Catatan Sebelum Meninggalkan

by membualsampailemas


Betapa panasnya jumat itu, ketika orang-orang baru saja keluar dari masjid melaksanakan ibadah shalat jumat, ketika angin musim kemarau bertiup kencang yang mampu untuk menerbangkan ratusan layang-layang. Aku melangkahkan kakiku menuju loket stasiun untuk menukarkan struk pembelian tiket dengan tiket kereta api yang telah kupesan jauh hari. Ah, betapa manusia ini sungguh panjang mengantri.

Detik demi detik, menit demi menit, dipanggillah namaku jua pada akhirnya oleh si penjaga loket nan cantik itu, namanya tertera pada tiket kereta apiku. Lalu apa? Tak terjadi apa-apa. Selesai menukarkan struk pembelian itu dengan tiket aseli, keluarlah aku dari stasiun di kotaku itu, panas menyengat kulit dengan sangat, rasanya sungguh membakar. Langit sungguh biru di sini, diselingi beberapa awan kecil yang berlalu lalang seperti sengaja tampil untuk berpamer diri. Ah engkau ini.

Dengan sekuter ku, aku berkendara perlahan, perlahan untuk sekedar menikmati bagaimana pemandangan daerah ini, asalku. Dari stasiun Gombong, aku menyusuri jalan ke utara untuk mencapai jalan raya, di samping-samping jalan itu ada berbagai toko oleh-oleh, lanthing kebanyakan, lalu ada juga motel dan masjid di sebelah barat jalannya sebelum masuk ke jalan raya. Motel itu milik nenek dari temanku SMP dulu, aku pernah bermain di sana. Ketika sampai pertigaan dan masuk jalan raya, terlihat pasar Wonokriyo yang begitu ramai. Engkel-engkel (bus kecil) parkir di tepian jalan yang membuat jalan raya lintas kabupaten itu terlihat sesak, apa lagi ketika musim lebaran lalu. Tak hanya itu, bus AKAP pun biasa berhenti di sini untuk menurunkan penumpang, dan untuk menaikkan penumpang biasanya bus besar itu ngetem agak di sebelah timur pasar, tepatnya di depan toko elektronik Bares Jaya, terminal bayangan memang. Gombong bukanlah tempat aku tinggal, tapi orang-orang sekitarnya sering mengucapkan bahwa asalnya dari Gombong. Kota Gombong adalah kota kecil, bekas kawedanan, sekarang berupa kecamatan saja, begian dari kabupaten Kebumen. Betapa orang di sini bertutur dalam bahasa jawa Banyumasan, sehingga terkesan kasar dalam berbicara, namun dibalik itu mereka polos dalam mengungkapkan isi hati. Jika tak terbiasa bicara pada orang-orang di sini mungkin pada awalnya akan sakit hati.

Aku menyusuri jalan raya lintas kabupaten/provinsi itu ke arah barat dengan tenang, pelan, untuk menikmati keramaian sejenak dari kota ini yang besok kan ku tinggalkan. Jalan Yos Sudarso namanya, tak tahulah nama ini terbentang dari ujung mana hingga mana, tapi setahuku sepanjang kota Gombong ini lah namanya jalan Yos Sudarso. Sampainya di pertigaan yang terdapat bangjo yang hampir tidak berfungsi atau diabaikan oleh para pengguna jalan yang melintasi, jika terus jalan kau akan sampai ke arah Purwokerto, sekira 1 jam dari sini, jika ke arah utara kau akan sampai Banjarnegara, Sempor, Waduk Sempor, dlsb. Rumahku ke arah utara dari jalan raya, jadi aku berbelok ke kanan, dan tanpa aba-aba bangjo tentunya. Di Gombong ini, daerah perekonomian, seakan semua pengendara motor bebas tidak mengenakan helm. Engkau dapat merasakannya jika berada di kota ini barang sejenak, pun tidak hanya kota Gombong yang seperti ini. Jika ke arah timur terus menyusuri jalan raya ke arah Purworejo, akan bisa dijumpai kota semacam ini, kota tempat pasar tumpah, Karanganyar, Sruweng, Kutowinangun, dan Prembun. Tapi menurutku Gombonglah yang terbesar pasarnya dan yang paling panjang kotanya.

Setelah pertigaan itu, setelah aku berbelok ke kanan mengambil arah utara/Banjarnegara, sekira 4 kilometer lagi adalah rumahku, sama sekali bukan di tepi jalan beraspal itu tentunya. Jalan yang kulewati itu terkenal dengan sebutan jalan Sempor Baru. Ya, jalan ini adalah pengganti jalan Sempor Lama yang ujungnya ada di pertigaan dekat terminal bayangan yang kujelaskan tadi. Dulunya, jika hendak ke Sempor, obwisnya Waduk Sempor, lewatnya adalah jalan Sempor Lama sebelah timur sana, sempit jalannya, namun dulu pernah menjadi jalan utama menuju sempor. Sekarang jalan Sempor Baru telah menjadi jalan yang lebih utama, beraspal mulus terus hingga ke Waduk Sempor. Sekira 5-6 kilometer lah mungkin dari jalan raya hingga waduk Sempor. Berkendara aku pelan-pelan lewat jalan Sempor Baru itu, sambil menikmati pemandangan tentu. Di kiri kanan pertama ada lahan milik Perum Perhutani, gelondongan kayu hasil penebangan dari program peremajaan hutan pinus di Sempor yang berbukit-bukit itu tergeletak dan tertata rapi di sebelah barat jalan. Sedangkan di sebelah timur terdapat bangunan yang seperti rumah dan sudah sejak dulu, sejak aku kecil bangunannya seperti itu, itulah kantor Perum Perhutani. Dulu aku sempat sejenak singgah di tempat itu bersama bapak, waktu itu aku masih TK mungkin, ikut karnaval besar-besaran dan ikut rombongan Perhutani ini. Begitu ramai kala itu, sangat ramai, anak-anak sekolah berbaris rapi, grup Drumband, tari-tarian, mobil-mobil hias, dan aneka lainnya. Ke arah utara sedikit, di sebelah barat jalan terdapat terminal Gombong, terminal yang hanya ramai pada saat lebaran saja, selain saat lebaran ya sepi, sepi pengunjung, sepi bus yang mangkal, paling hanya bus jemputan jurusan Purworejo/Kebumen-Jakarta. Terminal itu pun seperti tak terawat, aspalnya pecah-pecah, bahkan dapat menjadi seperti kolam saat musim penghujan tiba. Ah terminal. Di depan terminal ada lagi pertigaan, jika terus lurus itu ke arah Waduk Sempor, jika belok kanan (arah timur) akan ke arah pasar bagian belakang.

Terus lurus yang ku ambil, jika engkau melewatinya suatu saat, itu adalah jalan yang cukup lebar namun agak sepi, pun masih bagus aspalnya, cocok buat ngebut. Namun rasanya tak tega kala itu untuk ngebut, aku lebih memilih berkendara pelan menikmati semuanya. Ada hamparan sawah yang panjang di situ, sekira satu sampai dua kilometer mugkin akan disuguhi pemandangan sawah yang di musim kemarau ini ditanami kacang hijau. Kacang hijau di sini hampir panen, sudah menghitam-hitam itu kulitnya, dan kuning pula dedaunannya. Angin yang bertiup di jalan ini pun cukup kencang juga karena tak ada halangan gedung. Jika telah sampai pada perbatasan kecamatan Gombong dan Sempor, sekira seratus meter ada pabrik besar, sungguh lumayan besar dibandingkan pabrik mana saja di kota Gombong, namun ini ada di kecamatan Sempor. Pabrik Rokok Samsu orang-orang di sini menyebutnya. Ketika pagi dan sore sungguh ramai di depan pabrik itu, menumpahi jalan dan membuat macet. Buruh pabrik datang dan pergi setiap hari. Adanya pabrik ini mengurangi lahan sawah beberapa petak, namun juga mendatangkan kesempatan kerja kepada masyarakat sekitar. Tak tahulah berapa upahnya. Ibu dulu sempat ingin mendaftarkan diri jadi buruh di situ, buruh rokok, namun kularang.

Jalan Sempor lama ini sering terjadi kecelakaan, kecelakaan tunggal, karena pengendara motor khususnya tergoda untuk ngebut di jalan mulus ini. Yang rawan kecelakaan adalah di pengkolan (belokan) Tegong dan pengkolan Pak Dariman. Terus menyusuri jalan itu ke arah utara, sampailah di Jatinegara, bisa dibilang ini adalah ibukotanya kecamatan Sempor. Di pusat ramainya, ada perempatan yang cukup luas, perempatan itu berupa jembatan pendek yang luas sebenarnya, jadi agak miring itu jembatan arahnya, bukan lurus. Di perempatan itu yang cukup luas, kanan-kiri banyak sekali warung, alfamart, indomaret, warung sayur, fotokopi, warung kelontong, agen gas dan gula jawa, dan lain sebagainya. Ada 3 sekolah yang dekat perempatan itu, SMP PGRI Sempor, SMP N 1 Sempor, SD N 1 Jatinegara dan SD N 2 Jatinegara. Dulu aku bersekolah di SD N 1 Jatinegara itu, namun SMP ada di Gombong. SD ku tempat bersekolah dulu itu letaknya berseberangan persis dengan kantor kecamatan, jadi waktu itu dekat sekali dengan kantor bapak, bapak dulu seorang penyuluh pertanian untuk kecamatan Sempor. Hampir tiap orang di kantor kecamatan kala itu mengenalku, ketika SD. Entah sekarang, mungkin sudah pangling karena jarang sekali ke sana.

Dari perempatan itu, jika terus menyusuri jalan Sempor Baru akan sampai ke Waduk Sempor, jika belok kanan (arah timur) akan sampai ke kantor kecamatan dan SD N 1 Jatinegoro, jika belok kiri akan sampai ke rumahku yang sekira 1,5 kilometer. Jadi dulu sewaktu SD pasti menyeberang perempatan itu ramai-ramai dengan banyak siswa-siswa lain, siswa SD dan SMP dari mana pun.

Jika hendak pulang, yang tercepat adalah belok kiri (arah barat). Namun aku ingin menikmati dulu pemandangan di Sempor, sudah lama sekali tidak berkunjung melihati waduk, jadi arah ke utara terus yang diambil. Ah waduk, betapa akan berkurangnya airmu saat kemarau ini pasti. Ke arah utara itu, sekira 100 meter dari perempatan ada tempat dokter Agus, lalu ada KUA dan TPQ tempat aku dulu ngaji sewaktu SD bersama teman-teman. Betapa dulu sungguh masa-masa yang hanya bersenang-senang sepertinya. Perjalanan dengan sekuterku sungguh kupelankan agar dapat melihat-lihat kesemuanya. Sampai juga di gerbang Waduk Sempor, jika naik motor dan berpakaian biasa saja kamu bebas masuk tanpa dipungut. Yang dipungut bayaran biasanya bus pariwisata. Setelah melewati gerbang itu, jalan sudah tidak begitu lurus, melainkan berkelok-kelok seperti jalan di pegunungan. Ya memang untuk sampai ke waduk, kita harus naik bukit dulu. Jalan yang berkelok-kelok itu lumayan mulus, jadi bisa untuk berlagak belok dengan kecepatan diatas 40km/j dengan badan motor dimiringkan sebegitunya. Rasanya deg deg ser! Bahaya, jangan ditiru.

Terus begitu sampai nanti akan menemui jalan bercabang. Pertigaan ini sering disebut pertigaan Polsus. Ke arah kiri akan ke arah Banjarnegara, bisa juga ke Waduk Sempor lewat arah kiri, namun jalannya sangat menanjak dan nanti akan lewat portal yang selalu tertutup. Jika ke arah kanan akan ke ‘Sempor Indah’. Di tempat itu bisa melihat pajangan bangkai 2 pesawat tempur, kendaraan-kendaraan berat saat perang, meriam, torpedo kapal selam, dan dan pendopo yang cukup luas. Teringat dulu jaman kecil, jika sore hari tiba waktu bulan puasa, biasa main dan naik ke bangkai pesawat tempur yang dipajang itu. Selain itu ada juga dermaga kapal waduk, tempat kapal wisata berlabuh. Tak tahu lah berapa itu tarifnya. Dulu juga ada bebek-bebek kayuh yang bisa mengapung dan berjalan di atas permukaan waduk untuk 2 orang. Pernah aku menaiki sekali dan kapok karena hampir tak bisa balik ke tepian waduk. Itu dulu gratis, tak dipungut bayaran. Dari pertigaan polsus itu, aku mengambil arah kanan, sebelum sampai Sempor Indah, ada belokan ke kiri menuju arah tanggul bendungan. Jalan ini sempit dan sepi, biasa untuk orang-orang mesum ketika sore hari, sampai sekarang pun. Aku menyusuri jalan sepi itu dan seperti sudah ku duga, beberapa motor terparkir di pinggir jalan sepi itu, di atas motor ada pasangan muda-mudi, bermesraan tak tahu malu. Ah, kubiarkan saja seolah aku tak melihat apa pun. Gila!

Tak sampai 1 kilometer mungkin, sampailah ke atas tanggul waduk Sempor, sepi. Di atas tanggul ini jalannya beraspal kasar, ada tempat duduk-duduk sepanjang jalan untuk memandangi waduk dan di arah sebaliknya akan terlihat desa-desa di kecamatan Sempor. Waduk Sempor musim kemarau airnya berkurang hampir setengahnya. Bendungan tempat air tumpah pun sampai terlihat ke bawah. Namun airnya tetap enak di pandang, biru seperti lautan yang mulai mengering, satu-dua kapal sedang menyusuri waduk. Angin meniup-niup di atas tanggul bendungan itu. Jika bulan puasa tiba, muda-mudi dari berbagai tempat di sekitar ramai memenuhi atas sini, biasanya ada juga dulu sewaktu aku kecil yang membawa petasan yang diracik sendiri, lebih mirip bom daripada petasan. Bunyinya akan terdengar berkilo-kilo meter sampai ke rumahku di bawah sana.

Bendungan Sempor ini pernah jebol dulu dan menelan banyak korban jiwa, 127 orang meninggal dalam musibah ini, nama-nama yang meninggal itu kini ditulis di monumen yang berbentuk tugu di sebelah timur bendungan, sekira tahun 1967 jika tak salah. Simbahku (kakek) pernah berkisah ketika itu banyak terlihat mayat-mayat mengapung. Ibu masih berumur 2 tahun ketika itu. Ah hidup, betapa bisa begitu saja terrenggut.

Dari bendungan sempor, aku pulang, kembali ke jalan sepi yang banyak orang mesum itu. Ku pacu motor agak cepat. Jika untuk pulang ke rumah, dari pertigaan polsus tadi akan diambil arah ke kiri, di situ akan melewati bendungan bojong, bendungan yang lebih kecil sekedar untuk membendung aliran sungai di bawah bendungan sempor. Selain itu akan lewat Masjid Pancasila yang bentuknya unik, yakni segi lima. Sekira 1 kilo meter lebih sedikit dari pertigaan polsus itu sampailah ke rumah hamba, rumah yang besok sore akan kutinggalkan untuk pergi ke padepokan Bintaro sana, menimba ilmu-ilmu keuangan negara. Ah dunia, betapa engkau cepat berputar tak terasa.