Tatkala Minke Melamar Ang san Mei

by membualsampailemas


Bagian daripada secuil bab 4 pada roman Jejak Langkah, oleh Pramoedya Ananta Toer. Berikut ini adalah percakapan Minke yang membujuk Ang san Mei untuk menikah dengannya. Tatkala itu adalah liburan besar pada sekolah Minke (S.T.O.V.I.A), maka ia mengajak Mei untuk berlibur ke kota B. menjenguk sang Bunda. Kemudian mereka berdua memerlukan untuk mampir ke Jepara bertemu dengan Kartini. Setelahnya, mereka berkereta untuk pergi berpakansi (berlibur) ke Bandung. Ini merupakan salah satu bagian yang saya suka, dari sisi romantisme si Minke.

Jadi berpakansilah kami ke Bandung.

Mei sangat gembira dengan perjalanan itu. Tetapi ia tetap kurus dan pucat. Anaemia, kekurangan darah, kepucatan kesakit-sakitan. Sepanjang perjalanan ke Bandung ia bercericau mengagumi pemandangan. Sampai pada waktu itu ia masih tetap malu berbahasa Melayu, sekalipun aku sudah mencoba-coba memulai. Ia terus bercericau, berkecap-kecap. Aku hanya diam memperhatikan.

Seorang gadis dari negeri jauh, mengikuti tunangan dalam perjuangan. Tanpa sanak tanpa keluarga. Dibesarkan dalam rumah yatim-piatu biara. Dan aku tergila-gila padanya. Barangkali dia tetap mencintai kekasihnya dulu, juga arwahnya. Mungkin ia selama ini menunggu-nunggu datangnya lamaranku untuk kontan dapat menolaknya. Dan aku, seorang jantan, pengagum kecantikan pemuja kecantikan, tak pernah mencintai dengan cinta sebagaimana banyak telah diceritakan orang, lisan atau tulisan, tak dapat tidak mesti tergila-gila pada gadis cantik dalam klasnya yang tersendiri ini.

Kadang-kadang aku mencoba menerka makna diriku untuknya, dan aku tak dapat. Aku, seorang yang bercita-cita jadi manusia bebas. Dia sudah sejak mula telah mengkoreksi kekeliruanku. Sebaliknya aku lihat dia seorang gadis sederhana dengan kepala penuh idealisme. Dan bagaimanakah dia anggap dirinya sendiri? Aku pun tidak tahu. Barang tentu dia akan menganggap dirinya cantik, sebagaimana setiap wanita muda sewaktu berdiri depan kaca, dan mengampuni kekurangan-kekurangannya sendiri. Kalau itu benar, mungkinkah dianggapnya aku hanya budak kecantikannya?

Ia tarik mukanya dari jendela.

“Kau memandangi aku saja,” katanya malu. “Kau sedang berpikir apa?”

“Aku pikir, sekiranya kau sekarang ini sudah jadi isteriku.”

“Bukankah kau belum lagi melamar?” tanyanya. “Di depan ibumu ….”

“Kau takkan tertawakan lamaranku? Di atas kereta api begini, Mei?”

Ia menuduk, mempermain-mainkan jari-jari di atas pangkuan. Dan dengan mata tertutup pun aku tahu, dia sedang menyembunyikan perasaannya. Sudah aku perhatkan, percakapan semacam itu akan selalu membikin ia kembali bergayutan pada kenangan lama, pada sahabatku mendiang.

“Kau sudah suka tinggal di Hindia dan pada Hindia, bukan?”

“Bagiku sama saja di mana saja. Di mana ada sahabat, di situlah negeriku. Tanpa sahabat, semua ini takkan tertanggungkan. Di negeri sendiri pun bila tanpa sahabat….”

“Mei, sukakah kau jadi isteriku?”

“Aku begini kurus dan tak sehat. Semua bilang aku kurus.”

“Aku akan jadi doktermu yang baik.”

“Enam-tujuh tahun lagi?” dipandangnya aku, kamudian ia pindah duduk di sampingku dan berbisik dalam gumulan riuh dan derak-derak gerbong, “Kau akan menyesal memperisteri aku, Minke. Kau akan mendapatkan banyak kesulitan. Bagaimana pun kalau aku sudah segar kembali, aku akan suka sekali dan harus bisa membantumu. Hanya, dapat kiranya kesehatan yang indah itu datang lagi padaku dan jadi milikku?”

“Kau sudah lebih sehat daripada enam bulan yang lalu.”

“Aku akan suka menerima lamaranmu, Minke. Aku akan sangat berbahagia. Tapi, mungkinkah itu?”

“Kau sendiri tahu, aku dan kau tak suka berlarut.”

“Pikirkan lebih luas, jauh, lebih mendalam. Apa arti aku bagimu? Kau lebih dibutuhkan bangsamu daripada olehku. Lihatlah hutan-hutan itu.”

“Sekarang ini tak ada satu pohon pun di dunia ini punya sangkut-paut dengan kita.”

Aku pegangi tangannya yang kurus, dan tangan itu gemetar. Hatinya telah menerima lamaranku. Otaknya belum, barangkali.

Mengetahui aku diam saja, mulai ia bicara seperti seorang ibu pada anaknya, penuh kasih-sayang dan kekuatiran:

“Enam atau tujuh tahun mendatang kau akan jadi dokter. Sebangsamu yang sakit akan datang padamu. Mereka semua miskin, tak ada yang mampu membayar kau, karena kau tidak bermaksud untuk mencari kekayaan, bukan? Maka kau akan menjadi bagian dari kemiskinan umum bangsamu. Patutkah aku membebani lebih berat? Tidak, aku kira. Kemudian engkau akan lebih mengerti bukan saja badan bangsamu yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan akan ilmu dan pengetahuan. Dan kau akan mengobati juga jiwanya sehingga jadi bangsa perkasa karena kau. Apa yang aku bisa perbantukan padamu? Aku tahu, kau mengerti kemungkinan itu,” ia menarik nafas-pendeknya dalam-dalam. Kemudian meneruskan, “Sekarang ini mungkin kau akan bertanya pada diri sendiri: jadi, apa yang mengikat kita berdua sekarang ini kalau bukan haridepan?”

“Mei kalau begitu kau memang setuju kalau kita kawin.”

“Ibumu sangat baik, Minke,” ia menjawab.

Dan dengan demikian perkawinan kami dilaksanakan di hadapan seorang lebai. Ini terjadi di luarkota Bandung, pada jam sembilan pagi ….

Bisa dimaklumi, penggunaan bahasa Indonesia kala itu tidak seperti sekarang. Mungkin banyak kosa kata aneh dan susunan kalimat yang sekiranya kurang lazim dalam bahasa Indonesia sekarang kebanyakan yang digunakan di berbagai karya sastra prosa. Semisal kata “pakansi” yang berarti liburan dan “lebai” yang berarti penghulu di suatu distrik.

Demikianlah bagian itu, ketika hidup Minke memasuki masa baru, pernikahan dengan Mei, yang mana pemikiran Minke akan mulai lebih terbuka sejak saat itu tentang pergerakan nasional.

Iklan