Dulu, Aku Bisa Terbang

by membualsampailemas


….Namun kemampuan itu hilang ketika Subejo mulai jatuh hati pada wanita yang berpijak di bumi. #ambyaar.

Ketika itu, aku masih bisa terbang. Ya, terbang! Terbang melayang, walaupun tiada tinggi, tapi itu tetap saja terbang. Sekira 30 cm dari tanah, dan itu tetap terbang melayang, atau mungkin mengambang lah jika kau tak berkenan untuk memilihkan kata-kata. Kalian pikir aku bohong kan? Tidak, aku tidak bohong.

Aku memang adalah manusia seperti kalian, manusia biasa, hanya saja aku bisa terbang karena memang aku begitu ringan, sangat ringan, begitu ringan, bahkan kapas pun kalah ringan dengaku, sehingga aku bisa terbang jauh lebih lama daripada kapas itu sendiri. Walaupun aku terbang, tapi kadang aku menapak di bumi, hanya saja memang aku lebih sering memilih untuk tidak menapaki bumi. Bukannya aku membenci bumi, hanya saja memang aku bisa terbang, dan itu memudahkanku untuk bergerak kemanapun pergi, pun lebih capat.

Jika aku ingin tidur, tentu aku tiada akan terbang mengambang, hal itu sulit untuk dilakukan. Begitu juga dengan buang air besar, pun aku tetap jongkok atau duduk, bukan terbang, dan bisa kau bayangkan jika aku melakukannya dengan terbang, kan? Jadi, hal yang bisa kulakukan dengan terbang akan kulakukan dengan terbang, terbang ringan, tak terlalu tinggi seperti burung, sedangkan yang tak bisa kulakukan dengan terbang, tentu aku berpijak pada dasar.

Pernah suatu ketika, waktu itu malam hari, aku dikira hantu oleh tetangga sebelah, karena aku tak berpijak di tanah. Dia lari terbirit-birit ketika melihat sesosok manusia mengambang begitu saja dengan mudahnya. Memang belum terbiasa. Sedangkan jika teman-temanku akan bersikap biasa saja ketika aku terbang melayang di antara mereka. Mereka sudah seperti melihat hal yang bukan termasuk sesuatu yang aneh di mata mereka jika aku terbang. Bahkan beberapa dari mereka pernah meminta untuk kugendong dan diantar menuju rumahnya, karena aku memang begitu cepat dalam berpindah, karena aku terbang.

Semua pengalaman indah selama aku terbang terekam jelas olehku dalam ingatan. Suatu ketika pula, aku pernah menolong seorang perempuan tua di pasar yang baru saja dijambret. Dengan kemampuan terbangku, aku melesat begitu cepat, sangat cepat, sehingga dalam beberapa detik si jambret itu berhasil kudorong dan tersungkur jatuh di got. Mukanya terbentur dinding got dan berdarah, kurasa aku hampir membunuh orang kala itu. Semua orang bertepuk riuh padaku, mereka bilang aku ini Superman. Aku bangga karenanya.

Atau ketika aku membantu seseorang yang berusaha mengambil buku di atas rak yang terlalu tinggi di perpustakaan, atau ketika aku menyusuri tangga untuk sekadar naik ke lantai atas, aku bisa melaluinya dengan begitu cepat, dan tanpa terlalu lelah. Semua terasa menjadi begitu biasa dan mudah.

Namun itu dulu. Dulu, ketika aku masih memiliki hati. Seiring berjalannya waktu, sesuatu memang tak dapat diprediksi. Hati seseorang tak bisa direncanakan, begitu pun hatiku, meski olehku sendiri. Sejatinya aku bukan penguasa hati. Hati ini lama-lama tergerus oleh waktu karena aku jatuh hati kepada seorang wanita yang berpijak di bumi. Aku tak tahu kala itu, bahwa jatuh hati kepada seorang lain akan membuatku seperti ini.

Kemampuan terbangku ini berasal dari hati, sedangkan pada suatu ketika secara tak terduga dan tak terrencana, aku jatuh hati. Tepatnya hatiku tercuri oleh seorang wanita yang berpijak di bumi. Dia berjalan di bumi dengan tenangnya, tidak seperti manusia lain. Namun dalam jalannya itu, dia memiliki daya magis untuk mengambil hati siapa pun yang ia lewati. Ketika itu mungkin secara tak sengaja aku terlewati olehnya, sehingga hatiku terambil begitu saja. Sejak saat itu, aku merasakan rasa yang menyulut di dalam dada, terasa sesak, seperti ada udara yang tidak mau keluar di dalamnya. Dan, dari hari ke hari aku selalu memikirkan wanita yang berpijak di bumi itu. Seluruh daya dan kemampuanku tercurah untuk memikirkannya, entah apa yang kupikirkan tentangnya, hanya berpikir. Lalu aku membaca dalam kamus bahasa apa itu arti cinta. Mungkin aku terkena cinta. Ya, aku ternyata jatuh cinta padanya.

Pada mulanya, aku sungguh sangat bahagia, karena ketika berpapasan dengannya, perasaanku begitu berkecamuk, antara takut, khawatir, sayang, senang, gembira, sekaligus sedih. Semua perasaan menyatu, tak tahu lagi. Sementara itu, dia bersikap biasa saja. Dalam terbang melayangku, dia seolah tak peduli dan tak menganggap aku ini terbang. Malah dia seperti tak terkejut ketika melihatku mengambang 30 cm di atas bumi, kesana-kemari tanpa berpijak di tanah. Agaknya dia sudah biasa melihatku terbang, atau jangan-jangan dia kenal aku? Tak mungkin.

Ketika aku berpapasan dengannya, dia bahkan tak memandangku. Aku benar-benar jadi mati gaya. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Sedangkan aku tidak berani berkata-kata, kemudian, lama-kelamaan hatiku habis juga olehnya, karena merindu namun tiada sempat tersampai, mencinta namun tiada bisa tergapai. Tiap kali bertemu dan berpapasan, mataku tak dapat lepas darinya, meski aku berusaha sekuat tenaga untuk memalingkannya. Hatiku tergerus terus menerus oleh waktu hingga akhirnya habis. Aku tak memiliki hati lagi. Dampak yang kurasa pada masa-masa itu adalah terbangku yang semakin rendah. Sedari 30 cm, menjadi 25 cm, lalu 20 cm, kemudian 15 cm, selanjutnya 10 cm, hingga benar-benar habis dan aku berpijak di bumi, seperti dia. Apakah semua yang berpijak di bumi itu tak punya hati? Kurasa tidak. Mungkin memang ada kelainan padaku.

Dan kesialan tak berhenti di situ untuk datang padaku, selama ini aku terbiasa terbang sehingga aku lupa cara untuk berjalan. Bahkan mungkin aku memang tak pernah bisa berjalan, hanya menapak berdiri tegap yang kubisa lakukan. Sedangkan berjalan, melangkahkan kaki kiri dan kanan secara bergantian seperti orang-orang, aku tak bisa lakukan. Aku dibuat bingung dengan hal ini, aku hanya bisa berdiri tegap tanpa berjalan dan itu berlangsung hari demi hari. Masa-masa itu sungguh menyiksa, sehingga aku harus merangkak dan terjatuh jika ingin melakukan kegiatanku. Aku seperti tak memiliki keseimbangan untuk berjalan, jika aku belajar berjalan dan melangkahkan kaki kiriku untuk yang pertama, maka tangan kiriku ikut bergerak ke depan, sedangkan kaki kananku tak kuat menyangga. Jatuhlah aku. Dan begitu seterusnya, berlangsung begitu lama. Malang benar nasibku, sudah hatiku tercuri dan habis, sehingga aku pun tak memiliki hati lagi, lalu kemampuan terbangku sirna begitu saja, berjalan pun aku tak bisa.

Sekarang ini, aku masih belum bisa berjalan dengan lancar. Namun dalam kebelumlancaran itu, tetap saja itu namanya berjalan, tapi memang belum benar-benar lancar. Kadang barang lima-tujuh langkah, aku terjatuh, lalu aku berdiri lagi untuk berjalan kembali, lalu jatuh lagi. Begitu seterusnya, hingga aku benar-benar bosan untuk mencoba dan memilih untuk merangkak saja.

Suatu kali, aku datang merangkak dan berpapasan dengan wanita yang berpijak di bumi yang kucintai itu, aku hanya terdiam dalam kedudukanku di tanah. Dia memandangiku dan sejenak berhenti.

“Kau, yang biasa terbang itu, mengapa seperti ini?”, katanya lembut. Dia menjongkok dan berusaha membantuku berdiri.

“Tidak apa-apa.”Aku benar-benar mati gaya ketika di dekatnya. “Aku bisa berdiri sendiri.” Lanjutku dengan menolak bantuannya. Dia pun melepaskan tangannya dariku, ingin melihat bagaimana aku berdiri. Aku berhasil berdiri, ya, aku berhasil. Untuk kali itu aku berhasil.

“Hendak kemanakah?” tanyanya.

“Em.. anu.. aku pulang.”

“Rumahmu dimana?” dia tersenyum ramah. Jika saja dia tahu apa yang sedang kurasakan saat ini, ahsudahlah.

“Tak jauh dari sini.”

“Baiklah, hati-hati.”

Dia pun pergi dengan senyuman. Untuk kali pertama aku diajak bicara oleh wanita yang kupuja. Hal itu membuatku gembira. Namun, tak beberapa lama, gembira itu sirna ketika wanita itu membonceng seorang pria berambut gondrong dan berparas muda, seumuranku pun. Kekasihnya? Hatiku pun hancur, padahal aku sudah tak memiliki hati. Ah, mengapakah aku menjadi begini? Sudah tak memiliki hati tapi masih merasakan sakit pula, dan tetap belum bisa berjalan.

Aku terus mencoba berjalan, terus dan terus, sampai akhirnya aku sudah sedikit lebih mahir daripada pertama kali aku mencoba berjalan. Barang 10 meter aku bisa melakukannya, lalu istirahat sebentar karena kelelahan. Hal itu terus saja kulakukan. Sementara hatiku tetap saja habis karena aku sama sekali tak dapat mengambangkan tubuhku dari bumi sejauh 30 cm. Melompat pun aku tiada sanggup.

Wanita itu terus memberikan senyuman ramahnya padaku jika kami berpapasan, sedangkan dia tetap tak tahu bagaimana keadaanku sekarang. Aku tenang, asalkan dia senang. Lalu, karena aku adalah manusia biasa, aku mempelajari arti kata cinta itu daripada manusia lain. Lama aku mempelajarinya, memepelajari cinta tanpa hati lagi. Aku merasa hampa, benar-benar hampa. Tak memiliki rasa kecuali rasa sakit di dalam dada tiap kali melihat wanita itu bersama dengan seorang pria. Ah, apa pula aku ini.

Seandainya aku masih memiliki hati, mungkin aku akan mempelajari arti kata cinta itu sendiri dengan lebih mudah, dan sayangnya aku tetap tak punya hati hingga saat ini.

Setyoko Andra Veda

6 Maret 2013

Iklan