Pelajaran dari Cerpen “Orang yang Selalu Cuci Tangan”

by membualsampailemas


Oleh Setyoko Andra Veda

Minggu pagi, 19 Mei 2013, saya melihati timeline di jejaring sosial Twitter saya. Hal tersebut hampir selalu saya lakukan tiap hari untuk mengetahui berbagai pemutakhiran informasi yang terus berjalan di kehidupan, kehidupan maya, entah itu berita dari Tempo, Kompas, Detik, Metro, dan lain sebagainya. Kebetulan, hari Minggu kemarin cukup terik dan cerah di pagi hari, sehingga suasana hati pun mendukung untuk terus memerhatikan timeline.

Secara tidak dinyana, saya melihat ada nama Seno Gumira Ajidarma tertulis di salah satu cuitan seseorang yang dicuit ulang (retweet) oleh seseorang yang saya ikuti. Dari situ saya mendapat informasi bahwa Kompas Minggu kali ini menampilkan satu cerpen dari penulis favorit saya itu, judulnya Orang yang Selalu Cuci Tangan. Ketika di-search, ternyata banyak juga yang berkomentar mengenai cerpen ini. Kata mereka kebanyakan, cerpen ini menohok kepada para pejabat, harusnya banyak yang tersindir.

Berita mengenai cerpen itu sangat menarik untuk saya, maka saya memutuskan untuk membeli koran Kompas Minggu itu di Jalan Ceger Raya depan Pondok Safari, 3500 rupiah, hanya untuk membaca cerpen itu.

Dibukalah koran itu lembar perlembar, dan ketemu juga. Di paragraf awal, dicetak tebal tertulis kalimat awal, “Semua orang di kantornya sudah tahu, ia selalu mencuci tangannya.”, seolah langsung memberi gambaran jelas tentang tokoh yang hendak diceritakan dan menjadi pusat perhatian. Ia memang selalu mencuci tangan, hingga ia benar-benar terkenal sebagai orang yang suka dan bahkan selalu cuci tangan.

cuci tanganFrasa “cuci tangan”, dalam bahasa Indonesia memiliki makna denotatif sebagai mencuci tangan sendiri, biasanya dengan air dan sabun atau sesuatu lain untuk menjadikan tangan bersih, dan juga makna konotatif sebagai –dalam pemahaman saya– melepas keterlibatan diri terhadap sesuatu sehingga tidak menimbulkan tanggung jawab dan tidak diketahui oleh orang kebanyakan bahkan sebisa mungkin hanya dirinya yang tahu.

Seno, seperti dalam cerita tentang Guru Kiplik dalam cerpen Dodolit dodolit dodolibret, menggunakan cerita pendek kali ini sebagai bahan pelajaran kehidupan, atau bahasa mudahnya: sindiran, kepada kita semua. Tentu tidak melulu objek yang disindir oleh penulis adalah suatu golongan tertentu. Cara Seno menggunakan cerita fiksi yang benar-benar fiksi, karena merupakan cerita imaji yang di realitas kehidupan tiada akan pernah ada, untuk memberi pelajaran berharga pada para pembacanya adalah sebuah cara yang cerdas, sangat cerdas. Dengan sebuah perumpamaan seperti itu, sebuah fiksi dapat menjadi seperti sebuah bejana yang besar, dimana bejana itu akan mampu menampung seluruh kucuran air makna. Semua bisa kena sindiran tersebut. Tentu diperlukan pemahaman dan penafsiran yang luas daripada pembaca.

Selalu saya ingat kata-kata dari Goenawan Mohammad, bahwa fiksi sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri seperti halnya sebuah puisi, pun tulisan ini. Saking luasnya dan getolnya kita menafsirkan sebuah cerita pendek, atau puisi, atau karya sastra lain, segala hal yang dapat disangkut-pautkan akan kita tarik menuju cerita ini dan kita bandingkan. Cerita ini lantas berubah bagaikan padang pasir yang akan menyerap air makna betapapun banyaknya itu, semua tersedot dan tenggelam dalam butiran pasir kata.

Ia diceritakan sering merasa kotor, sehingga selalu saja mencuci tangannya. Walaupun merasa adalah tetap saja merasa, belum tentu sebenarnya. Bagaimanapun, rasa adalah sesuatu yang abstrak, tidak melulu konkret. Apakah jika kita merasa salah lantas kita benar-benar salah, pun jika kita merasa benar lantas faktanya kita memang benar? Kan seseorang tidak bisa menilai dirinya sendiri, makanya seseorang memerlukan orang lain. Makhluk sosial, makhluk klasik, manusia.

“Wajah itulah!” pikirnya, wajah yang katanya selalu muncul di media massa, yang selalu dijaga kehormatannya, sehingga tampak terhormat. Gambaran mengenai wajah dalam cerita ini tentu saja bisa berarti sebenarnya, maupun tidak sebenarnya. Maksudnya, wajah adalah sebuah citra mengenai diri seseorang. Wajah adalah yang, mau tak mau, pertama dilihat oleh orang lain dalam menilai diri kita. Meski wajah bukanlah satu-satunya indikator penilaian terhadap seseorang. Suatu wajah yang bagus akan memberi kesan yang baik pada seluruh orang yang melihatnya. Wajah yang teduh, damai, terhormat, yang akan menimbulkan kesan baik. Dan memang benar, wajah haruslah dijaga.

Kembali lagi dalam “cuci tangan”, mana yang lebih baik antara mencuci tangan karena merasa tangannya kotor, atau mencuci tangan karena tangan betul-betul dalam keadaan kotor? Ia sudah tidak dapat membedakan apakah ia hanya merasa ataukah ia memang pada faktanya bertangan kotor, saking seringnya ia mencuci tangan, karena kegemarannya memang cuci tangan.

Sekarang, apakah kita dapat membedakan bahwa posisi kita dalam kehidupan ini adalah benar, ataukah salah? Sedangkan kebenaran adalah absolut, namun perspektif mengenai kebenaran itu sendiri adalah abstrak.

Kemudian, di dalam cerpen tersebut disebutkan bahwa ia ingin percaya betapa tangannya itu sendiri sebetulnya adalah tangan yang bersih, meskipun ia selalu melihat atau merasa tangannya betul-betul kotor, sangat kotor. Sementara, ia masih saja terus melakukan pekerjaan kotor.

Ada kalanya, di dalam hidup ini manusia ingin percaya bahwa yang telah diperbuatnya adalah perbuatan yang terbaik bagi dirinya. “Ini adalah yang terbaik”, begitu kata hati tiap orang ketika menyelesaikan suatu perbuatan yang hasilnya entah itu baik atau buruk. “Tuhan telah menetapkan ini semua. Ini adalah yang terbaik. Aku telah melakukan yang terbaik yang aku bisa.”, demikian kata hati. Meskipun pada kenyataannya di luar pandangan kita, kita tak pernah tahu bahwa itu memang baik atau buruk. Begitu mengerikannya dunia ini jika manusia-manusianya sudah tak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam ajaran agama, tentu ada sebuah doa yang sering dipanjatkan agar seorang manusia yang berdoa itu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kurang lebih seperti ini: “Ya Tuhan, sahaya bermohon tunjukkan lah pada sahaya bahwa suatu perbuatan baik itu baik, dan berilah hamba kekuatan untuk mengikutinya. Serta tunjukkanlah pada sahaya bahwa suatu perbuatan buruk itu buruk, dan berilah hamba kekuatan untuk menjauhinya”.

Ketika kita telah benar-benar dapat membedakan yang baik dan yang buruk secara fakta, bukan berlandaskan sentimentalisme belaka, maka saat itulah pencapaian seorang manusia telah mencapai setengahnya. Setengah yang lain kemana? Tentu dengan cara melaksanakan yang baik, dan meninggalkan yang buruk, bukan hanya membedakan keduanya.

Dan kembali pada cerpen, pada akhirnya ia memang menjadi sedikit gila karena sudah tak dapat membedakan yang baik dan buruk. Itu lah manusia yang benar-benar merugi. Ia hanya ingin selalu percaya bahwa tangannya selalu bersih, bahwa yang diperbuatnya memang bersih, sehingga tak menyadari betapa dirinya sebenarnya sedang dalam keadaan tangan kotor. Sampai air kran yang sangat kotor ia anggap sebagai air yang bersih dan digunakannya untuk mencuci tangan. Bahkan ketika ia tetap melaksanakan pekerjaan kotor yang kali itu berkaitan dengan darah seseorang, sehingga air yang mengucur dari kran berupa darah merah, ia tetap ingin percaya bahwa yang mengucur adalah air bersih, dan digunakannya pula untuk mencuci tangan, bahkan wajah, tempat segala kehormatannya selama ini dipertahankan.

Lantas, apakah kita sudah dapat membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, paling tidak untuk diri kita sendiri?