Kresna Gugah

by membualsampailemas


Rintik kecil hujan malam itu menjatuhkan diri ke bumi dengan lembut, sangat lembut. Nampaknya hujan sudah mulai menghentikan kegiatannya menyirami tanah di bumi. Langit mendung masih membayangi dan setia menjadi tabir penghalang sinar Dewi Ratih di atas sana yang seharusnya purnama, tapi di sela-sela awan terkadang sinar bulan masih bisa lolos dan membuat tabir langit itu berwarna kekuningan, itulah penerangan. Sesekali di antara awan-awan yang menggumpal dan memenuhi langit itu, masih terlihat kilatan tanpa suara, berkedip sepintas lalu menghilang di sela-selanya, hanya kilat diantara tebalnya awan malam yang tak memiliki gemuruh berarti. Memang hujan mulai menunjukkan keredaannya. Tanah menjadi begitu basah di musim hujan seperti ini. Jika manusia berjalan di atasnya pada malam begini, akan didapatinya tanah itu menjadi licin, terutama yang berada di hutan dekat Indraprasta.

“Raden..Raden Arjuna..” suara kakek tua itu terdengar lirih hanya untuk membangunkan seorang Arjuna yang baru saja beberapa saat membaringkan tubuhnya. Istana Madukara yang berada di wilayah Amarta yang baru saja diguyur hujan lebat sekarang sedang berhawa dingin, sungguh dingin. Dia adalah Kiai Semar, orang tua yang merupakan titisan Batara Ismaya, seorang yang memiliki umur sangat panjang, sejak jaman Ramayana hingga saat Mahabarata ini.

“Raden..saya mohon bangun, Raden.”

Arjuna membuka matanya yang baru saja terpejam. Entah darimana Ki Lurah Semar datang dan sampai-sampai tiada diketahuinya beliau masuk kamar. Seperti tiba-tiba datang begitu saja. Arjuna yang tahu bahwa tidak mungkin Lurah Semar akan tiba-tiba seperti ini jika tak ada sesuatu hal yang mendesak.

Malam itu adalah malam ke empat setelah perayaan kembalinya Pandawa dari penyamaran selama 13 tahun di negeri Wirata. Masih teringat jelas bagaimana Prabu Yudhistira kalah main dadu dengan Prabu Duryudana yang mengakibatkan Pandawa bersama Drupadi harus pergi meninggalkan Amarta selama 13 tahun dan menyamar sebagai orang lain, tiada boleh seorang pun tahu akan penyamaran itu selama masa 13 tahun, dan jika ada yang mengetahui atau memergoki penyamaran itu, maka masa 13 tahun itu harus diulang. Sebuah masa yang berat yang baru saja dilalui oleh para Pandawa. Namun dari masa itu lah, mereka mendapatkan ilmu, pelajaran hidup, bahkan sekutu baru, yaitu negeri Wirata dengan 3 ksatrianya, Raden Arya Seta atau biasa dikenal sebagai Resi Seta, pembarep (anak pertama) Prabu Matswapati (Raja Wirata); lalu Raden Arya Utara yang merupakan anak kedua dari Prabu Matswapati, dia adalah penerus tahta Wirata karena Resi Seta enggan untuk mewarisi tahta karena memilih jalan sebagai seorang Resi; dan yang terakhir adalah Raden Wratsangka. Mereka adalah para ksatria yang akan membantu Pandawa kelak pada Baratayudha.

“Ada apa, Paman, malam-malam hujan begini?” tanya Arjuna yang baru saja mengambil posisi duduk, masih di ranjangnya.

“Gawat, Raden. Sebaiknya sekarang juga Raden Arjuna pergi ke Setragandamayit[6] (kerajaan alas lelembut, yang dipimpin Btari Durga).”

Arjuna terkejut mendengar pernyataan Kiai Semar tersebut.

“Setragandamayit? Hutan itu?!”

“Prabu Kresna ternyata tidak kembali ke Dwarawati sejak 4 hari lalu, Raden. Dia sekarang sedang berada di Setragandamayit dalam keadaan tiwikrama (menjadi raksasa). Batara Guru baru mengumumkan bahwa barang siapa yang berhasil lebih dulu membangunkan Brahalasewu, dia akan dibela Prabu Sri Batara Kresna. Saat ini pasti pihak Kurawa juga sedang berusaha membangunkan beliau, Raden.”

“Benarkah?!”  Betapa terkejutnya Arjuna mendengar berita itu. Kiai Semar adalah bukan seorang yang suka berbohong, dia adalah kepercayaan dan pengasuh para ksatria dalam dunia pewayangan. Dia pula titisan Ismaya. Berita darinya tak ada keraguan. “Kalau begitu saya akan ke tempat Kakangmas Yudhistira untuk memberitahunya lebih dulu, Paman!”

“Jangan, Raden! Tidak perlu! Sebaiknya sekarang Raden langsung saja pergi ke Setragandamayit untuk mencari Brahalasewu sebelum didahului oleh Kurawa. Biar Prabu Yudhistira nanti akan saya kabari sendiri.”

Sejenak Arjuna memandangi mata Kiai Semar yang berusaha meyakinkannya.  Tanpa banyak bicara, langsung saja Arjuna mengambil pusaka-pusakanya dan mengenakan kain cokelat panjang untuk mencegah dingin menggerayangi tubuhnya malam ini lalu pergi meninggalkan istana Madukara untuk segera mencari Prabu Sri Batara Kresna yang sedang tiwikrama menjadi Brahalasewu dan tertidur di Setragandamayit. Arjuna memiliki ajian ngambah jumantara (terbang di langit) yang memudahkannya untuk cepat sampai ke sana.

Brahalasewu - solo Bukan hal biasa apabila seseorang yang begitu bijaksana dan penyabar seperti Prabu Kresna berubah wujud melalui tiwikrama dan menjelma menjadi raksasa besar, sangat besar, sehingga lubang telinganya akan sebesar lubang goa, berambut api, berkulit legam, bernafaskan udara yang bisa terbakar, bermata merah, bertaring besar dan panjang. Badannya begitu tambun tidak seperti raksasa biasa. Dia adalah yang terbesar selain perwujudan tiwikrama dari Prabu Yudhistira. Seorang seperti Prabu Kresna pastinya sedang mengalami kegundahan atau amarah yang begitu hebat yang dapat membuatnya seperti itu. Sambil berpijak dari angkasa ke angkasa dan semakin menjauh dari Madukara, Arjuna memikirkan hal apa yang bisa membuat Prabu Kresna menjadi demikian marahnya.

Malam masih memperlihatkan kesenduannya, seolah mengerti betul apa yang dirasakan Arjuna saat ini. Sedih. Rintik hujan kembali menderas, kilat di sela-sela langit terkadang berkedip-kedip tanpa suara membuat terang semesta dalam sekejapan mata, lalu digelapkannya kembali semesta malam itu dalam kegelapan yang sendu. Ruam-ruam malam hanya bisa dilihat dengan pandangan terbatas, segalanya terasa gelap. Satu-satunya penerangan adalah dari cahaya bulan yang berusaha menembus mega.

Sementara itu, beberapa saat sebelum Kiai Semar membangunkan Arjuna dari tidurnya yang belum juga bermula, Patih Arya Sengkuni di Astinapura telah mendapatkan kabar lebih dahulu perihal Kresna yang tiwikrama di Setragandamayit dan juga mengenai kabar bahwa Batara Guru memutuskan barang siapa yang berhasil membangunkan Brahalasewu lebih dulu, dia akan dibela Prabu Kresna demi keadilan. Patih Arya Sengkuni memiliki hubungan dengan para makhluk tak kasat mata yang berasal dari Setragandamayit, bangsa jin, tak heran kabar itu begitu cepat sampai padanya. Buru-buru dia mengabarkan pada Prabu Duryudana yang malam itu masih bermain catur dengan Adipati Karna di sisi lain istana Astinapura.

“Prabu Duryudana, maafkan sahaya yang mengganggu waktu sinuwun malam-malam begini.” Kata Sengkuni malam itu yang langsung masuk pada ruangan Duryudana dengan terburu-buru. Adipati Karna yang berada bersama Duryudana memandangi Patih Sengkuni dengan pandangan sinis dan tajam. Nampak dia tak suka dengan tindak-tanduk Sengkuni.

“Ada apa, Paman Patih? Apa yang membawamu malam-malam begini perlu untuk menemuiku?”

“Saya baru mendapatkan kabar dari alam tak kasat mata, Sinuwun, bahwa Batara Guru baru saja mengumumkan bahwa barang siapa yang sanggup membangunkan lebih dahulu Brahalasewu di alas Setragandamayit, dia akan dibela oleh Prabu Kresna. Saat ini pasti Pandawa sedang berusaha untuk mencapai tempat itu, Sinuwun.”

“Apa?!!” Terlihat muka serius dari Duryudana, pembarep Kurawa itu. Dia begitu percaya pada Paman Patihnya tersebut. Melalui bantuan kelicikan Sengkuni, dia berhasil menyingkirkan Pandawa 2 kali melalui permainan dadu.

“Bagaimana menurutmu, Kakang?” tanya Duryudana pada Karna. Karna memandangi mata Duryudana yang mengisyaratkan kegundahan pula. Dia tahu bahwa Duryudana menginginkan kemenangan melawan Pandawa dan Karna pun telah berjanji akan mengabdi pada orang yang telah mengangkat derajatnya tersebut.

“Terserah padamu, Dimas.”

“Bantulah aku, Kakang.” Duryudana memperlihatkan mimik muka meminta pada orang yang dia sebut Kakang itu, walau pun mereka adalah saudara ipar, Duryudana menikah dengan Dewi Banowati, kakak dari Dewi Surtikanti yang merupakan istri Karna. Mereka adalah sama-sama menantu dari Prabu Salya.

Adipati Karna hanya menganggukkan kepalanya dan dia bergegas pergi. Duryudana dan Sengkuni berpandangan, lalu nampak ukiran senyum licik Sengkuni di wajahnya.

****

Malam itu Kresna baru saja pergi meninggalkan Amarta untuk kembali ke Dwarawati. Dia sendirian, tanpa ditemani Setyaki maupun Setyaka ataupun punggawa lain Dwarawati, oleh karenanya dia bisa menggunakan ajian ngambah jumantara dengan leluasa di langit dengan cepatnya. Namun sesuatu hal terjadi padanya dalam perjalanan. Melalui telepati, suara yang tak asing mendengung dan bergema di dalam sukmanya, suara Btari Durga yang telah dikenalnya. Kresna merupakan titisan Btara Wisnu yang pada mulanya para bangsa dewa tiada tahu kemana perginya Wisnu.

“Hihihihihi, Haaahahahahaha…” tawa itu begitu mengerikan dan membuat bulu kuduk siapa pun berdiri jika mendengarnya. Suaranya terkadang menggelegar seperti raksasa. Dan dia memanglah berwujud mengerikan, Btari Durga Mahesasuramardini namanya. Dulu dia adalah istri dari Batara Guru yang kemudian dikutuk menjadi buruk rupa lalu dia merajai Kerajaan lelembut di Setragandamayit.

“Wisnu, aku mengundangmu untuk datang ke Setragandamayit. Haaaaahahahaa. Hihiiihihiii…”

Betapa terkejutnya Kresna mendengar itu dalam batinnya. Suara itu begitu jelas dan dia tahu betul bahwa itu adalah Durga. Seketika dia menghentikan ngambah jumantaranya. Tiada yang mengenalinya sebagai Wisnu sebelum ini, tapi Btari Durga ternyata tahu! Prabu Kresna pun memenuhi undangan Durga malam itu juga, sebelum ia sampai di Dwarawati, dia berbelok arah menuju Setragandamayit.

Sesampainya di tempat Btari Durga Mahesasuramardini, Kresna berhadapan langsung dengan Btari yang buruk rupa itu. Rambutnya panjang dan gimbal, seperti raksesi, giginya bertaring dan kulitnya kotor seperti bersisik berwarna kelabu. Matanya selalu melotot dan nafasnya begitu bau amis. Kukunya ranggah-ranggah (panjang tak terawat) dan kotor. Dia selalu bertingkah dan tak bisa diam, tangannya melebar seperti menari, kakinya pun. Yang menandakan bahwa ia adalah perempuan hanyalah karena ia memakai kemben (kemban, pakaian khas yang menutupi dari dada hingga ke bawah).

“Oooohhh Wisnu……Haaaahahaha.. Lama sudah kita tak bertemu.”

Prabu Kresna hanya melemparkan pandangan tajam dan datar, tanpa senyuman sedikit pun. Durga seperti tertawa dan menari-nari.

“Bukan tanpa alasan aku mengundangmu kemari, Wisnu. Bukan tanpa alasan. Kita semua tahu bahwa kau adalah Dewa, dan kau telah menitis dari generasi ke generasi. Sejak zaman Jamadagni, Arjunasasrabahu, Ramawijaya, lalu saat ini. Kali ini kau menitis pada Kresna, Kresna adalah kau, dan kau adalah Kresna. Wisnu adalah kau dan kau adalah Wisnu.

Btari Durga - solo

Tak seharusnya, Wisnu, tak seharusnya. Sebagai Dewa, tugasmu adalah menyeimbangkan dunia, memeliharanya. Bukan berpihak seperti ini. Kau sudah terlalu banyak berpihak pada Pandawa, Wisnu. Janganlah keberpihakanmu ini membuat dunia menjadi tak adil. Siapa yang dibela olehmu tentunya akan memenangi sengketa ini. Masalah ini sudah begitu rumit dan telah digariskan perang  itu, Wisnu. Ingatlah akan sejatinya tugasmu. Bahkan Guru pun tak tahu bahwa sekarang kau adalah Kresna. Atau harus aku yang memberitahunya?”

Kresna menjadi gundah hatinya mendengar kata-kata Durga itu. Apa maksudnya ketidakberpihakan itu? Secara tak langsung, Durga telah membuat masygul dan galau yang menyebabkan pergolakan batin dalam sukma Kresna.

“Bukan urusanmu, Dewi.” Kata Kresna datar, dia berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Hhaaahahaha… Aku hanya memperingatkanmu, Wisnu. Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini. hiiihihiihiiihihihihi”

Setelah pergi dari kediaman Durga, Kresna berjalan seorang diri, masih di wilayah Setragandamayit pada malam itu. Langkahnya setapak demi setapak, pelan. Dia merenungkan kata-kata Durga Mahesasuramardini barusan. Hal itu membuatnya bimbang dan marah. Apa maksudnya menyindir mengenai keberpihakannya pada Pandawa. Lalu dia berhenti sejenak, dalam emosinya itu, Kresna berdiam diri di bawah pohon dan merenungi. Namun lama-kelamaan dia malah menjadi semakin marah dan gundah. Hingga akhirnya dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan itu membuatnya bertiwikrama menjadi seorang raksasa yang begitu besar dan mengerikan yang pernah ada bernama Brahalasewu, semua itu karena dia terlepas dari kesadarannya.

Brahalasewu meraum dengan suara menggelegar, pertanda kemarahannya. Nafasnya tersulut api dan menyala keluar dari hidung dan mulutnya. Matanya memerah dan rambutnya menyala api, sebelum akhirnya dia tertidur di alas Setragandamayit. Rauman itu terdengar mengerikan, sampai-sampai hampir seluruh penghuni hutan mendengarnya. Durga yang mendengar rauman Brahawasewu malah terlihat senang dan tertawa terkekeh-kekeh dari kediamannya, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ngeri dan bergidik. Dalam kehilangan kuasa atas dirinya, sukma Kresna pergi ke Swargaloka untuk menghadap pada pemimpin para dewa, Btara Guru.

Sukma Kresna menyamar sebagai Sukma Wicara dan pergi ke Swargaloka untuk mengetahui kitab Jitabsara (kitab ketentuan Baratayudha). Dalam kitab itu akan dituliskan takdir-takdir mengenai perang Baratayudha antara lain bahwa Arya Seta yang akan maju berperang lalu tewas melawan Resi Bhisma. Sedangkan Resi Bhisma akan terbunuh oleh Sri Kandhi, Arjuna akan membunuh Karna, Abimanyu akan tewas dikeroyok Kurawa, dan sebagainya. Itu adalah semacam kitab pinesthi (takdir).

****

Dahan demi dahan dia loncati. Seperti berusaha untuk menenggelamkan diri dalam kegelapan malam, ia memasuki hutan lebat itu yang ternyata sudah masuk dalam wilayah Setragandamayit. Adipati Karna meloncat dengan ilmu meringankan tubuh yang membuatnya menempuh perjalanan secara singkat. Ia memakai jubah panjang untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin malam yang menyisakan rintik hujan, dengan mahkota ksatria masih ada di kepalanya yang terkadang berkilat itu, serta padanan antik perak di kedua telinganya, dia tampil menjadi ksatria yang berperawakan bagus nan angkuh. Pandangan matanya begitu tajam melihat ke depan, alisnya berbentuk gunung, lancip pada bagian atasnya dan memanjang. Masih digunakannya kelat pada lengan kanan maupun kirinya, karena dia belum menanggalkan pakaian ksatrianya semenjak bermain catur dengan Duryudana tadi sore. Di sisi belakang punggungnya terselip Keris Kalatida yang tertutupi jubah panjang merah tuanya.

Arjuna yang menembus malam dengan ajian ngambah jumantaranya seperti berlari di angkasa, menepakkan kaki dari awang-awang ke awang-awang. Udara seperti bisa dijejak untuk meluncur cepat. Rambutnya yang panjang itu terurai. Pandangan matanya tajam, alisnya berbentuk sabit dan memanjang, melekuk indah. Sudah tak ada kelat di lengan kanan maupun kirinya. Dengan berselempangkan kain cokelat muda yang lebar dan panjang, dia seperti terbang di angkasa, membuat kain itu berkibar-kibar dan menimbulkan bunyi. Keris Pulanggeni yang jika dicabut akan berwarna merah itu dipagangnya bersama sarungnya, tanpa diselipkan pada pinggangnya.

Kedua ksatria itu berlomba untuk lebih dulu sampai ke tempat Brahalasewu. Namun dalam perjalanan keduanya, suatu kebetulan, mereka bertemu dan berpapasan. Seketika Karna yang menyadari datangnya Arjuna lantas berhenti pada puncak dahan pohon tertinggi. Dia berdiri dan memperhatikan Arjuna yang juga menghentikan perjalanannya dan berhenti di dahan pohon lainnya. Dahan yang mereka pijak begitu terlihat kecil dan rapuh, namun dengan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki, itu bukanlah masalah.

Mendung masih setia menemani dan menjadi tabir bagi sinar bulan, bintang tiada yang terlihat. Ratri (malam) semakin menunjukkan kesenduannya. Gerimis kecil menyertai mereka. Kilat masih berkedip-kedip tanpa bunyi di sela-sela langit dan menerangkan segala sisi hujan barang sejenak, sehingga Karna maupun Arjuna dapat saling melihat dengan jelas satu sama lain dalam kedipan itu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Premadi?” tanya Karna. Dia masih saja memanggil Arjuna dengan nama kecilnya.

“Kakang sudah tahu apa yang akan aku lakukan di sini. Mana Duryudana? Apakah dia tidak berani pergi sendiri ke Setragandamayit?” Arjuna berniat menyindir Karna yang menjadi sesuruhan Duryudana. Karna sebenarnya tersinggung, namun kini dia lebih bisa mengendalikan diri. Dia terdiam. “Seperti sebuah kebetulan, kita selalu dipertemukan dalam berbagai kesempatan, Kakang.”

“Mengapa kau selalu ada dalam setiap tempat yang kutuju, Premadi?”

“Aku pun tak tahu!”

Teringat dalam benak mereka, ketika dulu Arjuna kebetulan menjumpai Karna yang sedang bertempur untuk merebut Awangga dengan para raksasa, juga ketika Karna berada di istana Ayodya untuk mengambil prasasti Prabu Ramawijaya. Mereka bertemu dalam berbagai kesempatan. Kini mereka bertemu lagi di Setragandamayit untuk tujuan yang sama.

“Seperti sebuah takdir. Sudahlah, simpan dulu permusuhan kita, Premadi.”

“Siapa yang musuhan? Saya tak merasa memusuhi Kakang dan para Kurawa.”

“Setelah 2 kali kalah dadu? Tiga belas tahun?”

“Saya tidak merasa memusihi kalian, Kakang. Mungkin sampeyan dan para kurawa yang merasa memusuhi kami.”

Keduanya terdiam dan saling memandang menaruh curiga dan waspada. Kilat-kilat masih berpendar dan berkedip tanpa suara, rintik hujan pun masih dalam batasan gerimis.

“Aku merasakan banyak makhluk tak kasat mata sedang mengepung dan mendekati kita, Premadi.”

“Sudah saatnya, Kang.” Kata Arjuna yang dengan cepat dalam hitungan sekedipan mata telah berpindah ke dahan tempat Karna berpijak dan sedikit mengejutkan Karna. “Pakailah ini, Kang.” Ucapnya seraya mengusapkan kedua ibujarinya ke pelupuk mata Karna. Itu adalah minyak Jayengkaton, pusaka pemberian dari salah satu guru Arjuna, Resi Wilwuk, yang dapat membuat seseorang melihat dengan mata kepalanya sendiri dengan jelas bangsa tak kasat mata, bahkan suara mereka.

Karna sedikit kaget dengan perlakuan itu dan berusaha menghindar dari Arjuna, tapi terlambat, dia telah terolesi dengan Jayengkaton. Seketika itu dia langsung bisa melihat sekelilingnya yang penuh dengan makhluk-makhluk mengerikan golongan bangsa jin. Bentuknya aneh-aneh, ada hewan seperti macan, beruang, monyet, ada pula yang berupa bagian tubuh manusia yang tak lengkap seperti kepala yang melayang dan hanya terlihat menyambung dengan saluran pencernaan yang menggantung, ada pula tubuh tanpa kepala, ular berkepala manusia, babi bertubuh manusia, dan sebagainya. Bentuk mereka aneh-aneh dan mengerikan. Mereka mati namun hidup, hidup namun mati.

Arjuna mencabut Keris Pulanggeninya yang menyala merah seperti nyala api, sedangkan Karna mencabut Keris Kalatida pemberian dari Rama Bargawa (Parasurama, Ramaparasu, Jamadagni) ketika dia berguru padanya. Kedua ksatria itu saling memunggungi dan bersiap-siap untuk melawan bangsa tak kasat mata yang kini kasat mata oleh keduanya itu.

“Maafkan saya, Kakang. Mari kita mulai.” Ucap Arjuna. Karna diam saja.

Malam itu, mereka melakukan pembantaian terhadap makhluk-makhluk mengerikan dari Setragandamayit yang mengganggu perjalanan mereka. Bukan halangan berarti buat mereka dalam menumpas makhluk-makhluk tersebut, hanya saja mereka sedikit kewalahan karena jumlah yang begitu banyak dan masif. Dengan ditebas, makhluk-makhluk itu tak mati, dan masih terus bergerak walau tubuhnya terpotong-potong. Mengerikan.

Keris Pulanggeni berubah bentuk menjadi seperti cambuk yang menyala dan dapat meliuk-liuk berwarna merah api, pedang yang sangat panjang nan lentur. Itu pertanda Arjuna mengerahkan tenaga dalamnya. Sedangkan Keris Kalatida menyala biru tua dan berubah bentuk menjadi seperti pedang besar yang dengan mudah diayunkan oleh Karna untuk menebas menembus kumpulan makhluk ghaib yang tak bisa mati itu.

“Mereka benar-benar tak bisa mati dan tak ada habisnya!” celetuk Karna.

“Sejatinya mereka sudah mati, Kakang.”

Kedua ksatria itu menembus kerumunan makhluk ghaib itu dengan mengayunkan senjatanya masing-masing. Sabetan pusakan terus membelah kerumunan makhluk aneh di sana, sampai akhirnya mereka mendekati wilayah yang semakin sepi dari serangan makhluk tak kasat mata itu. Ternyata tempat Brahalasewu tertidur sudah dekat. Di langit dalam beberapa ketukan yang teratur akan terlihat nyala api membumbung tinggi dan menerangi mega mendung sehingga menimbulkan kilatan cahaya kemerahan di sana. Itu adalah nafas Brahalasewu. Arjuna dan Karna mendekat bersama kepada Brahalasewu yang menegrikan itu.

“Kakang Prabu Kresna.” Celetuk Arjuna.

“Inikah Brahalasewu?”

Arjuna menganggukkan kepalanya tanpa memandang Karna. Kedua pusaka dari kedua ksatria itu kembali ke bentuk semula.

“Apa yang akan kau lakukan, Premadi?”

“Aku diperintah untuk membangunkannya, maka aku akan membangunkannya.” Jawab Arjuna. Tanpa basa-basi lagi, Arjuna menapaki dada Brahalasewu dan menancapkan pusakanya. Kresna terbangun dari tidurnya.

Karna hanya memandangi Arjuna dan Kresna. Dia samasekali tak bersikap apa pun, datar. Kresna baru bangun dari tidurnya dengan Sukma Wicara yang barusaja kembali ke raga dan telah mengetahui rahasia langit yang nantinya akan membuat Antareja dan Baladewa tak akan ikut perang Baratayudha.

Sejenak kemudian, datanglah segerombolan bala Kurawa bersama Baladewa dan Duryudana. Mereka terlambat untuk membangunkan Kresna. Duryudana dan Baladewa berhenti lalu memandangi Arjuna dan Kresna, mereka menyadari bahwa yang berhasil membangunkan Brahalasewu pastilah Arjuna.

“Prabu Duryudana dan Kakangmas Prabu Baladewa. Aku telah dibangunkan oleh Arjuna, dan itu berarti aku akan berpihak pada Pandawa. Maka pasukanku di Dwarawati sana akan kuberikan kepadamu.” ucap Kresna. Betapa bahagianya Duryudana mendengar itu, terlihat dari senyum yang terbersit di wajahnya, senyum licik. Dia tak tahu betapa pasukan Dwarawati yang terkenal tangguh itu takkan mampu merubah takdir yang telah ditulis. Prabu Baladewa yang merupakan kakak dari Kresna, yang sekarang bersekutu pada Kurawa, hanya terdiam. Dia merasa adiknya mengambil keputusan yang salah. Kresna yang sudah tahu isi kitab Jitabsara dengan rela melepaskan pasukannya kepada pihak Kurawa.

Dari peristiwa itu, akan diketahui bahwa Antareja, putra pertama Arya Bimasena tidak akan mengikuti perang karena kekuatannya yang terlalu sakti, begitu juga Baladewa yang akan dihasut untuk bertapa di Grojogansewu sebelum perang dicetuskan, sehingga dia takkan mendengar perang itu selama pertapaannya (disimpekne).

Setyoko Andra Veda

Kebumen,  08.24, 6 Februari 2013

-dengan berbagai gubahan dari berbagai versi cerita-

Iklan