Jika Sore

by membualsampailemas


-Sore menjelang, mentari turun perlahan, jalanan makin penuh kendaraan, mereka menyalakan lampu depan untuk menandakan senja telah datang atau memperingatkan kendaraan lain bahwa bahaya ada di depan. Riuh ramai, seperti semut berbaris, hanya saja ini lebih ramai dan berisik.-

Kau tahu, senja di Jakarta sering kurang sedap dipandang, baik di buminya maupun di langitnya. Buminya begitu padat, semua berdesak-desak berlomba menjadi yang tercepat untuk sampai ke rumah masing-masing dan begitu mereka sampai di rumah, mengeluhlah pada istri mereka tentang kemacetan yang baru dialaminya. Di langitnya, pada musim begini, sungguh terlihat sayu, pucat, tiada merona merah karena percikan sinar mentari sore di ujung barat sana. Awan mendung melingkupi langit kota. Oh sedihnya.

Lain lagi di stasiun-stasiun, sungguh ramai dan berhimpit-himpit. Aku membeli tiket di stasiun Jatinegara, keretaku pukul setengah lima, Ann. Limabelas menit lagi. Dan kau tahu, dalam lima belas menit itu aku habiskan waktu untuk membaca buku Dale Carnegie. Luar biasa bingung. Haha. Ann, ketika pintu keretaku tertutup secara automatis, ternyata di dalam gerbongku sungguh penuh sesak, semua orang hampir berdiri kecuali yang mendapat tempat duduk tentunya. Berhimpit-himpitan bagai ikan yang dipepes. Hampir-hampir aku tiada dapat melangkahkan kakiku barang ke kiri maupun kanan, depan maupun belakang. Dan keretaku pun mulai berjalan dengan perlahan, lalu mempercepat putaran roda-rodanya, roda besi itu, Ann.

Tahukah kau, kulihati senja sore di Jakarta sepanjang rel kereta, sama sekali kurang syahdu, riuh ramai dan tiada teratur. Dipertemuan jalan kereta dan jalan mobil, macet sudah dapat diduga. Warung berjejer-jejer tiada rapi, bertembok triplek, beratap asbes atau seng yang ditindih ban bekas agar tak kabur jika tertiup angin. Mungkin juga agar bangunan itu tak gampang roboh dihembus angin pula.  Bukan hanya warung, rumah-rumah penduduk pun berderet di pinggir rel besi yang kokoh itu, yang berkelok-kelok menembus kota. Terkadang kujumpai rumah-rumah mereka hanya berjarak 2 meter dari pinggir kereta yang lewat, dan mereka sama sekali tiada takut akan hal itu. Dalam beberapa menit sekali, kurasa mereka akan merasakan getaran kereta yang lewat. Rumah-rumah mereka bertingkat-tingkat, bertumpuk-tumpuk, berhimpit-himpit, berderet, berjejer tak rapi, ada yang bertembok beton ada pula yang dari triplek dan kayu, dan masih beratap asbes atau seng atau genteng merah yang di atasnya ada ban-ban bekas, terpal tergelar, antena kecil. Sedangkan di depan rumah mereka masing-masing, kupastikan kau akan melihat jemuran yang akan dengan jelas memaparkan kemeja, kaos, celana, cawet, kutang, singlet, handuk. Tak elok, Ann.

Namun aku sepenuhnya sadar, mereka pasti tak ingin hidup begini menerus, mereka ingin yang lebih baik dari sekedar tinggal di perumahan penuh sesak dan berhimpit-himpit serta kumuh, hanya saja keadaan yang memaksa mereka untuk tinggal di tepian rel kereta yang penuh bahaya itu, Ann. Perasaanku tercekik membayangkan jika aku yang menjadi mereka dan tinggal di sana.

Lalu kelamaan aku menyadari hal lain, mereka terlihat menikmati itu, menikmati tinggal di tempat seperti itu. Kau tahu mengapa aku bisa berkata begitu? Aku melihat panggung-panggung kecil terbuat dari kayu atau bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi semacam zitje, tempat mereka melepaskan penat pada sore hari. Sekira ukuran 1×1 meter di dekat rel kereta api. Di atas semacam zitje itu, bapak-bapak duduk seolah tiada peduli kereta cepat lewat tepat di samping mereka. Didekatnya tersedia segelas air keruh, hitam, kopi namanya. Mungkinkah mereka berpura-pura menikmati atau memang benar-benar nikmat seperti itu atau mereka tak punya pilihan lain untuk bersikap selain meratap?

Kau juga bisa melihat sampah-sampah berserakan di sisi jalan panjang itu, tumpukan kayu tak berguna, plastik, karung-karung bergelembung entah apa isinya, dan hal lain yang membuatmu merasa tak enak pada awalnya, tapi jika sudah biasa, semua tiada bermakna, dan itu memang biasa, kau tak akan berpikir apapun, Ann, ketika melihat itu semua.

Di tiap-tiap stasiun, keretaku berhenti. Kala sampai Kampung Bandan, banyak orang yang telah turun, lalu Angke, Duri, mereka pun turun di sana. Sampai ku di Tanah Abang, semua telah turun kecuali yang tidak, mereka itu adalah orang yang ingin melanjutkan ke Depok/Bogor. Aku turun di Tanah Abang untuk berganti kereta di jalur sebelah, jurusan Serpong/Parung Panjang. Stasiunku di Pondok Ranji. Perjalanan yang melelahkan. Buru-buru aku menaiki tangga untuk berpindah jalur, berlomba dengan penumpang lainnya. Dapat dibayangkan tangga seperti itu penuh sesak oleh kerumunan orang. Sangat sesak. Biasa.

Ann, perjalanan dari Tanah Abang hingga stasiunku sungguh sangat syahdu pada sore itu. Semua orang di gerbong berdiam-diaman, seolah tiada saling mau kenal. Mereka bertatap kosong pada lantai kereta, atau sekadar memandang ke luar jendela. Melamun, bermain dan berbicara dalam pikirannya sendiri. Begitu pun aku. Ada juga orang-orang yang berolahraga jari, bermain-main dengan layar kecilnya itu.

Ketika sampai di Tanah Kusir, takjublah, Ann, pada makan yang berjejer rapi, nisan-nisan bagai lautan, sementara keretaku membelah lautan itu dengan perkasa dan gagahnya, tanpa peduli pada orang-orang yang tertanam dalam kuburan. Senja semakin sayu, pucat, tak enak.

Akhirnya aku sampai di Pondok Ranji, stasiunku, aku turun di sana dan menepi, berhenti sampai di sini. Lalu tetiba aku rindu pada suaramu yang memanggilku dengan kata: “Mas..”. Jika Sore.

Bintaro, 8 Januari 2012.