Ruam-ruam Pagi yang Sendu [Cerpen]

by membualsampailemas


Pagi masih begitu dingin untuk ditembus, pagi masih terlalu basah untuk dilewati. Aku sampai-sampai kali ini tak dapat membedakan air embun ataukah air hujan lah yang melapisi dedaunan yang masih tertunduk malu menyambut hari dan seperti menggigil tertiup angin pagi yang pelan namun begitu dingin. Pagi pada pertengahan bulan Desember, ketika itu sudah musim penghujan sehingga hampir setiap hari hujan turun membasahi bumi, bahkan matahari pun hampir tak pernah muncul tiap harinya karena mega mendung yang begitu tebal menyelimuti sang lazuardi dan membuat ibu-ibu selalu kebingungan bagaimana caranya mengeringkan cucian yang makin menumpuk.

Aku berjalan hendak keluar dari peraduan, membuka pintu untuk menutupnya kembali dengan pelan, sangat pelan karena aku tak ingin istriku terbangun karena ulahku ini, membiarkan udara pagi yang dingin itu masuk ke dalam, menggantikan udara di dalam yang makin menjenuhkan setelah semalaman terperangkap untuk kuhirupi. Aku melangkahkan kakiku dengan segala kekuatan untuk melawan dinginnya pagi yang seolah mencegahku untuk pergi. Dengan jaket hitam tebal dan celana jeans serta sepatu putih kesayangan, aku meninggalkan rumahku sepagi itu, sekira pukul lima, saat manusia-manusia di sini kebanyakan menarik selimutnya lebih tinggi. Aku setengah berlari menuju jalanan beraspal yang basah karena hujan tadi malam, menghindari genangan-genangan air yang tipis namun dari kejauhan seperti kolam di tengah jalan. Ruam-ruam pagi terlihat begitu sendu, cahaya pagi hanya menyinari bumi dengan setengah hati karena mentari pastilah akan tertutup mega mendung yang bergulung-gemulung sepanjang hari nanti. Aku mempercepat langkahku terus ke arah selatan, menyusuri jalan yang tak terlalu lebar itu menuju jalan raya yang biasa dilewati bus-bus antar kota. Jika hari cukup cerah, angkutan umum telah ada yang berlalu-lalang barang satu-dua di jalan ini, namun agaknya para supir-supir itu ingin ada tambahan waktu dalam tidurnya.

Hujan yang menyiyir kepadaku.

Pagi ini aku mendapatkan kabar, ayah telah meninggal. Aku tak tahu benar perasaanku. Mungkin sedikit legaa mendengarnya karena ibu tak harus bersusah payah lagi merawat Ayah, memandikannya, menyuapinya dengan selang yang disalurkan langsung ke lambung ayah, atau tak harus mengontrol tensinya, namun juga sedikit sedih karena bagaimana pun juga beliau adalah ayahku. Tanpanya. aku mungkin tiada atau tidak seperti sekarang ini wujudku. Aku sedikit lega karena orang yang pernah mencungkilku dari keluarga dan pernah menganggapku parasit yang keberadaannya hanya mengganggu sahaja, telah tiada. Entah mengapa, ketika aku mendapat pesan melalui pager-ku pagi ini tentang hal itu, hampir tiada kesedihan dalam hati ini, mungkinkah telah mati? Aku diminta untuk pulang ke Boyolali, kampung halamanku, pagi itu juga. Ayah telah meninggal tadi malam sekira pukul tiga dini hari. Rencananya akan dikebumikan nanti siang pukul sebelas. Jadi aku harus sampai di sana sebelum pukul itu, paling tidak itu bentuk penghormatan terakhirku pada ayah.

Kira-kira masih ada satu kilometer untuk dilewati agar aku sampai di jalan raya untuk mendapatkan angkutan terpagi yang akan membawaku pulang. Ah, pulang, pulang adalah sesuatu yang hampir tak pernah terpikirkan olehku semenjak aku di sini, bahkan ketika lebaran pun. Semenjak aku memiliki rumah sendiri, aku enggan tuk pulang ke Boyolali lagi. Gara-gara ayah. Ketika melihatku pun dia enggan bertutur kata, enggan dijabati, dan entahlah. Mungkin rasa benci padaku telah menyelimutinya. Dia benar-benar telah menganggapku tak ada, bahkan aku seperti memang tiada lagi di dunia ini ketika aku harus banting tulang sendiri tanpa bantuan orang tua lagi untuk mencari rizki sendiri, atau ketika aku harus melamar istriku dulu dengan bantuan paman, bukan ayah.

Dingin masih bisa sedikit menembus jaket tebal hitamku ini, udara pagi kali ini begitu kejam menyiksa hingga aku harus selalu menyakukan kedua tanganku ini. Langkah kupercepat sehingga aku hampir berlari agar badan ini terasa hangat, selain itu agar aku cepat sampai. Istriku kutinggal begitu saja ketika dia masih tidur tadi, pasti dia sangat kelelahan karena kemarin harus ikut mengurusi arisan di tempat temannya, hanya kutinggal catatan kecil di atas meja makan yang akan menyampaikan padanya bahwa aku harus pergi. Ah, betapa malangnya kau, istriku, takkan pernah melihat bapak mertuamu langsung. Aku tak tega jika kau harus melihat seseorang yang selalu membenciku dan memarahiku ketika aku ada di depannya, karena dia adalah Ayahku sendiri. Namun nanti tentu saja dia tak akan memarahiku lagi, dia telah mati, mana mungkin orang mati masih mau untuk memarahi anaknya ini. Istriku telah tahu semuanya, tentang aku dan keluargaku, tentang ayahku, tentang ibuku, tentang adikku, tanpa dia harus melihatnya langsung. Aku beruntung memiliki istri seperti itu, yang mau tinggal bersama orang yang hanya bisa bercerita tentang keluarganya tanpa menunjukkannya langsung padanya, yang mau tinggal bersama orang yang kurang jelas asal-usulnya, yang mau tinggal dengan orang yang dibenci ayahnya, yang mau tinggal dengan orang yang hampir sebatangkara. Dia hanya bermodal percaya, dan aku bermodal kata-kata. Semua pas dan klop! Nyatanya hingga kini kehidupanku dengan istriku baik-baik saja, meski pun tanpa bantuan keluargaku sedikit pun.

Ibu sebenarnya selalu menangisi kepergianku, selalu menungguiku untuk pulang, selalu berharap aku berdamai dengan kenyataan dan pada sang ayahanda tercinta. Kami masih sering berkirim surat. Ah, Ibu. Ibu mungkin belum terlalu paham bagaimana sakitnya perasaanku ketika aku harus tercukil dari keluarga sehingga hidupku harus susah payah seperti itu. Sesungguhnya yang membuatku mau untuk pulang kali ini adalah Ibu sendiri, bukan kepergian ayah. Ibu yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang, bukan ayah yang selalu memarahiku hampir tiap waktu. Ibu pastilah sedang bersedih hati, pasangan hidupnya telah tiada, dan aku anaknya selama ini selalu saja pergi meninggalkannya.

Di sela-selaku mengingat semua hal yang telah terjadi sembari berjalan kaki, tiba-tiba pula gerimis datang menghampiri. Titik-titik air ini bagaikan tangisan kepedihan dari langit, menitik tertahan. Butiran-butiran air nan lembut dan menambah dingin sang pagi. Pagi yang masih sepi terlihat makin sendu, aku tak boleh santai menghadapi ini. Ayah akan dikebumikan siang nanti, jika aku tak lekas maka aku akan terlambat. Apa kata tetangga ketika seorang ayah yang telah meninggal namun ada anaknya yang tidak datang dalam prosesi pemakaman. Meski ayah agak kubenci, namun dia tetap ayahku bagaimana pun. Dan ibuku pasti butuh dekapanku yang selama ini selalu kabur darinya.

Aku bukanlah orang yang sepenuhnya benar memang, bukan tanpa alasan bahwa ayah sering memarahiku hingga seperti itu. Jika kuingat-ingat aku memanglah anak yang terlalu aktif, tak pernah berdiam diri dan mungkin cenderung nakal di mata orang lain. Tapi aku selalu berusaha menghormati ayah dan ibu. Memang salahku ketika itu pada awalnya, selagi SMU aku pernah terkena narkoba, waktu itu aku mengganja. Rokok adalah hisapanku setiap harinya, lalu aku dikenalkan dengan daun laknat itu untuk ikut dihisap bersama nikotin dan tar. Sebenarnya sudah sejak SMP aku merokok, namun masih agak jarang. Teman-temanku mengajakku untuk merokok. Kala itu kuanggap perbuatan itu sungguh keren. Bagaimana bisa orang menghisap asap, bukannya oksigen, menyebulnya dan membuat lingkaran dengan asap itu. Ah, anak muda, selalu saja ada yang dapat menjadi hiburannya. Dari iseng, lalu menjadi suka, dan lama-lama candu juga. Ketika ayahku tahu tentang itu semua, dia memarahiku habis-habisan, ibu hanya mendekapku dengan tangisan. Aku terdiam. Kedua orang tuaku memutuskan untuk memasukkanku ke pondok pesantren tempat banyak orang ‘buangan’. Namun sebenarnya tentu pesantren adalah tempat banyak orang baik-baik, dan juga orang yang hendak dijadikan baik, maka aku mungkin termasuk pada golongan yang kedua itu. Kehidupan pondok mengajariku bagaimana hidup dengan jalan yang sesuai agamaku, dan di situlah aku baru benar-benar tahu tentang agama. Darinya aku sedikit sadar.

Ketika aku keluar dari pondok, aku berusaha menjadi anak yang baik dan berbakti. Namun aku tak tahu apa salahku ketika ayah masih saja bersikap diam padaku. Beliau belum mau terbuka dan bersikap biasa, padahal aku sudah ingin benar-benar memperbaiki kesalahanku. Aku hampir frustasi dibuatnya. Apakah kesalahanku begitu besar pada ayahanda ini sehingga beliau sampai seperti itu padaku.

Hanya ibu yang mampu bersikap biasa padaku, mendekapku ketika aku membutuhkan dekapannya. Meski begitu pun ibu kali ini seperti perlahan-lahan terpengaruh ayah yang menjadi pendiam itu. Dalam sikapnya, ibu selalu menunjukkan kasih sayang padaku, namun kasih sayang yang berbeda pula diberikan pada adik-adikku. Adik-adikku mendapat rasa yang berbeda daripadaku, ibu lebih sering berbicara dan tertawa bersama mereka, bukan aku. Bahkan ketika aku menyampaikan uneg-uneg ku pada ibu, beliau hanya terdiam dan memperhatikan tanpa sekali pun berbicara mengenai masalahku. Aku seperti tak diharapkan kehadirannya. Rasa-rasanya adikku lebih ibu sayangi daripada aku, ataukah ini hanya perasaanku sahaja yang terlalu berlebihan terhadap semua ini.

Sewaktu aku kuliah di Jogja, mengambil jurusan Ekonomi. Dari situ aku tahu ilmu-ilmu ekonomi. Dari lingkungan kuliah itu aku menjalin banyak koneksi, banyak teman, banyak kenalan. Sampai ada yang mengenalkanku pada permainan mata uang. Tak berhenti di situ saja, ketika aku telah selesai kuliah, aku mencoba meminjam uang pada saudara-saudara hingga terkumpul cukup banyak waktu itu untuk memulai perbuatan itu. Aku sempat menikmati indahnya hidup dengan permainan itu hingga tiba saatnya aku terjatuh pada dasar jurang. Seluruh kekayaanku habis. Ayah kembali memarahiku habis-habisan, dia bahkan sampai berkata kasar padaku. Aku tak perlu mengulangi perkataannya yang menyakitkan itu, yang telah membuatku tercungkil dari keluarga. Saat itu hanya ibu yang masih mau memelukku dengan hangat, meski beliau tidak dapat membantu apa pun termasuk memberi aku uang saku ketika pergi dari rumah. Paman adalah satu-satunya harapanku ketika itu, namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa karena bukanlah orang yang berada. Setidaknya aku bisa menumpang tidur di rumahnya.

Hujan yang tadinya hanya rerintikan kecil, perlahan-lahan mulai seperti air yang rontok dari langit. Aku berlari sekencang yang ku bisa untuk mencapai Jalan Raya dan secepatnya berteduh di depan toko-toko pinggir jalan itu untuk sekedar menunggui busku. Ah hari, mengapa engkau begitu seperti ini padaku, pada orang yang hendak memberikan penghormatan terakhir pada ayahnya yang telah mencungkilnya dari keluarga.

Sesampainya aku di depan sebuah toko elektronik, tempat bus besar biasa berhenti untuk menaik-turunkan penumpangnya, aku masih terdiam membisu dan kedinginan pagi yang menyelimuti. Reruntuhan air dari langit yang berupa butiran-butiran itu semakin menjadi. Udara dingin benar-benar menusuki tiap celah alam. Pagi menjadi semakin sinis padaku. Apa aku tak boleh kesana? Ke Boyolali? Ke tempat orang tuaku sendiri? Dan, entah apa yang terjadi padaku, perasaanku tetiba menjadi tak enak dan seperti ada udara dalam rongga dadaku yang tak mau keluar, menjadikan rasa dalam dada ini begitu sesak. Aku tak tahu harus bagaimana ketika wajah basahku yang terkena air hujan tadi menjadi lebih basah oleh lelehan air mata yang tetiba saja mengalir membasahi pipi.

“Ayah…” kataku lirih, seperti berbisik pada alam, bahwa satu kata itu telah mewakili seluruh rasa rinduku.

Di pinggirku terdapat dua ekor anak kucing yang masih kecil, meringkuk saling memeluk karena dingin. Dimana sang induk yang telah meninggalkan kucing selucu ini di emperan toko? Aku hanya memperhatikannya dan terbayang bahwa itu adalah diriku. Menggulung diri, meringkuk menahan sepi karena tak memiliki apa-apa lagi. Aku merasa hampa dan berdosa. Apa yang harus kulakukan?

Kujongkokkan badanku untuk sekedar mendekapi dua ekor anak kucing kedinginan itu, warnanya putih dan abu-abu. Kucing liar. Kasihan sekali kau, kucing. Dimana indukmu berada saat ini? Kau kehilangan induk, sepertiku dulu. Hanya saja mungkin aku lebih beruntung karena memiliki akal. Atau lebih sial karena aku telah gagal berbuat lebih pada orang tuaku, dan sekarang aku baru tersadar.

Diiing diiing!’ suara klakson motor tetiba terdengar dan membangunkan lamunanku. Aku menoleh pada motor itu, seorang pengendara yang mengenakan mantel hujan dan helm hitam. Istriku. Hujan sederas ini.

“Mas, kenapa ndak bangunkan aku kalau mau pergi to?” tanyanya khawatir. Raut mukanya begitu khawatir. Dia turun dari sekutiknya untuk menghampiriku, dalam hujan lebat yang tiada ramah itu.

Aku terdiam memandangi istriku yang begitu setia selama ini pada bedebah sepertiku. Bedebah yang telah durhaka pada orang tuanya ini. Ah engkau ini, betapa naifnya engkau mau menerima cinta bedebah ini.

“Mas,.. Mass..!” katanya agak kencang. Dikiranya mungkin aku melamun.

“Maaf, dik. Aku harus pergi ke Boyolali sekarang. Tetap tinggal di rumah aja. Mungkin mas baru pulang esok hari.”

“Apa terjadi sesuatu to? Apa bapak dan ibu baik-baik saja?”

Aku terdiam kembali mendengar pertanyaannya itu. Pertanyaan yang sedikit menyakitkan hatiku dan membuat rasa yang seperti ada udara di dalam dada kembali muncul. Kali ini lebih meletup-letup. Dan pada akhirnya aku tak dapat menahan lagi rasa ini. Aku menangis dalam iringan hujan pagi.

***

Hujan masih turun dengan deras. Ruam-ruam pagi masih begitu sendu nan sayu, pagi yang menyiyir padaku. Aku memandangi hujan dari balik kaca bus, melihati tetesan demi tetesan yang jatuh menghampiri bumi. Betapa bumi dapat meresapi tiap titik hujan ini, seolah hati yang meresapi tiap kesedihan yang datang menghampiri. Aku termangu dan terdiam memandangi hujan dari dalam bus berjalan, ketika istriku tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke pundakku. Begitu lembutnya dia berlaku sehingga aku merasa sangat nyaman di dekatnya. Begitu sabarnya istriku memiliki suami seperti aku. Dalam suasana itu, dia memandangiku sejenak, tepat ke mataku, dan kami saling berpandangan, bertatapan penuh makna. Agaknya dia tahu bahwa saat ini aku sama sekali tak butuh kata, hanya tatapan mata dengan segala rasa yang tercurah di dalamnya, yang memiliki arti lebih daripada sekedar kata. Ah, engkau ini, istriku. Lalu dia menyudahi pandangnya dan meraih tangan yang seolah beku di atas pahaku. Dia menggenggami kedua tanganku dengan lembut dan mesranya, dalam suasana sendu pagi dengan segala ruam nyinyirnya kali ini. Mencobai menenangkan diri ini dengan kehangatan cintanya. Cinta tak sekedar butuh kata-kata, cinta adalah perbuatan yang nyata. Apa yang kulakukan selama ini?

Sepanjang perjalanan yang hampir empat jam itu, aku dan istriku berduduk bersama dalam suasana bisu. Terus saja dia mendekapi tanganku dengan erat. Ini adalah kali pertama ibu akan bertemu dengan sang menantu. Ibu, aku telah memilihkan menantu untukmu yang begitu baik, maka sayangilah ia lebih daripada engkau menyayangiku. Ayah, engkau tak akan melihat bagaimana sekali saja aku berbuat benar, yaitu mendapatkan menantu untukmu yang baik lagi canti ini. Bidadariku yang selalu ada di sampingku.

Tetes hujan telah sedikit mereda, ketika aku menginjakkan kaki dan langkah beratku di depan rumah yang kini sedang ramai itu. Hujan telah membuat suasana menjadi semakin suram. Raut muka sang pagi yang nyinyir itu masih tersisa di Boyolali. Pertengahan bulan Desember yang kelabu. Kala itu sedang dilakukan upacara melepaskan jenazah untuk selanjutnya dibawa pergi untuk dikebumikan. Aku berdiri dari kejauhan melihati orang-orang berbaju hitam lagi berpeci sedang memanjatkan doa, bermohon pada Sang Kuasa agar ayah tenang di alam baka. Istriku merangkul tanganku dengan erat, bukan karena dia takut hendak bertemu mertua, namun karena dia ingin menahan kesedihanku yang ada dalam dada.

“Mas…” katanya lirih.

Aku terus berjalan mendekati rumah. Semua orang terlihat begitu terdiam melihati sang jenazah yang hendak dimakan bumi itu. Ayah. Terlihat tetanggaku dulu, mas Paino, Slamet, Wanto, dan Joko yang bersiap-siap memindahkan jenazah ke dalam tandu. Semua menyadari kedatanganku yang tetiba itu, dan karena aku jarang menampakkan batang hidungku semenjak peristiwa itu, maka mereka sedikit kaget kurasa.

Dari balik kaca jendela, terlihat ibu yang sedang menangis tersedu dengan kedua adikku yang mendekapinya. Agaknya ibu belum mengetahui bahwa aku di sini. Ibu, ah Ibu…

Istriku makin mendekapi erat tangan kananku, ketika ibu keluar dari rumah dan termangu melihatiku yang berdiri begitu lesu. Tangisnya makin menjadi, raungannya makin membuncah. Aku berlari menghampiri ibu dan memeluk kedua kakinya. Ibu, maafkan anakmu ini. Maafkan aku yang begitu tega pada ibu. Maafkan aku…

***

Bintaro, 8.00 Pm, 13 September 2012