Bagaimana Aku Tidak?

by membualsampailemas


catatan:
*dia = kata ganti orang ke tiga wanita
*ia = kata ganti orang ke tiga pria

 

Dia membangunkan ia dari tidur sepintas lalu di lantai yang seolah beku, sama seperti saat dia membangunkanku dari tidurku yang sebentar itu dulu.

Ia terbangun, bangkit dari caranya tidur, tepat saat dia memegangi tangan ia lalu menepuk-nepuk lengannya secara perlahan dengan penuh kasih sayang. Dari sisi remang kegelapan aku menyaksikannya, lalu ketika aku mengedip, sepintas di pelupuk mataku terlintas sekantung kenangan di masa silam yang pernah menjadi bunga di kepala, bunga itu persis seperti yang kusaksikan nyata di depanku saat ini.

Sadar atau tidak, ketika ia mulai memejamkan kedua mata dan berusaha untuk terlelap barang sejenak di lantai beku itu, sebenarnya betapa dia selalu memandangi wajahnya, orang yang sedang tidur itu, dengan penuh perasaan. Aku memang hanya menduganya, dan mungkin dugaanku itu adalah benar pengetahuan buatku karena dia pernah mengatakan hal itu padaku dulu. Bukan hanya itu, cara dia mencintai ia adalah cara dia mencintaiku.

Tatkala kenangan masa lalu muncul kemudian merangsang rasa rindu untuk tumbuh berkecambah di tanah hati, ketika itu pun aku harus menikam tanah itu dengan pasak takdir yang runcing di bawah, agar tunas rindu yang kecil itu seketika mati. Betapa aku melakukannya berulang-ulang kali. Manusia pasti pernah merasakan betapa kata-kata dapat menjadi alat penghubung di antara mereka, dan betapa kata-kata itu dapat membuai kemudian menjadi alat membohongi yang nyata, termasuk kata-kata ini. Ada kalanya, bukan aku tak ingin bertanya mengenai ini semua, hanya saja aku sudah terlalu lelah merasakan segala.

Mengais-ngais sisa senyummu di terik bulan adalah jiwa pemulungku yang tabah, Kekasih.. – sudjiwotedjo

Sakitnya sakit terdapat di dalam dada, ketika rasa telah terkoyak sedemikian rupa sehingga tiada sakit lain lagi yang bisa terasa melebihi itu karena diri telah mencapai puncak daripada sakit itu sendiri. Puncak adalah pencapaian paling akhir, tiada yang lebih tinggi dari puncak melainkan jika kita dapat terbang. Tapi aku tak bisa terbang, maka pilihannya adalah turun dari puncak itu sendiri.

Dan sekarang ini, dengan setiap hari melihati dia dengan segala cinta yang membuatnya bahagia, karena ia pun mencintai dia seperti aku mencintainya, tentu aku bahagia. Namun kalimat itu menjadi hancur lebur tatkala diselipkan makna oleh beberapa manusia mengenai kalimat itu: kamu tau betapa sakitnya aku. Dengan segala rasa sekarang ini, bukan tidak mungkin rasa kecu masih ada di dalam hati. Jika aku tak mencintai, bagaimana bisa dia dapat sebahagia ini. Merasakan kecu adalah menjancukkan dia untuk telo.

Asu tenan. Heuheu.

Setyoko Andra Veda 

Dalam kebermenungan sendiri