Si Pejalan Malam

by membualsampailemas


Si pejalan malam berlalu sendu, menatapi bintang yang tak jelas di tengah temaram cahaya lampu merkuri kota. Si pejalan malam kali ini berlalu tanpa di temani cahaya bulan, karena lampu kota lebih terang nampaknya, pun bulan kali ini telah begitu tipisnya. Si pejalan malam menyakukan kedua tangannya pada jaket tebal kelabunya, menahan segala keraguan agar tak keluar, juga karena enggan mengayunkan ayunan tangannya yang sedang melemas itu.

Kali ini, dia berlalu saja di depan sebuah tempat baik, enggan menghampiri apa lagi menengoki. Tak tahulah. Apakah kiranya dia akan ke diskotik? Tempat berbagai orang tertawa seperti tergelitik, mungkin juga ada gadis-gadis yang cantik, dan bukan tidak mungkin dekat dengan narkotik. Mari kita lihat si pejalan malam yang berlalu di sebuah tempat yang baik.

Namun tampaknya, dia kali ini sudi menengok barang sejenak itu tempat, mengamati tempat itu dengan seksama dan hati-hati. Menunggui seseorang tuk keluar dari dalam tempat yang baik itu. Ah, dan beberapa saat berlalu, dan tidak terjadi apa pun! Maka si pejalan malam yang jalannya diterangi temaram lampu kota itu berlalu saja. Bukan diskotik, namun apotek. Membeli obat dan bertemu dengan si penjual cantik.

Si pejalan malam yang malang, berlalu lalang di sela-sela malam tanpa menghampiri suatu tempat selain apotek. Angin kota yang tiada sesejuk angin desa, dihirupinya itu dengan paksa, karena tak ada pilihan. Ah si pejalan malam. Dalam perjalanannya, dia tak menemui apa pun, dan itu semua terlihat sia-sia.

Iklan