Perumpamaan Sebuah Pohon [Cerpen]

by membualsampailemas


Suatu ketika, aku datang sowan ke rumah Pak Semar. Setelah pulang dari kerja yang hampir seharian ini menyita waktuku, aku menyempatkan untuk singgah sejenak di rumahnya, menemui beberapa orang yang sungguh ramah dan ‘semedulur’. Ada Petruk, Gareng, dan Bagong.

Assalamualaikum..”

Waalaikumsalam..” sahut suara dari dalam rumah. Rumah joglo dengan pendopo yang terbuka dan cukup luas. Alasnya masih berupa tanah.

Eh, nak.. apa kabar?” sapa Pak Semar ramah dan perlahan.

Alhamdulillah baik, Bapak. Bapak bagaimana? Nampaknya sehat.”

Tentu saja, Bapak sering jalan-jalan pagi sekarang.” seraya tersenyum beliau mengatakan.

Sejenak kami terdiam berpandangan, kulihat wajahnya yang tua nan renta, namun matanya tetap terlihat bersinar memancarkan kekuatan jiwa. Pak Semar yang selama ini kukenal masih ada di dalamnya.

Duduklah dulu, Gareng sebentarlagi pulang bawa es buah.” Aku tersenyum mendengar itu. Aku bukan butuh es buah, aku hanya butuh bertemu dan menjenguk Pak Semar.

Ada apa datang kemari, Anak?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Aku tersenyum-senyum saja.

Fhh.. Sesungguhnya sahaya kemari hanyalah untuk menengok bapak, mengetahui keadaan bapak dan keluarga di sini.” jawabku.

Benarkah? Aku tersanjung sekali lho..hahaha” katanya tertawa renyah.

Tentu benar, Bapak.” aku pun ikut tertawa.

Kami menjalani percakapan panjang pada sore itu. Secangkir kopi menemani obrolan kami, Gareng dan Petruk menemani obrolan kami, sedangkan Bagong sedang mencangkul di halaman belakang, untuk ditanami singkong.

Pohon di sini sudah begitu rimbun, apakah tak sebaiknya dipangkas sedikit agar cahaya lebih mengena ke pelataran, Bapak?” kataku.

Ah, benar juga. Lagipula semakin tinggi pohon-pohon ini, semakin rawan ambruk karena deterpa angin yang agak kencang belakangan ini.” sahut Petruk.

Truk, besok dipangkasi yuk.” celetuk Gareng.

Yah, besok kalau hari minggu saja, yang agak lowong waktunya.”

Nak, tahukah kamu tentu mengenai pepatah ini, bahwa semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa.” kata Pak Semar menyela. Aku mengangguk dan bersiap mendengarkan. Pastilah beliau hendak bercerita mengenai sesuatu.

Sesungguhnya, pepatah itu benar juga. Suatu pohon ada yang dapat mencapai tinggi sekali, sangat tinggi, seolah-olah menyentuh langit. Ada pula pohon yang pendek, sangat pendek bahkan diinjak-injak. Mengapa ada yang begitu berbeda? Itu semua karena kehendah GustiAlloh.

Perumpamaan mengenai tingginya pohon dapat diambil pelajaran oleh manusia, bahwa manusia pun ada yang dapat mencapai tinggi derajatnya, ada yang rendah derajatnya. Derajat di sini adalah derajat keimanan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah begitu, anakku?

Nah, semakin tinggi pohon, artinya semakin tinggi angin yang menggoyangnya, semakin keras hantaman terhadapnya, jika diupamakan pada manusia adalah semakin keras cobaan yang menimpanya ketika dia telah mencapai derajat yang tinggi. Mengapa? Karena GustiAlloh tentu akan menguji keimanan kita itu, untuk menguji apakah kita benar-benar teguh memegangnya atau tidak. Sekali-kali tentu saja manusia tidak akan dapat menjapai derajat tinggi begitu saja, secara tetiba, makjedegul tau-tau derajatnya di hadapan GustiAlloh telah tinggi, itu tidak mungkin. Bahkan para Nabi pun diuji dengan segala macam ujian yang tentu saja bukan perkara yang mudah. Kan begitu?

Namun, anakku, ingatlah lagi perumpamaan bahwa, suatu pohon ada kalanya digoyang karena dia memang benar-benar telah tinggi dan diterpa kencangnya angin, namun ada pula suatu pohon yang digoyang atau hendak ditebang karena tumbuh di tempat yang tidak semestinya, tempat yang kurang tepat. Ini hanyalah perumpamaan, anakku. Semisal jika suatu pohon tumbuh di tengah jalan, tentu saja akan mengahlangi perjalanan banyak orang, semisal lagi jika tumbuh terlalu dekat dengan rumah, tentu dikhawatirkan akan merusak bangunan, dan lain sebagainya. Oleh karena hal-hal seperti itu, pohon terkadang digoyang sebelum waktunya dia menjadi tinggi, bahkan ditebang.

Begitu pula dengan manusia, anakku. Ketika engkau menghadapi suatu rintangan dalam hidup, itulah artinya dirimu sedang digoyang, entah itu karena engkau yang telah tinggi, atau mungkin karena engkau telah salah menaruh pijakan. GustiAlloh memberikan sebuah cobaan, cobaan itu dapat berupa ujian dan dapat pula berupa peringatan.

Oleh karena itu, jikalau engkau mungkin sekarang sedang mengalami suatu cobaan, mana telitilah dalam dirimu sendiri itu, apakah ini merupakan benar-benar ujian, ataukah sebuah peringatan.” beliau mengakhiri ceritanya.

Aku mengangguk-angguk, mencoba menelaah perkataannya sambil bertanya-tanya, aku orang macam apa dari perumpamaan itu.

Sepuhan emas di ufuk barat telah terlihat, disertai gemulung awan nan mempercantik langit. Mutiara dunia hendak menenggelamkan diri sejenak, beristirahat untuk kembali bersinar di keesokan paginya. Aku pun telah ingin pulang kembali ke rumah. Seketika itu juga aku berpamitan pada Pak Semar dan keluarga. Satu lagi pelajaran yang kudapat hari ini darinya.

Iklan