminabuan, 17 Agustus 1962

Kali ini pagi hampir datang, aku sempoyongan menyambutnya. Semalaman tiada tidur dan nyaris tiada berbuat apa-apa. Ya, hanya membelalakkan mata hingga bosan dan ingin menutupnya. Berjaga.

Pagi datang perlahan, semilir angin pagi hampir tiada terasa. Semua bayangan yang terangan mulai kabur dan sirna. Aku mengakhiri kegalauan malam dengan seiring datangnya pagi.

Kau tahu apa itu pagi? Pagi adalah suatu masa dimana matahari memulai menampakkan cahayanya, menyinari semesta bumi yang senantiasa berputar tiada henti. Pagi adalah suatu masa dimana burung mulai berkicau lagi, angin bergerak perlahan sekali, dan istriku biasanya membuatkanku secangkir kopi. Aku mengharapkan pagi yang cerah dan senang itu lagi. Namun semuanya itu sirna ketika aku tersadar bahwa aku belum tidur semalaman, dan aku sendirian disini, tiada menanti namun dinanti, tiada dilayani melainkan melayani diri sendiri, tiada istri yang membuatkan kopi seperti dulu juga lagi.

Larasati, engkau seharusnya tahu bahwa aku tiada berhenti mencintai, mencintai dengan sepenuhnya dan setulusnya hati, kepadamu aku menuangkan secangkir rinduku setiap malam dalam dekapan kehitaman pekat di belahan bumi ini. Kepadamu aku meluapkan segala kegalauan karena sekarang kita tiada dapat bertemu.

Sayangku yang sabar menanti, aku tahu bahwa engkau pastilah tiada sabar menanti kedatanganku ini, namun aku terpaksa harus mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuatmu meneteskan air mata dalam lembaran surat yang baru saja datang kepadamu ini, membasahi tiap goresan tinta sehingga hampir tiada terbaca, bahwa aku mendapatkan tugas untuk mengawasi hutan belantara yang seolah tiada bertepi di bumi Irian ini, keadaan semakin kacau dan tiada terkendali. Atasanku menyuruhku untuk memperpanjang masa tugasku, aku tiada lain dapat diperbuat melainkan hanya menuruti.

Hatiku berkecamuk ketika mendengar perintah itu, sungguh aku sangat sedih karena harus menunda pertemuan denganmu, harus mengulur rinduku, harus membuatmu lebih lama menantiku. Namun tiada dapat kubantah lagi semua itu. Namun di sisi lain aku bersyukur karena pada 15 Agustus 1962 kemarin kudegar dari radio bahwa terdapat perundingan New York antara Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Markas Besar PBBdi New York. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Dan dari perundingan itu muncullah beberapa keputusan yang kurang lebih berisi bahwa di masa yang akan datang, bumi Irian ini akan menjadi wilayah kesatuan Negara Indonesia kita ini, namun sebelumnya kudengar juga bahwa Irian akan dibawah pengampuan PBB pada masa peralihan penyerahan ini.

Larasati, kupikir Amerika takut jika tiada mendukung Indonesia dalam perebutan bumi Irian ini lalu Indonesia berpaling ke pihak Uni Soviet dalam situasi pasca perang dunia ke-2 ini. Amerika takut jika perebutan wilayah ini akan merembet pada persoalan perang dinginnya dengan Soviet sana, maka dari itu mereka pastilah akan mendukung kita dalam perebutan wilayah Irian ini. Namun, sesungguhnya aku ragu akan keputusan perebutan wilayah ini, bagaimana suatu hari kelak Indonesia dapat membangun bumi belantara ini dan mengurusinya dengan benar. Kau harus tahu, istriku, bahwa sungguh tiada mudah bertahan hidup di sini, kota-kota belum lah seramai di Jawa. Engkau dapat menyebut suatu kota di sini sebagai desa jika perbandingannya dengan bumi Jawa sana. Selain itu untuk membuka hutan belantara di sini sungguh bukanlah perkara gampang, medan yang tiada bersahabat serta masih banyak penduduk asli yang pemikirannya belumlah terbuka sepenuhnya mengenai kemajuan zaman pasti akan menyulitkan dalam proses pembangunan.

Terlepas dari itu semua, aku sungguh mengharapkan pulang daripada tinggal di sini lebih lama, walau pun kepentingan negara adalah yang utama, namun kurasa ini sudahlah selesai pada batasnya. Ketika surat ini tersampaikan padamu, ku kira sudah beberapa bulan lamanya sejak surat ini tertulis oleh tanganku yang selalu gemetar memegang pena. Kuharap engkau masih sabar selalu hingga waktu itu tiba, waktu dimana aku akan pulang ke tanah Jawa. Beroleh dengar aku bahwa kami dari Sorong sini akan dipulangkan pada akhir tahun ini, menunggu pasukan lain datang untuk menggantikan. Selama masa itu, Irian masih dibawah pengampuan UNTEA dari PBB.

Akhirnya perjuangan ini tiada sia-sia, melainkan dapat merebut bumi Irian ke tangan Indonesia. Bagaimana saudara-saudara seperjuanganku banyak yang meninggal dalam operasi-operasi pendaratan karena tiada dilindungi angkatan udara. Bagaimana banyak yang jatuh sakit karena malaria. Dan bagaimana orang yang diculik oleh penduduk asli sini dan dibawa hilang entah kemana.

Larasati, engkau bersyukurlah dahulu karena tiada jadi mengikut kemari setahun yang lalu. Aku sadar betapa kau ingin selalu menemaniku, namun aku pun khawatir akan keselamatanmu. Beberapa bulan yang lalu, Tuan Soedibjo, seorang perwira datang kemari membawa istrinya. Namun tiada di sangka-sangka beberapa hari setelahnya terjadi kejadian penculikan atas istrinya yang dilakukan oleh suku pedalaman. Aku tak memungkiri bagaimana cantiknya istri dari Tuan Soedibjo untuk orang sini, bagaimana mereka memandang kita sebagai orang berkulit putih walau sebenarnya kita berkulit cokelat. Kurasa kepala suku dari penculik itu pastilah akan menjadikan istri. Hingga sekarang tiadalah bertemu suatu kabar menggembirakan dari pencarian korban penculikan itu. Asal engkau tahu, bahwa terlalu banyak medan yang sulit, dan terlalu banyak suku-suku yang berbeda satu sama lain di sini. Itu tiadalah mudah untuk mencari. Antar suku dan suku, seperti halnya antar desa, berbeda wilayah desa/suku itu, berbeda pula bahasanya. Aku tiada pernah mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, pun diantara mereka sering terdapat peperangan antara suku-suku itu.

Istriku yang kucinta yang kini berada di Jawadwipa, yang senantiasa menunggu dengan ikhlas dan berpasrah diri, maafkan aku karena tiada dapat memenuhi janji untuk mendampingimu pergi ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan adik pada November nanti. Setulusnya maafku ku sampaikan padamu dan pada dik Tantri, jikalau engkau sudi untuk memaafkan suamimu yang telah mengingkari janji ini. Engkau kuizinkan untuk pergi kesana namun janganlah beroleh sendiri.

Akhirnya, Larasati, seiring aku selesai menuliskan semua ini, surat yang pasti akan membuat engkau agak sakit hati, yang sebenarnya aku tiada tega untuk menulis semua ini karena pasti engkau menangis dan aku tiada suka air mata mu keluar membasahi pipi, mentari telah menampakkan sinarnya, menembus dedaunan yang rimbun. Embun di pucuk-pucuk daun telah terlihat dan menetesi kebawah bumi. Tugasku malam tadi telah selesai dan kini aku harus beristirahat untuk selanjutnya nanti sore akan berjaga lagi. Jika tiada berjaga-jaga, mungkin akan banyak orang yang diculik oleh suku pedalaman di sini, adapun pasukan Belanda kuyakin sudah agak menarik diri.

Larasatiku yang sendu dan sayu, bersabarlah menantiku. Maafkan aku karena memintamu menunggu lebih lama dari sebelumnya. Akhir kata, aku mencoba meluapkan segala kata yang ada dalam benak ini agar engkau tahu bagaimana sebenarnya diri ini memiliki rasa, bagaimana sebenarnya aku ini menahan rindu, dan bagaimana aku ini mencinta. Salam sayangku untuk engkau dan keluarga di Jawa.