Rahwana Curhat

by membualsampailemas


“Dan sebuah fiksi, sebagaimana sebuah puisi, sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri”-

Goenawan Mohamad

(cerita ini digubah dan disusun berdasarkan sedikit percakapan dengan seorang sahabat karib, inspirasi dari wayang.wordpress.com, dan pengalaman di UK alias Universitas Kehidupan. Maaf telah bertindak sembrono dengan mengarang cerita fiksi, benar-benar fiksi dalam kisah Ramayana yang sebenarnya. Jadi jangan dimaknai sebenarnya. Mau diambil pelajarannya monggo, mau dijadikan hiburan monggo. Heuheu.. #salamrileks)

I

Suatu ketika, Rahwana itu curhat sama Kumbakarna, di sela-sela rerimbunan pepohonan di negeri Alengka yang lebat, sungguh rimbun, sangat rimbun. Kala itu, sudah hampir dua tahun Rahwana menculik Sinta. Tiap hari, tiap malam, hanya Sinta yang dipikirkan Rahwana. Cintanya kepada Sinta membuat Rahwana menjadi ‘gila’. Urusan negara udah gak begitu digagas. Tiap hari dia hanya memikirkan bagaimana agar Sinta bisa jatuh cinta padanya. Bingung!

“Adhimas Kumbakarna,..” celetuk Rahwana.

“Iya Kakanda Rahwana?” jawab Kumbakarnya.

“Aku harus bagaimana lagi ini? Rasa cintaku sama Sinta itu sudah sangat membuncah, sebegitu besarnya rasa cintaku di dalam dada ini sehingga setiap merem, sampai-sampai ketika berkedip pun, bayangan Sinta yang muncul di mataku. Tapi tiap kali aku ke taman kaputren untuk menemuinya, dia selalu memalingkan muka. Tiap hari aku sudah memberinya kembang, mengutarakan perasaanku yang terdalam, berbuat sebaik mungkin yang aku bisa untuk dia seorang, kubuatkan puisi, kuberikan mobil, merayunya pun aku gak terlalu gombal biar dia respek. Namun aku ndak bisa meluluhkan hatinya. Lihat nih, sebelumnya kan aku ndak pernah tampil necis begini, baru kali ini aku macak necis dan kece. Pun Sinta tetap ndak mau memperhatikanku. Aku hampir frustasi.”

“Wes too, Kakanda. Semua ada waktunya. Kalau kata mbah #jiwo itu, menikah adalah nasib, jatuh cinta adalah takdir, kita bisa merencanakan untuk menikah dengan siapa, tapi kita ndak akan pernah tahu kita akan jatuh cinta pada siapa. Begitu pula njenengan ini. Sekarang ini tinggal bagaimana menyelaraskan antara nasib dan takdir itu. Keduanya kelihatannya sama, tapi ya emang sama, hanya tulisannya yang beda.”

“Dhuh, njuk aku harus gimana ini? Aku merasa benar-benar patah hati. Apa aku harus mengembalikan Sinta aja ya seperti sarannya Wibisana?”

“Hmm.. ndak tahu sahaya. Mungkin baiknya begitu.”

Rahwana hanya manggut-manggut. Namun di dalam hatinya, dia benar-benar tulus mencintai Sinta. Tapi kala itu keinginan untuk memilikinya begitu tinggi. Cintanya yang sebenarnya tulus itu ternoda oleh nafsu memiliki.

“Adimas..padahal aku sudah berusaha menahan diri untuk tak sekali pun meyentuh Sinta. Aku ndak tega menyentuhnya. Apalagi berbuat kurang ajar. Benar-benar aku ndak mau menyentuhnya kalau hatinya itu belum kumiliki.”

“Lah terus?”

“Dia tetap ndak sadar dan ndak mengerti.”

Kumbakarna, dalam hatinya mbatin, lah cinta kan memang ndak bisa dipaksa. Bagaimana bisa mengerti, kalau dengan cara diculik begitu Sinta dibawa ke keputren Alengka.

“Adimas, apakah kamu pernah merasakan apa yang aku rasakan? Patah hati, begitu?”

Kini Kumbakarna yang keselek ludahnya sendiri. Teringat dia akan kisah cintanya yang kandas pula di masa lalu, pas dia masih SMA dulu. Sebenarnya dia ndak mau mengingat-ingatnya lagi, tapi bagaimana wong yang nanya itu kakaknya sendiri, raja Alengka.

“Ehm.. eee.. yaaa.. gimana ya.. Sebenarnya pernah.” Jawabnya rada gagap.

“Lalu?” Rahwana bertanya serius, mukanya benar-benar memperhatikan.

“Tapi gini, Kanda. Baiknya Kanda memohon pada Dewata, agar hati Kanda ini dibersihkan. Maksudku itu, kalau pun Sinta bukan jodoh Kanda, biarlah Dewata untuk mengangkat segala rasamu pada Sinta. Aku dulu ndak langsung terpuruk hanya gara-gara patah hati. Dulu aku bermohon sama Dewata, biar rasa cintaku dihapus saja kalau memang dia bukan jodohku.” Kumbakarna sok bijak.

“Begitukah?”

“He em.” Jawabnya dengan manggut-manggut semangat.

Rahwana lalu membalik badan dan pergi meninggalkan adiknya itu tanpa berkata sepatah kata pun. Menunduk dan merenung. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan. Kumbakarna melihati sang kakak dengan penuh rasa iba. Betapa cinta yang seharusnya membuat bahagia, tapi kali ini terasa bisa begitu menyakitkan, bagaikan tiada lagi yang lebih menyakitkan daripada rasa cinta itu sendiri.

**

II

Sementara itu, di keputren kerajaan Alengka, Dewi Sinta masih saja menundukkan muka sambil bersimpuh di bale-bale dekat kolam renang. Pepohonan nan hijau menyelimuti dan menjadi tabir yang senantiasa menutupi sela-sela langit agar terik Surya tiada membakar kulit. Di sela-sela waktu, Sarpakenaka mengubah wujudnya menjadi wanita cantik untuk menemani Sinta di keputren dan sekadar mengajak ngobrol. Sinta nyambung, tapi raut kesedihan tak dapat dipungkiri terkadang mengukir di wajahnya nan ayu. Wuih. Super sekali. #opoto

“Sinta, mbok ya mari jalan-jalan sama saya ke sekitar kota Alengka. Jangan terus-terusan di keputren.” kata Sarpakenaka.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku ndak mau terbiasa di negeri ini.”

Perkataan Sinta itu sedikit membuka tabir hatinya. Bagaimanapun, sudah hampir dua tahun dia disekap di dalam kaputren. Setiap hari Rahwana datang mengunjungi, memeberinya bunga yang wangi, dengan dandanan necis, mukanya pun gak jelek-jelek amat. Rahwana sungguh berperilaku baik pada Sinta dalam masa penyekapan ini. Tak pernah sekali pun dia menyentuh atau berusaha menyentuh Sinta. Tiap rayuannya, kata-katanya, puisi-puisi yang dibuat dan dibacakan, serta tindakan konyol si raja Alengka, adalah hanya untuk membuat gurat senyuman di wajah Sinta, agar si Dewi nan cantik itu mau sakadar melihat pada Rahwana. Namun semua itu sia-sia, Sinta terus-terusan menunduk ketika Rahwana datang. Dia gak mau menatap si Rahwana.

Perempuan manapun, yang jauh dari suaminya selama itu, pastilah merasa haus akan kasih sayang. Kini Sinta melihat Rahwana yang selalu berbuat baik, sementara suaminya, Rama, jauh di sana tak kunjung menjemputnya. Katanya titisan Wisnu.

Semua perbuatan Rahwana yang penuh kesantunan dan kelembutan kepada Sinta pada masa-masa itu, telah membuat Sinta terbiasa. Sebenarnya, jika Rahwana pergi menyambangi Sinta untuk sekadar memberi bunga dan Sinta menolaknya, Sinta tak sepenuhnya berniat menolak bunga itu. Dia terkadang melirik raut muka Rahwana yang kecewa ketika semua persembahan dan perlakuannya ditolak. Dan Rahwana selalu pantang menyerah untuk menunjukkan rasa cintanya itu. Sinta terkadang merasa kasihan dan iba.

“Apakah jalan-jalan barang sekali itu akan membuat terbiasa? Kan ndak to ya?”

“Aku takut, Nimas.” Jawab Sinta.

“Takut?” Sarbakenaka mengernyitkan dahi.

“Betul. Aku.. ah sudahlah.” Sesuatu tertahan di tenggorokan Sinta untuk diucapkan.

“Ceritalah, Dewi. Curhat gitu sama saya. Ndak apa-apa kok. Memang sih, curhat itu terkadang akan menyibak masa lalu yang ndak mau diingat-ingat, atau ibaratnya itu membuka koreng kita. Sakit juga. Tapi harus diingat, Dewi, bahwa terkadang koreng pun perlu dibuka dan dibersihkan agar lukanya lekas sembuh. Itulah curhat. Tapi, saya ndak memaksa pula kok.”

“Aku ndak tahu apa yang aku rasakan sekarang ini, Nimas. Sudahlah, tinggalkan aku dulu.”

Sarpakenaka melihati Sinta dengan tatapan iba. Dia benar-benar iba. Sebenarnya dia ingin sekali agar Sinta menerima pinangan kakaknya, Rahwana, tapi yang namanya cinta itu memang ndak bisa dipaksa. Lagipula, sebenarnya ini adalah isteri orang.

Sinta tak kalah bimbang, dalam hatinya selalu terjadi pergulatan hebat. Antara rasa kangen sama suaminya itu, Rama, dan rasa berdebar ketika Rahwana datang untuk sekedar memberi bunga. Apa yang sebenarnya dirasa Sinta? Apakah dia jatuh cinta pada Rahwana? Dia pun bingung. Tapi Rahwana sudah menculik Sinta dari Rama. Tapi Rama tak kunjung datang untuk menjemputnya, padahal dia sakti. Ah, bagaimanapun Sinta hanyalah wanita biasa yang memiliki rasa.

**

III

Di bibir pantai, di pinggir laut, Rahwana duduk sambil memandangi ombak yang bergemulung. Syahdu. Namun dia sendirian. Dalam kesendiriannya itu, dia mikir, apa yang harus dilakukannya untuk menaklukkan hati Sinta?

Sudah lebih dari dua jam itu dia sendiri dan bermenung. Dalam kesendirian dan diamnya itu, dia sebenarnya mengembara jauh, sangat jauh, begitu jauh, tak lain adalah dalam pikiran dan hatinya sendiri. Ndees, pengembaraan terjauh itu bukanlah kemanapun, melainkan ke dalam diri sendiri. Camkan itu.

Wanita itu susah-susah gampang. Sudah hampir setahun ini, Sinta benar-benar gak pernah membalas percakapan Rahwana. Dia hanya menunduk atau memalingkan muka. Terkadang Sinta melihat Rahwana tepat pada kedua matanya, tapi tatapan itu membingungkan. Ada sedih di dalamnya, tapi ada juga sesuatu lain yang ndak bisa dibaca Rahwana. Ah, memang wanita itu adalah tentang yang tidak terucap. Membingungkan.

Dalam kebimbangannya itu, sembari melihati garis cakrawala, Rahwana bergumam:

“Wahai Tuhan, jikalau Sinta memang bukanlah jodohku, mengapakah Kau tanamkan perasaan cinta menggebu yang besar dan begitu dalamnya tertancap di hatiku kepadanya? Engkaulah yang membolak-balikkan hatiku. Sungguh aku benar-benar tersiksa. Tak kurang-kurang aku berusaha.”

Hari itu, dia memutuskan untuk tak menyambangi keputren tempat Sinta berada. Dia kesal terhadap dirinya sendiri, terutama terhadap perasaannya yang tiada terkendali.

Saat bertemu Kumbakarna ketika hendak masuk istana, dia berpesan:

“Adimas, tolonglah aku. Ikatlah aku pada tiang istana yang terbesar, sampai aku benar-benar tak bisa lepas, agar jika keinginanku untuk melihat Sinta datang mengganggu, aku bisa menahannya! Agar aku dapat mengekang segala rasa yang terjadi di dalam diriku! Agar aku dapat menangkal rasa rindu yang mengganggu! Karena aku takut aku tak dapat menahan keinginanku untuk bertemu!!”

Begitu kagetnya Kumbakarna mendengar omongan kakaknya itu. Wuih. Kepyuur. Apa pula yang terjadi sama kakaknya itu.

“Ta..Tapi..” sahut Kumbakarna gelagapan.

“Aaah..sudahlah. Laksanakan. Jangan lupa tunggui aku di situ sampai satu minggu. Beri makan aku seadanya, jangan makanan istana biasa. Oke?!”

Akhirnya, Kumbakarna melaksanakan perintah kakaknya itu. Benar, dia ikat si Rahwana di tiang terbesar yang ada di istana. Sehingga jika pun Rahwana bisa lepas, tiang itu pastilah akan ambruk dan istana runtuh. Kumbakarna menunggui kakaknya itu untuk mengawasi dari belakang. Rasa kasihan benar-benar ada di dalam dada Kumbakarna, ketika melihat Rahwana murung dalam diamnya, tapi kadang juga berusaha lepas dari ikatan itu. Walaupun sakti mandraguna, Rahwana tetap tak bisa lepas karena ndak bisa menggunakan kesaktiannya tersebut. Karena sebenarnya, saktinya itu berasal dari hati, sedangkan hatinya kini telah dicuri oleh Sinta. #ambyaar

Ujian hidup macam apakah ini? Mengapa Rahwana yang begitu digdaya diuji dengan olah rasa?! Dan ternyata itu sungguh menyiksanya.

**

IV

Baru tiga hari. Tiga hari saja Rahwana tak kelihatan mengunjungi keputren tempat Sinta berada, karena memang dia sedang mengekang perasaannya dengan dijagai Kumbakarna. Namun perasaan Sinta sudah benar-benar tak menentu. Dia banyak mondar-mandir di sisi kolam renang yang jernih airnya itu. Dalam hatinya, dia cemas, mengapakah Rahwana yang selama dua tahun terakhir ini di tiap hari selalu mengunjunginya, kok sudah tiga hari ini gak kelihatan?

Jauh dalam lubuk hati Sinta, dia itu sebenarnya khawatir juga pada Rahwana. Apa Rahwana marah? Apa yang sedang diperbuat Rahwana sekarang? Mendadak perasaannya benar-benar galau. Dia merasa berdosa pada Rama, suaminya, karena telah berperasaan seperti ini sama Rahwana, lelaki lain.

Jika saja dia tak bertemu dengan Rama terlebih dulu, mungkin dia akan jatuh hati pada Rahwana. Tapi, ndees, perasaan seperti itu terus ditepis Sinta. Dia mengubur jauh-jauh perasaan itu. Sadar bahwa ia adalah wanita bersuami. Sayangnya Sinta tetaplah wanita biasa yang memiliki hati. Apa yang terjadi dengan hati Sinta?? Diam-diam, dalam lubuk hatinya, Sinta kangen Rahwana.

Minggu, 7 April 2013
Dalam permenungan tentang cinta
Setyoko Andra Veda