Akhir suatu Masa

by membualsampailemas


Waktu itu, di Puspitek Serpong, entah tanggal berapa. Di akhir tingkat 1 sebagai mahasiswa. Kami duduk melingkar sebelum pulang dengan metromini sewaan, yang mana nantinya akan mogok di jalanan, bahkan sebelum keluar gerbang. Kami kelas 1E, nama kerennya SEA, jaketnya berwarna abu-abu, lengannya kepanjangan dan baru jadi kala itu, kalau tidak salah. Sebelum insiden metromini mogok, kami menyempatkan untuk saling memberi tulisan sekadar. Aku lupa telah menulis apa untuk siapa dan seperti apa, tapi aku selalu ingat mereka menulis apa untukku. Terimakasih.

Di akhir tingkat 2 sebagai mahasiswa, nama keren kelasnya PDF karena kamu kelas 2F. Bukan di tempat makrab, bukan di tempat romantis, hanya di lobi gedung I kami melingkar setelah sebelumnya di kelas tapi di usir oleh CS. Tak apa. Warna-warni kertas dan akan dipenuhi tulisan komentar-komentar diri. Sophomore memang selalu paling asik. Di tingkat 2, mendapatkan teman yang asik untuk mengobrol dan hangout adalah suatu anugerah indah dalam hidup. Semoga mereka tak kan melupakanku, karena aku tak akan melupakan mereka.

Taman CD seusai ujian terakhir sebagai mahasiswa d3. Dinaungi rerimbunan dedaunan dari pohon-pohon, awan menggantung tinggi di langit sana. Daun-daun pun berguguran tertiup angin yang akan menghantar hujan ke tempat kami. Tingkat 3, nama kelasnya Heroes. Saling menulis pesan kesan antara satu sama lain. Lalu pindah ke lobi gedung L karena hari mulai menghujan, walau nyatanya tidak.

Segalanya ternyata telah mencapai pada satu titik dimana kedewasaan diuji. Di setiap masa, manusia mengalami pengalaman yang berbeda, ujian berbeda, ilmu yang berbeda, dan sebagainya. Pengalaman ada yang baik ada yang buruk, semua itu adalah cara Tuhan untuk mengajari manusia tentang kehidupan. Entahlah aku telah lulus atau belum dalam ujian kehidupan itu, tapi semua nampak sudah pada penghujung daripada suatu masa dan akan memasuki masa lain. Anehnya, diri ini merasa tidak berada di ujung, melainkan baru saja memulai sesuatu yang sangat besar. Entah apa itu. Tak ada rasa sedih karena akan berpisah dengan teman-teman seperjuangan, tak ada rasa apa pun. Semuanya biasa saja, seperti hari-hari lain sebelumnya. Sempat bertanya pada dalam diri, apa sudah mati rasa? Entahlah. Namun yang kutahu bahwa, perkuliahan sebagai mahasiswa d3 telah berakhir, sampai bertemu sebagai mahasiswa d4 beberapa tahun lagi. Hai, teman, selamat telah mencapai penghujung perkuliahan. Jika sedih karena nampak sudah berakhir, itu wajar. Tapi kita telah melaluinya berulang-ulang kali. Mungkin ini juga yang membuat setiap perpisahan yang kualami menjadi biasa.

Pertengahan tahun 2004, perpisahan SD. Tahun 2004 juga adalah tahun bersejarah, 30 April 2004 tepatnya. Lalu perpisahan SMP yang dibarengi dengan pengumuman nilai UN. Aku dan teman-teman berpelukan. Kemudian perpisahan SMA, baju hitam putih dan dasi di dada. Lalu sekarang akhir masa perkuliahan sebagai mahasiswa d3 dan itu biasa, dalam arti perasaanku ini biasa-biasa saja.

Mengapa biasa? Karena aku dan teman-temanku tetap terhubung hingga sekarang, teman SD, SMP, SMA, perkuliahan ini, dan sebagainya. Biasa karena aku tak takut kejauhan daripada suatu jarak yang nyata karena ada alternatif internet sebagai sosial media, melainkan takut pada kejauhan daripada suatu hati ke hati.

Dan segalanya biasa, terbiasa, begitu biasa, bagaikan tiada lagi yang lebih biasa daripada suatu perpisahan. Apakah ketika mati nanti akan menjadi biasa?