Kusumaningwigati 13

by membualsampailemas


Aku membawa tubuh seorang pembantai yang sedang sekarat ini dengan memanggulnya, terbang dari dahan ke dahan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sementara Yuga mengikutiku dari belakang. Kami mencoba menyusul teman kami yang satunya, Danar, yang sedang mengantarkan si pemuda dan pemudi tadi menuju Mantyasih. Namun tentu saja aku tak dapat kembali dalam keadaan seperti ini. Jika kami tak kembali berdua, orang-orang awam itu pastilah curiga terjadi sesuatu, namun jika kami kembali dalam keadaan begini pastilah mereka lebih terkejut.

Aku memutuskan untuk membawa tubuh orang yang sedang pingsan ini ke sebuah tempat di dekat suatu sungai yang berhulu di celah kledung, kala itu menjelang siang. Suasana telah berubah menjadi agak terik.

“Lebih baik kita berhenti di sini.” kataku.

“Baiklah. Apa rencanamu?”

“Kita pulihkan orang ini hingga dia sadar, lalu kita cari pengetahuan mengenai Cakrawarti maupun Kapalika. Pasti orang ini mengetahui sesuatu diantara keduanya. Jika tidak,..” aku tak melanjutkan kata-kataku. Kawanku ini telah mengerti artinya itu. Satu nyawa di dunia ini haruslah pergi lewat tangan kami nanti.

“Kalau begitu biar kuikat dulu dia.” kata Yuga.

Hari telah semakin terik, ketika kami di pinggir sungai berpura-pura bersikap biasa, seandainya pun ada orang yang melihat kami sehingga tiadalah di antara mereka yang akan mencurigai. Aku membawa sebatang kayu ranting dan berpura-pura memancing, sedangkan Yuga masih berusaha menyembuhkan si pembantai itu, setidaknya dia akan merasa sembuh sebelum menemui kematian.

Aku mengingati kembali masa mudaku dahulu, sebelum bergabung dengan Kadatuan Gudha Pariraksa, aku adalah seorang biasa, tanpa orang tua, tanpa siapa-siapa, sebatang kara. Satu-satunya alasanku untuk hidup adalah ibuku, beliau berpesan agar aku tetap hidup dan jangan pernah berpikir untuk gampang mati. Jiwa muda memanglah masih jumawa. Aku sama sekali bukanlah orang awam yang tiada pernah mengerti dunia kejam persilatan, namun juga bukanlah pendekar hebat di dalam rimba hijau kala itu.

Sebenarnya, aku adalah murid yang lari dari sebuah padepokan yang tidak terkenal di daerah selatan, gunung kapur di sana sungguh banyak, hutan jati di mana-mana, ketika musim panas tiba semuanya terasa kering di tempat guruku itu. Aku sama sekali tidak tahan dengan padepokan itu. Aku kabur menuju utara secara diam-diam. Hingga sekarang pun aku masih penasaran mengapa dulu guru tidak mencegahku atau menangkapku ketika aku hendak kabur, padahal beliau adalah pesilat yang sungguh sakti. Seolah aku dilepaskannya begitu saja. Apakah aku ini tiada berarti, hingga keberadaanku maupun ketidakberadaanku tidaklah berarti bagi siapa pun?

Aku mengembara ke sana-ke mari mencari ilmu tambahan untuk bekal hidup di Javadvipa yang keras ini, aku sering mengikuti pendekar merdeka pengembara yang kesana-kemari entah kemana tujuannya. Aku mendapatkan beberapa jurus dari beberapa pendekar berbeda hanya dengan memperhatikan gerakan-gerakannya yang sama sekali tak dapat dikatakan lamban. Aku tidak tahu mengapa aku dapat dengan mudah mempelajari suatu jurus hanya dengan melihatnya saja. Hingga suatu ketika ku dengar ada pembantaian 100 pendekar di pantai selatan, tepatnya di bukit karang. Kabar angin yang beredar adalah sang Pendekar Tanpa Nama, (Pandyakira Tan Pangaran) yang telah menghabisi ke seratus pendekar baik dari golongan putih maupun golongan hitam, juga beberapa dari golongan merdeka. Aku sungguh sangat ingin bertemu dengan Pandyakira Tan Pangaran itu.

Aku berusaha mencari pendekar tanpa nama itu ke semua tempat, untuk mencarinya, aku harus mampir dari kedai ke kedai, dari kota ke kota, dari desa ke desa. Namun semua sia-sia karena seolah pendekar itu hanyalah mitos semata. Namun aku yakin suatu saat akan menemukannya.

Suatu ketika aku bertemu dengan Yuga dan Danar di suatu pasar dekat dengan tembok istana di Mantyasih, kala itu sedang ada penerimaan prajurit untuk dipersiapkan menghadapi pemberontakan-pemberontakan yang terjadi. Mereka mengajakku untuk bergabung dengan pasukan prajurit istana, mendaftar menjadi Kadatuan Pariraksa. Kala itu adalah masa di mana terjadi sebuah pemberontakan oleh salah seorang keturunan Wangsa Sanjaya, Rakai Walaing, dia lah masih bersaudara dengan Rakai Pikatan. Dia berebut tahta dengan Rakai Pikatan, Raja Medangkamulan sekarang.

Dengan mudah, kami bertiga masuk ke dalam ligkup prajurit istana tanpa ada yang tahu bahwa kami ialah seorang dari rimba hijau dunia persilatan. Hingga kami pergi berperang dan mengalahkan pasukan Rakai Walaing, tentu saja kami dapat bertarung dengan tersamar jika keadaan ramai seperti perang itu. Pasukan kami dipimpin oleh Rakai Kayuwangi, walaputra (putra bungsu) dari Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan Pramodawardhani. Akhirnya kami pun berhasil menumpaskan Rakai Walaing beserta pasukannya itu setelah dia terdesak di sebuah bukit di utara Mantyasih.

Sejak saat itu itu, kami cukup diketahui di antara para prajurit istana. Lalu ternyata kabar itu tersebar hingga ke telinga seorang Kadatuan Gudha Pariraksa. Lagi pula, tidak mungkin Gudha Pariraksa tidak mengetahui semua pengetahuan mengenai gerak-gerik dalam istana. Tak beberapa lama, sekitar 2 bulan sejak perang berakhir, kami diambil secara rahasia dari Kadatuan Pariraksa untuk dipindahkan ke bagian kerahasiaan istana, Kadatuan Gudha Pariraksa. Dia yang mengambil kami adalah guru bagi kami, Mpu Nunukan. Dia adalah seorang pegawai istana biasa nampaknya. Seorang abdi dalem yang kalem dan sungguh tiada yang menyangka bahwa ilmu kanuragannya melebihi siapa pun. Dia adalah Gudha Pariraksa yang sungguh tangguh. Meskipun kami telah diambil untuk menjadi Gudha Pariraksa, namun kami masih bekerja sebagai prajurit biasa istana dan sama sekali kami tidak boleh membocorkan ini kepada siapapun, atau nyawa kami menjadi taruhannya. Sejatinya, tiada orang yang tahu di istana ini ada Kadatuan Gudha Pariraksa dan siapa saja anggotanya atau seperti apa wujudnya. Semua itu sungguh tersamar.

Pada awalnya kami gembira, jiwa muda yang masih berkobar dan haus akan petualangan, namun kelamaan kami pun tahu jika pekerjaan Gudha Pariraksa itu tiadalah semudah dibayangkan. Kami harus terus menyamar, bahkan di dalam istana. Semua itu terjadi secara cepat, padahal waktu yang kulalui dalam Kadatuan Gudha Pariraksa ternyata telah lama, baru kusadari ketika itu umurku sudah mencapai 30 tahun, ketika aku disuruh untuk menikahi seorang wanita cantik dari bumi Srivijaya, masih ada hubungan darah dengan Guruku, Mpu Nunukan. Mpu Nunukan menaruh perhatian besar padaku karena mungkin dia menganggapku paling mahir di antara semua didikannya ketika itu. Namanya Dyah Kamaratih.

Akan tetapi, karena aku adalah seorang prajurit rahasia yang tiada boleh ada orang yang tahu mengenai pekerjaanku yang sebenarnya kecuali dari kalangan Kadatuan Gudha Pariraksa itu sendiri dan tentunya Rakai Pikatan, istriku sampai tidak tahu bahwa aku adalah seorang Gudha Pariraksa. Bahkan di antara Gudha Pariraksa pun tiada pernah tahu berapa jumlah pasti anggotanya, karena kami memang bekerja dalam dunia pinggir yang tidak untuk seharusnya diketahui. Sehari-hari kami dituntut untuk bekerja dan berperan sebagai orang biasa dan pandai melebur menjadi satu dengan masyarakat, padahal kami adalah Gudha Pariraksa.

Pernah kudengar pula bahwa di setiap elemen masyarakat, bahkan di setiap elemen istana, terdapat Gudha Pariraksa. Mereka hampir ada di mana-mana dan sangat teratur persebarannya. Semua itu hanyalah untuk menjaga kestabilan lingkup Mantyasih.

Suatu ketika, umurku telah mencapai 35 dan Mpu Nunukan menyuruhku untuk meninggalkan pekerjaan di istana dan sebagai seorang petani untuk menjalani pendidikan lanjutan dalam Kadatuan Gudha Pariraksa, di suatu tempat yang sangat rahasia yang tiada seorang pun awam akan mengetahuinya, bahkan pendekar terhebat di rimba hijau pun akan kesulitan mencapai tempat itu jikalau pun menemukannya. Tempatnya sungguh ku rasa sangat jauh dari Medang. Aku harus pergi jauh dari istriku yang sedang hamil anak pertamaku. Kamaratih sangat kecewa dengan kepergianku, dia menuntut agar aku tetap bersamanya. Namun Mpu Nunukan yang mana adalah masih pamannya itu selalu menjanjikan bahwa aku akan pulang dengan selamat setelah 2 tahun pergi.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, aku tiada dapat mendampingi istriku ketika melahirkan, bahkan aku tak dapat meliat wajah darah dagingku sendiri demi hanya sebuah pekerjaan untuk melayani Sri Paduka.

(bersambung)