Pak Semar: Pernikahan itu…

by membualsampailemas


Satu waktu, aku mendatangi rumah pak Semar untuk ke sekian kalinya. Waktu itu pagi, sekira pukul delapan, aku telah sampai. Di sana, seperti biasanya, Pak semar sedang duduk-duduk di bangku panjang di depan pendopo rumahnya, sambil baca koran dan sesekali mengipas-ngipas. Bagong sedang thuthuk-thuthuk kayu, membuat ayunan di bawah pohon mangga yang cukup besar di halaman. Ayunan itu mungkin untuk tempat bermain anak-anak SD sebelah rumah, biar rumah tidak terlalu sepi.
Tak pernah aku bosan untuk pergi ke sana, karena di sana aku belajar, tentang apapun. Sambil mendengarkan lagu-lagu Kings of Convenience yang album Declaration of Dependence lewat headset, aku berjalan perlahan menuju pendopo. Belajar, sebenarnya tak hanya di sana saja aku belajar, tapi di setiap detik kehidupanku di manapun aku selalu belajar, tapi aku lebih sering telat menyadarinya. Aku memiliki guru bukan hanya Pak Semar itu, tapi seluruh manusia dan makhluk itu adalah guruku. Dari mereka semua, aku belajar. Aku belajar untuk bersabar dari seseorang yang kutunggu, aku belajar bersyukur dari orang-orang yang pernah menolongku, aku belajar menjadi teman yang baik dari teman-temanku, aku belajar menjadi pecinta yang baik dari kekasihku, aku belajar menjadi suami yang baik dari isteriku, aku belajar menjadi ayah yang baik dari anak-anakku. Semuanya adalah guru buatku.

“Assalamualaikum!” sapaku dengan melambaikan tangan dari jarak sekira 6 meteran hendak memasuki pendopo.

“Waalaikum salam.” Bagong menjawab sambil menoleh, lalu melanjutkan pekerjaannya. “Den, kemari lagi?” katanya sambil bersiap-siap memukulkan palu ke satu paku. Betapa paku rela untuk dipukuli palu.

“Ah kamu ini, ndak usah panggil ‘Den’, panggil aja ‘Ndees’.”

“Nanti aku dibilang sok gaul.”

“Hahaha, ya ndak to ya. Sudah sudah.”

Bagong memang selalu begitu, ngumbul-umbulke wong tibane dibanting. Perkecon. Tapi aku tahu itu semuanya hanya buat bercanda.

“Pak e! Gimana kabarnya?” tanyaku, lalu duduk di kursi depan beliau.

“Baik-baik, Le. Kamu?”

“Buyaar, Pak e! Kepyuur! Hahahaha” jawabku sekenanya. Pak Semar tahu kalau aku hanya bercanda.

“Le, aku ceritai kamu sesuatu.” Katanya.

“Apa to, Pak e?”

“Tiga hari yang lalu, ada seorang pria datang ke tempatku, dia pun galau luar biasa. Namanya Sukecu.”

“Ah, biasa itu, Pak e. Semua orang galau kok ya datangnya kemari, ya? Aku pun.”

Rumah ini bagaikan diri sendiri, beserta Pak Semar dan Bagong. Mereka selalu ada di manapun manusia pergi, khususnya aku. Petruk sama Gareng lagi merantau ke Jakarta untuk menjadi Komika.

“Ke mana lagi memangnya kalau bukan kemari?” Pak Semar mangajukan pertanyaan yang tak perlu dijawab.

“Iya juga si. Lantas, dia biacara tentang apa?” aku makin antusias.

“Dia bicara tentang pernikahannya.”

“Kehidupan rumah tangga?” aku makin tertarik.

“Dia bilang dia mencintai seseorang selain isterinya, Nak. Dia merasa bersalah terhadap isterinya itu. Pengennya si poligami, tapi dia ndak tega karena kalau dirinya cemburu saja rasanya begitu sakit, apalagi jika isterinya yang cemburu.”

“Patokannya dirinya sendiri, ya, Pak e? Hehe. Nibakke awak e dhewe. Tapi aku masih belum mudeng.” Aku menyandar. Pak Semar lalu membetulkan posisi duduknya, dia ingin bercerita dengan lebih nyaman.

“Nak, pernikahan itu apa, menurutmu?” tanyanya serius.

“Ikatan, Pak e.”

“Betul. Selain itu, menikah itu juga soal kesepakatan. Seperti halnya matematika, dia itu ilmu soal kesepakatan, bukan ilmu pasti. Menikah bukan ilmu pasti. Tidak setiap yang menikah itu akan saling mencintai selama-lamanya, sepanjang waktu. Makan tuh cinta. Ini beda lho, ya, dengan cinta terhadap Tuhanmu”

“Lantas?”

“Begini, sekarang aku ingin bertanya lagi, menurutmu mengapa manusia menikah? Mengapa tidak kumpul kebo saja?”

“Agama yang mengatur, Pak e. Jelas itu.”

“Betul, selain itu?”

“Emm..supaya berketurunan, mungkin?”

“Hmm.. Begini, nak. Manusia menikah itu untuk mengikatkan diri satu sama lain dengan pasangannya. Menikah memilki hakikat menyatu, bersatu, bersepakat untuk saling terikat. Maksudku, bersatu di sini bukanlah melulu benar-benar menjadi satu, tapi bersatu itu menjadi tak terpisah.”

Aku manggut-manggut menunggu perkataan darinya selanjutnya.

“Seperti halnya iman, cinta itu pun bakal naik-turun, tidak konstan dan linier begitu-begitu saja. Iman eksis karena adanya keraguan, justru rasa ragu itu yang membuat iman tetap hidup. Dengan begitulah Tuhan menguji hambaNya. Ada kalanya dia sedang tinggi, ada kalanya rendah. Cinta kan begitu pun? Itulah mengapa manusia, khususnya sepasang manusia, lelaki dan wanita yang saling mencinta memilih untuk menikah, karena mereka ingin mengikatkan diri. Yang dijaga apa? Bukan cinta, nak. Cinta itu adalah hal ke sekian. Itulah mengapa manikah adalah nasib, jatuh cinta adalah takdir; kamu bisa merencanakan menikah dengan siapa, tapi kamu tak bisa merencanakan hatimu itu untuk siapa. Lantas yang dijaga itu apa? Ikatan. Hubungan antara kedua belah jiwa, lelaki-wanita, melalui sebuah komitmen. Bahwa mereka tak akan meninggalkan satu sama lain ketika dalam kesusahan atau terlena dalam kebahagiaan, ketika kadar cinta mereka meninggi atau merendah.” Terangnya panjang lebar.

“Mudeng, Pak e. Apa kaitannya dengan laki-laki yang 3 hari lalu kemari?”

“Dia itu bimbang, begitu bimbang, bagaikan tiada lagi yang lebih bimbang. Senyumnya itu selalu terpahat di mukanya, tapi itu hanyalah topeng dengan ukiran terindah yang ia pasang di wajahnya, sementara matanya ndak bisa bohong kalau sebenarnya dia gundah. Dia mencintai seorang lain. Aku contohkan dia untukmu, nak.”

“Terima kasih. Aku pengen tanya, Pak e. Mana yang bener antara; Menikahlah dengan orang yang kamu cintai, atau Cintailah orang yang kamu nikahi?”

Pak Semar lalu tersenyum.

“Awas kamu, kemakan omonganmu sendiri, nanti.”

“Kemakan?”

“Kalau kamu pilih yang mana, Le?”

“Yaaa….emm..” aku pun bingung hendak menjawab bagaimana. Menikah dengan orang yang dicintai, atau mencintai orang yang dinikahi? Padahal rasa jatuh cinta itu kan yang mengatur bukan diri ini sendiri, melainkan Tuhan. Bukankah hati ini yang menggenggam Tuhan? Aku memandangi mata Pak Semar yang sayu itu, seperti orang sedih, tapi mulutnya selalu tersenyum.

“Bingung, Le?”

“Pol! Hahaha. Makanya aku bertanya to.”

Betapa di dunia ini segala pertanyaan dapat membuat diri menjadi bingung, melainkan jika diri itu telah sampai pada tahap kesadaran yang tinggi. Jadi, aku ini belum mencapai pada tahap itu karena aku sendiri masih sering meragu terhadap diriku, apakah aku seperti apa yang telah aku omongkan atau tidak? Sembada apa ora.

Pertanyaan yang kuajukan itu, agaknya mudah dijawab oleh beberapa orang, dan akan sulit dijawab untuk sebagian lain sisanya. Kali ini dari dalam rumah Pak Semar terdengar alunan musik yang lumayan enak di dengar, kalau aku tak salah itu adalah lagunya Mocca, band indie dari Bandung, judul lagunya Lucky Man.

Ndak ada hubungannya dengan percakapan ini, tapi pertanyaannya adalah, siapa yang menyetel lagu itu dari dalam rumah, sedangkan Bagong masih di halaman sana thuthuk-thuthuk kayu.

“Le, ingatkah akan cerita Rahwana dan Sinta?”

“Tentu, Pak e. Yang Sinta diam-diam jatuh hati pada Rahwana setelah sekian lama disekap itu, to?”

“Iya. Dari situ kamu bisa mengambil pelajaran apa?”

“Hmmm.. bahwa hati ini bukanlah kuasa manusia, Pak e.”

“Selain itu?”

Aku berpikir lagi, sambil memandangi meja kayu cokelat di depanku. Belum ada kopi di situ.

“Aaah, bahwa pernikahan Rama dengan Sinta telah menjadi pembatas atau pengekang hati Sinta agar tak jatuh ke rayuan Rahwana, mungkin? Sinta telah menikah dengan Rama, dan itu tak perlu disesalinya, kan iya? Dia sebenarnya tak perlu berandai-andai jika saja bertemu dengan Rahwana terlebih dahulu dan belum menikah dengan Rama. Walaupun dia mengandaikannya, tapi kan semua telah terjadi. Jika cerita itu benar-benar ada dan terjadi, Pak e, betapa merananya Sinta dan Rahwana yang terkekang cintanya satu sama lain gara-gara ikatan pernikahan Rama dengan Sinta. Aaah, mungkin itu juga adalah guna daripada pernikahan, janji, bahwa manusia itu tak bisa seenaknya berbuat ketika pernikahan telah dilakukannya bersama pasangannya, kan iya? Mungkin hati masih bisa berkeliaran tak menentu, tapi akal dan ikatan serta perbuatan kan masih ada? Jadi, menuruti hati saja, pun itu tiada benar.”

“Kata-katamu bagus, Le. Hal itu tak melulu diterapkan pada kata pernikahan saja, tapi pada keseluruhan yang berupa janji. Kamu harus terus belajar menerjemahkan bahasa kalbumu, bahasa pikirmu ke bahasa komunikasi. Kadang bahasa kalbu dan bahasa pikiran itu terlalu melesat jauh, sulit untuk diterjemahkan ke bahasa komunikasi, makanya sering ada orang yang belibet dalam menjelaskan sesuatu, padahal maksudnya sudah seperti ada di ujung lidah. Dan kamu, sudah lumayan lah.”

“Hehehe. Itu bener ndak?”

“Maksudmu aku sudah tahu. Bahasamu mungkin akan sulit dimengerti orang-orang lain.”

Dan ternyata yang nyetel lagu Lucky Man yang dinyanyikan vokalis Mocca dengan syahdu dari dalam rumah itu adalah seorang wanita berkebaya, masih begitu muda dan cantik yang aku tak tahu namanya siapa, rambutnya hitam dikuncir ke belakang. Dia mengantarkan 2 cangkir kopi, buatku dan Pak Semar, juga ketela goreng. Begitu enaknya main ke rumah ini. Wanita muda berkebaya itu masuk lagi ke dalam rumah.

“Dia itu siapa, Pak e?” tanyaku.

“Ponakan. Jangan mikir macem-macem. Dia sudah dilamar orang, bulan depan bakal kawin.”

“Hahaha..Asem!”


Setyoko Andra Veda
5-6 Mei 2013

Dalam rangka berusaha menebus kesalahan