Pundaknya di sebuah Café

by membualsampailemas


Jenny menangis dan dia berusaha menghiburnya dengan ia.[*]

I

“Kamu kenapa?” tanyanya kepada Jenny dari luar pintu kamar yang terkunci. Masih saja dengan mengetuk-ngetuk pintu, berharap akan dibukakan. Dia maih saja menunggui Jenny di depan pintu kamar cokelat yang di depannya tergantung berbagai macam tulisan khas remaja. Jenny masih saja sesenggukan di dalam kamarnya tanpa mau menjawab. Jenny merasa tak perlu menjawabnya karena Jenny merasa sudah tak ada lagi yang dapat diandalkan di dalam hidupnya sendiri, termasuk dia.

“Jen..Jenny..bukalah pintumu. Aku ingin memberi tahu sesuatu yang mungkin dapat menghentikan tangisanmu itu.”

Mendengar itu, Jenny merasa heran dalam tangisnya yang sedu sedan, ditutupinya mukanya yang cantik nan sendu itu yang kini terbalut lunturan air mata dari pelupuk mata, dengan bantal kesayangan, bantal dengan sarung bergambar strawberry. Tidak, tidak mungkin ada yang bisa menghentikan sedih ini, batinnya.

“Jenny.. baiklah kalau kamu tak mau keluar. Aku berikan sebuah alamat, ya? Nanti kamu datang saja ke sana. Kuselipkan di bawah pintumu.” kata dia dengan sedikit berteriak, khawatir Jenny tak mendengar, mungkin. “dan ingat, jangan melakukan hal-hal bodoh, jangan pernah berpikiran demikian. Aku pernah merasainya, Jen. Aku tahu. Sekarang aku tinggal dulu, mungkin kamu memang butuh waktu untuk sendiri.”

Dia meninggalkan sebuah alamat yang tertulis di selembar kertas binder, dan menyelipkannya dari bawah pintu kamar Jenny. Sementara itu, Jenny masih saja tak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh perempuan di luar pintu kamarnya itu. Dia lantas pergi.

Jennifer, biasa dipanggil Jenny, adalah temannya. Dia biasa memanggilnya Jenny sejak pertama kali berkenalan di sebuah café malam yang selalu penuh. Mereka bersahabat dan Jenny sangat nyaman dengannya, begitupun sebaliknya. Hingga Jenny berubah menjadi penyedih seperti sekarang ini, tangisannya selalu ada dimanapun pergi. Dia tiada tahu apa alasan Jenny menangis demikian, diputus pacarnya kah? Namun dia mengingat sesuatu mengenai kesedihan, yaitu seorang pria yang selalu menyediakan pundak untuk dipakai bersandar olehnya ketika dia bersedih. Dia mengetahui bahwa ia memiliki kekuatan ajaib yang dapat menyembuhkan dan melegakan siapa pun yang bersandar di pundaknya. Ia telah lama berlaku demikian. Dia pun mengetahui ia dari temannya yang lain yang ketika itu menyarankan agar dia pergi ke pria itu untuk menghilangkan kesedihan. Kini dia mengharapkan Jenny agar pergi pada pria itu.

II

Telah lebih dari 10 jam sejak dia meninggalkan Jenny yang mengunci dirinya di dalam kamar. Lama-lama Jenny pun jenuh dan lapar tentunya. Kesedihan, betapapun dapat melenakan seseorang dari rasa lapar dan sakit, karena sedih itu sendiri adalah puncak daripada segala rasa tak enak, tak ada yang lebih tak enak daripada kesedihan itu sendiri, sehingga sesiapa yang telah mencapai kesedihan itu, takkan dapat merasai apa pun yang lebih tak enak. Namun Jenny ternyata masih merasai rasa lapar, benarkah sedihnya itu? Sedikit jemu juga untuk menitikkan air mata. Bisa-bisa Jenny dehidrasi karenanya. Maka dari itu, Jenny memutuskan untuk keluar kamar.

Saat hendak keluar, Jenny teringat akan dia yang telah meninggalkan sebuah alamat. Dia selalu seperti itu, selalu semaunya sendiri, pura-pura tenang padahal sebenarnya hatinya gundah. Apakah dibenarkan sedemikian itu? Lantas Jenny mengambil secarik kertas binder yang bertuliskan sebuah alamat: Jalan Moestopo, Café Young, meja nomor 14 a.n. Mr.X. Nama itu terasa begitu asing untuknya. Namun dia meninggalkan sebaris lagi tulisan: Pria dengan jaket cokelat dan berkumis tipis.

Diam-diam, Jenny penasaran pada pria itu. Bagaimana bisa dia tahu bahwa ia akan berada di meja nomor 14 di Café Young? Apakah meja itu selalu ia yang menempati? Bagaimana bisa ada pria yang memakai jaket cokelat menerus di sana?

Kesedihan Jenny belum lagi usai, sesekali Jenny mengingat tentang ia yang lain yang telah menyakiti hatinya begitu rupa. Baru kali ini dia merasa ada seorang yang tega melakukan hal demikian padanya. Lantas, karena tak berpikiran panjang, Jenny memutuskan untuk mendatangi ia, pria berjaket cokelat di Café Young itu, malam ini juga. Pun karena penasaran sepertinya.

III

Jenny menelponnya, ternyata dia sedang bekerja dan tak bisa menemani Jenny untuk menemui ia. Dia bilang bahwa ia akan langsung mengenali orang-orang yang sedang bersedih hati dan berniat datang padanya. Dengan mengendarai mobil Yaris merahnya, Jenny melesat menuju Café Young.

Sesampainya di sana, Jenny agak ragu untuk masuk. Namun kesedihannya itu telah menguasainya begitu rupa sehingga dia membutuhkan segera tempat untuk menangis. Pundak? Mana pundak? Malu untuk menangis di depan umum. Seorang pria pelayan di café itu lantas datang menghampirinya.

“Nona Jennifer? Sudah ditunggu di meja nomor 14. Silakan…” katanya sopan.

Sontak Jenny kaget karena dirinya dipanggil dengan namanya sendiri oleh seorang pelayan café. Bagaimana ia bisa tahu? Apakah ia telah diberitahu oleh ia yang duduk di meja nomor 14 itu? Dan bagaimana pria itu bisa tahu bahwa namanya Jenny? Ah, apakah dia telah memeberitahu ia terlebih dahulu bahwa Jenny hendak ke Café Young? Banyak pertanyaan yang tak sempat terjawab oleh benak Jenny sendiri. Biarkan kesedihan menuntun Jenny untuk pergi menuju ke tempat di mana sedih itu berasal. Pria itu.

Meja nomor 14, pria berjaket cokelat dan berkumis tipis. Dia sedang duduk termangu sendirian, memandangi api lilin yang sedang menyala dan terkadang meliuk-liuk bagai penari yang menggoyangkan pinggulnya, sangat menggoda. Mukanya sama sekali tak menunjukkan raut sedih ataupun duka yang lain, melainkan hanya kebahagiaan yang tersembunyi dibalik senyuman yang terukir kecil di sela-sela ia punya bibir. Matanya terus memandangi nyala api lilin itu seperti memandangi sang kekasih, matanya memancarkan kebahagiaan.

“Mas?” kata Jenny menyapa penghuni meja nomor 14 itu. Ia masih saja memandangi lilin, sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya pada kursi panjang di meja itu. Sepintas lalu dengan cepat, pria itu memandang Jenny dengan penuh raut gembira, tapi tak dikeluarkan tawa maupun senyum, hanya raut muka yang tiada nampak kesedihan secuilpun di mukanya.

“Jen..??” sapanya ramah. Kesedihan Jenny masih terasa, masih terus saja merasa ini adalah omong kosong. Pasti dia sedang bersekongkol dengan pria ini, batinnya. Tapi semua pikir itu langsung Jenny tepis untuk kemudian langsung duduk di samping zitje dekat pria berjaket cokelat itu. Jenny menangis dan menyandarkan bahu pada pria yang tak dikenalnya. Dengan lembut, pria berjaket cokelat dan berkumis tipis itu membelai rambut Jenny, tanpa berkata sepatah kata pun lagi. Dan Jenny pun masih terus menitikkan air mata.

“Aku sebal..aku benci dengan orang itu!” kata Jenny dalam isakan tangis yang menyedihkan. Begitu menyedihkan. “Kan boleh aku menangis dulu di sini? Di pundakmu, mas?” tambahnya. Ia hanya mengangguk pelan sambil memandangi jalanan dari balik kaca lebar Café Young. Malam itu, Jenny terus menangi di pundaknya hingga ia benar-benar puas dan jemu untuk menangis. Kesedihan Jenny hilang semuanya setelah 1 jam menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.

“Terimakasih, mas.” Kata Jenny, lantas ia pergi begitu saja. Pria berjaket jokelat itu tersenyum ramah lalu memandangi lilin lagi. Terus seperti itu.

IV

Jenny dengannya suatu ketika berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan pada malam hari. Belanja, shopping, biasa, mereka perempuan. Sambil mengingat-ingat ia, dia masih saja memegangi ponselnya berharap ia mengirimkan pesan terlebih dahulu.

“Mr.X, mengapakah kau terus di meja nomor 14 itu?” gumamnya lirih. Jenny menyadari itu.

“Sekarang sudah saatnya kamu yang perlu bersandar di pundaknya, mbak.”

“Bukan. Bukan aku. Masih banyak orang lain yang membutuhkannya.”

Lantas barang beberapa meter, mereka melihat seorang lagi perempuan lain berbaju hijau menangis. Mereka mendatanginya dan berkata:

“Mbak, ini..” kata mereka sambil menyodorkan sebuah kertas bertuliskan alamat:

‘Jalan Moestopo, Café Young, meja nomor 14 a.n Mr.X’

*Dia adalah kata ganti orang ke tiga untuk perempuan,

Ia adalah kataganti orang ketiga laki-laki,

Jenny adalah Jennifer, nama seorang perempuan.

Bintaro, 19 April 2013

Setyoko Andra Veda