Sekantong Kenangan

by membualsampailemas


Akhirnya malam tiba juga, membawa sekantong kenangan yang selalu dia bawa. Malam yang kunantikan karena membawa hujan, hujan yang dulu itu, yang dulu kau suka. Akhirnya malam tiba juga, memperkosa seluruh angkasa menjadi gelap adanya, dengan mega menggatung di segala penjuru hingga ke tepi langit. Udara dingin seluas musim, menyibakkan jiwa yang pengap.

Kala itu kita berdua tenggelam dalam kata-kata yang tak pernah bersuara. Mereka takkan pernah kita dengar. Begitu banyak, sangat banyak kata-kata itu, sampai-sampai mereka luber dari wadahnya. Namun tetap saja mereka tak bersuara. Sementara kita berdua hanya menanti waktu untuk menghadirkan berani di dalam diri yang tak kunjung datang, dan memang sulit datang kembali seperti kemarin dulu juga lagi.

Tak ada suara, segalanya nampak sunyi, begitu sunyi, bagaikan tiada yang lebih sunyi lagi dari ini, melainkan yang ada hanya katak-katak bernyayi. Mereka bersahutan menyambut datangnya musim penghujan. Tanah kembali basah, sawah kembali terisi, rerumputan menemukan jati diri mereka kembali. Cokelat di hamparan padang telah menghilang, diganti dengan hijaunya rumput seluas lautan. Dedaunan basah yang ditelan malam, baunya terkandung di dalam udara malam. Kita menghirupnya bersamaan, berbagi nafas berdekatan.

Masih dalam keadaan tenggelam di tengah lautan kata, aku berusaha mengambil kata sedapat kukena, lalu berusaha memasukkannya ke dalam mulut agar bersuara. Dan ternyata yang terdengar dari mulutku adalah namamu:

“Kinanti…”

Kau mengangkat mukamu yang ayu, sayu dan sendu dari ketertundukan di dalam mulut malam. Matamu bagai bintang yang terang di tengah kegelapan. Lalu kita kembali tenggelam dalam kata-kata tak bersuara. Mengais-ngais sisa keberanian di dalam hati seperti ayam mencari makanan. Aku dan dirimu berlomba dalam menemukan keberanian, tapi tiada satu pun diantara kita berdua yang menang, karena kita sudah semakin tenggelam dalam lautan kata seiring berjalannya waktu yang terus melaju. Tak akan ada lagi kata yang bersuara, tak akan ada lagi keberanian yang terketemukan. Yang ada hanya titik-titik air sendu yang turun dari langit, bau dedaunan basah di dalam perut malam larut, suara-suara katak yang bersahut-sahut, dan desau nafas yang keluar bergantian dari mulut. Segala itu kini terbungkus di dalam sekantong kenangan, bersama udara dingin seluas musim yang selalu dibawa sang malam.

Setyoko Andra Veda

17 Mei 2013

Dalam kesenduan di kala hujan, dengan Payung Teduh di sekeliling telinga