Malam dan Kepernahan

by membualsampailemas


Entah perasaanku saja atau memang malam ini langit benar-benar indah terlihat. Tuhan memang pelukis handal yang dapat melukiskan sedetil-detilnya benda. Bebintangan bertaburan di langit hitam kelam yang nampak sejuk dipandang, tiada awan yang menggantung di atap dunia malam ini. Semua bintang itu ditaburkan dengan tak beraturan, beberapa membentuk suatu konstilasi yang memenuhi imaji manusia dengan gambaran semu dewa-dewi, atau makhluk aneh yang semu, atau di laut sana para pelayar menggunakannya sebagai penunjuk arah yang pasti. Bulan setandan diletakkan di sebelah timur sana, seperti gambaran sebuah busur panah menyala yang mengarah ke cakrawala barat sana, dia begitu cantik rupanya dan jikalau bisa, akan kuambilkan bentuk itu dan kupasangkan sebagai bandul kalung di leher jenjangmu itu. Tahukah kau mengapa aku menulis ini? Karena aku yakin kau takkan membacanya, maka aku menuliskan segalanya dengan begitu rupa.

Ketika aku menulis ini, aku sedang berbaring di atas genteng rumah, memandangi seluruh langit sampai batas cakrawala mata sepuasnya. Seluruh bintang yang berkedip dan menggantung di sana, terrekam jelas dalam pelupuk mata. Beberapa diantaranya membentuk seperti wajahmu yang sendu sayu, mengguratkan kekhawatiran mendalam tentang sesuatu yang aku tak tahu. Senyum getir, mungkin. Namun aku menikmati pembaringanku ini. Dapat kulihat seluruh benda angkasa yang menggantung di langit malam kelam, dengan sejelas-jelasnya pandangan. Sebenarnya, ingin kuajak kau untuk berbaring tepat di sampingku sini agar kita dapat bersama menikmati segalanya begitu rupa jelasnya. Ah, engkau ini. Namun semua itu tiada akan terjadi karena memang kau tiada berada di sini, di sisiku.

Tahukah kau siapa yang menemaniku sekarang memandangi langit malam yang cerah ini? Seekor kucing hitam dan bermata kuning yang selalu kubelai kepalanya. Dia begitu setia di sampingku, mendampingiku menikmati keindahan langit yang sayu. Kucing ini begitu anggun dalam jalannya, terkadang dia berjalan lambat di atas genteng dan seperti berpose dengan latar langit kelam itu, dan aku menikmati pemandangan indah itu. Kubelai dengan lembut kepalanya, hingga ia merasa begitu nyaman. Terkadang kutanyai dia: “Hei, siapa namamu?”. Namun dia tetap saja diam dan tak pernah menjawabku. Aku memakluminya karena mungkin dia sedang lelah setelah seharian mencari mangsa dan berkeliaran entah kemana, sehingga enggan untuk sekadar kuajak mengobrol di atas genteng sambil menikmati keindahan semesta.

Angin yang menerpaku begitu lembut, sangat lembut seperti sedang membelai tepat di pipi kananku. Dia membelai mulai dari kening, pipi, dagu, lalu berlalu seperti kamu tiada pernah bertemu. Ya, sepertimu itu. Kadang tanganku kutengadahkan ke atas langit, seperti berusaha memetik satu bintang untuk kusimpan ke dalam saku, tapi yang kudapatkan adalah sentuhan lembut sang angin yang sendu. Dia terus membelai tiada bosan dan terus berlalu tiada kembali. Segalanya mungkin terjadi, tapi aku tahu bahwa angin itu takkan kembali padaku, atau aku yang tak tahu bahwa angin itu memang tak pernah terlihat oleh mata manusia dan sebenarnya pernah kembali? Entahlah. Kau pasti bingung karena kau tak tahu.

Seseorang pernah berkata padaku: “Hei, energi kepenulisanmu itu berasal dari kesedihan.”. Benarkah demikian? Sepertinya dia ada benarnya. Karena dalam sedih dan duka itu, aku lebih bisa merangkai kata yang rumit dan sulit untuk terpahamkan oleh para pemaksa. Sedangkan dalam gembira, aku tak sempat menuliskan barang satu kalimat karena aku terlena. Maka aku bermohon pada Tuhan pada satu waktu dulu: “Ya Tuhan, cukupkanlah bagiku rezekiku, janganlah Kau beri terlalu berlebihan sehingga aku terlena, namun janganlah Kau beri terlalu kurang sehingga aku tiada dapat berderma.”.

Dan kutemukan: ‘Ia mencintai dia sebagaimana dia pernah mencintai ia’. Kata-kata itu kurangkai sendiri dengan sumber inspirasi yang kutemukan dalam sebuah cerita pendek besutan seorang sastrawan tersohor yang kondang kaloka[1]. Kata-kata itu tak diketemukan begitu saja, melainkan dirangkai sedemikian rupa agar yang dapat memahaminya hanya beberapa orang yang tulus hatinya, bisa saja kau itu, atau bukan. Karena hati memang tiada yang tahu melainkan diri sendiri dan Tuhan. Kepernahan, adalah sesuatu yang terjadi di masa silam yang saat ini sudah tiada berlangsung syahdu sebagaimana dia pernah berlangsung, dan itu dapat kumaklumi. Namun, kepernahan itu sendiri adalah hal yang patut kusyukuri karena telah terjadi dan mengajarkan seseorang dengan berbagai banyak hal mengenai kehidupan, dengan berbagai macam perantara yang merupakan cara Tuhan dalam menyampaikan ajaran. Tidak semua orang memahaminya, tapi aku berharap kau memahaminya walaupun kau tak membacanya. Sesuatu yang pernah adalah sesuatu yang telah, dia tidak mungkin terjadi lagi, maka aku selalu mencukupkan segala yang pernah dan tak ingin mengulanginya lagi jika hal itu adalah keburukan. Namun, terkadang dan seringnya, keinginan itu berbantahan dengan kebutuhan.

Kucing ini tiduran di dadaku, dengan lembutnya dia mendesis lembut karena kubelai di kepalanya. Begitu syahdu. Andai kau ada di sisiku untuk melihati kejadian ini, pasti kau ingin pula si hitam manis ini untuk tiduran di pangkuanmu di malam hari cerah ini. Ah, engkau ini. Selanjutnya, biarkan diri masing-masing memahami segala yang terselip dalam tulisan ini, biar yang tak membaca yang menafsirkannya.

Lalu terdengar seorang berbisik di telinga kananku: “Sugeng nendra..[2]

Dalam pergulatan perasaan

Sabtu, 13 April 2013

Setyoko Andra Veda

  1. Begitu terkenal.
  2. “Selamat tidur..” (dalam bahasa Jawa.)