Filsafat: Dewa Ruci (1)

by membualsampailemas


Tidaklah aku semahir para dalang dalam menceritakan kisah Mahabarata, pun bukan karena kesombonganku aku berani menceritakan kefilsafatan daripada sebagian kisahnya.

Sudah begitu banyak, ndees, situs web maupun buku yang bercerita mengenai salah satu subbab dalam kisah Mahabarata yang berjudul Dewa Ruci/ Nawaruci. Kisahnya mungkin sudah familiar diantara kalian yang gemar akan dunia pedalangan, tapi bagi yang masih awam mungkin kalau pernah ke pulau Bali, di Denpasar itu kalau tak salah ada patungnya Bima lagi bertarung sama seekor ular naga yang membelitnya, itu adalah salah satu adegan di kisah subbab ini, Dewa Ruci.

JUDUL

Ndees, tahu apa itu artinya Dewa Ruci? Kita bahas judulnya dulu, ya?

DEWA = Tuhan / God

RUCI = Cahaya

Dewa Ruci itu dalam ilmu kefilsafatan yang aku pahami, ndees, artinya adalah Cahaya Tuhan. Dalam sebuah lagu dari Original Sound Track nya film Bollywood termasyhur pada tahun 2010 berjudul “My Name Is Khan”, ada sebuah lagu yang berjudul kurang lebih sama: Noor e Khuda (Cahaya Ilahi). Cobalah kamu donlod itu lagu, bagus banget, bikin terharu, apalagi kalau kamu sambil denger sambil baca arti liriknya.

My Name is Khan

Cahaya Tuhan itu menembus segalanya. Yang namanya cahaya, dia akan menembus segalanya. Cahaya itu berupa GELOMBANG. Masih ingat kan pelajaran Fisika pas jaman SMA atau SMP? Cahaya memang sebuah gelombang transversal. Apa aja bisa ditembus oleh cahaya. Percaya? Pakailah Imajinasimu, ndees. Kata Enstein, semua itu berawal dari Imajinasi. Kata SpongeBob pun begitu.

Jadi Cahaya Tuhan itu akan menembus hatimu, ndees. Ketika hatimu disinari oleh cahaya itu, maka hatimu akan tenang.

Dewa Ruci adalah sebuah kisah kesufian yang terselipkan dalam Mahabarata. Bagaimana seorang Bima bisa mendapatkan ilmu mengenai itu. Dari wayang satu kotak yang kurang lebih berjumlah 400-an buah, hanyalah Bima yang berhasil menemukan jatidirinya.

.

BENTUK DEWA RUCI

Tau kalian, ndees? Bagaimana wayang Dewa Ruci itu? Tak lain dia berwujud seperti/mirip Bima sendiri, hanya saja lebih kecil nan mungil. Mengapa? Karena ‘kekecilan’ itu adalah perwujudan dari hati, dari jiwa. Walaupun kecil, dia adalah “inti” dari sebuah cerita. Ini juga berarti tujuan utama dari si empunya cerita adalah bahwa Bima akan menemui dirinya sendiri, Bima ‘kecil’.

Dewaruci-SoloWrekodara-SoloDikisahkan bahwa Bima menempuh berbagai ujian dan cobaan dalam usahanya mencari tirta pawitra, air suci, atau juga dalam beberapa kesempatan disebut tirta amerta/tirtamerta, air kehidupan. Bedakan sama Nicky Tirta, ya, ndees! Lalu buat apa Bima susah-susah menjalani segala ujian dan cobaan hanya untuk mencari hal tersebut dan bertemu dengan sesuatu yang mirip dirinya itu yang dinamai Dewa Ruci?

Kalau kamu sudah sedikit paham tasawuf, mungkin kamu sudah bisa menebak, ndees. Kesejatian hidup, kebermengenalan kita terhadap Tuhan, kemencarian kita akan Tuhan akan kita temui ketika kita kenal dan tahu kepada diri sendiri. Tuhan itu gak kemana-mana, melainkan lebih dekat daripada urat nadi leher kalian, ndees. Kan iya? Tuhan itu ada di mana-mana, berarti ada di dalam diri kita sendiri juga, ndees. Tak banyak orang yang bisa paham, makanya digambarkan bahwa dalam satu kotak wayang itu hanya ada Bima yang mengalami peristiwa seperti ini.

PERLAMBANGAN DALAM CERITA

Dalam cerita, Pandita DURNA memerintahkan Arya Bimasena/Bima untuk mencari tirta pawitra, air suci ke alas TIBRASARA, tepatnya di bukit CANDRAMUKA, di bukit itu ada goa GANDAMADANA. Bima pun mematuhi perintah gurunya itu, guru yang sangat dia hormati. Ternyata ketika dia sampai di TeKaPe, di dalam goa itu, malah bertemu dengan 2 raksasa bernama RUKMUKA dan RUKMUKALA. Maka terjadilah pertikaian yang berkesudahan. Berkesudahan dengan kemenangan Bima tentunya, lah wong ini ceritanya kan Bima adalah lakonnya. RUKMUKA dan RUKMUKALA itu berubah wujud ternyata setelah kalah, jadi Batara Indra dan Batara Bayu.

Nah, jelaslah ujian pertama daripada Bima. Batara Indra dan Bayu itu memberitahu bahwa di TKP itu ndak ada yang namanya tirta pawitra, malahan ndak ada air di sana. Bima di suruh kembali ke Astinapura untuk bertanya lebih lanjut pada Pandita Durna.

Kita telaah, ndees, arti dari cerita awal ini.

Pandita Durnarukmakala-soloPandita/Bgawan/Resi Durna lebih dulu ya yang kita bahas. Pernah lihat wayangnya Resi Durna belum, ndees? Kalau kamu suka wayang pastinya tahu, walau gak terlalu jelas. Beliau adalah termasuk WAYANG KIWA (Kiri). Maksud dari wayang kiri adalah tempatnya itu di sebelah kiri dalang.

Dalam pakem pedalangan, sepengetahuanku yang terbatas dan masih awal, wayang kiri itu berarti tangan depannya adalah tangan kiri, sedangkan wayang kanan itu berarti tangan depannya adalah tangan kanan. Raksasa/Buto itu adalah termasuk wayang kiri, seperti halnya Durna, akan tetapi lihat dan bandingkan, ndees antara wayang para raksasa dengan Pandita Durna.

Tangan raksasa itu yang diikat/tidak digerakkan adalah tangan belakang yang berarti tangan kanannya, sedangkan tangan depan yang berarti tangan kiri adalah tangan aktifnya/yang bisa digerakkan. Dalam dunia orang jawa, segala hal yang berbau kiri adalah buruk, ndees, kotor, tidak suci, atau kurang baik. Makanya ada istilah pakiwan yang berarti tempat kotor semisal WC/Toilet. Di rumah jawa toilet itu di sebelah kiri. Sekarang lihat tangannya Durna, tangan yang pasif itu tangan depan malahan, artinya tangan kirinya diikat. Sedangkan tangan yang bisa digerakkan adalah tangan belakang yang merupakan tangan kanan. Hal itu berarti walaupun DURNA adalah wayang kiri, tapi dia tidaklah bersifat seperti raksasa/buto yang menggunakan tangan kiri sebagai tangan aktifnya, yang bersifat jahat sepenuhnya. Mungkin sebagian dalang ada yang menunjukkan bahwa DURNA itu tokoh yang licik, sinis, sombong, sakti, bijak. Tapi bagi aku, ndees, DURNA itu adalah sosok guru yang kualiteit nomor wahid kayak kecap. Maka dari itu, dia menggunakan tangan kanan sebagai tangan yang aktif, sedangkan tangan kirinya selalu diikat dan tidak digerakkan serta memegang semacam tasbeh.

Yang kedua, kita tinjau dari nama-nama tempatnya:

Alas TIBRASARA = Tibra (kesusahan, kesedihan) + Sara (kesengsaraan, sengsara)

bukit CANDRAMUKA = Candra (bulan, perumpamaan) + Muka (menghadapi)

Goa GANDAMADANA = Ganda (mambu, bau, berbau) + Madana (kesenangan, kebahagiaan, keasyikan)

Di dalam goa GANDAMADANA terdapat 2 raksasa bernama

RUKMUKA = Rukma (Emas, harta) + Muka (menghadapi)

RUKMUKALA = Rukma (Emas, harta) + Kala (waktu, jerat, mengikat)

Bima kalau mau dapat tirta pawitra pertama-tama disuruh pergi ke alas Tibrasara, di bukit Candramukaà itu berarti yang harus dilakukan untuk mencari ‘kesejatian’ adalah menghadapi kesengsaraan dan sebuah perumpamaan (Candra+muka=candramuka)

Diupamakan ada bukit CANDRAMUKA yang di sana ada goa (sebagian cerita bilangnya sumur) bernama GANDAMADANA itu berarti di dalam perumpamaan itu terdapat sesuatu yang berbau kesenangan/keasyikan (Ganda+madana=gandamadana). Lantas, mengapa alasnya disebut TIBRASARA? karena sesungguhnya, dalam pemahaman sahaya ini, kesengsaraan, kesedihan, kesusahan, itu sejatinya adalah bermula dari keasyikan. Dalam kesengsaraan, kesusahan, terdapat keasyikan. Jangan terlena dengan keasyikan, kesenangan, kebercukupan, karena siapa tahu kamu lagi di dalam sebuah sekenario kesengsaraan, kesusahan. Pahami dulu ini, ndees. Kalau belum paham, stop dulu bacanya sampai sini. Heuheu.

Bima vs Rukmuka ft RukmukalaSedangkan di dalam goa GANDAMADANA itu terdapat 2 raksasa. Raksasa itu perlambang keburukan, kejelekan, nafsu, angkara, pokmen yang jelek-jelek lah. Namanya Rukmuka dan Rukmukala. Rukma=emas, harta, kekayaan, dsb. Ada disebut kala yang berarti ‘waktu’, berarti dalam suatu waktu mungkin kamu bisa terjerat oleh harta. Dan tahukah kamu, ndees, 2 raksasa itu harus dikalahkan! Setelah dikalahkan, lihatlah, berubah jadi Batara Indra dan Bayu. Artinya jika kamu berhasil mengalahkan kematerialistisan dalam dirimu dengan segala nafsu yang meliputinya, maka sesuatu yang baik akan terjadi.

Namun jangan puas dulu, karena itu hanyalah AWAL.

Ndees, ijinkan saya untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan cerita bagaimana Bima bertemu dengan Dewa Ruci di dasar samodra. Berarti tulisan ini bersambung ya? Berarti saya masih punya hutang cerita dan uraian. Heuheu.. salam rileks.

Setyoko Andra Veda

Kebumen,  22:53 – 7 Februari 2013

-dalam kebermenungan-