Kutemukan Sebuah Catatan

by membualsampailemas


Gerimis Bukan dari Langit 2

Aku menemukannya ketika aku ada di lokasi kecelakaan di Tol Cipularang. Tampaknya ini adalah milik seorang yang bernama Ridwan Baratajaya yang meninggal di tempat. Mobil yang dia naiki menabrak pembatas jalan. Entahlah.

Jumat, 21 September 2012

Aku menuliskan ini sesaat setelah isteriku, Tara, tertidur dalam dekapanku. Perutnya dari hari ke hari semakin besar, sesuatu yang sangat ia damba-dambakan. Kehamilan. Aku selalu mengelus perutnya itu ketika Tara tertidur. Anak itu akan menjaganya, ya, anak yang ada di dalam perutnya itu akan menjaga isteriku kelak, yang mungkin aku takkan mampu melakukan sebaik jabang bayi itu, karena aku adalah pria yang gagal, mungkin bukanlah suami yang baik yang bisa memenuhi keinginan orang yang benar-benar kucintai, yang tiap malam rambutnya kubelai, alisnya kusentuh, keningnya kukecup, dan pipinya yang lembut itu kuusap, dalam tidurnya. Dia boleh tahu betapa aku sangat mencintai dan menyayanginya. Namun dalam 9 bulan ini, kurang lebih 9 bulan yang mungkin agak menyiksa untuknya, walau hampir tiap malam dia selalu tertidur setelah kudekap, setiap kali aku pulang, hampir saja aku menjumpai murung di wajahnya yang cantik itu. Tara, namanya mengingatkanku pada putrid Batara Indra dalam dunia pewayangan, isteri dari Sugriwa, lalu Subali, lalu Sugriwa lagi. Ah, Tara di dalam pewayangan. Tara di ranjang yang sedang tidur itu adalah Tara-ku, dia nyata.

Malam ini langit cerah, sangat cerah, bagaikan tiada lagi malam-malam yang lebih cerah daripada malam ini. Bulan yang masih juga belum penuh itu bersinar sungguh cantik. Bintang-bintang berkedip-kedip menggoda para pejalan malam sepertiku ini yang sedang bergegas menuju peraduan. Mega berlalu lalang melintas di depan bulan mau pun bintang, sesekali menutupi namun sesungguhnya merekalah hiasan pada malam ini. Mega-mega itu tipis, terlihat berwarna keperakan, terkadang kekuningan. Langit Jakarta bersih malam ini, jika aku sedang di kampungku mungkin bintang-bintang akan lebih terlihat ramai. Aku memandangi sesekali.

Aku memikirkan isteriku di rumah, sedang apakah dia sekarang? Menungguku kah? Menunggu suaminya yang lemah ini kah? Aku menyadari segala kekuranganku itu, sadar sesadar-sadarnya, dan walau dalam hati aku masih sangat mengharap segalanya dari Tara, tapi aku enggan untuk menyiksanya terlalu lama dengan keadaanku. Dulu pernah kutawari sebuah jalan yang halal namun paling tak disukai. Perceraian. Namun dia terdiam dan aku dapat membacanya sebagai jawaban ‘tidak’.

Sembilan bulan lalu. Ya, kurang lebih Sembilan bulan lalu, ketika pertama kali aku mengetahui bahwa aku tak dapat memberikan seperti apa yang diharapkan oleh isteriku, ketika aku merasa diriku hancur sehancurnya, ketika aku menyesali segalanya yang telah terjadi. Isteriku sangat kecewa padaku, aku tahu aku pantas mendapatkan semua itu. Seharusnya sedari awal aku melakukan pengecekan kesehatan agar tak terlanjur terjadi. Namun seharusnya kini tinggal seharusnya, semua telah terjadi dan itu adalah suratan. Tara begitu marah padaku, wajar dia marah seperti itu.

Dan sesuatu yang lebih menghancurkan hatiku terjadi pada keesokan harinya, ketika aku tahu Tara pulang pagi setelah semalaman pergi entah kemana, mungkin berusaha melepas semua kemarahan. Aku yang menahan semua amarah di dalam dada hanya bisa memandanginya dengan miris. Aku tak berhak marah, dia yang lebih berhak, tapi apakah seperti ini caranya? Lalu aku serasa sudah tak punya hati lagi, karena hatiku benar-benar telah hancur setelah beberapa minggu kemudian, setelah kuketahui ternyata isteriku mengandung. Aku ingin membunuh orang yang berani menyentuh isteriku, aku ingin menanyakan macam-macam pada isteriku, aku sempat hendak memarahi Tara, tapi semua itu sirna seketika, manakala aku mengingat kejadian beberapa minggu sebelumnya, sehingga aku menyadari kelemahanku. Aku menahan semuanya sekuat tenaga di dalam dada. Biarlah jika ada yang harus benar-benar menderita, dia adalah aku, bukan orang yang kusayangi, bukan orang lain. Biarlah jika ada yang harus hancur perasaannya, itu adalah aku, bukan isteriku. Aku bermohon ampun pada Tuhan, menengadahkan tangan agar Dia memberiku kekuatan untuk bersikap sebaik mungkin.

Memang benar, sepintas lalu aku ingin pergi dari rumah, kala itu. Tapi Tara yang kini berbalik meminta maaf padaku, dia menyesal, dia marah, bahkan dia ingin menggugurkan apa yang ada di dalam rahimnya itu, tapi aku mencegahnya. Biar. Kupikir itu adalah suratan, itu adalah takdir, biar apa kata manusia itu tak adil, hanya karena manusia tak memiliki pandangan seluas Tuhan, pandangan manusia itu sempit. Biar. Lagipula aku tak bisa memenuhi apa yang Tara inginkan, maka dengan kejadian ini kuharap bisa menjadi jalan keluar sekaligus ujian yang akan membuat kami lebih kuat. Mungkin orang lain akan menganggapku pria bodoh, pria dungu yang lemah. Biar.

Tara dari hari ke hari terus menangis, aku tak dapat berbuat apa pun selain mendekapinya dan menasihatinya. Anak dalam rahimnya adalah suci, bagaimanapun itu kejadiannya, kita tak bisa menyalahkan apa yang ada di dalam perut itu. Lama kelamaan pun biasa, kurasa.

**

Aku sampai di depan rumah dan memasukkan motor. Lampu di dalam telah mati, sepertinya isteriku sudah tidur. Aku memasuki rumah dengan perlahan, takut membangunkan. Betapa terkejutnya aku ketika memasuki kamar, aku melihat sesosok wanita yang meringkuk memegangi lututnya di atas kasur menghadap tembok, seolah dia menangis pada tembok itu. Tara, oh Tara, isteriku, ada apa lagi malam ini? Tak cukupkah kau menangis sekali saja dulu? Dia menangis tertahan dalam keremangan lampu kamar. Tanpa dia sadari, mungkin, aku masuk dan mendekati dirinya. Aku mendekapnya perlahan dari belakang. Kurasakan degup jantungnya, kurasakan badannya yang menggigil dalam tangisan.

“Tara, aku mencintaimu”, bisikku. Dia masih saja menangis tertahan. Kepalanya tertunduk. Dia seperti tak ingin membagi kesedihannya padaku, itu terkadang membuatku sakit sendiri, aku jadi merasa seperti pria yang tak berguna, sangat tak berguna di hadapan isteriku sendiri. Sampai-sampai isteriku seperti enggan bergantung padaku. Tapi aku tahu dia tak bermaksud begitu. Pasti tak begitu.

“Tara, aku sangat mencintaimu. Aku menyayangimu dan aku memaafkanmu. Percayalah.”, lanjutku.

Lalu kudekap dia terus hingga ia tertidur. Malam ini, ketika dia tertidur dengan pulasnya, aku menulis segala kegundahanku dalam hati ini. Bagaimana aku merasa gundah ketika tahu bahwa usia kandungannya yang semakin tua. Jauh-jauh hari sudah kupesankan tempat untuknya ketika bersalin nanti. Yang aku khawatirkan hanya satu, yaitu ketika aku tak ada bersamanya ketika hari itu tiba.

Esok pagi aku akan pergi ke Bandung untuk memenuhi tugas dari atasan. Kuharap aku bisa tidur nyenyak malam ini.

Sabtu, 22 September 2012

Aku kini sedang berada di dalam taksi. Hari sabtu, dan aku harus bekerja. Sesekali kupandangi kiri-kanan jalan yang dipenuhi pemandangan. Tol Cipularang yang syahdu. Seharusnya kini aku sedang berada di rumah bersama Tara, isteriku.

Pagi tadi aku meninggalkan isteriku sendiri di rumah. Sebelum subuh aku sudah bangun meski hanya tertidur 3 jam. Mungkin karena sudah terbiasa. Kala itu, dia masih tertidur pulas. Kupandangi wajahnya yang manis itu, lalu kuusap rambutnya dan kukecup keningnya seperti biasa. Pagi itu, aku ingin berpamitan karena belum sempat izin hendak ke Bandung hari ini pada isteriku. Namun aku tak tega membangunkan bidadariku ini. Semua kusiapkan, sekadar sarapan untuknya, kue panekuk, karena aku hanya bisa membuat ini, catatan kecil untuknya kuletakkan di pinggir meja.

Pagi ini aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Langit cerah padahal, dan semua berjalan begitu lengang.

Teleponku tiba-tiba berdering,

“Hallo? Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Mas, ini Ida.”

“Ya. Ada apa, Da?”

“Tara, Mas. Tara!”

“Tara kenapa?”, seketika aku menjadi khawatir. Ada apa dengan Tara?

“Dia sekarang lagi di RS, Mas. Sudah mau melahirkan.”

“Oke oke, ” jawabku cemas. “Aku segera balik, Da. Tolong kamu damping dia dulu. Terimakasih, Da.”

“Baik, Mas. Tenang aja, jangan panik.”

Kututup langsung telepon itu. Bagaimana aku tak panik, isteriku sekarang di sana sedang

**

Kutemukan catatan kecil itu. Dan kuserahkan pada seorang yang bernama Tara. Dia tersedu-sedu ketika menerimanya.