Luka Lama (bag 3)

by membualsampailemas


Di dalam kamar. Dia masih saja bersikap jutek. Kami bersiap-siap hendak tidur.

“Sayang..” kataku.

“hmm?”

“Siang tadi…maaf ya?”

“Merasa bersalah ya?”

“Aku memang salah.”

“Siapa perempuan tadi?”

“Klien.”

“Tampak seperti teman lama yang bersemi kembali.”

“Maksudmu? Tidak. Dia memang teman lama. Tapi kali ini sebagai klien. Aku baru menemuinya hari ini. Dia, dia mau mengajukan gugatan cerai ke suaminya. Suaminya selingkuh.”

“Benarkah?”

“Iya. Tapi dia selingkuhnya dengan sesama.”

“Apa? Gay?”

“Tak tahulah. Aku turut prihatin padanya.”

“Mas, maaf ya. Aku cemburu tadi.” katanya melunak.

“Tak apa. Aku tak melarangmu cemburu. Cemburu kan tanda sayang. Begitulah rasanya cemburu.”

“Kau membalasku, Mas?”

“Tidak. Bukan begitu. Tadi dia memang sedang menangis karena masalahnya. Aku tak enak jika aku menghindar. Maaf ya. Sebenarnya aku juga tak ingin itu kejadian.”

“Baiklah. Tapi jangan diulang ya. Jangan membuatku cemburu.” Perkataannya menjiplak perkataanku kemarin malam.

“Oke!”

Kami tidur malam itu dengan damai. Sebagaimana suami-istri yang lain.

-+-+

Hari itu tiba. Sidang gugatan perceraian Gita. Pagi ini aku berangkat lebih pagi. Aku membantu istriku dalam menyiapkan sarapan. Omelet. Tapi istriku agaknya kurang sehat. Dia sedikit pucat. Entah mengapa, mungkin terlalu lelah.

“Kau tak apa?”

“Tak apa, mas. Sudah sana tunggu saja di meja. Biar aku yang siapkan.

“Baiklah.”

Dari kursi meja, aku membuka beberapa berkas untuk penuntutan di pengadilan keluarga nanti. Ini bukan area pidana. Tapi mengapa perasaanku menjadi sedikit tidak enak. Sekilas aku memandangi istriku dari sini, dia memunggungiku. Terlihat menawan dari balakang memang, dan tetap saja cantik. Beruntung selaki aku mendapatkan istri sepertinya. Rajin dan sangat berbakti. Aku tak boleh mengecewakannya. Teringat sewaktu pertama kali aku mendekatinya, waktu itu awal bulan puasa malah. Aku mengenalnya waktu aku mau lulus kuliah. Tak kusangka mahasiswi hukum ada juga yang cantik. Tak terlalu lama, aku mendapatkan cintanya. Tak kusia-siakan.

“Ini, mas.” Katanya membangunkan lamunanku. “Mikir apa hayoo?”

“Ah, tidak. Aku cuma teringat saat dulu kita pacaran.”

“Kau sering menggombal.”

“Dan kau suka digombali.” sahutku. “Dik, kau benar-benar kelihatan pucat. Baiknya tak usah berangkat kantor. Aku khawatir nanti kau malah sakit.”

“Tidak, Mas. Aku baik-baik saja, kok.”

“Kita berangkat bersama, Ya?”

“Arah kita kan beda, Mas.”

“Aku ingin mengantarmu sampai kantor.”

“Nanti terlambat.”

“Tidak. Nanti baru dimulai pukul 10 kok.”

Pagi itu juga, aku mengantar istriku sampai kantornya. Aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja sampai kantor. Walau di bus, kami tak mendapat tempat untuk duduk, tapi kami bergelantungan bersama dan mesra. Terkadang dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Memandangi mukaku yang sedang melihat ke arah jendela. Aku pura-pura tak memperhatikannya, walau aku tau dia memperhatikanku. Jika aku menengok ke arahnya, dia akan tersipu malu sambil memukul pundakku. Kami tersenyum berdua. Tapi dia memang terlihat lebih pucat daripada biasanya.

“Tak lelah berdiri terus?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya sambil berusaha tersenym padaku. “Benar?”

“Iya. Sudah, Mas. Aku tidak apa-apa.”

“Nanti saat istirahat siang akan kutelpon.”

“Aku tunggu.” katanya centil.

“Dik,..”

“Ya?”

“Panggil aku ‘kakangmas’, sekali saja. Yang mesra. Semesra yang kau bisa.”

“Ah, malu. Ini kan di bus.”

“Ayolah. Biar aku semangat hari ini.”

“Emm… Kakangmas kuuuu…!” katanya dengan suara manjanya.

“Aaaah…leganya hati ini.. aku pasti akan semangat menghadapi persidangan kali ini. Ah, terimakasih, nimas.”

“Sudah lama mas tidak memanggilku begitu.”

“Nimaaaaas…” balasku bersikap manja. Beberapa orang di dalam bus memperhatikan kami. Dia memukul pundakku. Mungkin malu. Getaran cinta ini masih besar, dan pasti akan selalu seperti ini selama hidupku. Aku berharap demikian. Sita Ayunda, istriku.

Ketika sampai di halte terakhir, dia turun dari bus. Aku pun, namun aku turun untuk sekedar berganti bus lagi dan kembali ke arah sebaliknya. Kami saling berpamitan. Senyum dari wajah pucatnya selalu teringat di kepalaku. Senyum itu. Manis sekali.

-+-+

Pukul setengah 12 siang. Sebentar lagi jam makan siang. Tapi persidangan belum juga selesai. Gita masih saja berdebat dengan suaminya. Mereka sama sekali seperti tak bisa diakurkan. Bukti-bukti yang kami miliki telah semuanya diajukan. Tapi si suami masih mengelak. Gita menangis. Aku memegangi pundaknya. Sidang diistirahatkan sejenak.

“Git, sabarlah. Pasti nanti ada titik temu.”

“Iya, bu. Pasti nanti ada titik temu.” Bu Arni menimpali. Dia mendampingiku dalam menangani kasus perceraian ini. Sebenarnya pengacara perempuan mungkin akan lebih berusaha keras dalam kasus seperti ini. Ya, karena mereka perempuan, dan sesama perempuan pastilah akan saling membela.

Gita masih terus terisak. Aku bingung harus berbuat apa. Bu Arni memandangiku, bertanya-tanya apa langkah selanjutnya yang akan kutempuh.

Kring kring..

Dering ponselku tiba-tiba berbunyi. Dari orang yang tak kuketahui, tak ada nama di layar ponselku itu, hanya sebaris angka yang menatapku agar segera diangkat.

“Halo Assalamualaikum?”

“Benar ini Pak Rio?”

“Ya, saya sendiri.”

“Bapak, ini saya Dina, teman istri bapak. Istri bapak sekarang sedang di rumah sakit pak. Tadi dia kolaps, pingsan di kantor. Sekarang sedang di RS YYY.”

“Apa?! Kenapa dia katanya?”

“Kurang tahu, pak. Dia tiba-tiba merasa mual lalu pingsan. Katanya perutnya terasa sakit sekali tadi. Tapi setelahnya dia langsung jatuh.”

“Ah, baiklah, saya segera ke RS. UGD?!”

“Iya, pak.”

Aku langsung tutup telponnya. Bu Arni terlihat bingung melihat ekspresiku yang mungkin terlihat sedikit ketakutan. Sudah kuduga, istriku sedari pagi terlihat pucat. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Ah, betapa tak bergunanya aku, mengapa aku tak memaksanya untuk tetap di rumah saja dan beristirahat.

“Ada apa, pak?”

“Bu,… saya mohon maaf sekali, tapi.. istri saya masuk rumah sakit. Dia tak sadarkan diri.” aku sedikit panik. Sambil memandangi Gita yang juga sedang menangis tertahan. Tapi dia juga melihatku yang kebingungan. “Git, istriku tak sadarkan diri dan sekarang di rumah sakit. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku minta maaf sekali, Git. Aku….Aku…aku hanya tak tahu apa yang harus kuperbuat.”

“Pergi saja, Yo. Istrimu butuh kau sekarang.” tukas Gita. Dia menahan tangisannya.

“Tapi sidangmu belum juga selesai. Dan aku…Aku…”

Tapi tiba-tiba bu Arni menepuk pundakku. Dia memandangku dengan pandangan penuh arti.

“Serahkan semuanya pada saya, pak. Bapak cukup beritahu beberapa bukti lain yang mendukung. Nanti saya usahakan yang terbaik.”

Aku sebenarnya merasa sangat bersalah. Bersalah pada istriku, pada Gita, pada bu Arni, pada semuanya. Aku hampir-hampir seperti tak dapat mengambil keputusan di saat mendadak genting seperti ini. Padahal aku terbiasa tertekan. Ini baru pertama kalinya istriku mendapati hal semacam ini. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya dengan penuh rasa bersalahku, aku menyerahkan kasusku pada bu Arni sepenuhnya untuk mendampingi Gita. Gita pun tampak sedikit khawatir padaku. Mungkin kasihan. Aku sungguh menyesal tak bisa mendampingi sidang di pengadilan agama sekarang ini. Tapi aku juga tak bisa mengabaikan keadaan istriku begitu saja.

Sebenarnya, aku merasa ada yang aneh. Istriku seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Namun apa itu aku tak tahu. Semoga dia lekas baik-baik saja.

Aku mengambil tas ku dan berpamitan kepada Gita dan bu Arni. Gita sempat bilang, setelah ini akan menjenguk istriku. Dengan bus umum, aku berangkat ke RS YYY. Di dalam bus, aku tak dapat tenang sama sekali dan terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada istriku. Ah, engkau ini, selalu membuatku khawatir sampai seperti ini. Aku paling tak tega melihatmu menderita. Aku seolah tak berguna buatmu.

Teringat kembali, bagaimana ketika pertama kali kami jalan bersama sewaktu tingkat akhir kuliah. Waktu itu aku mengajaknya ke taman hiburan. Di sana kami masih agak canggung satu sama lain. Dalam seharian itu, sebenarnya kami jarang berbicara. Aku dan Ayun. Hanya saling berpapasan mata dan tersenyum. Ah, anak muda. Hari itu tapi terasa sangat menyenangkan buatku, itu adalah pertama kalinya aku mengajak seseorang saja ke taman hiburan. Dulu, sewaktu masih dengan Gita, aku tak pernah bersamanya pergi ke tempat ini. Kami biasanya pergi ke dekat stasiun dan berkencan di sana. Lain dengan Gita, Ayun adalah orang yang sedikit lebih pendiam dalam berbicara lisan kala itu. Tak tahu sejak kapan, Ayun mulai berani berbicara langsung padaku sambil menatap mataku. Sejak saat itu kami lebih sering berhubungan dan bercerita. Aku sungguh mencintainya. Ayun, tunggulah aku.

Di sela-sela aku mengingat semua hal itu, teringat kembali aku kepada Gita. Dia sekarang sedang berjuang di pengadilan, menuntut untuk diceraikan suaminya itu. Ah, aku merasa sangat berdosa karena sudah berjanji akan membantu menyelesaikan masalahnya, tapi begitu saja aku meninggalkan dia.

Matahari bersinar begitu teriknya di langit Jakarta. Udara di sini akan tetap panas sampai kapan pun jika tetap saja seperti ini. Langit-langit kota begitu terlihat biru, namun di sisinya, di tepi garis horizon yang tertutupi gedung-gedung tinggi, terlihat langit kecoklatan. Polusi. Aku tak pernah membayangkan akan hidup di sini. Aku selalu bercita-cita untuk hidup di kota yang lebih tenang dari ini, atau mungkin di desa dengan suasana asrinya. Membawa istriku hidup bersama di sana.

Pukul 12.15, aku sampai di halte RS YYY. Langsung turun dan berlari menuju UGD. Mentari benar-benar terik, aku merasakan kulitku terbakar. Tapi demi istriku tercinta, aku rela. Dia sekarang sedang kesusahan, dan aku tak bersamanya.

Aku berlari menuju tempat istriku berada. Dari balik tirai-tirai di ruangan itu, terlihat kaus kaki hitam putih. Aku hafal benar itu adalah kaki istriku. Di sana ada seorang perempuan dan seorang laki-laki yang mendampingi. Aku tak tahu nama mereka.

“Ayun?!” kataku. Kulihat dia sedang berbaring lemas dan terpejam.

“Bapak, Pak Rio?” kata seorang perawat.

“Iya saya.”

Dia mengajakku untuk menemui seorang dokter di salah satu sisi ruangan. Aku tak tahu apa yang terjadi. Sepertinya ada sesuatu yang cukup serius yang mesti harus dibicarakan denganku. Jantungku berdebar semakin kencang, takut terjadi sesuatu. Bagaimana jika ini, bagaimana jika itu. Sang pak dokter itu memberitahuku sesuatu. Sesuatu yang tak kunyana-nyana, tak kusangka-sangka. Dengan wajah seriusnya dia berkata padaku, bahwa aku baru saja terkena musibah. Dia turut berbelasungkawa, bahwa ternyata istriku baru saja keguguran.

“Istri anda keguguran. Setengah jam lagi akan dilakukan kuret. Tampaknya usia kandungannya belum terlalu lama, jadi masih aman untuk istri anda. Tapi maaf, sepertinya sang calon bayi tak tertolong. Kami meminta persetujuan bapak untuk melakukan kuret ini.”

Astaga. Aku benar-benar terhenyak dan kakiku seperti tak berdaya menopang tubuhku. Istriku hamil? Dan aku tidak tahu. Lalu tiba-tiba ada berita seperti ini? Apa lacur!? Mengapa ini terjadi padaku di saat seperti ini. Dokter menjelaskan lagi bahwa istriku terlalu lelah, dan dia rahimnya sedikit lemah saat ini, maka dari itu semua tidak berjalan normal. Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi pada istriku. Ayun, maafkan aku, Ayun..

-+-+

Senja sore datang menjelang. Matahari oranye terlihat di langit jakarta sebagai sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah. Walau langit di sini dipenuhi dengan polusi udara yang tinggi. Tapi aku masih bisa melihat mutiara dunia itu turun perlahan, diiringi awan-awan tipis yang membuat bentuk bundarnya makin seksi dan menggairahkan siapa pun yang melihatnya. Aku takjub atas pemandangan senja itu. Mentari bulat, yang sama sekali tak menyengat, dan kini aku memandanginya dari belik kaca jendela rumah sakit, sambil memegangi tangan istriku yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.

“Lihatlah, mataharinya cantik sekali.” kataku.

“Iya, mas. Cantik sekali.”

Perlahan namun pasti, aku merasakan genggaman tangan istriku makin kencang. Air mata meleleh dari celah matanya, turun membasahi pipi halusnya. Matanya basah oleh genangan air itu. Dan aku hanya bisa memandanginya dengan sendu.

“Mas, maafkan aku…”

“Dik, ini bukan salahmu. Semua telah terjadi. Yang sudah biarlah sudah.”

“Tapi, mas, aku tak memberitahumu dan…”

“Ssst!” aku menutup, menyela bicaranya dengan telunjukku. “Sudah. Jangan memikirkan itu lagi.” Aku memeluknya dalam kebaringannya itu. Dia masih sesenggukan dalam pelukku. Namun aku terus berusaha agar dia tenang. Aku ingin istriku baik-baik saja. Mungkin memang belum rizki kami untuk mendapat momongan.

Dunia ini jika dipandang dari sisi manusia memanglah terkadang dirasa tak adil, tapi percayalah, Tuhan telah mengatur kesemuanya dengan seksama, hanya saja pandangan kita yang terbatas dalam melihat segalanya, sehingga kita merasa seperti tak adil.

Dalam dekapanku, dia masih saja berkata meminta maaf. Aku diam saja sambil memeluknya lebih erat. Lebih dan lebih erat. Sampai aku tak sadar pintu telah terbuka oleh seseorang. Aku mendengar derap sepatu pelan. Lalu kulepaskan pelukanku sekedar untuk melihat siapa yang datang.

“Gita…”. gumamku. Gita datang membawa rangkaian bunga dan beberapa oleh-oleh. Mukanya nampak cerah. Tapi begitu melihat istriku yang sedang terbaring itu, ekspresinya berubah. Dia tersenyum pada istriku. “Ah…ini…ini…, Sayang, ini Gita. Temanku yang waktu itu…dia klienku.” kataku memperkenalkan. “Gita, perkenalkan, ini istriku. Ayun.”

“Selamat sore, Ayun.” kata Gita menyapa. Istriku berusaha menutupi bekas tangisnya, dia mengangguk. Suasana jadi canggung untukku. Istriku dan mantanku, dan dalam suasana seperti ini. Dia mendekat lagi dan memberikan rangkaian bunga yang dibawanya itu. Oleh-olehnya ia letakkan di sisi tepi ranjang. “Bagaimana keadaanmu?” katanya sambil tersenyum.

Dengan berusaha tersenyum, istriku menjawab, “Sudah lebih baik.”

“Aku turut prihatin atas apa yang terjadi. Semoga kalian diberi kesabaran.”

Kami hanya berusaha tersenyum mendengar itu semua. Dalam hati ini sebenarnya tidak, bagaimanapun aku masih bisa melihat duka dalam pojok mata istriku. Dan sore itu pun menjadi sore yang canggung untukku. Entahlah untuk istriku dan Gita.

“Bagaimana dengan sidangnya tadi, Git?” tanyaku.

“Dilanjutkan minggu depan.”

“Bersabarlah, Git, semua akan ada waktunya. InsyaAllah aku akan membantu lagi.” Kataku sambil melihat istriku yang masih berbaring. Dia memandangiku dengan senyuman yang lemas. Aku mengusap keningnya.

“Iya. Terimakasih, Yo. Mungkin aku akan pulang dulu. Aku takkan mengganggu kalian. Selamat sore.”

Gita pun berpamitan. Sangat sebentar dia singgah di sini. Kebetulan juga karena kecanggungan ini datang seiring kedatangan Gita kemari. Dan setelahnya ia pergi, maka canggung ini pun pergi. Ah istriku, maafkan aku. Bagaimanapun masa lalu tetaplah masa lalu. Mungkin aku telah melukaimu diam-diam di saat kau seperti ini. Aku tak ingin melakukannya, sangat tak ingin, dan kini aku merasa sangat bersalah padamu. Aku tak bisa berbuat apa pun.

Bersambung ke Bagian 4