Catatan Sunyi Seorang Sepi

by membualsampailemas


Aku telah terbiasa, aku telah terbiasa bagaimana seseorang mencampakanku begitu saja ketika aku berbicara, atau bagaimana tiada yang memperhatikanku ketika aku berlaku, ketika aku membuka pintu rumah yang kosong dan aku menyadarinya bahwa rumah itu gelap dan dingin karena tak ada yang menunggui selama aku pergi.

Ketika malam menjadi semakin kelam, ketika gemintang muncul menghiasi langit lalu mereka berkedip-kedip seolah menggodaku yang sedang sendiri, duduk sunyi di bangku taman dan meratapi segala kesedihan yang datang karenamu. Aku terbiasa. Aku terbiasa hingga akhirnya semua ini telah menjadi biasa dan tidak berpengaruh apa pun melainkan aku terbiasa saja.

Ketika seseorang jatuh cinta, dia akan merasa bahwa dirinya ada dan bahkan merasa memiliki segala yang ada sehingga terkadang sampai tiada hirau akan segala yang ada itu. Lalu ketika dia patah hati, maka dia akan merasa hampa, merasa tiada, merasa dia bukanlah bagian dari sesuatu yang ada. Begitulah cinta mempermainkan manusia sedari dulu kala. Ketika rindu terkumpul di dalam dada dan meletup-letup namun tiada dapat bertemu, begitu tersiksanya manusia saat itu. Aku telah terbiasa.

Aku telah terbiasa, aku terbiasa ketika seseorang datang dalam kehidupanku dan mengisi hari-hariku sehingga aku merasa memiliki segala, lalu tetiba dia pergi begitu saja karena menyadari sesuatu atau karena keinginannya sendiri meninggalkanku. Aku terbiasa dengan bagaimana seseorang meninggalkanku pergi tanpa alasan yang jelas, mencampakan diriku seolah diriku tiada, dan memang sejatinya aku adalah tiada, bahkan untuk diriku.

Ketika aku harus tinggal sendiri sementara yang lainnya pergi, atau ketika yang lain harus tinggal sedangkan aku sendiri yang pergi. Bagaimana aku selalu kemana pun sendiri, dan aku bosan bahkan sekarang enggan untuk menanyakan ‘mengapa’ karena itu seolah tiada penting lagi.

Ketika ada seseorang yang menarik hati, lalu sesaat kemudian aku menyadari bahwa diriku tiada pantas untuknya karena aku terlalu jatuh ke dasar untuk meraihnya. Dia lebih pantas untuk orang yang lebih baik dariku. Ketika dia melihatku, dadaku berdesir, namun apa daya aku tiada dapat berbuat apa melainkan tersenyum sekilas lalu memalingkan muka. Salah tingkah.

Aku terbiasa, aku telah terbiasa ketika aku harus menunggui seseorang membalas pesan singkatku, memegangi ponselku dari menit ke menit, mengeceknya apakah ada pemberitahuan baru ataukah tidak, atau sekedar melihat jam digital yang tertera pada layarnya. Aku telah terbiasa. Aku terbiasa ketika untuk berpatah hati dari waktu ke waktu, dari hari ke hari ketika aku tercampakan begitu saja tanpa ada yang peduli.

Aku terbiasa menunggui seseorang yang tiada pasti, mengharapinya untuk memalingkan muka sejenak padaku karena dia telah pernah beberapa saat menghadapiku lalu aku merasa nyaman. Namun tetiba dia memalingkan muka dan aku merasa hina ditinggalkannya.

Ketika aku merasa memiliki segala, lalu bagai bunga sakura yang sedang gugur, senja yang terang, pagi yang indah, dia bersambut padaku. Namun ketika suatu hal yang tak pasti dan tak diinginkan datang menghampiri pada kami sehingga memisahkan segala yang ada diantaranya. Aku menangisi dalam hati hidup ini ketika itu, hingga aku bosan tuk menangis dan memutuskan tuk pergi meninggalkan kenangan yang kuperkosa hilang dari ingatan. Atau ketika orang itu kembali datang dengan membawa momongan yang kutahu itu untuk menyatakan dirinya tak membutuhkanku lagi.

Aku terbiasa ketika bangun tidur kesiangan karena tiada yang membangunkan, mendekapi pagi lebih erat dan berharap tak kunjung pergi. Membuat kopi sendiri di hari minggu pagi dan menunggui pesan pendek yang tak pasti. Entah dari siapa pun.

Aku terbiasa ketika harus mengingat lagi dengan paksa kenangan yang terus menghantui, berharap ada seseorang yang tahu dan mengatakan aku adalah seorang yang setia, namun dalam hati ini berbalik menyahut ‘setia yang mengenaskan’. Lalu perlahan aku terbiasa berbicara pada dinding kamar, bercermin memandangi diri sendiri bagaikan orang lain, berbicara padanya agar merasa ada yang menemani.