Pohon Rasa 3

by membualsampailemas


Aku bahagia, karena Tuhan telah berkenan menuliskan namaku di dalam lembaran buku kehidupanmu, meskipun yang aku tahu itu mungkin hanya beberapa lembar saja dalam satu bab. Aku merasa cukup karena aku pernah mengisi lembaran hidupmu dengan cerita bahagia, biasa saja, dan yang paling aku tak suka secara pribadi adalah cerita kesedihan. Mungkin namaku pernah dituliskan untuk membuatmu bahagia, namun mau tak mau aku juga pernah membuatmu bersedih atau bahkan muak.
Aku tak tahu apakah itu sudah menjadi takdir bahwa Tuhan akan menghentikan penulisan namaku dalam lembaran kehidupanmu, ataukah akan menyambungnya lagi suatu saat kelak. Namun aku mengharapkan tiada lain adalah kebahagiaan dan yang terbaik untukmu saja, tiada berlebih. Jikalau bukan namaku lagi yang tersurat di dalam kertas takdir itu namun kau lebih bahagia, tentu saja aku rela karena memang pada mulanya aku tiada memiliki kuasa apapun melainkan hanya bertugas menjalani peran.
Bagaimana aku harus memanggilmu saat ini, saat aku menulis ini, ketika kau sudah tak mengijinkanku untuk memanggilmu dengan sebutan yang biasa aku gunakan dan selalu terpatri dalam ingatan? “Kamu“ saja? Baiklah.
Kamu, entah kamu yang mana karena kamu adalah bisa siapa saja, tapi kamu yang kumaksud di dalam tulisan ini adalah dia, dia yang diperkenankan Tuhan pernah mengisi beberapa lembar kertas kehidupanku dengan syahdu. Ya, yang kumaksudkan adalah kamu. Dalam waktu yang tiada berapa lama namun begitu membekas sehingga meninggalkan bekas seperti tato ini. Haha.
Semoga Tuhan memperkenankan permohonanku ini, bahwa Dia pasti akan memilihkan sesuatu yang baik, yang terbaik untukmu. Abaikanlah perasaanmu dulu, biarkan takdir bekerja karena itu memang sebuah keharusan. Orang jawa bilang itu sebuah pinesthi.
Sekarang ini, bahkan aku tak tahu lagi bagaimana perasaanku bekerja, apakah kosong apakah isi, apakah sama apakah beda, apakah bergerak apakah diam. Hanya Tuhan Semesta Alam lah yang mengetahui dengan pasti bagaimana yang ada di dalam tanah hati ini. Ketika kelak Tuhan menakdirkan bahwa tiada lagi namaku di dalam lembaran kertas takdirmu, atau tiada lagi namamu di dalam lembaran kertas takdirku, aku bermohon bahwa itu adalah yang baik, begitupun sebaliknya. Namun aku sekarang ini benar-benar tak tahu bagaimana lagi aku harus berkata dan bagaimana lagi aku harus bersikap. Yang aku tahu bahwa sekarang ini adalah salah, dan aku tak dapat menghindarinya. Maafkan aku yang belum bisa bersikap biasa seperti sedia kala, atau bersikap lebih baik dari yang bisa kuperbuat sekarang. Semua itu karena kelemahanku ketika aku tak kuasa menahan gejolak rindu ketika aku melihatmu. Itu saja.
Tuhan mengaruniaimu waktu agar menjadi pengobat segala dukamu, pun bagiku. Kan begitu?