Anak Layangan

by membualsampailemas


Awan mendung menggantung, meraung dengan bahasanya sendiri. Kadang dijumpai oleh mata manusia-manusia bahwa di sela-sela mega itu terdapat kilatan cahaya terang seperti cambuk yang baru saja dilesatkan, bunyinya menggelegar, menggetarkan hati orang, memekikkan telinga dan menakuti siapapun. Bahkan, dulu bangsa Mongol pun takut akan suara dari balik awan itu.

Kalau sudah seperti ini, turunnya hujan adalah sebuah keniscayaan, meski banyak pula orang bilang bahwa mendung bukanlah selalu berarti hujan. Namun aku tahu, benar-benar tahu bahwa hujan akan datang, turun dengan caranya sendiri yang tentunya tidak secara perlahan, langsung menderas, mengguyur siapapun yang ada di kolong langit yang tidak mencari peneduhan. Angin adalah sahabat kami, mereka tak terlihat dan mereka kuat. Tanpa mereka, kami tak dapat menjadi penerbang. Ya, penerbang layangan. Dengan layang-layang berbentuk belah ketupat berukuran cukup besar yang kami buat sendiri rangkayanya dari bambu terlentur, menimangnya agar berada dalam keseimbangan kala terbang, mengikisnya perlahan dan meraut hingga halus rupawan dengan tiada taranya kelenturan serta keringanan agar dapat terbang melayang di langit dengan tiupan angin kencang, mengikat pada ujung-ujungnya dan membentuk segi empat yang teratur, berbentuk khas, lalu kami menyelimutinya dengan kertas koran. Tak mencolok mata, dan tak menarik mata, karena tujuan kami bukanlah itu, tujuan kami adalah menjaga daerah kekuasaan kami agar tiada layang-layang yang terbang di atas bumi tempat kami berdiri selain layangan kami. Selalu layangan itu akan merenggangkan senar tajam untuk kami adu dengan layangan dari anak-anak kampung sebelah yang senarnya terlalu panjang sehingga layangannya mengganggu wilayah kekuasaan, atau yang memang sengaja dikibarkan di atas bumi tempat kami berpijak. Bukan, bukan dengan cara kekerasan atau tawuran, melainkan dengan cara adu layangan. Itulah cara yang lebih terhormat. Itulah cara kami.

Layang-layang adalah ciri khas di kampung kami, bukan sekedar hiasan yang diterbangkan dengan berbagai bentuk yang diangan-angan lalu diwujudkan, bukan sekedar kertas terbang berwarna-warni dan berbunyi pita jepang, tapi lebih dari itu, layang-layang adalah kekuasaan. Senar untuk mengendalikan layangan adalah senjata yang tak kalah penting dibandingkan dengan layangan itu sendiri. Senar adalah mata pedang yang tajam, begitu tajam sehingga jika tak memakai sarung tangan beludru khusus milik tiap-tiap kamu, tangan si penerbang bisa tersayat dalam, begitu dalam dan menyakitkan.

“Mendung.” Celetukku.

“Awasi segala yang ada di langit, apakah itu burung-burung, pesawat terbang, dan yang paling penting, layang-layang. Tak ada yang boleh lewat di kawasan udara kita, di atas kita berdiri, melainkan layang-layang kita sendiri.”

“Tapi, kak, ini kan mendung. Tak ada yang menaikkan layang-layang. Sudah pasti hujan.”

Kakakku hanya terdiam, dia perlu menengadahkan kepalanya ke langit, bagai memandang dan meminta sesuatu pada Tuhan.

“Ayo pulang.” Ajaknya. Dan kami pun pulang sebelum hujan menyertakan dinginnya ke udara kolong langit. Layang-layang kami yang cukup besar namun berbentuk tak menarik itu kini berada di punggung kami masing-masing. Senar gelas yang baru saja kami ganti dan tentunya ketajamannya masih baru, dan tak getas karena banyak tertempa sinar matahari, kesemuanya telah tergulung rapi.

Kami berdua, aku dan kakakku, selalu memandangi langit di siang hari dari sebuah gubuk kecil di tengah sawah di kampung kami, kampung layangan. Kami hanyalah segelintir orang yang memepertahankan langit kampung dengan layang-layang. Masih banyak sekali pemuda desa lain yang seperti kami, pekerjaannya adalah mengawasi langit, membersihkannya dari segala hal yang terbang yang terlihat, agar kami dapat terus menikmati atap dunia yang menggantung tanpa tiang itu dengan lebih khidmat. Tak ada yang boleh lewat di atas bumi tempat kami berpijak. Sampai-sampai, para maskapai penerbangan manapun tiada akan ada yang berani melintasi langit kami: helikopter, pesawat, jet tempur, airbus, sukhoi, boeing, tak ada yang berani melintasi wilayah udara kami. Bahkan burung pun! Mereka tak berani terbang terlalu tinggi karena mereka akan tahu risikonya. Layangan! Jika burung-burung itu merani mengepakkan sayapnya di langit kami, layangan kami akan datang menghampiri, senarnya yang tegang dan tajam akan menjadi sandungan di langit bagi burung, mematahkan sayap, menyayat dan memotongnya. Tak ada yang berani. Senar kami bisa berkilo-kilometer panjangnya, menjulur dari bumi ke langit, hendak meraih langit bagaimanapun caranya, setinggi layangan itu bisa.

“Kak,..” panggilku.

“Apa?”

“Sampai kapan kita terus begini? Memandangi langit dan bermain layang-layang?” Tanyaku dengan penuh kewaspadaan. Kakak hanya terdiam dan meneruskan jalannya yang tiada lambat itu. Aku mengikutinya dari belakang. Mungkin itu adalah salah satu jenis pertanyaan yang tiada perlu dan tiada pernah akan dijawab.

 

Bintaro, 19 April 2013

Setyoko Andra Veda