Hasta

by membualsampailemas


Hasta, seorang petani desa muda yang rajin. Dia adalah orang yang baik, ramah dan supel. Petani? Tentu saja, dia lebih memilih untuk menjadi petani dan menggarap sawah bagiannya, pemberian dari sang bapak, juga sawah dari kakaknya yang kepala desa itu, sang kakak enggan bersawah lalu membagihasilkan sawah “bengkok”nya itu dengan Hasta serta beberapa penduduk lain. Jika musim kemarau begini, ketika mentari lebih merapat ke sebelah utara sana tiap harinya, hawa dingin menyelinapi masuk ke rumah Hasta dan membuat ruang dalamnya ikut dingin, dan air sumur mulai terlalu dalam untuk ditimba atau diambil airnya, makanya dia dan penduduk desa lainnya harus berhemat memakai air. Pernah suatu ketika beberapa musim lalu, penduduk desa termasuk Hasta mencoba menanam semangka dan melon di sawah ketika musim kemarau, namun hal tersebut tak kan diulangi lagi karena ternyata tanaman itu membuat air semakin langka karena buah-buahan itu menyedot persediaan air desa.

Sepagi ini, Hasta masih ngrungkel di kasur bersama istri yang sudah dinikahinya selama delapan tahun itu, yang sekarang sedang hamil ke tiga kalinya. Berbeda dengan hamil-hamil sebelumnya, kali ini mereka menjaga si jabang bayi yang masih dalam kandungan itu dengan hati-hati dan seksama. Pengalaman kelam membuat mereka lebih waspada.

Hasta dan istrinya, Gini, adalah pasangan yang baik, mereka ramah pada tetangga, namun mereka tak kunjung dikaruniai momongan sejak delapan tahun mereka menikah. Sudah 2 kali Gini keguguran ketika usia kandungannya masih beberapa minggu. Hal itu membuat mereka trauma dan sedikit takut. Pasangan mana yang tak ingin dikaruniai momongan. Anak adalah titipan Tuhan yang terindah untuk seorang ibu, begitu juga ayah. Sampai suatu ketika, setelah keguguran pada kali kedua, Gini dan Hasta memeriksakan diri ke dokter kandungan, dan ternyata Gini memiliki ketidakberesan pada rahimnya yang membuat kandungannya kurang kukuh dan sulit untuk hamil. Ah, hidup. Hidup memang haruslah ada ujian dari Sang Kuasa. Mengetahui ada ‘sesuatu’ dalam diri Gini itu, mereka memutuskan untuk menyembuhkannya agar segera diberi momongan. Dambaan tiap-tiap keluarga.

Adik Hasta telah memiliki momongan, kembar pula. Ponakan Hasta itu selalu digendongnya bersamaan jika mereka pulang kampung, ke tempat bapak. Gini yang melihat sang suami senang menggendong keponakannya itu hanya bisa tersenyum-senyum getir, hatinya sedikit terluka ketika dia menyadari bahwa dirinya sulit untuk hamil. Namun Hasta tak pernah menuntut lebih pada Gini dan itu makin membuat Gini terharu dan ingin menitikkan air mata.

Embun tipis membasahi daun pada musim kemarau begini, dingin menyeruak kemanapun pergi, tiap celah alam serasa dingin pada pagi hari. Waktu itu mentari belumlah terbit, hanya seberkas cahaya di arah timur yang menandakan bahwa pagi akan segera terlihat di desa nan ramah itu. Tampak bukit-bukit yang menaungi dan mengelilingi desa itu hanya berkas garis-garis biru muda melengkung yang tampak saling menumpuk satu sama lain. Sawah yang tanahnya kering kerontang itu hanya ditanami kacang hijau dan kedelai yang belum terlalu tua umurnya.

Hasta kali ini mencoba untuk bangkit dari tidurnya untuk segera mengambil wudhu dan bersiap ke langgar dekat rumahnya. Ah pagi, mengapa begitu dingin untuk tubuh yang kering itu.

“Dik, aku ke langgar dulu ya” pamit Hasta pada istrinya yang baru saja bangun itu.

Hampir seperti itu setiap pagi, jika Hasta tak terlalu lelah dalam bekerja kemarinnya, maka dia dapat bangun lebih pagi untuk paling itdak berjamaah di langgar dekat rumahnya itu.

+++

Pagi telah tiba, mentari seolah-olah sembunyi-sembunyi mengintip desa di balik bukit. Ah pagi, engkau cepat sekali datang namun juga cepat pergi. Dingin masih menyelimuti desa, dengan segala keindahan pagi di sana.

Gini mengelus-elus perutnya yang besar itu, merasakan bahwa sang jabang bayi yang berusia 7 bulan dalam kandungan itu bergerak-gerak dalam perutnya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Hasta yang melihatnya sedang mengelus-elus perut hanya tersenyum, beranjak berdiri lalu mendekati istrinya yang sangat ia sayangi itu.

“Dik, kira-kira apa ini laki-laki atau perempuan?”

“Ah, laki-laki atau perempuan, aku senang semuanya kok, mas.”

“Yah, tapi kita harus sudah mikir tentang namanya kelak.” Kata Hasta sambil menatap mata Gini. Sang istri hanya tersenyum.

Begitulah hidup, ketika sepasang suami-istri hendak mendapatkan momongan yang sangat dinantinya. Harapan membumbung setinggi langit. Ya, harapan itu sendiri yang membuat semua manusia bertahan, paling tidak untuk hidup. Harapan kan adalah sesuatu yang dinanti di masa datang, walau itu tak melulu akan terwujud, namun harapan memang membuat manusia tetap bertahan dalam segala situasi, berharap membuat orang lebih hidup.

Setiap pagi, selalu begitu setiap pagi, semenjak Gini dapat merasakan gerakan-gerakan kecil dalam perutnya. Ketika pertama kali merasakan ada sesuatu bergerak-gerak dalam perutnya, Gini langsung berteriak-teriak gembira memanggil sang suami. Hasta selalu merasai perut istrinya dan ikut mengelus-elusnya. Merasakan sang jabang bayi yang sedang ngulet. Kadang menempelkan kupingnya ke perut sang istri. Menciuminya dengan lembut dan menyanyikan kidung Maskumambang. Atau juga dia menyanyi Langgam Putra Nuswantara yang pernah populer dinyanyiakan Pak Manthous itu. Saking bahagianya. Mereka adalah keluarga petani, namun bukanlah petani yang kekurangan atau kelebihan. Semua dianggapnya cukup. Ya, hidup itu sendiri sejatinya mencari kecukupan dan berusaha bercukup walau sejatinya manusia yang hidup itu enggan merasa cukup. Manusia yang merasa cukup dalam hidupnya terkadang dianggap tidak mau ‘maju’, namun dibalik itu semua, mereka itulah orang yang pertama-tama bersyukur atas karunia Yang Maha Kuasa. Karena sifat alami manusia yang enggan bercukup diri itulah mereka menjadi manusia-manusia hebat, sampai suatu ketika mereka akan jenuh untuk enggan bercukup, lalu berusaha bersikap cukup dan mensyukuri apa-apa yang telah didapatinya. Hanya manusia yang terlalu serakah yang enggan bercukup. Tapi tentu ada juga manusia yang terlalu cepat merasa cukup. Mereka enggan untuk maju lagi karena ingin selalu ada dalam tempat yang nyaman. Bahkan jika Tuhan pun memberi kesempatan untuk maju, mereka masih enggan dan sudah merasa puas akan hal yang telah dicapainya. Ah hidup, bermacam-macam isinya seperti rujak saja. Engkau dapat memahami hidup dan lulus dari Universitas Kehidupan ini dengan memuaskan jika sudah menyadari keberagaman di dalamnya, tanpa kebablasan.

Hingga suatu ketika, waktu itu sore menejelang pukul 4. Gini agak cemas karena sesuatu hal yang tak seperti biasanya. Pagi tadi pasangan itu seperti biasa, dan memang biasanya melakukan ritual elus-elus perut, namun hingga seharian itu Gini merasakan hal yang aneh. Dia tidak merasa ada gerakan-gerakan dalam perutnya seperti biasanya. Sepanjang hari, Gini lebih sering mengelus-elus perut di balik dasternya itu, berharap agar si jabang bayi lekas bergerak seperti biasa. Perasaan khawatir itu belum dikatakannya kepada Hasta. Dia takut jika benar-benar terjadi sesuatu yang tak diinginkannya. Semua itu serba mendadak, tetiba saja seperti itu kejadiannya.

Sore telah berganti malam, ketika itu bulan yang seperti irisan semangka itu telah muncul lebih awal karena masih tanggal 8 dalam penanggalan bulan, bintang-bintang meramaikan langit malam, seolah ingin menghibur jiwa-jiwa yang kesepian dengan mengedipinya, menggoda dan merayu. Hasta masih belum tahu perihal ketidakbergerakan si jabang bayi dalam kandungan sang istri. Dia masih menonton televisi sambil minum kopi. Sementara itu Gini hanya termenung di dalam kamar sambil mengelus-elus perutnya yang cembung itu. Perasaan khawatir dan was-was menggerumuti dirinya dari segala penjuru. Dia menduga-duga apa yang terjadi, apakah si jabang bayi sedang tidur pulas sehingga tidak bergerak seharian ini, ataukah sedang kelelahan karena kebanyakan polah, ataukah..ahsudahlah.

Air mata tak terasa menetes membasahi pipi Gini tanpa ia sadari, lama-kelamaan suara sesenggukan terdengar. Hasta yang menonton televisi menyadari ada sesuatu di dalam kamar. Gini menangis.

“Ada apa, dik?” tanya Hasta khawatir. Dia beranjak lalu mendekat. Gini yang masih menangis tak berusaha menjawab pertanyaan itu. Terus saja menangis seperti itu.

Dengan sabar, Hasta mendekati istrinya yang sesenggukan itu lalu memegang pundaknya sambil duduk di sebelahnya, merangkulnya perlahan lalu mendekapnya dengan lembut, mencoba menenangkan sang istri tanpa bertanya lebih lanjut alasan mengapa dia menangis seperti itu. Bukan karena tidak peduli, namun hanya merasa bahwa wanita yang berada dalam dekapannya itu belum siap untuk berkata-kata. Hasta sangat memahami sang istri.

“Aku buatkan teh hangat, ya? Setelah itu berbaringlah dan tidur dulu, dik.”

Gini mengangguk. Hasta beranjak ke dapur. Malam sendu yang penuh gemerlap bintang, wajah sayu seorang istri, dan rasa penasaran seorang suami. Seperti itu lah malam kelam bagi mereka berdua.

Hingga pagi datang seperti kemarin dulu juga lagi. Pagi manis di musim kemarau pada akhir bulan Juli. Secercah cahaya mentari dari ufuk timur selalu memberi harapan kepada orang-orang untuk memulai hari, memberi harapan orang-orang untuk mengais rejeki, memberi harapan pada Hasta dan Gini untuk tetap bersikap sebaik mungkin dalam keadaan seperti ini. Mereka memutuskan untuk ke bidan di desa tetangga, memeriksakan kandungannya. Dengan sepedanya, Hasta memboncengkan sang istri.

+++

“Pak, Bu, saya hanya bisa sarankan untuk dibawa ke rumah sakit saja hari ini, di sana ada USG, jadi lebih jelas. Saya belum berani berkata apa-apa.” Kata sang Bidan desa itu.

Perasaan Gini makin tak menentu, ingin dia menitikkan air matanya lagi seperti tadi malam, namun dengan sekuat tenaga dia menahannya. Hasta merangkul pundak istrinya itu, dia tahu bahwa istrinya sedang gundah, dan dia hanya bisa pasrah tak tahu apa yang terjadi. Segala perasaan curiga dan khawatir hinggap dalam benaknya, namun dengan ketegaran hatinya, dia berusaha bersikap biasa saja agar tak memperkeruh suasana.

Rumah Sakit adalah tempat yang mengerikan bagi sebagian orang, ada yang mencari kesembuhan dan kesehatan, ada yang bekerja, ada yang memang hanya membawa harapan, juga ada yang datang menjemput kesedihan, bahkan kematian tanpa ia mengharapi. Memang kali ini, hanya harapan yang dibawa oleh Hasta dan Istrinya siang itu, ketika mereka harus memeriksakan kandungan Gini yang sudah lebih dari 24jam tak dirasa bergerak-gerak seperti biasanya lagi. Perasaan khawatir terus menyelimuti sepasang suami-istri itu.

“Bagaimana, dok, kandungan istri saya?” tanya Hasta dengan penuh perasaan cemas. Dokter menghela napas panjang sambil menatap mata Hasta. Gini masih berbaring di ranjang menunggu dokter berkata sesuatu. Hening. Dokter hanya menatap mata Hasta dengan penuh arti, sembari menggelengkan kepalanya sesaat.

“Pak, sesungguhnya Tuhan adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia pula Sang Pemilik atas segala yang ada di bumi ini, bahkan jiwa kita pun bukan milik kita, melainkan dalam genggamanNya. Bermohonlah padaNya atas segala kekhilafan di masa silam, bermohonlah agar diberi ketegaran.”

“Innalillahi wa innailaihi rojiun” kata Hasta lirih. Dia langsung tertunduk diam, lemas tak berdaya, pundaknya ia turunkan. Gini menutupi wajahnya, menangis sesenggukan.

Dokter menyarankan agar segera dilakukan tindakan untuk mengeluarkan sang jabang bayi yang telah meninggal itu dari dalam rahim Gini. Bagaimanapun, itu sekarang adalah mayat dalam tubuh sang istri. Ah hidup, mengapa engkau terkadang begitu menyesakkan dada. Hasta menahan tangisnya, seberapapun tegar, dia tetaplah manusia biasa yang berharap menjadi seorang bapak. Batin tersiksa mengingat dirinya telah menanti bertahun-tahun lamanya untuk menimang anak. Apa lagi mengetahui bahwa Gini telah berusaha sebaik mungkin menjaga kandungannya itu. Hari itu juga, demi keselamatan sang istri, dilakukanlah tindakan sesuai saran dokter. Bapak Hasta telah datang ke rumah sakit untuk mendampingi pasangan itu begitu mengetahui anaknya sedang ditimpa musibah. Kakak Hasta yang tertua menasihati Hasta yang masih menahan tangis.

“Bapak, aku harus bagaimana lagi?” kata Hasta sambil menahan tangis. Sang bapak mendekap putranya itu.

Hasta ingin agar tak ada takziah di siang hari dan ingin agar sesegera mungkin mayat si jabang bayi dikuburkan malam itu juga. Dia tak mau menderita kesedihan yang lebih besar lagi, juga enggan melihat Gini bersedih semakin larut lagi. Kabar mengenai musibah yang menimpa Hasta cepat tersebar di desa hari itu juga. Para tetangga ikut berbela sungka sedalam-dalamnya. Hari itu juga dibuatlah liang kubur bagi anak Hasta itu.

Menjelang tengah malam, mayat si jabang bayi berhasil dikeluarkan. Setelah dikafani dan dishalati, dibawanya itu kembali ke desa untuk menjalankan prosesi penguburan. Rumah Hasta telah ramai dikunjungi para tetangga dan telah ada pula kursi-kursi plastik berwarna hijau berjejer di depan rumahnya. Malam itu juga prosesi penguburan dilaksanakan.

Hasta yang hendak berjalan diiringi para tetangga malam itu ke kuburuan tetiba berhenti, dia menoleh kepada bapaknya sambil berkata,

“Bapak saja yang menggendong sampai kuburan. Aku tiada tega, bapak.” Kata Hasta lirih. Bapaknya mengerti dan memahami apa yang ia mau.

Pukul 2 dini hari, ketika bintang masih berkedip-kedip di angkasa, udara malam musim kemarau yang dingin menelusup ke celah-celah yang dapat ia tembus, bulan telah hampir penuh dan cahayanya sudah cukup tuk menyinari pejalan malam, terlihat banyak orang berjalan beriringan menuju kuburan. Sambil menitikkan air mata, seseorang yang memakai peci hitam, Bapak Hasta, meletakkan secara perlahan jasad si jabang bayi ke dalam liang kubur diterangi dengan lampu-lampu petroma dan cahaya perak bulan. Innalillahi wa innailaihi rojiun.