Pohon Rasa (2)

by membualsampailemas


-Aku takkan menyalahkan dirimu, maupun diriku. Tiada yang salah mengenai ini, aku baru sadar akan hal itu. Semua ini benar adanya dan ternyata memang telah digariskan demikian.-

Aku justru ingin berterimakasih kepada siapa pun yang turut serta berpartisipasi dalam rencana Tuhan padaku dan padamu, pada kita. Aku menyadari sesuatu yang tak mungkin akan kudapatkan jika aku tidak diperlakukan seperti ini, oleh karenanya aku berterimakasih.
Dalam lubuk hatiku, di sana telah tergenang air mata dan darah yang bercampur dan makin hari makin banyak ketika itu, ketika aku belum menemukan jawaban atas segala yang telah terjadi, ketika aku masih memandang diriku sendiri, bukan orang lain. Namun, seketika cairan di dalam lubuk hatiku itu merembes dan sirna.

Pohon rasa yang ada di sana tak jadi busuk karena terrendam cairan itu, malah sekarang kembali terpelihara.
Aku pada awalnya tiada sadar, bahwa aku telah dititipi bibit pohon, yang belakangan kusadari bahwa itu adalah bibit pohon rasa, yang begitu indah bunganya ketika mekar nanti. Lalu ketika bibit itu tumbuh dengan pesatnya karena aku rajin merawatnya, aku tak sadar dan tak ingat bahwa itu hanyalah titipan. Suatu saat pohon itu mungkin akan diambil oleh yang menitipi, dan aku akan mendapat imbalan karena telah menumbuhkannya di tanah hati. Parahnya, jika aku tak sadar dan menganggap pohon itu adalah milikku, aku lah yang bersalah sedari awal. Karenanya kini aku telah ditampar oleh tetanggaku yang waktu itu menyaksikan bahwa bibit itu hanya dititipkan padaku, bukan diberikan.

Tapi, belakangan ternyata pohon rasa itu, yang telah tumbuh dan berbunga, bahkan hampir busuk karena tergenang darah dan air mata, tidak kunjung diambil oleh pemiliknya, padahal bunga-bunganya begitu menawan. Ah, biarlah, pikirku, suatu saat kelak mungkin titipan ini akan diambil, jadi tugasku sekarang hanya merawatnya sebaik mungkin dan membiarkan dia tumbuh subur dan merona di tanah hati ini. Aku pun menikmati pemandangan indah dari pohon rasa itu, bunganya putih dan di tengah-tengahnya berwarna merah. Sungguh indah, seperti anggrek sepintas. Tapi itu bukan milikku, suatu saat akan diambilnya dariku dan aku harus merelakannya. Toh, aku sudah berakad sedari awal. Bagaimana aku akan mengingkarinya?

Dan beruntunglah aku karena aku tersadar akan itu semua. Bagaimana? Masa aku harus mencabut paksa pohon rasa ini begitu saja dari tanah hati dan membiarkannya mati? Padahal dia sedang mekar dengan indahnya saat ini.
Pada dasarnya aku ini hanyalah petani yang tak memiliki sesuatu untuk ditanam di tanah hati ini, maka aku menerima bibit apa pun untuk di tanam di tanah gembur nan subur ini, walau kebanyakan hanya dititipi, tapi aku menikmati.