Sekadar Lukisan Kata

by membualsampailemas


Kala senja menjelang, pagi telah pergi sedari tadi, namun mereka selalu datang silih berganti tanpa pernah datang bersamaan kembali. Mereka ialah sejatinya sama, hanya saja terpisahkan oleh ruang dan waktu. Semua adalah kehendak Sang Kuasa.

Aku menanti senja sembari duduk menghadap ke barat di sebuah bangku yang agak panjang menghadap pantai yang ombaknya berdeburan menyapu sang pasir putih yang kini berwarna kecoklatan karena sinar. Aku menanti senja dengan segala waktu yang tersisa, senja yang indah, senja yang cerah, senja yang berwarna merah, dengan sepuhan gemulung awan perak mengitari sang mentari yang hendak pulang namun tuk kembali. Saat itu senja sedang memperlihatkan kecantikannya, keindahannya yang menawan hati siapa saja yang melihatnya. Sang mutiara dunia perlahan menguning, lalu memerah, tanpa ada awan yang menghalangi perginya ke ufuk barat samudera. Langit kelam telah menanti di sisi timur beserta setitik bintang yang bersinar terlalu dini petang ini. Hembusan angin yang menerpa wajah membuat suasana dingin mulai terasa di kulit, sesungguhnya belum lah benar-benar dingin di luar sini, namun panas pun sudah tiada terasa.

Terlihat dari kejauhan, seorang perempuan berjalan kearahku dengan lenggangan, pakaiannya yang putih nan longgar dan tertiup angin membuat pemandangan indah tiada terkira, rambutnya yang hitam pekat itu melambai-lambai karena angin samudera meniupinya menerus. Dia berjalan tanpa alas kaki, menapaki butiran demi butiran pasir putih yang kini kecoklatan, betisnya yang terlihat separuh dan sungguh indah itu bagaikan pualam di tengah hamparan senja terindah yang pernah terlihat di dunia.

Iklan