Kebersinoniman Kita

by membualsampailemas


Kata-kata telah begitu banyak tercipta dalam berbagai bahasa, sedangkan suatu bahasa dapat memiliki beberapa macam bentuk kata hanya untuk merujuk pada sesuatu yang sama, yang sering kita sebut sebagai sinonim. Namun, tiadalah semua sinonim dari suatu kata itu dalam sebuah bahasa adalah tepat dipakai di dalam suatu konteks pembicaraan manusia.

Jika kita berdua adalah kata-kata di dalam sebuah bahasa, pasti aku adalah sinonim dari engkau dan engkau adalah sinonim dari aku. Kebersinoniman kita tidak lepas dari sesuatu yang kita rujuk sebagai hal yang sama. Kita memiliki arti yang sama, hanya saja pengucapannya yang berbeda. Bisa saja orang lebih suka memakaimu dalam rangkaian kata-katanya yang membentuk sebuah kalimat yang indah adanya, pun bisa saja seseorang itu memakaiku. Namun kita tetaplah bersinonim karena kita merujuk pada sesuatu yang sama.

Sebagai kata-kata yang bersinoniman, kau memanglah sebuah kata yang lebih puitis daripada diriku ini, sehingga para pujangga lebih menyukaimu daripada diriku. Aku hanyalah sebuah kata yang sudah hampir ditinggalkan oleh peradaban, sedangkan engkau adalah kata yang langgeng dalam kehidupan. Kita pernah hidup berdampingan, bersilih ganti dalam pemakaian, digunakan para sastrawan.

Seiring berjalannya waktu ke depan, dapatlah terjadi suatu distorsi dalam kehidupan di dunia kebahasaan. Kata-kata yang tadinya bersinoniman menjadi terpisah. Aku dan Engkau. Kini kita merujuk pada sesuatu yang berbeda, padahal pada mulanya kita adalah sama. Meski kita bukan berlawanan kata, tapi kini kita berbeda. Sebegitu berbedanya kita sehingga kita tak lagi saling kenal dan merujukkan satu sama lain, karena memang begitu adanya dalam zaman.

Sampai suatu ketika, manakala ada seseorang ahli sejarah kebahasaan yang menemukan bahwa sejatinya kita adalah satu pada mulanya, kita adalah bersinoniman. Namun sebagaimanapun dua buah kata yang bersinoniman itu, pastilah salah satu dari kedua buah kata itu akan dapat menjadi ada yang lebih dominan, dan itu bisa saja kau maupun aku.

 

 

Setyoko Andra Veda,

Dalam kegundahan yang tiada nyata, 22.40 – 27 Januari 2013