Adhityahredaya

by membualsampailemas


Pagi itu sungguh cerah, sangat cerah, bahkan mega yang biasanya bergemulung mengiringi naiknya sang Surya untuk meninggi dan terus meninggi sampai tak ada lagi yang lebih tinggi darinya di lazuardi, kali ini mereka menyingkir semua. Sang Surya terlihat begitu perkasa dan gagah dalam menyinari bumi ini. Secercah cahaya harapan yang datang dari ufuk timur untuk diberikan kepada seluruh penduduk bumi yang akan bekerja, mengais rejeki dari berbagai kegiatannya hari ini. Ada yang berladang, menggembala, berjualan di pasar, bahkan mencuri. Matahari tak pilih kasih dalam menyinari. Orang baik, orang jahat, brahmana, pelacur, ksatriya, raksasa, semua mendapati cahaya sang Surya yang menawan hati siapa saja, yang tanpanya mungkin kehidupan di bumi ini perlahan akan sirna. Bathara Surya terus dipuja di kuil-kuil bersama-sama dengan Dewi Ratih. Siang dan Malam. Tak hanya itu, di kuil utama dekat dengan istana, pun ramai. Di sana Wisnu, Brahma, dan Siva dipuja berribu-ribu orang tiap harinya. Sesaji memenuhi pelataran kuil, bunga-bunga putih-kuning menghampari pelataran sehingga nampak elok dipandang. Para Brahmana gembira jika banyak yang datang bersembahyang.

Pagi itu terlalu indah untuk siapa saja yang menjumpainya. Dedaunan yang masih merunduk menggigil karena embusan sepanjang malam angin yang dingin, perlahan mulai nampak bugar dan cerah kembali warnanya. Embun-embun yang bergantungan di ujung-ujung daun, mengisahkan bagaimana perjalanan mereka yang sulit itu, dari terpisahnya mereka di udara, dipersatukan oleh sang dingin dan dipertemukan oleh dedaunan, lalu untuk kembali ke asalnya, bumi. Rumput-rumput yang begitu hijau dan segar, menggoda para gembala untuk menggembalakan ternak mereka di ladang yang hijau segar itu. Bunga-bunga yang tadi malam kuncup seolah menahan dingin, pagi ini mulai mekar, merekah, bagai perawan cantik yang sedang dalam masa terindahnya. Kumbang-kumbang akan datang menghampiri dan semuanya akan tertarik padanya. Burung-burung kicau menunggui sinar matari tuk menyinari sarangnya, lalu mereka akan bernyanyi membangunkan anak-anaknya, beberapa dari mereka ada yang baru akan menetas. Pagi masih berupa berkas-berkas sinar yang mengenai punggung bukit, sebalik bukit masih tertutup bebayangnya yang lain. Rerimbunan pohon terlihat syahdu mengisi sang alam. Dari atas istana, dapat terlihat begitu indahnya pemandangan pagi hari dan betapa eloknya sang Surya yang baru saja terbangun dari ufuk timur sana.

Istana Kerajaan Kunti pagi itu seperti permata di tengah-tengah belantara dunia. Terlampau indah. Apa lagi setelah diketahui bahwa terdapat puteri cantik yang benar-benar rupawan ada di dalamnya, yang begitu baik dan manisnya, yang begitu indah untuk dipandang, yang begitu gemulai tiap gerak-gerik tubuhnya, yang anggun lelakunya. Dialah Putri Kunti, Dewi Pritha.

Sesungguh pun, dia sebenarnya adalah seorang puteri angkat Raja Kuntiboja, ayahnya kandungnya adalah Surasena-kakak dari Raja Kuntiboja, namun dia lebih pantas dan lebih anggun dari segala puteri yang pernah ada. Tiada pangeran yang tak ingin meminangnya. Bagaikan bunga yang sedang ranum dan mekar-mekarnya, mengundang tiap kumbang tuk menghampirinya. Sikap santunnya yang begitu memesona tiap pria, adalah hasil didikan keluarganya. Paras cantik nan rupawan adalah anugerah tak terkira dari Sang Kuasa. Matanya yang bulat nan indah dan juga bening seperti ada embun kesejukan di dalamnya mampu menghipnotis siapa pun yang memandangnya, sungguh elok dipandang. Teduh dan meneduhkan, sayu nan memesona. Alisnya tak terlalu tebal juga tak terlalu tipis, namun panjang dan melengkung sperti pedang lengkung yang indah tiada tara. Lengkungannya bagaikan bulan sabit pada ujungnya, lancip, pangkalnya seperti bentuk meteor yang sedang jatuh. Hidungnya tak terlalu mancung, dan tak terlalu pendek. Runcing di ujungnya dan membuat siapa saja akan gemas melihat hidung itu. Bibirnya merona merah. Bibir atasnya tipis, namun tak terlalu tipis, sedang bibir bawahnya sedikit lebih tebal. Bibir kecil yang elok jika dipadukan dengan keseluruhan yang ada di wajahnya itu. Kulitnya bak pualam, putih kekuningan. Bersih dan mulus. Dia memang seorang puteri yang pandai merawat diri. Rambutnya hitam legam, seperti arang, tebal nan lurus. Diikatnya dan didandaninya dengan rapi tiap harinya rambut panjang itu. Dalam belahan rambutnya, diberilah serbuk merah serta diberi perhiasan dari emas. Mempercantik segala apa yang terlihat dari dirinya itu.

Dalam kesehariannya, Dewi Kunti selalu memakai kain sari merah untuk di sampirkan ke bahunya yang sedap dipandang mata siapa saja itu. Begitu panjang kain sari itu sampai dia gunakan untuk menutupi hampir segalanya dari tubuhnya. Mula-mula ia lilitkan dari sebatas pinggul hingga mata kakinya yang memiliki untaian gelang-gelang kaki yang makin memuat indah si empunya, terus dililitkan sampai terasa cukup. Kain sari yang masih panjang itu disampirkannya untuk menutupi tubuh atasnya. Betapa pun, samar-samar dapat terlihat betapa elok bentuk tubuhnya itu. Kulitnya yang seperti pualam bercahaya itu makin terlihat indah ketika tertutupi kain sari merah tipisnya itu. Perpaduan yang sangat indah antara kulitnya dengan kain yang dia gunakan. Sempurna.

Pagi itu, Raja Kuntiboja akan menerima seorang tamu agung, seorang tamu yang tidak biasa daripada tamu-tamu yang lain. Dia adalah seorang pertapa yang kondang kaloka di seluruh dunia. Sampai-sampai para raja dan dewa sangat penghormatinya. Dialah Bgawan Durwaka, yang terkenal mudah marah dan mudah memeberi kutukan kepada siapa pun yang membuatnya marah, namun juga mudah memeberikan sesuatu hadiah jika dia mendapat perlakuan yang baik. Kali ini Bgawan Durwaka hendak turun dari pertapaannya, dan menghampiri Raja Kuntiboja. Sudah selayaknya, sejak dahulu kala jika seorang Bgawan hendak turun dari pertapaan, dia harus dijamu dan dihormati. Semua raja yang dia hampiri akan berlomba-lomba menjamunya dengan sebaik mungkin jamuan, dengan yang terbaik yang bisa dia lakukan.

Mentari perlahan naik dengan gagahnya, mengiringi langkah sang pertapa yang sendiri itu. Dia berjalan dengan tegapnya, menyampirkan kain kuning yang biasa ia gunakan untuk menutupi tubuh bagian atasnya ke tangannya. Langkahnya pasti. Rambut berubannya dia gelung ke atas. Semua orang akan tahu bahwa ia adalah pertapa. Jambang kumis dan jenggotnya bersatu, mulutnya sampai-sampai tak terlihat karena tebalnya rambut mukanya itu. Tebal dan panjang, berwarna sama dengan rambut kepalanya. Matanya yang terlihat tua namun penuh dengan tatapan semangat. Kulitnya yang keriput itu hampir-hampir legam terkena sengatan matari. Dekil.

Dengan langkah tegap dan mantapnya, dia memasuki gerbang istana. Tak ada yang berani menghalanginya. Kesaktian seorang Bgawan tiada yang menandingi. Salah-salah diperbuat, bisa dikutuknya orang itu. Seperti halnya ketika ia mengutuk Dewi Sakuntala dulu, bahwa ia akan dilupakan cintanya, raja Duswanta dan ternyata memang benar ia terlupakan. Meski pada akhirnya dengan penuh perjuangan, raja Duswanta dan Dewi Sakuntala dapat dipertemukan kembali dalam suasana haru dan bahagia.

“Aku ingin bertemu dengan Kuntiboja.” Katanya dengan tegas. Semua pengawal istana tunduk, seperti halnya ia tunduk pada rajanya sendiri. Sungguh seorang brahman sangat dihormati.

“Aku di sini, wahai Bgawan.” Sahut sang raja. Dia berdiri dari kejauhan dengan menyampurkan kain merahnya ke tangan kirinya. Sang Bgawan tersenyum.

“Wahai kawan, sudah lama aku tidak berjumpa denganmu. Dan lihatlah, sekarang engkau begini rupanya.”

“Hahaha. Marilah masuk dalam kediamanku, Bgawan. Aku memiliki jamuan khusus untukmu.”

“Baiklah, baiklah. Hahaha”

Tawa keduanya, sang Raja dan Bgawan menggelegar penuh semangat. Mereka sudah lama tiada bertemu. Dalam kedekilannya itu, sang Bgawan memiliki aroma yang wangi, sehingga tak ada yang menyangka dia tidak pernah mandi selama pertapaannya.

Burung-burung pipit terbang kesana-kemari di langit biru yang perlahan terik karena tiada mega yang menemani sang Surya untuk menyinari seisi bumi. Mereka hinggap dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Dari atap ke atap, terkadang turun ke tanah sekedar mencari bebijian yang terjatuh. Mencicit-cicit membuat suasana hari semakin berarti. Dewi Pritha masih berdandan di dalam kamarnya, sebelum ia ditugaskan oleh sang ayahanda untuk membantu menjamu Bgawan Durwaka. Bukan rahasia jika Dewi Pritha adalah ahli dalam melayani para tamu kerajaan, tiada yang tidak pernah terpesona karena keanggunannya. Suara langkah kakinya yang lebut disertai gemricik gelang-gelang emas di kakinya itu, yang kadang juga betis indahnya tersingkap dari bali kain sarinya dan terlihat bagai porselen putih yang mulus. Bercahaya. Jemari tangannya begitu lentik dan elok dalam pergerakannya. Senyumnya akan menawan siapa saja.

Dalam kediaman sang Raja, Bgawan Durwaka bercerita bersama dengan Raja Kuntiboja, mengenai makna hidup. Segala nasihat ia lontarkan pada sang Raja, sudah sepantasnya Raja hanya mengiyakan perkataan seorang Resi. Sampai tiba saatnya, ketika Dewi Pritha datang menyela pembicaraan sambil membawa sebuah nampan perak berisi buah anggur. Kedatangannya diiringi pelayan-pelayan istana.

“Wahai Bgawan, perkenalkanlah, ia adalah anakku. Pritha.” Kata sang Raja membanggakan. Sang Bgawan hanya terdiam sambil memandangi tindak-tanduk sang puteri dalam menyajikan. Sangat sopan.

“Beruntung sekali kelak orang yang akan memperistrinya. Dia akan memiliki anak-anak yang hebat, yang kelak akan membuat ramai dunia.”

“Benarkah?”

“Kemarilah, nak. Mendekatlah padaku.” Kata Bgawan dengan lembut pada Dewi Pritha. Sambil melambaikan tangan, dia meraih ke dalam kain kuningnya.

Dewi Pritha hanya tertunduk malu-malu, dia perlahan-lahan mendekat pada sang Bgawan. Lalu bersimpuh, berlutut di hadapnya.

“Tak usah bersimpuh seperti itu, anakku. Berdirilah. Ayo berdiri.”

Maka Dewi Pritha menuruti keinginan sang Resi. Masih dengan menunduk, tak berani menatap muka orang yang dihadapinya karena malu, juga karena sedikit takut karena perawakan sang Resi yang begitu menakutkan.

“Aku terkesan akan jamuan yang telah engkau berikan, juga atas sikapmu yang begitu indah nan rupawan. Aku ingin memberimu sebuah hadiah.” Dari balik tangan kanan sang Bgawan, muncullah seberkas cahaya yang ia selipkan dari balik bajunya. “berikanlah tangan kananmu, anakku.”

Dewi Pritha mengulurkan tangannya yang indah itu, yang lembut dengan dihiasi gelang-gelang berwarna-warni. Membuat tangannya menjadi tangan terindah di muka bumi. Lalu didekapnya tangan Dewi Pritha itu dengan cahaya dari sang Bgawan, menghilanglah si cahaya itu ke dalam tubuh sang Dewi.

“Itu adalah sebuah ilmu, Adhityahredaya, untukmu pemberian dariku. Kelak, jika engkau hendak memiliki anak, maka pakailah ilmu itu. Maka kelak anak-anakmu akan berupa titisan dari para Dewa.”

Begitu bangganya Dewi Pritha akan ilmu yang baru saja diperolehnya dari sang Bgawan. Ia benar-benar mengharap kelak anak-anaknya adalah titisan dari para dewa-dewa.

“Terimakasih, wahai Bgawan.”

“Tidak mengapa, anakku. Engkau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Pergilah kembali ke tempatmu. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan ayahmu.”

Maka Dewi Pritha pamit undur diri. Langkahnya yang gemulai akan memesona siapa pun. Jika yang bertamu itu adalah seorang pangeran, pastilah ia akan langsung dilamar.

Begitu senangnya hati sang Dewi mendapatkan ilmu Adhityahredaya dari Bgawan Durwaka. Ingin sekali ia segera mencoba ilmu itu. Namun selalu ditahannya keinginannya karena ia belum memiliki suami. Ia masih perawan suci. Sepanjang hari itu, ia hanya memikirkan seperti apa anaknya kelak. Ia ingin segera menikah dan memiliki anak-anak yang manis. Namun jodoh belum juga ia dapatkan.

Pada keesokan hari, Sang puteri terbangun dari kamarnya yang berada di atas istana. Tempat ia dapat memandangi seluruh negerinya dengan hamparan hijau pohon-pohon, serta para penduduknya. Tempat ia biasa memandangi sang Surya terbit dari ufuk timur sana, mendatangi tiap-tiap celah alam untuk diisi dengan sinar hangatnya. Dewi Pritha bangun dengan hati yang gembira, dalam pakaian longgarnya, dia terlihat masih begitu cantik walau baru saja terbangun dari tidur malamnya itu. Lalu dia pergi ke dekat jendela untuk sekedar memandangi sang Surya yang perlahan naik itu. Sepintas lalu dia teringat akan Adhityahredaya pemberian sang Bgawan. Tanpa berpikir panjang, sambil memandangi sang Surya, ia memakai ilmu itu, melafalkannya dengan penuh kehati-hatian dan penghayatan. Mencobai kesaktian.

Beberapa waktu ia menunggu apa yang terjadi, namun tak terjadi apa pun. Sampai akhirnya ia dikejutkan oleh kedatangan sesosok pria tampan yang tiba-tiba telah masuk di dalam kamarnya. Dengan membawa cahaya hangat dari balik tubuhnya, tongkat emas ia pegang di tangan kiri. Nampaknya tongkat itu adalah gagang dari cemeti yang juga ber Mahkotanya begitu menyilaukan. Pakaiannya terbalut dari untaian emas. Parasnya yang tampan namun mukanya terlihat sombong memandangi. Kulitnya putih bersih. Dewi Pritha ketakutan melihat pria itu yang tiba-tiba melayang masuk ke dalam kamarnya.

“Engkau memanggilku.” Katanya sombong dan angkuh. Namun dalam keangkuhannya itu, dia terlihat sangat berwibawa dan memesona.

Dewi Pritha hanya terdiam dan ketakutan pada sosok yang ada di depannya itu. Tangannya ia tutupkan pada mulutnya, menahannya untuk berteriak.

“Engkau memanggilku,” katanya sekali lagi.

“Si..sia..sapakah engkau?”

“Aku Surya,”

Dewi Pritha terkaget bukan kepalang ketika mengtahui bahwa yang ada di depannya sekarang ini adalah Bathara Surya. Tak menyangka ia akan dijumpai seorang Dewa.

“kau telah memakai Adhityahredaya. Aku akan mengaugerahimu seorang keturunan.” Lanjutnya.

“A..Aku tidak mau. Aku masih perawan.”

“Hmm? Tapi kau telah memakai Adhityahredaya.”

“Tapi aku hanya mencobanya sahaja.”

“Dalam sebuah percobaan tentu ada hasil, kan? Aku tidak bisa meninggalkanmu tanpa menganugerahi sesuatu untukmu. Aku akan memberikanmu seorang putra. Kau akan mengandung seorang putra Surya. Kelak ia akan bernama Basusena.”

“Bagaimana aku bisa memiliki anak, sedang aku masih perawan? Aku tak mau mempermalukan seluruh negeriku.” Katanya sambil terisak. Dia menangis tersedu.

“Kau telah bermain-main dengan sesuatu yang bukan mainan. Itulah akibatmu. Baiklah, aku akan menjaga kesucianmu, anakmu akan lahir hari ini melalui telingamu.” Lalu Surya meniupkan sesuatu pada tubuh Dewi Pritha. Setelah itu semua, dia pergi melayang jauh kembali ke tempatnya di lazuardi. Dengan kesombongannya yang biasa ia nampakkan itu.

Dewi Pritha hanya menangis tersedu-sedu karena peristiwa singkat itu.

“Ah, hidup. Mengapakah aku menjadi ceroboh begitu.”

Dan sesuatu yang aneh kembali terjadi, waktu selaksa berhenti berjalan. Semua terlihat membeku dalam diam. Perut Dewi Kunti membesar perlahan, dia hamil dalam waktu yang dipercepatkan. Dalam rasanya, segala terlihat seperti biasa, namun sang waktu sebenarnya sedang berhenti berjalan. Sampai-sampai tak ada yang menyadari keadaan Dewi Pritha itu.

Seharian itu Dewi Pritha hanya berdiam diri di dalam kamar. Enggan tuk keluar. Perutnya telah membesar dan begitu besar. Kehamilannya yang ajaib ini jika diketahui khalayak, akan membuat malu seluruh negeri. Perawan yang tiba-tiba hamil. Apa kata dunia? Bersuami saja dia belum. Dalam keseharian itu, dia diberi anugerah agar tak ada yang mengetahui bahwa dirinya hamil secara ajaib hanya dalam sehari itu.

Singkat cerita, pada sore harinya, ketika sang Surya hendak menenggelamkan dirinya tepat di ufuk timur sana, Dewi Pritha merasakan sesuatu yang luar biasa. Dia akan melahirkan! Namun, karena Bathara Surya telah mewantinya akan menjaga kesucian Dewi Pritha, maka lahirlah anaknya itu dari telinga sang Dewi dengan ajaib dan kuasa sang Dewa. Lahirlah Karna. Seorang bayi mungil yang sangat lucu. Dalam perawakannya, dia seolah memakai baju perang dan anting-anting. Lama-kelamaan baju perang itu nampak melekat pada tubuh sang jabang bayi secara ajaib. Dewi Pritha panik karena khawatir akan diketahui orang perihal bayinya itu. Namun dia juga tak tega pada si jabang bayi yang baru saja lahir itu. Di embannya si jabang bayi yang masih menangis, diciuminya dengan penuh kasih sayang seorang ibu. Sambil ikut menangis, Dewi Pritha membawa si jabang bayi ke sungai dekat istana. Sungai yang jernih yang akan mengantarkan takdir bayi itu kelak pada Adirata dan Radha, orang tua angkatnya. Dengan isak tangis yang membuncah, sang Dewi menghanyutkan bayi itu yang berada dalam keranjang yang elok yang cukup tuk melindunginya dari segala.

Begitulah kiranya kisah kelahiran Karna, Basusena, Awangga, kakak sulung dari para Pandhawa kelak. Yang mana dia akan menjadi ksatriya yang tangguh dan tampan, serta sifat-sifatnya yang angkuh namun dermawan, seperti Surya.

 

 Bintaro, 22 September 2012; 7:29am.