Imaji

by membualsampailemas


“Apakah aku membebani tulisan ini dengan makna yang berlebihan?”

Di tepian pantai berpasir putih, nama pantai itu adalah Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta, di kesorean hari yang akan berlangsung lembut. Hari sebenarnya belum benar-benar masuk pada sore. Aku pun sebenarnya tiada tahu apa itu pengertian dari sore, sejak apa hingga bagaimana, atau sejak pukul berapa hingga berapa, aku sama sekali tiada tahu. Lagi pula, orang-orang menyebut sore dengan sebarang perkiraan mereka, kurasa, karena sebutan untuk sebuah masa semacam pagi, siang, sore, senja, petang, malam, itu menggunakan rasa, kualitatif yang mana masing-masing orang berbeda. Apakah itu berarti soreku dan soremu berbeda? Ah sudahlah.

Masih sekira pukul 3, setelah siang yang teriknya cukup untuk membakar kulit agar nampak lebih legam. Aku duduk di hamparan pasir putih sendirian sambil menuliskan ini, dibawah naungan payung berwarna-warni seperti pelangi. Sesuatu yang klasik yang akan dilakukan kebanyakan orang, memandangi lautan lepas yang terhampar di depan mata, dengan ombaknya yang bergulung-gemulung merangkul permukaan biru itu hingga menyentuh bibir darat lalu menghasilkan buih dari samudera, lalu pasir putih yang halus nan hangat. Indah, begitu indah seluruh lukisan semesta. Kau harus tahu bahwa Tuhan memang benar-benar pelukis yang handal, dia Maha Detil, sampai guratan tulang dedaunan kering yang tergeletak di pinggir tempatku berdiam diri ini dapat terlihat jelas oleh mataku yang sunyi. Memandangi lautan lepas adalah hal yang menggembirakan buatku, sungguh menggembirakan. Aku merasa seperti sedang berkelana ke dalam diriku sendiri, mengembara tiada henti dan menemukan berbagai macam suara hati yang selama ini jarang kuperhatikan keadaannya. Termasuk dirimu, ternyata ada di sana.

Kau adalah salah satu daripada sekian banyak guruku, inspirasiku. Aku mensyukuri segala yang telah dikaruniakan Tuhan padaku, termasuk kau itu. Daripadamu, aku belajar banyak hal, sungguh banyak, begitu banyak, walaupun ternyata kebersamaan kita tiada terlalu lama. Bukankah masa yang pendek namun berkesan dan bermanfaat adalah lebih baik daripada masa yang lama tapi tiada berguna apa-apa? Dan aku bersyukur telah mendapatkannya. Pepatah klasik menyebutkan bahwa,

“janganlah bersedih ketika sesuatu yang baik itu akan atau telah berakhir daripadamu, tapi bersyukurlah karena hal itu pernah terjadi padamu. Bukankah bagaimanapun, hal baik tersebut memang baik adanya?”

Ah, lama sudah aku tak merangkai kata. Seharusnya kau melihatku ketika aku sedang merangkai berbagai macam kata yang kutemukan berserakan di dalam pikiranku. Sejatinya, kata-kata itu hanyalah kata-kata biasa, sangat biasa dan pasaran. Mereka bisa banyak diketemukan di lain tempat atau di pikiran orang lain, selain aku, di atas lembaran surat, di laman internet, di televisi, dan sebagainya. Namun dengan segenap daya dan upaya, kata-kata yang biasa itu dapat menjadi terbaca indah adanya hanya karena keterampilan menyusunnya, meletakkannya di antara kata-kata yang berbeda dan susunannya digubah sedemikian rupa, sehingga memang cantik rupanya. Juga tak dapat kupungkiri, bahwa susunan kata-kata biasa dan pasaran itu bisa menjadi begitu membingungkan untuk dibaca, karena aku menyusunnya dengan terlalu rumit dan membulat, memutar, padahal yang kumaksudkan hanyalah satu hal kecil. Karena terlalu banyaknya kata-kata sejenis yang berserakan di pikiran, dari pada kubuang, lebih baik kupasang di sini.

Perlukah aku menggambarkan bagaimana keadaan di pantai ini ketika aku sedang menulis? Kau pasti lebih suka melihatnya langsung daripada membacanya untuk mengimajinasikan keadaannya. Adapun terkadang dan memang seringnya, kata-kata terlalu berlebihan dalam menggambarkan sesuatu hal. Wanita yang biasa saja, bisa digambarkan begitu rupa cantiknya dalam rangkaian kata-kata berhiaskan majas. Percayalah padaku karena aku pernah melakukannya, dan itu takkan kuulangi. Lebih baik memandanginya melalui foto, ketimbang memandanginya melalui rangkaian kata-kata yang begitu banyak jumlahnya hanya untuk menggambarkan satu wajah saja. Jadi, aku berniat kelak suatu saat akan mengajakmu duduk di sampingku tepat seperti ini, di pantai ini, seperti yang kulakukan sekarang ini, di waktu seperti ini, dibawah teduhan payung warna-warni seperti pelangi, di hamparan hangat dan lembutnya pasir putih, untuk memandangi lautan lepas pada waktu sore hari. Aku benar-benar yakin kau akan takjub, begitu takjub, walaupun kau biasa melihat pantai sebelum-sebelumnya. Pantai memang selalu membuat terkesan siapa pun. Aku yakin itu. Akan kuajak pula kau ke tebing di sisi pantai, dan dari atas sana kita akan melihat seluruh pantai dari atap angkasa. Duduk bersama di atas kursi panjang, menikmati tiap hembusan angin yang menerpa wajah. Bercerita tentang apapun, bercengkerama, saling bergandengan tangan, memeluk dan mencium. Ah, imaji.

Imaji atau khayalan di manapun memang selalu memikat. Manusia kurasa lebih sering berkhayal mengenai keindahan, bukan tentang keburukan. Kan lebih berguna jika khayalan kita penuh dengan hal yang indah? Juga khayalan itu adalah satu harapan yang tersimpan di dalam dada, maka dengan harapan itu aku akan terus mengisi asa agar bisa membawamu kemari, hanya kita berdua bersama. Tapi khayalan pun kadang membuat kita terlena dan tak mau berusaha. Kita telah merasakan nikmatnya khayalan itu di dalam imaji yang semu. Aku pun takut jika menjadi seperti itu.

Dunia ini begitu luas, sangat luas dan tiada berbatas. Sekarang aku tak tahu kau berada di mana. Mungkin sedang duduk di satu zitje di sebuah mall atau di mana pun, dengan mambaca buku, ataukah bersama seorang pria lain. Biasanya kau menyandarkan kepalamu yang sering terasa berat itu pada pundak pria di sampingmu. Ah engkau ini. Atau sedang menonton filem di bioskop, atau sedang bekerja lembur, atau sedang makan, kau sekarang begitu jauh dan aku tak tahu. Jauh dalam artian, aku memang tiada tahu apa pun mengenaimu, bisa saja ternyata kau ada di sekitar sini sekarang, tak jauh, hanya beberapa kilometer, bahkan meter. Atau sedang berbaring tiduran di atas ranjang, bermalas-malas karena hari yang panas.

Aku bosan, sungguh bosan, begitu bosan pada suatu hal yang dinamai senja itu, yang sering dipuja. Aku tak mau membawamu kemari ketika senja tiba, karena aku bosan dengan semua itu. Aku ingin membawamu kemari dalam satu masa selain senja, tapi yang masih juga bisa dinikmati dengan seksama dan khidmat, seperti pagi setelah subuh, atau malam ketika bulan sudah membulat bercahaya keperakan, dan gemintang berkedip-kedip menggoda kita berdua. Imaji.

Ketika kutuliskan kalimat ini, sekira beberapa menit kemudian akan kulipat suratku dan kumasukkan ke dalam botol kaca dan kututup dengan gabus sampai benar-benar rapat. Kulemparkan ke laut lepas sejauh mungkin, terserah hendak ke mana, apa mau kembali atau pergi, apa mau hilang atau terketemukan. Kau adalah kau, bukan aku. Sedangkan aku adalah sang aku.

 

Dalam suasana sepi dan duka

Setyoko Andra Veda

9 April 2013