Petruk, Gareng, dan Bedak

by membualsampailemas


Warna langit sore menyeruak di atas Jakarta, sebentar lagi mobil dan motor akan menjadi banjir di jalan-jalan raya, eh, bukan hanya jalan raya, jalan sempit pun tak luput dari terjangan banjir si roda dua. Mereka seperti air, menelusup ke tiap-tiap celah yang dapat disusup. Sumpek. Walaupun di buminya seperti itu hampir setiap harinya, tapi langit senantiasa tegar dan istiqomah memberi sebercak warna jingga, sekadar menghibur para warga, tentu jika awan mendung tidak menabiri langit senja. Koplak.

Hari itu sengaja Petruk dan Gareng tidak ngantor dengan sepeda motor, mereka ingin blusukan seperti Jokowi, merasakan bagaimana rasanya ngantor seperti para orang yang naik metromini. Dan mereka sedikit menyesal, adapun memang penyesalan itu selalu ada di gerbong belakang, karena sudah hampir 2 jam waktu yang mereka habiskan di atas metromini dengan berdesak-desakan.

Tapi fokus dari cerita ini bukan tentang kemacetan Jakarta, semua orang sudah mahfum akan hal itu. Istilah kerennya, bicara tentang kemacetan Jakarta itu adalah mainstream, sedangkan Petruk dan Gareng bukanlah orang yang suka dikit-dikit mainstream. Di sela-selanya mereka berdiri, mereka membicarakan sesuatu. Klasik.

“Ndees, artikelnya di hapus.” Celetuk Gareng sambil memandang ke layar dan memegangi ponselnya yang gak ber-keypad itu. Kemudian Petruk ikut mencoba melongok ke layar ponselnya Gareng.

“Artikel apa to, Reng?”

“Masa kamu ndak tahu? Itu artikel di situs berita kantor kita. Yang opininya si Drupadi itu lho.”

Ndak tahu aku. Memangnya dia nulis apa?”

“Agak lupa aku je, Truk.”

Hla njuk, masalah to itu?”

“Gini, kemarin artikel itu mengundang banyak komentar sih. Komentarnya pun macem-macem.

Makgrunjul! Kagetnya bukan kepalang Petruk dan Gareng, mereka langsung pegangan ke tiang metromini ketika si sopir metromini memutuskan untuk beratraksi melewati pembatas busway. Alhasil, metromini pun miring, seperti hendak jungkir balik.

Allahuakbar!” teriak ibu-ibu di depan yang juga berdiri. Gareng memegangi ponselnya sendiri erat-erat, takut jatuh. Ponsel itu baru, masih kredit pun.

Kecu! Ngagetin aja itu si sopir!” Celetuk Petruk.

“Sabar, Truk.”

Sore itu, seperti biasa dan memang biasanya, metromini melewati pembatas jalan jalur busway. Semua ingin cepat sampai. Klasik. Males udah kalau ngomongin sore hari di Jakarta. Semua udah tahu.

“Menurutmu, gimana nih, Truk?” lanjut Gareng.

“Gimana apanya?”

“Artikel yang dihapus.”

“Yang tadi? Aku aja belum baca. Kalau udah dihapus ya sudah to? Selesai.”

“Tapi ini seru, ndees..! Padu! Hahaha.”

“Orang bertengkar kok ya dijadiin tontonan? Ndees, dunia ini itu fana. Aku itu sejatinya gak ada, kamu juga. Yang ada itu hanya yang Maha Ada. Yang benar itu hanya yang Maha Benar. Aku dah gak tertarik untuk memaksakan kebenaran menurut persepsiku. Persepsiku dan persepsimu tentang kebenaran bisa aja beda lho. Kebenaran itu milik Yang Kuasa, kita hanya memandangnya dari satu sisi saja.”

“Gitu ya?”

“Iya. Lagian, buat apa capekcapek mengeluarkan pendapat kalau hanya ingin eksis, ingin dipandang. Aku dah gak napsu lagi sama yang begituan. Makanya aku gak nyimak.”

“Lah, harusnya berpendapat itu yang bagaimana to?”

“Reng, kamu lupa, ya? Dulu Pak Semar pernah ngandhani kita, kalau nasihat itu bisa keluar dari mulut siapa saja. Pendapat pun. Hanya saja, biasanya manusia yang mendengar atau mengetahui atau dinasehati atau diberi pendapat, biasanya gak terima dengan omongan pendapat itu. Kenapa? Karena mereka terlalu tinggi hati memandang benar dari segi perspektif mereka sendiri, gak melihat dari orang lain yang mengucapkan ucapan itu sendiri. Semua hal, ada baik dan buruknya. Terserah kita mau ambil bagian yang mana.”

“Mudeng.”

Petruk main Kethoprak “Ndees, nasihat itu bisa muncul dari siapa aja, termasuk dari mulut orang yang gak konsisten atas ucapannya, atau orang yang gak bisa merealisasikan ucapannya sendiri, atau orang yang belum pernah merasai sesuatu yang diucapnya itu. Alasannya macam-macam. Padahal yang namanya nasihat, kata-kata yang baik, itu ya tetap kata-kata yang baik, siapa pun pengucapnya. Satu yang harus diperhatikan, bahwa nasihat yang harus konsisten dengan si pengucap adalah nasihat moral dan agama, semisal Ustadz, Pendeta, Rabi, Romo, dsb. Mereka harus konsisten dengan apa yang mereka nasihatkan. Kalau sampai mereka ndak konsisten, dunia hancur. Kata-kata hanya sekedar hiasan, bukan lagi petunjuk.”

“Bicaramu berat, Truk. Ini metromini!” Gareng mengingatkan Petruk supaya jangan terlalu berat bicaranya. Memang, Petruk itu orangnya kadang menggebu-gebu, omongannya suka agak njlimet.

“Ya emang metromini. Terus kenapa?”

“Ya bicaranya disederhanakan to.”

“Kepalamu koclak atau gimana to? Masa gitu aja ndak mudeng? Sederhananya, manusia itu hakikatnya saling mengasihi dan memberi manfaat ke orang lain. Sebisa mungkin ndak menyakiti perasaan orang lain. Itu.”

Sore itu menjadi syahdu. Ternyata, semua yang berdiri di dalam metromini itu sedang menyimak apa yang dituturkan Petruk barusan. Bahkan si kondektur metromini, mesih terperangah sama perkataan Petruk itu. Sopir di depan yang sedang mengemudi dan membawa bahtera metromini di jalur busway, pun sesekali melongok ke kaca spion tengah. Beberapa orang memandangi muka Petruk yang penyok dan sama sekali gak tampan itu. Gareng malah malu-malu, sedangkan Petruk bersikap sok cool, biasa aja.

“Ehm!” Gareng berdehem keras. Semua orang mengalihkan pandangannya ke tempatnya semula, ke arah seharusnya mereka melihat, jalanan atau layar ponsel. Sementara di luar metromini itu, lautan mobil dan motor mendera jalanan. Kepulan asap kenalpot dari kendaraan umum yang butut tak dapat dihindari. Kepyur!

“Reng, jadwal kita nanti malam mau manggung di mana?”

“Di gedung J. Ceritanya kita mau disuruh stand up comedy, kamu bisa ndak? Jadi gak bareng-bareng masuk panggungnya.”

“Sekarang orang lagi seneng hiburan macam begituan ya? Kethoprak gimana?”

“Jaman udah berubah, Truk. Kethoprak udah jadul. Kalau mau kethoprakan ya di Jawa sana, bukan di Jakarta. Dah jarang kampus yang mau nanggap kita kethoprakan.”

“Berarti wayang orang juga?”

“Iya laaah. Pak Basuki dah ndak kerja jadi buto cakil sama penata rias lagi.”

“Beneran??!”

Yo bener, mosok aku bohong. Sekarang dia nganggur. Kadang ngojek sepeda.”

Kepyur tenan iki jaman!” Tukas Petruk dengan raut muka sebal. Agaknya dia belum terima bahwa kethoprak tersingkirkan.

“Kebudayaan itu dinamis, ndees.”

“Lah, kita pun dah lama ndak manggung je. Aku dah hampir lupa caranya ngelawak. Bedak untuk macak (berdandan) kita pun kayaknya dah habis.”

“Nanti kita beli dulu sebelum sampai rumah.”

Sore hampir sirna. Yah, barang siapa yang mendamba senja yang memang indah adanya, dia hanya akan kembali kecewa karena senja pergi meninggalkannya begitu saja. Kesemua hal dalam dunia senja akan menjadi siluet, yang mana siluet itu pun akan larut dalam gelapnya kelam malam. Tapi tidak sepenuhnya benar hal itu di Jakarta, apa lagi kota besar seperti New York sana. Lampu-lampu kota membuat dunia Jakarta serasa tak pernah mengalami malam. Segalanya nampak benderang walaupun malam mendekapi kota yang tak pernah hilang. Maghrib. Manakala langit tinggal menyisakan percikan warna merah yang begitu memesona di sela-sela kelamnya awan yang mulai memudar rasa peraknya. Itu pun jika tak terlalu mendung. Adapun mendung pun belum berarti hujan.

Sesampainya mereka berdua di Blok M, mereka memutuskan untuk naik taksi aja, daripada naik metromini lagi. Sumpek.

“Pak, Astinapura, ya?” pinta Gareng pada pak sopir.

“Oke bos!” sahut si sopir taksi Blue Bird.

Modyar o! Blue Bird bisa antar kita ke Astinapura??!” Tanya Patruk kaget.

“Bisa, pak! Taksi ini bisa terbang. Kan Bird.

“Nanti mampir warung ya, mau beli bedak.” Pinta Gareng lagi.

Mereka berdua nampak kelelahan setelah berdiri lama di dalam metromini. Itu mereka, belum para pekerja lain yang terus naik metromini sampai rumahnya. Pasti lapar, lemes, kringetan, bawaannya marah. Hidup kok ya susah-susah. Golek dhuwit kok le yo angel temen.

**

AcaGareng main Kethoprakra stand up comedy yang mereka hadiri ternyata sangat ramai. Pembawa acaranya pun sudah begitu lucu, sangat lucu. Berarti sebagai penampil, Petruk dan Gareng harus lebih lucu. Dengan dandanannya yang khas, Petruk dan Gareng sudah mupuri wajah mereka dengan bedak yang tadi dibeli gareng di warung. Muka mereka jadi sangat putih, seperti pelaku pantomim. Dandanan khas mereka pun. Bibir yang dibuat ndower, alis yang ditinggikan.

“Reng, kok mukaku rasanya agak semromong ya? Tapi juga agak dingin. Aneh rasanya. Ini bedak apa to?”

“Ya bedak, bedak. Bedak buat bedakan.”

“Maksudku merknya apaan??!”

Salicyl.” Kata Gareng polos. Petruk hanya memandangi Gareng dengan tatapan datar. Dia mahfum pada Gareng yang mungkin belum pernah kena penyakit gatal.

Iklan