Luka Lama (bag 2)

by membualsampailemas


Mimpi apa aku semalam. Mengapa semua ini terjadi begitu saja dan tiba-tiba. Mengapa Gita kembali ke kehidupan ini? Kurasa dia sudah kubuang jauh sejak dulu, tapi mengapa harus kembali? Maafkan aku, istriku.

Dulu aku adalah mahasiswa hukum. Waktu hari pertama aku manghadiri perkuliahan, waktu itu sudah sekitar seperempat jam dosen mengajar, semua mahasiswa telah masuk kurasa. Kami belajar di ruang auditori, bertingkat-tingkat. Tiba-tiba pintu dibuka dari luar, seorang mahasiswi dengan rambut ekor kudanya masuk sambil membungkuk-bungkuk. Dialah Gita. Waktu itu aku belum mengenalnya. Tak ku sangka dia duduk di bangku sebelahku yang memang masih ada yang kosong. Aku menjadi salah tingkah. Mahasiswi secantik ini, dengan kulitnya yang kuning cerah itu, jeans panjangnya dan kemeja kotak-kotaknya. Sepintas seperti anak tomboy. Tapi dia sungguh manis. Ku kira dia mahasiswi hukum waktu itu. Aku terdiam saja selama kuliah.

Sewaktu kami pulang, dia menyenggol tasku sehingga jatuh, buku-bukuku keluar semua. Aku hanya memandanginya. Dia meminta maaf terus padaku dan membantuku merapikan buku-bukuku. Wanita yang sopan. Kami tetap belum berkenalan. Setelahnya, dia pergi pamit sambil masih terus meminta maaf.

Kring kring..

Dering ponselku mengagetkanku yang sedang mengingat-ingat tentang masa lalu. Kulihat di layar ponsel, foto istriku.

“Halo Assalamualaikum sayang.”

“Waalaikumsalam. Mas, aku sebel nih, masa atasanku itu jutek sekali. Dia tak mau kasih solusi. Lha aku harus bagaimana kalau menghadapi masalah kantor? Masa harus memutuskan sendiri?”

“Sudah, sudah, sabar dulu. Pelan-pelan ceritanya.”

“Habisnya, aku sebel. Mana tadi bagian aset datang telat semua. Aku yang kebingungan. Tapi itu lho, atasanku, aku sebel lama-lama sama dia. Moga-moga aja lekas dimutasi!”

“hahaha.. amin. Eh, terimakasih ya, sayang, bekalnya.”

“Sudah dimakan?”

“Belum. Tapi baunya enak.”

“Kan aku yang buat. Eh, sudah dulu ya, ada atasanku. Salamalaikum”

“Waalai…” belum selesai aku menjawabnya, sudah ditutup dulu oleh istriku. “salam..”

Aku memandangi ponselku sambil tersenyum-senyum.

Ah, sampai mana aku tadi. Aku harus menyelesaikan membaca semua perkara ini. Besok sudah ada yang harus disidangkan. Sengketa kepemilikan rumah. Ah hidup.

-+-+

Pukul 12 siang. Semua orang di kantorku ijin keluar untuk makan. Ada beberapa yang tidak. Mungkin puasa. Mungkin sudah dibawai bekal juga oleh istrinya.

“Pak Rio tidak keluar?” tanya salah seorang CS di kantorku.

“Sebentar lagi, pak. Bapak istirahatlah, jangan menyapu terus.”

“Iya pak.”

Aku keluar kantor untuk melihat apakah Gita sudah ada di luar atau belum. Mobil sedan putih mengedipkan lampunya dari kejauhan. Dia menuju ke arahku. Pasti itu Gita.

“Ayo masuk.” katanya.

“Baiklah.” sambil menenteng bekal dari istriku, aku masuk ke dalam mobilnya.

“Mau makan dimana?”

“Terserahmu. Aku sudah membawa ini.” Aku menunjukkan bungkusan dari istriku. Dia melihat nya dan tersenyum.

“Emm, kalau begitu kita ke Restoran ZZZ”

Ah? Resto itu? Itu kan dekat kantor istriku. Bagaimana kalau dia ada di sana?

“Tak bisakah pindah saja? Jangan di situ.”

“Tapi makanan di situ favoritku. Sudahlah, menurut saja”

-+-+

Kami duduk berhadap-hadapan, aku membuka bungkusan dari istriku. Dia masih menunggu. Sudah lama sekali kami tak begini. Aku sesekali melihati keluar jendela, aku enggan menatap matanya itu lama-lama. Juga aku mangawasi mungkin ada istriku di sekitar sini. Hanya dua gedung dari sini kantor istriku, sebuah kantor pemerintahan. Siapa tahu dia keluar di jam istirahat ini. Mengapa tadi aku menurut saja pada wanita di depanku ini.

“Kau dibelaki apa?”

“Sandwich. Ada beberapa nugget juga. Mau?” aku menawarinya sambil menyodorkan kotak makanku. Dia mengambilnya satu lalu memakannya, tanpa berkomentar apa-apa. “Jadi, apa masalahmu?”

“Aku ingin minta bantuanmu untuk mendampingiku.”

“Maksudmu?”

“Mendampingiku dalam proses perceraianku.” katanya dengan sedikit pelan dan berat.

Aku syok mendengarnya. Sejenak aku memandanginya lagi. Benarkah wanita ini? Dia datang kemari meminta bantuan mantan pacarnya untuk membantunya bercerai?

“Git? Kau serius?”

“Aku sudah tak tahan lagi, Rio.”

“Kau tak mau rujuk dulu?”

“Sudah berkali-kali. Aku sampai tak tahan lagi.”

“Git, sabar. Ceritakanlah dulu apa yang terjadi.”

Dia menahan air mata. Perlahan matanya tergenangi dan memerah. Aku tak tega melihatnya menangis. Terpaksa makanku kuhentikan. Aku baru habis setengahnya.

“Suamiku, Rio…Suamiku… Suamiku, dia..dia gay” katanya sambil terisak. Aku kaget. Apa? Gay? Dia bersuamikan gay?

“Dia, selingkuh, Yo. Dia selingkuh. Kau tak tahu bagaimana rasanya diselingkuhi, tapi oleh gay. Awalnya aku kira itu adalah teman akrabnya. Dia bilang bahwa itu adalah teman sekantornya, makanya dia sering bepergian bersama. Dan dia mengajaknya pulang ke rumah kami bersama. Aku tidak curiga, Yo, pada awalnya. Tapi beberapa bulan kemudian, kulihat dia semakin sering bersama orang itu. Bahkan kulihat jika di ruang tamu, mereka sering berrangkulan berduaan. Memegangi bokong. Kau….Kau tak bisa membayangkannya, Rio.”

“Benarkah seperti itu?”

“Tentu. Aku semakin curiga. Maka aku buntuti dia sampai di kantor. Ternyata dia sama sekali bukan teman sekantornya, melainkan aku entah tak tahu teman apa itu. Yang jelas tidak sekantor. Aku sakit hati ketika dia suka diantar dan dijemput oleh mobil si teman gay nya itu. Dari balik jendela, kulihat senyum yang saling mereka lempar satu sama lain. Itu bukan senyuman biasa. Itu seperti senyuman sepasang kekasih.”

“Kau tak punya bukti, Git?”

“Aku punya. Aku punya beberapa buah foto mereka ketika sedang berangkulan mesra, saling memegang bokong waktu berjalan. Dan… dan juga…” Gita menghentikan ceritanya. Dia terisak lagi seperti tak kuat untuk melanjutkan.

“Tahan emosimu, Git.”

“Dan juga aku memiliki foto mesra mereka berdua yang waktu itu di simpan di laptopnya.” katanya sambil menyodorkan sebuah flashdrive kuning padaku. “Mungkin ini bisa jadi bukti kuat. Juga ada sebuah video. Aku pergoki mereka ketika hendak keluar bersama. Suamiku malah hanya tertawa saja menanggapi teriakanku yang menahan tangis itu. Dia sama sekali tak melemparkan kata-kata barang sedikit pun. Akhirnya, untuk menguatkan dugaanku, ketika kami tidur bersama, aku diam-diam mengambil ponselnya. Aku melihat pesan-pesan bernada mesra dari ponselnya, dari lelaki itu, Yo. Dari lelaki..!”

“Kau simpan pesan-pesan itu?”

“Aku tak tahu bagaimana caranya, aku foto saja beberapa diantaranya.” katanya masih sambil terisak. Sementara itu, pelayan resto baru saja datang mengantarkan makanan pesanan Gita. Steak dan lemon juice. Mungkin dia juga sedikit keheranan karena pelanggannya sedang menangis, dia sempat memandangiku dengan pandangan aneh, seolah-olah menyalahkanku atas semua ini. Tau apa kau?! “Rio, bantu aku. Jangan ceritakan dulu ini pada siapa pun. Aku malu. Kau tak tahu rasanya diselingkuhi dengan cara seperti ini. Sebenarnya masih ada bukti-bukti lain.”

“Apa contohnya?”

“Celana itu. Celana kerja suamiku. Sampai sekarang aku tak mencucinya. Aku sengaja. Aku mencium bau aneh, bau…” dia menahan tangisannya lagi. Ingin aku menepuk-nepuk pundaknya. Tapi aku bukan siapa-siapa sekarang, aku hanyalah pengacaranya. “bau mani” katanya lirih. “, aku menemukan itu ketika hendak mencucinya. Perasaanku semakin kacau. Aku ingin membuktikan itu semua.”

“Kau sudah pernah berbicara berdua, hanya berdua saja, dengan suamimu mengenai masalah ini?”

“Sebenarnya sudah. Sudah dua kali. Pada kesempatan pertama, dia tidak mengakuinya. Dia terus mengelak dan mengatakan bahwa itu hanyalah teman sekantornya. Padahal aku sudah tahu bahwa di kantornya tak ada orang itu. Lalu pada kesempatan yang kedua, dia baru saja pulang malam itu, mungkin sedikit mabuk, sudah pukul sebelas malam. Tapi dia masih bisa bicara padaku. Aku manangis waktu itu, karena dia diantar teman gay nya itu. Kutanyai dia, ternyata dia habis dari kelab. Dan kau tahu, Rio, aku terus mendesaknya dan menyuruhnya untuk mengaku. Bahkan sampai aku merebut ponselnya dan melihatkan isi pesan mesranya sendiri padanya, aku mengungkapkan bahwa selama ini aku sudah tahu. Dia terdiam saja. Dia hanya dia, Yo. Tapi akhirnya dia memelukku dan meminta maaf atas semua itu. Dia hanya bilang bahwa dia khilaf. Tapi aku tak bisa memaafkan perbuatan seperti itu. Aku menamparnya dan mengeluarkan kata-kata, mungkin sedikit kasar. Lalu aku keluar rumah dan menginap di rumah temanku. Sampai sekarang aku masih menginap di tempat temanku itu, Yo. Aku mengungsi dari rumahku sendiri. Kalau kau tak percaya, pada jam seperti ini pasti rumah kosong, kau bisa mencari bukti ke rumahku. Suamiku hanya pulang waktu malam, dan pagi-pagi dia sudah pergi lagi.”

“Git. Sabarlah. Semua akan teratasi. Kau yakin kan?” Lalu Gita mengangguk. “Aku mau bertanya, mungkin ini sedikit privat. Apa suamimu suka berdandan necis juga?” Gita mengangguk lagi. “Sudah berapa lama sampai sekarang kau tahu hal ini?”

“Tiga bulan, Yo.”

“Dulu, dalam pernikahan kalian yang sudah…..”

“Tiga tahun.”

“ya, tiga tahun itu, sewaktu awal-awal, tak pernah melihat suamimu berlaku aneh-aneh? Atau sewaktu pacaran?”

“Tak pernah. Seingatku tak pernah. Atau mungkin waktu itu aku belum tersadar. Aku juga tak tahu.”

Aku menghela nafas panjang. Berpikir bagaimana caranya menyelesaikan ini. Apa benar perceraian adalah hal yang terbaik?

“Makanlah dulu makananmu.” kataku sambil tersenyum. “Habiskan. Istirahat siang sudah hampir usai.”

-+-+

Suasana di sekitar luar resto itu cukup ramai. Banyak pegawai kantoran yang berjalan dan hendak kembali ke tempat kerjanya. Aku sedang berdiri di samping Gita untuk menunggu giliran menyeberang jalan. Mobilnya ia parkirkan di seberang sana. Dengan setelah birunya itu, dan tas kulit cokelatnya, dia menunduk terus. Matanya terlihat sembab. Sejenak aku memperhatikannya. Lalu kuperhatikan lagi lampu tanda menyeberang yang masih merah. Bekal isteriku sebenarnya enak, tapi tak kuhabiskan. Aku mana tega mendengarkan cerita tadi sambil makan. Dan aku tak berselera makan setelah mendengar cerita itu.

Tiba-tiba, aku tersadar, ketika sebuah tangan melingkar di tanganku. Menggandeng tangan kiriku yang kusakukan. Gita menggandengku, lalu menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku kaget dan syok mendapat perlakuan itu. Aku mau melepaskannya, tapi tiba-tiba dia menangis di pundakku, di keramaian itu.

“Git…”

“Rio, tunggu aku sejenak.”

Aku lihat lampu tanda untuk berjalan telah hijau. Semua orang yang mengantre menyeberang jalan telah ramai-ramai melintasi jalan. Aku masih terdiam di pinggir jalan, dan ada wanita yang sedang menangis di pundakku. Tak ada orang yang peduli. Sampai semua sepi lagi, dan lampu kembali merah.

Kring kriing…

Kami dikagetkan oleh dering ponselku. Dia seketika melepaskan tangannya dariku. Aku mengambil ponsel, tertera wajah istriku lagi di situ.

“Halo Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Dimana mas sekarang?”

“Ah, aku baru saja makan siang. Bekalmu enak, sayang.”

“Dimana sekarang, mas?”

“Aku di…di dekat kantor….” kataku menggantung, aku lalu baru ingat bahwa ini adalah dekat kantor istriku. Aku menengok-nengok sekitar, jangan-jangan…. Ah, benar saja, aku melihatnya. Istriku yang memakai baju hijau dan jilbab putih sedang melihatku dari kejauhan seberang jalan. Aku terpana. Tak menyangka dia ada di sini. “…mu.”

Dia menutup teleponnya lalu memalingkan mukanya. Berjalan cepat berbalik menuju arah kantornya. Tampaknya dia marah.

“Ayun…” kataku lirih sambil menjauhkan ponselku dari telinga.

“Ada apa, Yo?” tanya Gita.

“Ah, tidak. Sebentar ya. Kau kembali lah dulu saja. Tak usah bersamaku.” kataku dengan tergesa.

“Ayun!! Ayunda!!” teriakku. Tapi istriku tetap berjalan dengan cepat. Lampu masih merah, dan aku memaksa untuk menyeberang. Jalanan itu cukup ramai. Ah persetan! Aku menerobos jalan. Hampir-hampir aku tertabrak beberapa mobil, tapi aku selamat. Hanya diteriaki orang-orang dan dicaci maki.

Aku terus berlari mengejar isteriku yang masih seolah tak mendengarkan panggilanku itu.

“Yun…Ayunda..!” Dia masih tak mau menengok.

“Ayun…!” aku meraih tangannya dan menariknya agar berhenti. Dia berhenti dan menoleh padaku dengan tatapan itu. Tatapan sinis dan jahat. Menusuk jantungku. Aku hampir-hampir tak dapat berkata-kata jika ditatap seperti itu.

“Sita….Ayunda..” kataku terbata-bata melafalkan namanya.

“Mas,.. siapa? Siapa wanita itu?”

“Ah, itu klien, sayang. Percayalah. Kau pasti tadi melihat adegan yang tak diinginkan.” kataku menimpali, aku menjawabnya dengan santai dan sedikit bercanda. Berusaha mencairkan suasana.

“Apa? Tak diinginkan? Mas diam saja dipegangi begitu. Dan kalian, kalian baru saja makan berdua?”

“Yun, aku bisa jelaskan. Dia memang benar-benar klienku. Dia…dia…dia baru saja tertimpa musibah, dan..tadi…”

“Sudah saling kenal?”

“Iya. Dia temanku dulu.”

“Aaah, pantas. Kalian akrab ya?” nada bicaranya semakin terlihat bengis.

“Bukan begitu, Yun.”

“Sudah, aku mau bekerja.” dia bersikap jutek.

Dia berusaha melepaskan genggaman tanganku. Wanita cantik itu, istriku, dia cemburu padaku. Ini pertama kalinya dia seperti itu. Aku tak berusaha mengejarnya. Mungkin biar nanti di rumah aku jelaskan. Lagipula ini sudah waktunya jam kerja.

-+-+

Sebuah pesan singkat masuk di ponselku. Gita.

“Aku tadi duluan. Maaf. Apa yang terjadi tadi? Apa itu isterimu? Aku sungguh minta maaf. Aku tadi begitu saja berbuat seperti itu.”

Lalu aku membalasnya:

“Tak apa, Git. Semua baik-baik saja.”

Gita membalas lagi:

“Boleh aku minta nomor isterimu, biar aku jelaskan padanya sendiri. Aku sungguh minta maaf.”

Aku tak membalasnya lagi. Dia mau minta nomor istriku. Bisa-bisa nanti malah mereka perang. Lagi pula dia itu mantanku. Mantanku dan isteriku, bertemu? Ah, hidup ini.

Sore telah tiba sedari tadi. Sudah pukul 7 malam. Saatnya aku pulang. Istriku sama sekali tak menelponku sejak tadi siang. Aku sudah telpon tapi tak diangkatnya pula. Aku harus segera pulang dan menjelaskan semuanya.

Dalam temaram cahaya lampu kota, di dalam bus, aku sambil berdesak-desakan, memikirkan tentang kasus Gita. Bagaimana bisa seorang gay bisa menipu. Ah, mungkinkah suaminya itu biseks? Gila, dunia macam apa ini?! Ada saja orang seperti itu. Dan seperti kata Gita, aku takkan pernah tahu rasanya diselingkuhi oleh orang macam itu. Apa lebih menyakitkan? Kurasa yang namanya diselingkuhi memang menyakitkan. Aku tahu bagaimana rasanya cemburu. Sedang istriku yang bercerita tentang cinta masa lalunya saja, aku sudah cemburu. Apa lagi Gita yang… ahsudahlah.

Lalu aku memikirkan istriku. Mengapa tadi aku tak ingat bahwa itu di sekitar kantor istriku? Harusnya aku melepaskan sejak awal gandengan tangan Gita. Aku benar-benar sudah tak ada rasa lagi padanya, melainkan kasihan saja. Aku tahu benar perasaanku. Tapi istriku? Dia saja tak tahu bahwa wanita itu adalah mantan pacarku, cinta pertamaku, yang tadi malam ia minta diceritai. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat-ingat tadi malam. Katanya dia siap untuk cemburu. Nyatanya?

Di halte Jatinegara, aku turun. Aku menelpon istriku, minta dijemput. Tapi dia tak kunjung mengangkatnya juga. Ada apa ini? Terpaksa aku naik ojek.

-+-+

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam” sahut istriku.

“Aku pulang.” buru-buru aku melepaskan sepatu dan menuju ke dapur. Istriku ada di sana. Aku langsung memelukinya dari belakang seperti biasa.

“Mandi ah, bau!”

“Ini bau wangi sebenarnya. Keringat orang yang baru saja mencari nafkah untuk keluarganya.”

“tetap saja sekarang aku mencium bau.”

“Kalau aku wangi, apa lagi wangi parfum perempuan, malah bahaya kan?” kataku bercanda. Istriku memandangiku dengan tatapan itu lagi. Tatapan jahatnya. Tapi aku suka. Cemburu itu masih ada di matanya. “Baik, baik. Aku mandi.”

Bersambung ke Bagian 3

Iklan