Sejarah Kepenulisan Subejo

by membualsampailemas


Beberapa orang yang suka menulis, menemukan identitas kepenulisannya melalui orang lain, tapi ada juga yang memang mengeksplorasi tulisannya seorang diri, biasanya yang berbakat. Dalam hal ini, saya adalah seorang penulis amatiran yang menemukan identitas kepenulisan saya melalui karya sastra orang lain.

Mereka adalah Seno Gumira Ajidarma melalui cerpennya Pelajaran Mengarang dan Sepotong Senja Untuk Pacarku serta sekuel novelnya yang belum selesai: Nagabumi, Pramoedya Ananta Toer melalui tetralogi Bumi Manusia, Goenawan Mohamad melalui rubrik caping atau catatan pinggirnya di Tempo, dan Sudjiwotejo melalui rubrik Wayang Durangpo

Namun, dalam perkembangan kepenulisan saya, sebenarnya yang paling berpengaruh terhadap gaya kepenulisan saya adalah Seno Gumira Ajidarma melalui cerpen-cerpennya yang beraliran romantis seperti Sepotong Senja Untuk Pacarku (SSUP).

Awal Mula Inspirasi

Di atas, telah saya sebutkan dua buah cerpen yang begitu saya ingat alur ceritanya walaupun saya tak hafal kata per kata. Kedua buah cerpen tersebut yang lebih dulu saya kenal adalah SSUP, yaitu semasa SMA melalui salah seorang sahabat karib saya yang sekarang telah hilang entah kemana dan tak pernah saya jumpai rupanya pula, Choirunnisa, atau biasa disebut Nisa. Entah dia masih berbadan subur ataukan sudah melangsingkan badan barang sesenti. Wallohualam. SSUP, ketika pertama kali saya baca yaitu pada buku kumpulan cerpen terbaik kompas era ‘90an, langsung menyeruak ke dalam sanubari saya. Betapa seorang Sukab begitu mencintai Alina, yang ia sebut pacarnya itu, sampai-sampai si Sukab tadi mencuri senja dari semesta untuk diberikan hanya kepada Alina itu. Tak perlulah saya menceritakan siapa Sukab itu dan bagaimana akhirnya, biarlah kalian kelak tahu sendiri siapa dia.

Cerpen selanjutnya dari Seno Gumira Ajidarma yang saya kenal adalah Pelajaran Mengarang. Saya masih ingat sekali ketika saya mendengarkan cerpen itu dibacakan di laboratorium bahasa SMA saya, saya membayangkan bagaimana Sandra ketika itu di dalam cerpen tersebut. Sandra, bocah SD yang diberi tugas oleh ibu gurunya untuk menuliskan mengenai keluarganya, yang mana ternyata tak sesimpel yang dikira karena ibunya adalah seorang pelacur.

Gaya bahasa yang dipakai Seno Gumira lebih merasuki saya lagi ketika tahun 2010, saya menemukan novel Nagabumi. Bukan novel romantis, melainkan novel silat. Namun, berangkat dari karya sastra tersebut, tulisan saya berkembang menjadi ke-Seno-an. Meskipun saya hanya sekadar menulis untuk mengisi waktu luang, dan itu artinya saya memang amatiran, bukan profesional. Penulis Profesional, bukan berarti tulisannya terus-terusan akan bagus, tapi mereka yang menggunakan tulisan untuk mencari makan, mereka itulah penulis profesional.

Era Bumi Manusia

Pada masa SMA, karena saya memang mulai belajar menulis sejak SMA, saya mengenal seorang lagi penulis besar Indonesia: Pramoedya Ananta Toer. Sering ia disebut sebagai aliran kiri karena latar belakang sejarahnya yang menjadi pentolan Lekra. Namun dibalik itu semua, karya sastranya, menurut hemat saya, sama sekali tak memuat ajaran komunisme, malah cenderung romantisme. Romannya, Bumi Manusia, membuat saya menjadi orang yang suka berbicara di dalam diri sendiri dan pendiam, mungkin. Tak bisa tidak, bahwa Bumi Manusia dan sekuelnya, telah mempengaruhi sikap hidup saya selama ini. Belum pernah saya temukan novel lain untuk saya pribadi, yang begitu mengubah hidup dan jalan pikiran selain Bumi Manusia ini. Tokoh Minke sungguh menginspirasi saya dengan pikiran-pikirannya dan kewaspadaannya terhadap dunia luar, pemikirannya terhadap orang lain, praduganya terhadap sesamanya, dan lain sebagainya. Selain itu saya mengagumi tokoh Nyai Ontosoroh dan begitu terpesona dengan tokoh Annelis Mellema serta Ang San Mei.

Sejatinya, Bumi Manusia saya kenal dari salah seorang guru Bahasa Indonesia saya tercinta, yang wajahnya selalu saya ingat karena memiliki senyum yang begitu memesona siapa saja, Ibu Partinem. Guru tercantik saya semasa SMA, selain bu Sih Mahanani (biologi). Namun sekarang tak tahu lah, mungkin guratan-guratan usia telah terpahat, tapi tentu pesona itu tak tergantung pada guratan usia, kan iya?

Waktu itu, Bu Partinem memberikan tugas untuk kelas yang diajarnya, agar membaca tetralogi Bumi Manusia itu, mulai dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Banyak diantara teman-temanku yang saling meminjam buku karena tak memiliki lengkap keempat roman itu. Dan karenanya, banyak pula yang tak membaca keempat roman itu secara berurutan. Namun nasib baik menghampiri saya, karena walaupun tidak memiliki keempatnya, tapi saya bisa membacanya secara berurutan dan selesai hanya dalam beberapa minggu. Luar biasa untuk saya kala itu yang baru pertama kali bisa menamatkan roman sejenis Bumi Manusia. Sebelumnya, saya tak gemar membaca.

Semenjak Kuliah

Lepas dari Seno dan Pram, saya terus mengembara mencari gaya kepenulisan dan terkadang ingin berusaha lepas dari kedua tokoh itu. Tapi semenjak saya menemukan dan kenal dengan media yang bernama Twitter, saya diperkenalkan lagi oleh Tuhan kepada Goenawan Mohamad dan Sudjiwotejo. Sampai suatu waktu, mungkin baru beberapa bulan lalu, mas Bashroni Rizal menyebutkan sebuah buku yang berisikan kumpulan Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (GM), bukunya berwarna kuning kalau tak salah, kertasnya sudah menguning pula. Tak saya baca pun. Lalu saya tahu bagaimana sejarahnya Goenawan Mohamad dengan Pram di masa lalu yang ternyata mereka berdua berseberangan. Sulit percaya rasanya, bahwa saya sendiri terpengaruh oleh dua orang penulis yang ternyata berseberangan di masa silam, ketika orde lama dulu. Tapi itu bukan masalah. Tulisan dan karya sastra GM menginspirasi saya dari sisi sudut pandang, bukan gaya menulis. Karena sampai sekarang, dalam hemat saya, gaya kepenulisan GM sungguh rumit, bahkan sulit dipahami untuk pembaca awam yang baru mengenalnya. Dia sungguh ilmiah, tapi tajam dan berimbang. Kadang ada beberapa hal yang tak terpikirkan oleh orang lain, tapi beliau memikirkannya. Pun pengetahuan beliau, dapat saya simpulkan setelah membaca catatan pinggir, sungguh luas, sangat luas, begitu luas. (kata sifat/ks, sungguh-ks, sangat-ks, begitu-ks, bagaikan tiada lagi yang lebih-ks, adalah ciri khas gaya menulis Seno yang sering saya gunakan pula)

Dalam hal kepenulisan enteng dan mudah dipahami tapi begitu mengena, Sudjiwotejo adalah ahlinya. Wayang Durangpo, adalah rubrik di salah satu koran yang rutin masih diisi oleh beliau. Buku-bukunya, sungguh laris, seperti Republik Jancukers. Tapi belum ada satu pun bukunya yang saya beli. Saya hanya sepintas baca dari pinjam. Bisa kalian baca sendiri di situs sudjiwotejo, bagaimana gayanya menulis. Akhir-akhir ini pun, saya menulis dengan terpengaruh gaya kepenulisan beliau agar tulisan saya tidak terasa terlalu berat bahasanya dan njlimet.

Bebrapa tulisan saya memang sengaja saya buat berkalimat rumit, sangat rumit, begitu rumit, bagaikan tiada lagi yang lebih rumit, sehingga dalam membacanya harus pelan dan teratur. Namun saya jamin kalimat yang saya susun insyaAlloh masih sesuai dengan kaidah pembentukan kalimat yang benar, meskipun itu bukan sepenuhnya kalimat yang baik karena dibutuhkan kesabaran ekstra untuk memahaminya. Seperti tulisan ini. Bagi orang yang tak terbiasa membaca tulisan saya atau tulisan orang-orang yang saya sebutkan di atas, melihat judulnya pun rasanya malas, apa lagi membacanya. Membaca memang butuh pengorbanan, pengorbanan waktu, pikiran, dan kenyataan bahwa yang membaca ternyata masih tetap tidak mengerti tentang apa yang ditulis dan dimaksudkan penulis. Seperti tulisan ini.

Sekiranya, sekian dulu guratan pagi hari saya, semoga memberi pengetahuan dan inspirasi baru bagi saudara-saudara, teman-teman yang suka menulis maupun yang belum suka. Semoga bisa menjadi rujukan bagi yang ingin mengetahui darimana kepenulisan saya bermula. Dan memang perjalanan menulis saya masih panjang, bisa jadi masih banyak tokoh-tokoh yang hendak diperkenalkan Tuhan kepada saya untuk menjadi inspirasi berikutnya.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi makhluk lain.”

Dalam kebermenungan di pagi hari
Setyoko Andra Veda