Permalasan Pertulisan

by membualsampailemas


Entah mengapa, akhir-akhir ini, mungkin sudah sejak agak lama, ya sekitar beberapa bulan ini lah, saya sungguh merasakan bagaimana rasanya malas menulis itu. Bagaimana menulis yang biasanya mengasyikkan menjadi tiba-tiba membosankan bahkan memuakkan. Itulah sebabnya mengapa tulisan di blog saya seolah menjadi sungguh jarang termutakhirkan.

Ada beberapa cerita yang terbelenggu dalam angan, ada yang sudah terbayang bagaimana nantinya saya menuangkan kata-kata dalam suatu cerita atau tulisan, namun ketika hendak memulai menulis, tepatnya baru memulai menulis beberapa paragraf, saya langsung kehilangan semangat untuk menulisnya. Bagaimana ini bisa terjadi, saya sendiri tiada tahu.

Begitu banyak peristiwa maupun cerita yang seharusnya diceritakan, diungkapkan, ditafsirkan melalui tulisanku dalam sebuah media bernama wordpress ini, namun semuanya seolah enggan pergi menuju bahasa tulisan, dan ingin tetap menjadi bahasa angan. Ya, angan yang entah kapan bisa menjadi tulisan yang sebenarnya tulisan.

Saya sungguh ingin menulis kembali, bagaimana cerita Kusumaningwigati berlanjut, bagaimana kisah Mai berlanjut, bagaimana Kinanti berlanjut, dan bagaimana pandangan-pandangan saya mengenai sesuatu hal yang sebenarnya sudah terangankan atau terbayangkan dalam kepala ini, namun bagaimana saya enggan untuk menulis itu membuat semua terbelenggu hanya dalam angan di kepala ini. Bagaimana berbagai perjalanan saya ke berbagai tempat, semua hanya terekam dalam ingatan yang terbatas yang semakin lama akan semakin lapuk termakan waktu.

Memang, kelebihan bahasa tulisan adalah keawetannya, bagaimana dia dapat menjadi tetap dalam waktu yang lama, bahkan hingga si penulis telah tiada. Oleh karena itu lah dulu saya menulis, pun karena memaknai perkataan novelis yang saya kagumi, Bapak Almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang pernah berkata dalam tulisannya di salah satu novel dari Tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia, “Sepintar apa pun kau, jika kau tak menulis maka kau akan hilang dari sejarah”. Namun kini seolah semuanya telah berlalu dan begitu saja hampir lenyap, ketika sekarang ini saya merasakan bagaimana sulitnya mengubah bahasa angan menjadi bahasa tulisan, dan betapa membosankannya menulis itu.

Mungkin semua ini hanyalah suatu tahapan dalam pendewasaan diri untuk belajar menulis, dan suatu saat nanti saya pasti akan aktif kembali menulis. Paling tidak seminggu sekali ada tulisan baru. Itu harus. Namun itu kapan? Sahaya sendiri tiada tahu.

Oleh karenanya, butuhlah hamba ini suatu referensi agar hamba dapat kembali bergairah menulis penjang, bukan hanya menulis pendek semacam di mikroblog twitter. Ada yang tahu rahasianya?