Luka Lama

by membualsampailemas


Sepasang pengantin baru saling tidur berhadapan di atas ranjang yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu, di sebuah rumah kontrakan yang tak terlalu besar, pun tak terlalu kecil. Dengan masih saling berkedip dan memandang, diterangi temaram cahaya lampu neon kamar yang terang, keduanya saling melemparkan senyum cekikikan. Tak terjadi apa-apa. Mereka hanya bercekikikan berdua dan saling memandang. Si suami berusaha menggelitiki istrinya dengan kedua tangannya itu, dan si istri tak mau kalah dan tak mau tergelitik oleh si suami. Alhasil, mereka seperti anak kecil yang saling tertawa lepas malam itu. Dan etapa bahagianya, karena akulah si suami. Istriku yang begitu manis kini berada di hadapanku.

“Mas..” kata istriku sambil memandangi langit-langit kamar. Dia telah lelah bermain gelitik.

“Ya..?” nada beratku menyahut panggilan mesra istriku.

“Malam ini aku hanya ingin bercerita denganmu, tentang semuanya.”

“Apa pun itu. Berceritalah. Aku akan mendengarkan.”

“Bolehkah aku bercerita tentang masa laluku?”

“Masa iya kau akan bercerita tentang masa depanmu yang belum juga terjadi,” sahutku sambil menggelitiki lagi istriku. Kami tertawa kembali. Lalu berpandangan. “nah, ceritakanlah.”

“Baiklah. Begini. Tentu dulu Mas pernah punya cinta pertama, aku pun.”

“Kau mau bercerita tentang cinta pertamamu?”

“He’em” dia mengangguk penuh semangat.

“Kau mau membuatku cemburu?”

“Tidak! Bukan itu maksudku, Mas. Aku hanya ingin berbagi cerita hidupku denganmu.”

“Walau itu membuatku cemburu?”

“Kau benar-benar pencemburu, Mas? Tapi bersabarlah, aku bukan berniat seperti itu. Nanti kau ceritakan tentangmu setelah ini pun juga tak apa.”

“Baiklah.”

“Dulu, waktu SMP, aku suka pada kakak kelas, namanya Mas Wawan. Dia pintar, baik hati, dan sangat ramah. Aku kelas satu, dia kelas tiga. Saat itu aku mulai suka dengannya ketika perayaan 17 Agustus. Dia ikut lomba basket, apa itu aku lupa. Sangat keren. Waktu itu aku pakai baju pramuka, rambutku masih aku kuncir kebelakang tanpa poni, aku sesekali memakai bando juga waktu itu. Aku dan teman-teman sibuk berteriak-teriak karena menyemangati tim basketnya Mas Wawan. hihihi”

“Lantas?”

“Ternyata, lama kelamaan aku jadi suka mencuri-curi pandang kepadanya. Dulu aku termasuk anak yang cantik lho, Mas, ketika SMP. Aku ikut ekskul nari. Dan hari untuk ekskul nari dengan basket itu sama. Hari selasa dan kamis. Tak ku sangka”

Istriku terus berceloteh tentang ceritanya dengan Mas Wawannya itu, ah, aku hanya bisa mengangguk-angguk sembari mengiyakannya. Terkadang aku cemburu dibuatnya ketika dia bercerita penuh perasaan dan dengan nada yang berbeda. Betapapun, aku ini hanyalah manusia biasa. Kau tak tahu bagaimana rasanya cemburu kah? Itu tidak enak. Meski cemburu itu tanda sayang.

“Waktu itu sore, aku harus latihan sampai benar-benar sore. Mungkin hampir maghrib waktu itu, mas. Lusanya aku akan lomba di kabupaten. Ah, betapa dulu aku sangat bersemangat untuk lomba. Mas tau tidak, aku sempat grogi ketika hendak lomba itu.”

“Benarkah? Engkau pasti bisa mengatasinya, kan?”

“Tentu. Mas jangan cemburu ya. Sore itu aku terlambat dijemput bapak. Bapak entah kemana waktu itu, sampai hampir adzan maghrib, aku masih menunggu di depan sekolah. Tiba-tiba ada suara motor mendekat. Ternyata itu Mas Wawan yang juga baru pulang. Dia menanyaiku mengapa belum pulang. Aku bilang sejujurnya. Lalu dia menawarkan tumpangan. Karena aku sudah lelah menunggu bapak, ya aku terima saja tawarannya. Lumayan. Hihihi”

“Stop.” pintaku seketika. Aku sudah tak memperhatikan sampai di mana dia bercerita.

“Hemm??” istriku heran.

“Aku benar-benar cemburu padamu. Sudahlah.”

Istriku lalu tersenyum dengan manisnya, dia berusaha mencairkan suasana hatiku, mungkin. Lalu dia bergeser ke arahku dan memelukku dengan lembut. Menempelkan kepalanya di dadaku.

“Seperti itukah cemburu itu? Masa hanya dengan bercerita seperti ini bisa membuatmu panas hati?” katanya, masih dengan tersenyum.

“Aku tak tahu, Dik. Aku takkan melarang kau tuk cemburu. Kan cemburu itu tanda sayang. Tapi cemburu itu menyakitkan, Dik. Jadi usahakanlah jangan membuatku cemburu.” kataku menimpali senyumnya.

“Baiklah. Sekarang gantian, coba mas yang bercerita tentang masa lalumu.”

“Aku enggan. Aku enggan membuatmu cemburu, rasanya sungguh tak enak. Bukannya aku tak mau berbagi, tapi aku tak mau membuatmu cemburu.”

“Tak apa. Aku ingin merasakan cemburu itu.”

“Aku tak pandai bercerita.”

“Kumohon..” katanya seraya mengedip-ngedipkan mata.

“Tidak ah. Sekarang tidur saja.”

“Aaah, Mas ini. Ayo lah tak apa.” pintanya manja.

“Tidak.” aku berusaha menegaskan bahwa aku enggan bercerita.

“Ck ah, Mas ini..”

“Sebegitu ingin tahunya kah?” kataku sambil memandangi wajahnya. Dia mengangguk-angguk dengan penuh semangat.

“Cinta pertamaku sewaktu aku kuliah dulu. Tingkat pertama. Tapi dia perempuan yang pantas mati.”

“Hmm?”

“Sudah, sudah. Ayok tidur.”

“Aaaah, Mas membuat penasaran!”

Lalu aku tertawa. Aku enggan melanjutkan. Lagipula aku enggan mengingat-ingat hal itu. Dan kami pun tidur malam itu. Aku mendekap tangannya dengan erat sampai ia tertidur. Sekilas kupandangi wajahnya yang sedang tidur itu. Istriku benar-benar manis. Beruntunglah aku.

-+-+

“Pak, ada yang ingin bertemu.” kata teman sekantorku, Rita. Dia yang selalu menemaniku menemui klien.

“Siapa?” tanyaku. Masih sambil duduk di belakang meja kerjaku. Sambil melihati berkas-berkas yang begitu banyak.

“Dia bilang teman bapak.”

“Teman yang mana?”

“Mana saya tahu, pak.”

“Suruh tunggu sebentar.”

“Baik pak.” Lalu Rita keluar.

Pagi itu aku sedikit telat masuk kantor memang, karena tadi malam harus mendengarkan cerita istriku sampai dia puas. Dasar orang yang aktif bicara. Tapi aku suka, karenanya lah rumah menjadi tidak sepi, dan karenanya lah aku menjadi bersemangat pagi ini, meski tetap saja terlambat. Berkas-berkas kasus klienku telah menumpuk di meja, menunggu untuk dipelajari.

Suasana ruang kerjaku sangat berantakan, aku tak bisa menerima tamu di sini, aku harus keluar untuk menemui seseorang yang mengaku temanku itu. Ah, teman, siapakah engkau ini sebenarnya. Aku memutuskan untuk menyudahi sebuah berkas, menutupnya dan menandai sampai halaman mana aku membaca.

Sampai di ruang tamu kantorku yang kecil itu, aku mencari-cari mana tamuku. Tak ada orang yang aku kenal. Hanya ada 2 orang yang sedang duduk di bangku tunggu. Yang satu adalah pria tua pensiunan sepertinya, memakai jaket dan kacamata tebal. Mana mungkin dia tamuku, pasti tamuku muda. Yang kedua adalah seorang wanita yang masih muda, memakai baju yang sangat elok tuk dipandang mata, sopan tapi terlihat elegan. Sekitar akhir 20tahunan kurasa umurnya, masih cukup muda. Tapi siapa dia, aku juga tak kenal. Kurasa dia juga bukan tamuku. Aku memutuskan tuk kembali lagi ke dalam dan menemui Rita. Tapi ketika aku membalikkan badan dan hendak masuk, suara wanita memanggilku.

“Rio?”

Aku berhenti, lalu menoleh. Ternyata wanita muda tadi yang memanggilku. Aku sedikit salah tingkah dan bingung.

“Ya?” sahutku.

“Rio kan?” katanya memastikan. Sepertinya dia sudah kenal aku dan mungkin sekarang sedikit pangling denganku. Tapi aku sama sekali tak ingat wajahnya. Sepintas dia mirip seseorang, tapi aku juga tak yakin.

“Betul. Mbak mencari saya?”

“hhh… begitu sulit mencari dimana sekarang kau ini. Ternyata bekerja di LBH. Kau benar-benar jadi advokat.”

“Emm.. Ya…ya..” aku sedikit terbata-bata dalam berkata. Aku masih berusaha mengingat-ingat orang yang ada di hadapanku ini. Sementara bapak tua pensiunan yang memakai jaket tadi memandangi kami. Tak tahulah dia tamu untuk siapa. Mungkin untuk Pak Seno, atau untuk Bu Arni.

“Bagaimana kabarmu sekarang?” tanyanya antusias. Dia mendekat padaku dan mengulurkan tangannya untuk dijabat. Maka aku meraihnya untuk menjabatnya.

“Ya? Ahh.. baik, alhamdulillah.” Aku masih sedikit salah tingkah sambil mengingat-ingat wanita ini.

“Sudah lama tak bertemu sejak tingkat 2 dulu.”

“Aaah.. benarkah?”

“Ya..tidak ingat?”

“emm..anu.. Maafkan saya…tapi,.. sebenarnya mbak ini,… siapa?” aku sedikit tidak enak dalam melontarkan pertanyaan ini. Benar saja, wanita yang memakai baju berwarna hijau ini sampai memandangiku dengan heran, sangat heran. Dia seperti mempertanyakan balik pada dirinya sendiri dan pada diriku. Matanya melebar memandangiku dengan penuh heran.

“Rio kan? Satrio Dewanto?”

“Ya, betul.”

“Kau benar-benar tak ingat aku? Haassh..jahat sekali. Kau melupakan aku??” Dia bertanya dengan ekspresi yang menusuk. Khas perempuan yang sedang sebal. ”Gita, Gita Anastasia.. tidak ingat?”

“Gita?.. gita…. gita…” kataku lirih. Ah, Gita? Mungkinkah? Gita Anastasia? Astoghfirulloh. Astaga. Gita?! Aku memandanginya dengan lebih seksama. Ya, dia sepintas tadi memang mirip Gita, Gita Anastasia. Wanita itu!.

“Gita??!” kataku heran. Dia masih menunjukkan ekspresi sebalnya itu. “Aaah, gita. Maaf.. maaf.. aku tadi benar-benar tak ingat, Git. Kau berubah begitu banyak. Kau… kau… ah, mari duduk, duduk lah di dalam.” kataku mempersilakan.

-+-+-+

“Emm.. sudah sangat lama. Tujuh atau delapan tahun?” kataku memulai pembicaraan.

“Tujuh.”

“Ah, ya tujuh. Kau benar-benar Gita? Ah, aku hampir-hampir tak mengenalimu.”

“Kau kira kau tak bertambah gendut?!” sahutnya.

“Hahahaha.. bukan, bukan itu maksudku. Hanya saja.. Lihat, sekarang kau ini sangat berbeda. Dulu suka memakai rok putih itu, jaket pink, tas cokelat, rambut ekor kuda. Dan sekarang. Operasi plastik?”

“Apa? Tidak lah..! Apa aku terlihat seperti tante genit?”

“Kau bertambah cantik.” Timpalku langsung. Aku sungguh-sungguh dalam memuji.

“Heuh, kau tak berubah.”

“Ceritakan, apa kau sudah menikah?” kataku. Dia memandangiku dengan pandangan menusuk lagi. Lalu dia mengangguk. Aku lega.

Gita. Dia adalah Gita Anastasia, mahasiswa arsitektur. Aku mahasiswa hukum. Fakultas kami berdekatan. Dulu dia sempat masuk kelas hukum. Dia sengaja melakukan itu, untuk mengejar seorang temanku yang ia taksir. Awalnya kami hanya sebatas tahu, sampai kami benar-benar berkenalan ketika aku tahu bahwa rumahnya dekat dengan kostku. Ternyata dia baru pindahan waktu itu. Kami pulang bersama waktu itu. Dan sebenarnya, dia lah cinta pertamaku. Dulu, sangat dulu, waktu itu aku masih ingusan dan polos, mudah sekali diperdaya oleh wanita macam dia. Tapi kuakui dia adalah wanita yang baik dan menarik. Pintar sekali merebut hatiku dulu, mungkin aku yang sengaja membiarkan hatiku tercuri olehnya. Aku baru merasakan cinta ketika kuliah memang, baru kali itu. Dan dia adalah Gita. Wanita yang sekarang ada di hadapanku. Sudah menikah, jadi aman. Kami telah berjarak dan pastilah jarak ini aman. Aku menjamin bahwa ini hanyalah akan menjadi hubungan antara klien dan pengacara saja. Ah, Gita, tapi kau datang dengan tiba-tiba.

“Aku datang kemari untuk meminta bantuanmu.” katanya.

“Dimana kau tinggal sekarang?”

“Di Jakarta Barat.”

“Benarkah? Sejak kapan?”

“Sudah sekitar satu bulan. Aku tinggal di apartemen.”

“Pasti suamimu orang kaya.” kataku menyelidik. Dia tersenyum saja.

“Kau juga sudah menikah rupanya?”

“Hmm? Ya. Bagaimana bisa tahu?”

“Cincin itu?”

“Aaah, iya ini. Hahaha.”

“Pasti istrimu orang yang sangat baik dan sabar.”

“Ah kau ini.”

“Ya, pasti dia sabar dengan tingkah-tingkah anehmu. Pasti istrimu juga orang yang suka berbicara.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Pasti istrimu sepertiku.” katanya langsung ceplos. Dia langsung menusuk perasaanku lagi. Perasaan lama yang harusnya telah kubuang jauh-jauh. Tapi aku benci mengakuinya, ternyata perasaan ini masih ada walau sedikit. Ya, istriku memang sepertimu, Git. Dia suka bicara banyak dan dia terkadang manja padaku. Sangat sabar dan sangat memperhatikanku. Aku beruntung menemukannya. Dan aku yakin dia lebih baik darimu, Git.

“Aaah, sudahlah. Jadi, apa keperluanmu meminta bantuanku? Apa yang bisa kubantu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sebenarnya..Aku…”

“Hmm?”

“Ah, bagaimana kalau kita keluar nanti waktu makan siang untuk membicarakan kasusku? Aku khawatir jika aku bercerita sekarang aku belum siap.”

“Separah itukah? Sebenarnya ada apa?”

“Tidak, sudahlah. Bagaimana kalau nanti kujemput. Jam 12 kan?”

“Sebenarnya aku sudah membawa bekal makan dari istriku, Git.”

“Ah? Benar kan? Istrimu baik sekali.”

“Tentu.”

“Lalu? Bagaimana kalau kau makan saja bekal istrimu itu nanti di luar. Tak apa kan?”

Aku bingung hendak menjawab bagaimana. Aku bingung. Ini mantan pacarku, cinta pertamaku. Dia datang dengan tiba-tiba hari ini, lalu meminta bantuanku entah apa itu, dan dia mengajakku keluar siang ini untuk makan. Berdua? Ya, berdua. Aku akan sangat merasa berdosa pada istriku. Ah, bagaimana ini? Tapi aku sudah berjanji ini hanyalah hubungan antara klien dan pengacaranya. Jadi mengapa harus takut? Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, tak bisa di hapus. Dan dia tetaplah dia, Gita. Walau mukanya sudah sedikit lebih tua dari dulu, dia masih cantik dan, entahlah. Aku khawatir pada istriku, aku sangat menyayanginya. Aku tak mau membuat dia cemburu.

“Apakah tak bisa sekarang saja?”

“Tapi aku tak bisa bercerita sekarang.”. Lihat, lihat mukanya! Dia mulai memelas. Wajah itu lagi, wajah itu lagi.

“Emm, aku khawatir aku tak bisa jika siang ini. Banyak pekerjaanku yang lain..dan..” Aku berpikir keras untuk menghindarinya. “bukan maksudku untuk menolak kasusmu. Aku tak boleh menolak. Maksudku..”

“Kau takut ketahuan istrimu?” tukasnya. Dia benar-benar bisa membaca pikiranku.

“Emm, bukan.. bukan itu.. hanya saja..”

“Ah baiklah. Mungkin kau memang benar-benar sibuk. Maaf telah mengganggu.”

“Git, bukan begitu. Jangan marah. Aku hanya,..hanya..hanya tak bisa keluar denganmu hari ini.” kata-kata itu tiba-tiba saja mencuat dari mulutku. Aku bermaksud menahannya padahal.

“Hmm?? Maksudmu?” Selidiknya.

“A..a..aku. Apa kau sudah bisa bersikap biasa padaku?”

“Rio, sudah delapan tahun yang lalu. Atau jangan-jangan kau yang masih..??”

“Tidak. Tentu tidak.”

“Kalau tidak, mengapa tak mau? Atau nanti sore kujemput kau? Sebentar saja.”

Aku menghela napas panjang. Kupikir-pikir lagi, memang tak apa sebenarnya. Aku juga sudah tak terlalu memperhatikannya. Walau memang masa lalu tetaplah masa lalu, tapi ini adalah pekerjaan.

“Baiklah. Nanti siang saja. Kau bawa mobil?”

“He’em.”

“Aku tunggu nanti.” Kataku mengalah.

“Naah, begitulah pengacara yang baik.” dia tersenyum lagi. “Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Nanti jam 12 aku jemput. Selamat siang, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati, Git.”

Bersambung ke Bagian 2