Tausiyah Kepenulisan Malam Ini

by membualsampailemas


Begitu bahagianya aku, ketika mempu menginspirasi orang lain, entah ia temanku atau bukan, entah kenal atau sekadar tahu atau tidak sama sekali. Namun, ketika ada seseorang di seberang sana yang diam-diam memerhatikan segala karyaku, atau paling tidak satu-dua karyaku sebagai rujukan, referensi, inspirasi, atau pemacu daripada karyanya, tentu saja dalam hatiku aku bahagia, sangat bahagia, begitu bahagia.

Sayangnya, aku tiada tahu apakah memang ada manusia di seberang sana yang terinspirasi oleh karya-karyaku selama ini, atau paling tidak benar-benar membacanya. Dan sekarang ini aku berpikir bahwa, lebih baik aku tak tahu sama sekali mengenai hal itu, daripada aku tahu dan lantas membuatku besar kepala dan sombong, atau bahasa mudahnya: terlena. Tapi dengan segala ketulusan dan kejujuran mendalam, aku sangat ingin menginspirasi banyak orang dalam berkarya atau berbuat, aku ingin menjadi penghantar ilmu, pemacu semangat, musabab untuk berbuat lebih baik, dan lain sebagainya, untuk banyak orang lain.

Sebagai seorang yang suka menulis, entah itu pandangan atau cerpen atau sekadar kata-kata puitis yang tiada berarti, aku pribadi sangat mengharapkan karyaku tentunya dibaca oleh orang-orang yang memang ingin membaca, dan bukan sekadar terbaca. Pernah satu ketika rasa penyesalanku datang, tatkala Mia, teman satu kelas yang selalu cantik dan ceria, menagih sekuel cerita “Kusumaningwigati” yang baru sampai bagian ke-13. Padahal, sebenarnya bagaian ke-13 itu masih jauh dari tujuan cerita, sedangkan aku masih buntu dalam menuliskan cerita selanjutnya. Tantangan berat ketika harus menulis cerita bersambung. Dari situ, aku tahu aku memiliki pembaca dan aku telah mengecewakannya. Maka dari itu, aku sekarang lebih memilih menulis cerita-cerita pendek, atau sekadar analogi yang tersirat, atau pandangan, atau curahan hati, yang kira-kira pendek dan tiada terlalu membosankan untuk dibaca.

Dalam pemahamanku, sebagai seorang pembaca juga di lain sisi, bahwa membaca sesuatu yang panjang dan sebenarnya tak diniati adalah sesuatu pekerjaan yang berat. Aku pernah mencobanya, ketika satu saat mencoba berselancar ke berbagai blog di wordpress yang menuliskan cerpen-cerpen. Dari situ aku tahu bahwa membaca cerpen memang butuh satu niat ekstra jika memang sedang tidak dalam mood untuk membaca. Jadi, seperti halnya menulis, membaca pun butuh mood, kan iya? Dan juga bahwa, dalam pengamatanku, satu tulisan yang hanya sekadar sepintas lalu seperti tulisan ini, apalagi di dalam blog yang notabene banyak pengunjung yang memang secara tak sengaja dalam membacanya, kurang lebih haruslah berisi paling tidak 500-600an kata. Tak sulit untuk menghitung kata jika kita menuliskannya di aplikasi seperti Microsoft Word.

Satu hal yang mungkin harus menjadi catatan orang-orang yang membaca ini, bahwa jika ingin menulis satu karya memang terlebih dahulu sebaiknya dibayangkan dulu keseluruhannya. Bukan hanya sekadar membuka Microsoft Word lalu menulis. Memang bisa tiba-tiba muncul suatu ide, tapi kemungkinan terselesaikannya menjadi kecil. Pun tak semua penulis semacam itu, artinya ada juga yang menggunakan metode tadi selama ini dalam menulis.

Inti dari menulis satu karya, entah itu cerita atau pandangan, adalah membuat orang lain terinspirasi ketika membacanya. Hal tersebut sungguh sulit, aku pun tak selalu bisa dan mungkin jangan-jangan belum pernah melakukannya. Semisal suatu cerpen, biasanya berisi satu cerita yang merupakan satu adegan kecil dalam kehidupan namun memiliki satu ajaran moral yang dapat dipetik darinya, entah itu tersurat maupun tersirat. Kata Goenawan Mohammad di satu artikel Catatan Pinggir:

Dan sebuah fiksi, sebagaimana sebuah puisi, sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri.

Hal yang kuungkapkan di atas bukanlah satu pakem dalam menuliskan suatu cerita, tapi lebih merupakan nasihat yang tulus sebagai seorang teman sesama penulis amatiran. Memang dalam hal menulis, penulis itu bebas sebebas-bebasnya untuk menuangkan buah pikirnya ke dalam bahasa tulis, bahakan bahasa tulis pun kadang sampai tak sanggup menampung bahasa pikir, alhasil, puisi lah yang terbentuk. Dan itu semua adalah bebas.

Jadi, dengan mendekatinya jumlah kata-kata di dalam tulisan ini yang telah menyentuh angka 600, maka kuakhiri tausiyah kepenulisan malam ini yang masih membahas hal yang sebenarnya sama dengan sebelum-sebelumnya.

Setyoko Andra Veda

20 Mei 2013