Sore Itu..

by membualsampailemas


Aku hampir-hampir merasa tak berguna, hampir-hampir aku merasa tak ada artinya buatmu, ketika aku tak dapat berbuat apa pun untukmu sewaktu kau kesusahan seperti itu. Aku takut, aku khawatir, aku risau, aku ingin selalu ada di sampingmu, menjagamu dan melihatimu dari waktu ke waktu.

Sore itu, ketika angin dihembuskan sebegitu kencang dari sisi luar. Mulutku kering dan hampir-hampir sulit tuk bicara. Pikiranku seperti berhenti tuk dapat mengolah kata-kata. Batukku serasa menggaruk-garuk tenggorokan. Mentari mulai turun perlahan, memerah dan makin memperlihatkan bentuk bulatnya, indah. Senja sore yang seharusnya indah itu, menjadi menakutkan buatku. Kau masih saja terdiam membisu, berpaling membelakangiku. Dengan sabar aku berusaha membujukmu tuk berkata, barang sedikit saja. Namun, segalanya seperti tiada guna. Aku telah memiliki firasat bahwa takkan ada kata yang keluar dari mulutmu untukku. Lalu aku terdiam beberapa saat. Dan kau pun. Segalanya berhenti, waktu tak peduli. Sampai tetiba sesuatu terjadi. Nafasmu mulai tersengal, kurasakan ada sesuatu yang tak benar pada dirimu. Aku kaget, sangat kaget, seperti tiada yang lebih kaget lagi daripada aku, ketika tetiba kau berbalik dan memegang tanganku dengan erat, mendekapnya dan menundukkan kepala di pahaku. Agaknya ada sesuatu. Kau kesakitan. Aku panik, sangat panik, tapi aku tahan. Aku tak boleh berbuat ceroboh dan gegabah. Sejenak aku terus mendekap tanganmu, terus memeganginya dengan erat. Menanyai apakah dia baik-baik saja, namun ternyata tidak. Sejatinya aku semakin panik, semakin merasa tak berguna. Apa yang harus ku perbuat?? Lalu sebuah nama muncul dari mulutmu.

Makin getir perasaanku ketika aku membawamu ke tempat itu, ketika aku harus membopongmu ke ranjang dorong, melihat tanganmu ditusuk jarum infus, kau kaku dan menggigil kedinginan, tanganmu terasa dingin, sangat dingin. Aku makin bingung. Saat menungguimu sendiri, aku berdoa agar kau baik-baik saja, agar kau lekas kembali seperti semula. Kau mulai menggigil lagi dan aku berusaha memegangi tanganmu, menutupinya semampuku, menghangatkannya sebisaku. Aku memandangi wajahmu yang kesakitan itu, manahan segala kesusahan itu sendiri, dan karena aku tak dapat berbuat apa pun, aku makin merasa tak berguna. Sampai ketika kau memalingkan muka ke sisiku, seakan berusaha berbicara sesuatu, sepintas membuka mata entah itu melihatku atau tidak, aku berusaha mengajakmu berbicara, namun kau diam saja. Ah engkau ini, membuatku khawatir begitu lagi.

Lekaslah pulih, aku menungguimu tuk berkata sesuatu..