Pesanan Kata

by membualsampailemas


Aku biasa memanggilnya Kak Za. Dia memintaku membikin kata-kata, entah disebut apa, padahal belum pernah aku sekalipun menemuinya. Lantas lirik-lirik Payung Teduh terngiang-ngiang, gaya SGA pun melayang-layang di pikiran.

Siang telah jatuh karena ia sudah jenuh, kemudian semakin menjauh. Lalu malam terbit dari sisi timur langit dengan membaawa kelam sengit. Dia menyeret tirai kegelapan dengan sangat perlahan, begitu perlahan, bagaikan tiada lagi yang lebih pelan untuk kemudian menutupinya dengan kelam.

Pertunjukan pun diawali, takkan ada mega mendung kali ini, bulan pun tak tampak lagi, bintang-bintang akan malu nanti. Mereka sedikit bertabur di angkasa, mungkin karena itu wanita sedang cantik-cantiknya.

Lalu matanya malu, semakin malu kali ini, tatkala melihat sesuatu dan dia sendiri tak tahu apa yang kan terjadi nanti. Mungkin juga dia takut berpapasan dengan semut-semut di dalam pelariannya yang ternyata tiada nyata.

Dalam sendu dia bersarang, dalam gelap dia tenang, dalam indah dia menang, dialah Kak Zahraku seorang..

untuk Kakakku di sana.

Setyoko Andra Veda