Surat dari Miriam de la Croix

by membualsampailemas


Sahabat,

Tentu kau sudah sampai di Surabaya dengan selamat. Kunantikan beritamu tapi tak juga kunjung tiba. Jadi aku yang mengalah.

Jangan kau heran, Papa mempunyai perhatian besar terhadapmu. Sampai dua kali ia bertanya, ada atau belum surat dari kau. Papa ingin sekali mengetahui kemajuanmu. Sungguh ia terkesan oleh sikapmu. Kau, katanya, orang Jawa dari jenis lain, terbuat dari bahan lain, seorang pemula dan pembaru sekaligus.

Dengan senang hati aku tulis surat ini, malah merasa mendapat kehormatan dapat menyampaikan pendapat Papa. Mir, Sarah, katanya lagi pada kami, begitu kiranya wajah Jawa nanti yang terasuki peradaban kita, tidak lagi melata seperti cacing kena matari. Maaf Minke, kalau Papa menggunakan perbandingan sekasar itu. Ia tidak bermaksud menghina. Kau tak marah, bukan? Jangan, jangan marah, sahabat. Tak ada pikiran jahat pada Papa maupun kami berdua terhadap Pribumi apalagi terhadap pribadimu.

Papa merasa iba melihat bangsa Jawa yang sudah sedemikian kejatuhannya. Dengarkan kata Papa lagi, sekalipun tetap menggunakan perbandingan kasar tersebut: Tahu kalian apa yang dibutuhkan bangsa cacing ini? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajad mereka kembali. Kau dapat mengikuti aku, sahabat? Jangan terburu gusar sebelum memahami pintaku.

Tidak semua orang Eropa peserta dan penyebab kejatuhan bangsamu. Papa, misalnya, sekali pun seorang assisten residen, tidak termasuk golongan itu. Memang ia tidak bisa berbuat apa-apa sebagaimana halnya aku atau pun Sarah, sekali pun, ya , sekali pun ingin sekali kami mengulurkan tangan. Kami hanya menduga tahu apa mesti kami lakukan. Kau sendiri suka pada Multatuli, bukan? Nah, pengarang yang diagungkan oleh kaum radikal itu memang sudah sangat berjasa pada bangsamu. Ya, Multatuli, di samping Domine Baron von Hoewell itu, dan seorang lagi, yang barang kali saja gurumu lupa menyampaikan, yakni Roorda van Eysinga. Hanya saja mereka tidak pernah bicara pada bangsamu, cuma pada sebangsanya sendiri, yakni Belanda. Mereka minta perhatian pada Eropa agar memperlakukan bangsamu secara patut.

Sahabat,

Segala apa yang telah mereka lakukan untuk bangsamu pada akhir abad 19 ini sudah termasuk gaya lama, kata Papa. Sekarang ini, menurut Papa lagi, Pribumi sendiri yang harus berbuat sesuatu untuk bangsanya sendiri. Karena itu kalau dulu kita bicara tentang usaha Doktor Snouck Hurgronje sama sekali bukan suatu kebetulan. Sarjana tersebut menempati kedudukan terhormat dalam penilaian keluarga kami. Kami memuji assosiasi yang justru kau tertawakan itu. Jadi mengertilah, sahabat, mengapa Papa punya perhatian padamu. memang belum pernah Papa dan kami berdua menemui orang Jawa seperti kau. Sikapmu, katanya, sepenuhnya Eropa, telah terlepas dari acuan budak Jawa dari jaman kekalahan semenjak orang Eropa menginjakkan kaki di bumi kelahiranmu.

Di malam sunyi dalam gedung kami yang besar dan lengang ini, apabila Papa tidak lelah, sukalah kami mendengarkan uraiannya tentang nasib bangsamu, yang pernah melahirkan beratus dan beribu pahlawan dan pemimpin dalam usaha menghalau penindasan Eropa. Seorang demi seorang dari mereka jatuh, kalah, tewas, menyerah, gila, mati dalam kehinaan, dilupakan dalam pembuangan. Tak seorang pun pernah memenangkan perang. Kami dengarkan dengan terharu, juga ikut menjadi jengkel dengan kelakuan para pembesarmu yang menjuali konsessi pada Kompeni untuk kepentingan sendiri sebagai pertanda kekroposan watak dan jiwanya. Pahlawan-pahlawanmu, dalam cerita Papa, bermunculan dari latarbelakang penjualan konsessi, begitu terus-menerus, berabad-abad, dan tidak mengerti bahwa semua itu hanya ulangan dari yang sudah-sudah, semakin lama semakin kecil dan semakin kerdil. Dan begitulah, kata Papa, suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan.

Mereka dikodratkan kalah, kata Papa, dan lebih mengibakan lagi karena mereka tak mengerti tentang kodratnya. Bangsa besar dan gagah-perwira itu terus juga mencoba mengangkat kepala dari permukaan air, dan setiap kali bangsa Eropa memperosokkan kembali kepalanya ke bawah. Bangsa Eropa tidak rela melihat Pribumi menjengukkan kepala pada udara melihat keagungan ciptaan Allah. Mereka terus berusaha dan terus kalah sampai tak tahu lagi usaha dan kekalahannya sendiri.

Menurut Papa, kodrat ummat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.

Maka Papa menyetujui assosiasi. Hanya itu satu-satunya jalan yang baik untuk Pribumi. Ia mengharapkan, juga kami berdua kau kelak duduk setingkat dengan orang Eropa, bersama-sama memajukan bangsa dan negeri ini, sahabat. Permulaan itu kau sendiri sudah mulai. Pasti kau bisa memahami maksud kami. Kami sangat mencintai ayah kami. Ia bukan sekedar seorang ayah, juga seorang guru yang memimpin kami melihat dan memahami dunia, seorang sahabat yang masak dan berisi, seorang administrator yang tak mengharapkan keuntungan dari keluh-kesah bawahan.

Mari aku ceritai kau tentang kata-katanya setelah kau pulang dari kunjunganmu yang pertama. Kau sendiri pergi dengan hati mangkel atau sebal, bukan? Kami dapat mengerti, karena kau belum mengerti maksud kami. Papa memang sengaja meninggalkan kau, agar kau bisa bicara bebas dengan kami. Tapi sayang, kau bersikap begitu kaku dan tegang. Begitu kau pergi, Papa menanyakan pendapat kami tentang kau. Pada akhirnya Minke marah, Sarah melaporkan, Doktor Snouck Hurgronje dan assosiasinya sudah tigaratus tahun ketinggalan, jadi tepat seperti kau katakan. Papa terkejut dan terpaksa mendengarkan keterangan lebih jauh dari aku. Kemudian Papa bilang: Dia bangga sebagai orang Jawa, dan itu baik selama dia punya perasaan harga diri sebagai pribadi mau pun sebagai anak bangsa. Jangan seperti bangsanya pada umumnya, mereka merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tidak ada keberanian lagi. Aku setuju dengan pujian untukmu. Selamatlah untukmu, sahabat.

Kemudian, sahabat, dari gedung wayang-orang mulai terdengar suara gamelan. Sudah lebih dua tahun ini Papa menyuruh kami memperhatikan musik menurut pengucapan bangsamu itu. Kalian memang sudah lama belajar mendengarkan dan mungkin sudah bisa menikmatinya, katanya lagi. Perhatikan, semua nada bercurahan rancak menuju dan menunggu bunyi gung. Begitu dalam musik Jawa, tetapi tidak begitu dalam kehidupannya yang nyata, karena bangsa yang mengibakan ini dalam kehidupannya tak juga mendapatkan gungnya, seorang pemimpin, pemikir, yang bisa memberikan kata putus.

Sahabat, aku minta dengan amat sangat kau sudi memahami ucapan yang takkan kau dapatkan dari siapa pun kecuali ayahku itu juga tidak dari sarjana besar Snouck Hurgronje. Maka kami bangga punya ayah seperti dia. Papa yakin, kau suka pada gamelan, lebih daripada musik Eropa, karena kau dilahirkan dan dibesarkan–dalam ayunan gamelanmu yang agung itu.

Minke, sahabatku, di mana gerangan gung Jawa di luar gamelan, dalam kehidupan nyata ini? Kaulah itu bakalnya? Gung yang agung itu? Bolehkah kami berdoa untukmu?

Dengarkan gamelan itu, kata Papa lagi. Begitulah berabad-abad belakangan ini. Dan gung kehidupan Jawa tak juga tiba. Gamelan itu lebih banyak menyanyikan kerinduan suatu bangsa akan datangnya seorang Messias–merindukan, tidak mencari dan tidak melahirkan. Gamelan itu sendiri menerjemahkan kehidupan kejiwaan Jawa yang ogah mencari, hanya berputar-putar, mengulang, seperti doa dan mantra, membenamkan, mematikan pikiran, membawa pribadi. Itu tanggapan dari seorang Eropa, sahabat. Satu orang Jawa pun takkan punya tanggapan demikian. Kata Papa lagi: kalau dalam duapuluh tahun mendatang dia masih tetap begitu, tanpa perubahan, itulah tanda bangsa ini masih tetap tak mendapatkan Messias-nya.

Aduh, sahabat, bagaimana gerangan wajah bangsamu yang mengibakan sekarang ini pada duapuluh tahun mendatang? Pada suatu kali kelak kami akan pulang ke Nederland. Aku akan bergerak di lapangan politik, Minke. Cuma sayang sekali Nederland belum membenarkan seorang wanita jadi anggota Tweede Kamer. Aku punya impian, sahabat, sekiranya kelak sudah tidak demikian lagi, dan aku menjadi Yang Terhormat Anggota Tweede Kamer, aku akan banyak bicara tentang negeri dan bangsamu. Kalau aku datang ke Jawa pertama-tama akan kudengarkan kembali gamelanmu, gamelan yang indah dalam kesatuan bunyi tiada duanya itu. Kalau temanya tetap saja, suatu dambaan tanpa usaha itu, berarti belum ada Messias datang atau dilahirkan. Aritnya juga: kau belum muncul jadi gung, atau memang tiada seorang Jawa pun akan muncul, hanya akan tenggelan terus dalam curahan nada-nada ulangan dan lingkaran setan. Kalau ada terjadi perubahan, aku akan cari kau, khusus untuk mengulurkan tangan hormat padamu.

Sahabat, duapuluh tahun! Itu terlalu amat lama dalam jaman yang menderap berlomba ini, juga cukup panjang biar pun dilihat dari hidup seseorang. Nah, sahabatku Minke, inilah surat pertama yang kau terima dari sahabatmu yang tulus dan berpengharapan baik:

Miriam de la Croix