Kusumaningwigati 12: Kadatuan Gudha Pariraksha

by membualsampailemas


Semilir angin pagi seolah masih ragu tuk berhembus melintasi tanah lembab ini. Aku masih dapat melihat bintang-bintang bersinar di langit gelap yang sudah mulai nampak kebiruan, Pun bulan masih terlihat memaksakan diri untuk bersinar dengan bentuk sabitnya itu. Hawa kali ini benar-benar dingin, hewan-hewan yang biasa memulai aktivitas pada pagi pun kali ini mereka diam, hanya beberapa burung yang mulai nampak. Sementara itu kelelawar terlihat beterbangan tuk kembali ke sarangnya.

Matahari belumlah benar-benar terlihat, ketika aku dan kelompokku melanjutkan perjalanan ini. Kami membawa sebuah misi, mengahabisi gerombolan rahasia Cakrawarti. Mereka adalah biang keladi dari hampir segala masalah keamanan di Javadvipa ini, mulai dari pembunuhan biasa hingga mengarah ke lingkup istana. Entah siapa yang menggunakan jasa mereka untuk berusaha membunuh banyak orang untuk dijadikan persembahan di Sivagrha akhir-akhir ini. Terpaksa dari kadatuan gudha pariraksa harus bekerja lebih keras agar Cakrawarti tidak merembet lebih jauh lagi, dan sialnya, kami termasuk kadatuan gudha pariraksa (pasukan rahasia istana) yang bertugas untuk membunuh mereka tanpa meninggalkan jejak, Dalam berjalan, bayangan kami pun harus kami buang.

Kemegahan Kamulan Bhumisambara telah tersebar luas beritanya hingga luar Javadvipa, Bahkan kudengar dari pelabuhan di utara sana, bahwa hal itu telah terdengar hingga Suvarnabhumi (tanah asia tenggara) sana. Hal itu membuat Rakai Pikatan berkeinginan membangun sebuah lagi, namun kali ini berupa candi Hindu untuk Siva yang sekarang ini disebutlah Sivagrha. Dengan segala kemegahan yang hendak menandingi Kamulan Bhumisambara. Batu-batu pilihan tuk menumpuk bangunan itu di bawa dari segala penjuru Javadvipa, terjadilah kerja oleh para rakyat di sekitar sana pula. Namun entah siapa aku tiada tahu, beberapa orang yang menurut pemikiranku adalah paksha Kapalika yang belakangan ini sungguh meresahkan orang-orang, tiba-tiba muncul dengan kabar samar yang beredar, bahwa mereka mengorbankan makhluk hidup di Parambrahma sana.

Aku dan kawananku berjumlah 3 orang, menyamar dari kedai ke kedai, dari desa ke desa, dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Semua ini demi menghilangkan jejak agar kami dapat mengamati dunia tanpa dunia tahu atau bahkan menyadari kehadiran kami. Dari barat kami memulai menyapu berita, terus menuju timur hingga Mantyasih. Kami baru saja beranjak pergi dari tempat kami tidur di tepian hutan, ketika kulihat seorang muda-mudi berlari dengan tergesa-gesa menuju ke arah kami. Nampak mereka sedang dalam kesulitan dan terus bergandengan tangan.

“Cepat pergi, bapak!” kata pemuda itu dari kejauhan. Tentu saja kata-kata itu diarahkan pada kami. Lalu dia memegangi pundakku. Aku berusaha tenang dalam situasi itu. Temanku yang lain saling berpandangan karena bingung.

“Bapak, ada segerombolan penunggang kuda dengan penutup muka hitam di tempat yang baru kami singgahi. Kurang lebih setengah sepenanak nasi dari sini. Mereka membakari rumah penduduk dan membawa dengan paksa beberapa orang gadis dan pria.” lanjutnya.

“Tenanglah, anak.. Seperti apa perupa mereka? Atau ciri mereka?” kataku.

“Sudahlah, bapak, lebih baik secepatnya kita pergi dari sini.” lanjut pemuda itu.

“Betul, kami khawatir jikalau mereka mengetahui pelarian kami dari desa itu dan masih mengejar kami, pastilah bapak sekalian akan ikut tersangkut pula.” kata si gadis yang bersama si pemuda.

“Tenanglah, tenang. Kami hanya ingin tahu seperti apa perupa mereka.” tukasku kembali bertanya. Aku berusaha menenangkan mereka dengan menggunakan suara yang tenang, seolah tiada terjadi apa pun. Namun mereka tetaplah bingung dan saling berpandangan, lalu diam sejenak. Sesaat kemudia si pemuda menjawab.

“Mereka menggunakan penutup muka hitam, berkancut kumal.”

“Itu saja? Ada semacam tanda lain?”

“Rajah!” sahut si gadis.

“Rajah?” tanyaku heran.

“Sahaya lihat masing-masing mereka memiliki rajah yang sama di lengan kiri, agak kecil, namun sahaya tak tahu itu bergambar apa.”

Sudah kuduga, pasti penunggang kuda yang disebutkannya adalah buronan kami, jika bukan Cakrawarti, pastilah Kapalika, atau pesuruhnya.

“Di mana desa yang kau sebutkan itu, nak?” tukasku. Lalu pemuda itu menunjukkan arah yang agak menyerong dari arahnya berlari. Aku sebenarnya agak ragu, namun tak ada pilihan lain jika ingin mencari petunjuk. Aku bertatapan mata dengan salah seorang temanku, memberi kode tanpa bahasa terucap, tanpa bahasa lain selain tatapan itu.

“Kau bawa mereka ke timur hingga desa berikutnya.”. Kataku padanya. Sementara aku dan seorang temanku yang lain buru-buru lari seperti kebanyakan orang awam berlari menuju ke desa yang ditunjukkan pemuda itu, hingga kukira kami tidak kelihatan lagi oleh si pemuda dan gadis itu, kami mengeluarkan tenaga dalam kami tuk berlari, Jurus Naga Berlari Di Atas Angin. Jurus ini membut kami lebih cepat dari orang awam, bahkan tiada terlihat.

Sementara itu, dari cerita yang dipertuturkan oleh seorang temanku yang mengawal si pemuda dan si gadis itu, bahwa ternyata mereka bernama Nawa dan Harini. Mereka hendak menuju Mantyasih sebelum ke Kamulan Bhumisambara.

Oh, Dewa, sepagi ini pula telah terjadi pemubunuhan yang begitu keji yang dilakukan manusia terhadam manusia yang lain. Mengapakah semua ini harus terjadi di bumi Javadvipa ini, dan mengapa pula ada orang-orang yang terlampau keji seperti mereka yang membantai sebuah desa tanpa ampun.

Setiba kami di desa itu, kami agaknya sedikit terlambat, rumah-rumah penduduk dari kayu itu telah terbakar, sebagian masih berdiri dengan sisa kekuatan alamnya, pembunuhan keji telah terjadi di sini, perempuan dan lelaki mati di jalan dengan darah yang mengalir dari tubuhnya karena luka yang lebar, tak hanya itu, anak-anak pun menjadi korban dengan luka yang tak kalah mengerikan. Hatiku hancur melihat semua yang dapat terlihat di desa yang malang itu.

“Biadab!” kata temanku.

“Kita harus menemukan seorang dari pembantai itu paling tidak.” kataku.

“Namun kem….”

Belum sempat temanku selesai mengucapkan kata, tiba-tiba pisau terbang menyambar dengan begitu cepatnya. Beruntunglah kami karena menggunakan tenaga dalam kami, sehingga pisau yang sungguh cepat itu dapat terlihat dengan jelas dan dapat kami rasakan kehadirannya, seolah-olah kejadian itu menjadi lambat, sungguh lambat, bagaikan tiada lagi yang dapat diperlambat seperti itu. Aku dan temanku melihat pisau itu terbang begitu lambat menuju ke arah kami, tentu kami memiliki banyak waktu tuk menghindar, atau bahkan membelokkan pisau itu ke arah sebaliknya di dalam waktu yang sebenarnya tiada banyak itu. Namun aku memilih tuk berkelebat secepat kilat ke arah orang yang melempar pisau terbang itu, sungguh cepat, bagaikan tiada lagi yang lebih cepat dariku dalam gerakan itu. Tentu saja yang kuhadapi ini bukanlah orang biasa, melainkan orang dengan tenaga dalam yang tinggi karena mampu melemparkan pisau begitu cepat.

Dalam sekejap, aku telah sampai di belakang orang yang melempar pisau itu tanpa ia sadari, karena gerakanku yang begitu cepat, bahkan dedaunan di semak pun tiada sempat bergerak tuk menunjukkan kehadiranku di belakangnya. Dengan cepat pula aku menotokkan tiga totokan di tiga titik tubuhnya yang membuat tenaga dalamnya berhenti mengalir. Dengan tiba-tiba pula temanku ternyata telah menancapkan pisau tadi ke paha kanan orang itu. Tak heran manusia berrajah ini langsung berteriak kesakitan tanpa sempat menyadari kehadiran kami.

Ternyata dia tidaklah sendiri, masih ada dua-tiga-empat-lima-enam, yang bersembunyi di balik semak!

Mereka bukanlah orang biasa, melainkan memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Seketika itu, hampir dari berbagai penjuru, berdatanganlah pisau-pisau terbang lainnya menuju ke arah kami. Namun masih sama dengan yang tadi, karena kami menggunakan tenaga dalam, maka pisau-pisau itu sungguh bergerak lambat di mata kami, sungguh lamat, amat lambat. Kami memiliki banyak waktu tuk mengalihkan pisau-pisau itu ke arah pelemparnya semula, tepat di dadanya!

Jleb! Jleb! Jleb!

Suara pisau yang bertemu dengan tubuh si pelemparnya masing-masing, namun ternyata ada satu yang meleset. Ternyata ada seorang yang ilmunya lebih tinggi dari kawanannya itu.

Aku dan temanku langsung mengejarnya, kami mengepungnya dari sisi yang berlawanan. Dalam gerakan yang cepat, aku dan temanku dapat dengan mudah mengejarnya. Seketika aku telah mengagetkannya karena tetiba berada di depannya, dengan kecepatan melebihi si penjahat itu, aku melesatkan Tapak Teratai tepat di perutnya tanpa sempat dia berkilah, namun aku tak mengeluarkan seluruh tenaga dalamku karena aku ingin dia hidup-hidup. Hal itu cukup membuatnya muntah darah dan jatuh kembali ke tanah tak berdaya. Kami mendapati dua orang yang masih hidup diantara penjahat itu.

Aku memberi kode kepada temanku untuk mencari apakah masih ada penjahat yang lain ataukah sudah bersih kami sapu. Namun, dimana orang-orang desa yang dikatakan diculik itu disembunyikan?

Aku memukul si penjahat yang telah muntah darah itu sekali lagi tepat di mukanya, dia langsung pingsan. Aku tiada khawatir lagi untuk meninggalkannya dan meniliki penjahat yang pertama kali melempar pisau tadi. Lalu berkelebat secepat kilat ke tempat tadi untuk mendapati sesuatu yang telah sia-sia, ternyata dia pun telah tewas karena kehabisan darah.

Bumi Javadvipa adalah bumi yang kaya, tanah yang subur dan penduduk yang kebanyakan mudah patuh kepada penguasa, maka tak heran jika Medangkamulan sebagai suatu kerajaan besar harus mati-matian mempertahankan kekuasaannya, baik dari serangan dalam maupun luar. Salah satunya ialah Cakrawarti ini, mereka adalah kelompok rahasia yang benar-benar berbahaya. Namun, siapakah kiranya mereka ini yang memiliki rajah bulan di lengan kirinya, ini tidak seperti Cakrawarti yang selama ini kukenal yang biasa berkelebat dalam kelamnya malam, saat semua telah terlelap dalam gelap, mereka mengendap nyaris tanpa suara yang dapat ditangkap telinga, bahkan oleh orang bertenaga dalam tinggi sekalipun. Tentu saja aku yakin bahwa mereka yang membantai desa ini bukanlah Cakrawarti, karena tenaga dalam mereka tidak begitu tinggi seperti yang kami kira sebelumnya. Lalu siapakah mereka?

(bersambung..)