Selalu Pagi

by membualsampailemas


Beberapa hari ini, dunia menyajikan pagi yang mendung bagiku. Pagi yang dingin yang membuat tiap orang sebenarnya enggan beranjak dari tempat tidur, melainkan jika ada sesuatu yang memang benar-benar perlu dia kerjakan. Bekerja. Pagi yang kelabu, dimana tiap-tiap tetes air di dedaunan hijau akan sangat sulit dibedakan, apakah itu embun ataukah tetes hujan yang membekas di permukaan daun. Pagi seolah menjadi penentu hari. Dia adalah awal dari segala aktivitas manusia pada hari itu. Ketika tiada lagi pagi, aku akan sangat bosan dan sepi, semua seolah tak berawal dan tak berakhir. Entah bagaimana rasanya jika tiada lagi pagi.

Pagi yang redup selalu membayangi hari-hari di kala musim hujan begini. Ah, betapa pagi benar-benar mempengaruhi suasana hati. Kau akan sadar bahwa suasana hatimu memang terpenagruh dengan sang pagi ketika kau telah selesai menjalani hari. Dingin dan kelabu, seperti aroma kesedihan. Hanya sedikit orang yang mampu mempertahankan keceriaan, atau paling tidak berpura-pura ceria pada pagi kelabu itu sendiri.

Namun pagi tak pernah membuatku bosan. Aku selalu berjumpa dengannya, setidaknya selama aku hidup hingga sekarang ini. Tanpa pagi, aku bukanlah manusia seutuhnya. Tiap manusia memiliki hak untuk menikmati pagi, dan memang perlu. Orang-orang bilang, bahwa suatu rutinitas akan membuat orang cepat bosan, tapi pagi sendiri adalah rutinitas itu sendiri, apakah mereka bosan dengan pagi? Meski pagi terkadang bermuka masam pada kita? Tidak kan?